منتدى نشر الفـــــــوائد
7.55K subscribers
4.31K photos
259 videos
279 files
5.62K links
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya

Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله

Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Download Telegram
.:
BAGAIMANA MUAMALAH KITA DENGAN TETANGGA YANG BEDA MANHAJ (MISAL: MLM, SURURY, HALABY, MUSHO'FIQOH, DLL)?

🎙Disampaikan Oleh:
Al-Ustadz Rifa'i Ngawi -hafizhahullah-

🗓 Sesi TJ Kajian "BEBERAPA SEBAB UNTUK MENJADI ISTRI SHALIHAH" | Sabtu Sore, 16 Rabiul Awal 1440H / 24 Nopember 2018 di Masjid Al I'tishom Semarang

(1,1 MB) - Durasi [00:04:09]

#orang_jahil #ikut_ikutan #rodja
•••
📶 t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net | www.ilmusyari.com
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
::
🚇 KALIMAT TAUHID BUKAN SEKEDAR UCAPAN TANPA AMALAN

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin –rahimahullah-


PERTANYAAN:

“Ada sebagian orang yang berkata kepada kami,”Ucapkan Laa ilaaha illallah kamu akan masuk surga! Sebab Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
Siapa yang mengucapkan laa ilaaha illallah niscaya ia masuk surga. Ucapan semata tanpa perlu beramal!

Apakah mereka di atas kebenaran?”



JAWABAN:

“Mereka tidak benar karena sesungguhnya yang dimaksud dari ucapan Laa ilaaha illallah :

◾️Agar seseorang mengucapkannya dengan lisannya,
◾️Meyakini kandungan maknanya dengan hatinya,
◾️Mengamalkan konsekuensinya.

Oleh karenanya, apabila seseorang mengucapkan “Laa ilaaha illallah” padahal ia menentang –walaupun satu huruf- dari Al-Qur’an niscaya ia kafir (keluar dari Islam). Dan tidak tidak berguna baginya (ucapan) “Laa ilaaha illallah”.

Dan seseorang yang berucap “Laa ilaaha illallah” sementara ia meninggalkan shalat –misalnya- niscaya ia kafir***, tidak bermanfaat “Laa ilaaha illallah” untuknya.

Namun seseorang yang mengatakan “Laa ilaaha illallah” dan itu akhir ucapannya (sebelum wafat) kemudian ia mengucapkannya dengan ikhlash untuk Allah ketika ia dalam kondisi ini(sakaratul maut) ia tidak mampu beramal lebih dari hal itu maka kalimat tersebut akan memasukkannya ke dalam surga(Yaitu: wafat di atas Islam).”

📖 Fataawa Nuurun ‘alad Darb, al-‘Utsaimin, 1/ 78.

 
====================================
NB:
*** Yaitu ketika ia meninggalkan seluruh shalat.

Asy-Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:

“...yang dimaksud (kufur) dengan meninggalkan shalat yaitu meninggalkannya secara keseluruhan. Adapun seseorang shalat dan kosong, yaitu terkadang shalat dan terkadang meninggalkan maka ia tidak kafir.”
Fataawa Nuurun ‘alad Darb, al-‘Utsaimin, 1/ 71.


📑 Alih Bahasa:
Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafizhahullah

••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍 www.alfawaaid.net | www.ilmusyari.com
.:
USIA BERAPA ANAK BISA MONDOK (MASUK MA'HAD DAN MENGINAP DI ASRAMA)?

🎙Disampaikan Oleh:
Al-Ustadz Usamah Mahri -hafizhahullah-

🗓 Sesi TJ Kajian "Pendidikan Islami Solusi Mengatasi Dekadensi Moral Adalah Tanggung Jawab Bersama" | Ahad, 3 Rabi'ul awal 1440H | 11 November 2018 | Masjid Ponpes Dzun Nuuroin Surabaya

(860 KB) - Durasi [00:02:57]


•••
📶 t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net | www.ilmusyari.com
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
::
🚇 SEORANG YANG MENGUCAPKAN KALIMAT TAUHID DI AKHIR HAYAT PASTI MASUK SURGA?
[Kaidah Penting tentang Persaksian terhadap Seseorang yang Meninggal Dunia]

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin –rahimahullah-


PERTANYAAN:

“Seorang yang mengucapkan syahadat sebelum wafatnya apakah ia  masuk dalam sabda Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wasallam- ”Siapa yang akhir kalamnya di dunia “Laa ilaaha illallah niscaya masuk surga”?”


JAWABAN:

“Jika seseorang berkata “Laa ilaaha illallah” -di saat kematiannya – dan hatinya meyakininya maka ia masuk (yang disebut) di dalam hadits.

✍🏻 Namun hendaknya diketahui bahwa:

”Nash-nash (Al-Qur’an dan Sunnah) yang secara umum menyebutkan tentang suatu perkara yang memasukkan ke dalam surga atau ke neraka, tidak diterapkan kepada individu tertentu kecuali dengan adanya dalil.”

Sebagai permisalan (hadits):

مَنْ كَانَ آخِرَ كَلامِهِ لاَ إلهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ

Siapa yang akhir ucapannya “Laa ilaaha illallah” niscaya masuk surga”.

Andai kita mengetahui bahwa orang ini, akhir ucapannya di dunia adalah “Laa ilaaha illallah” maka yang kita ucapkan:

“Semoga ia termasuk penghuni surga.”

Sehingga al-mu’ayyan (individu tertentu) tidak di-jazm(dipastikan) untuknya.

☝🏻Tidak lain katakan “diharapkan” jika orang itu dalam kebaikan dan “dikhawatirkan” apabila orang tersebut dalam kejelekan(saat kematiannya). Sebab dibedakan antara yang umum dan yang khusus.

Kita bersaksi, mengetahui, dan meyakini bahwa setiap mukmin ada di surga. Lalu apakah kita bersaksi bahwa setiap mukmin secara individunya ia di dalam surga?

Jawabnya: Tidak!

Akan tetapi jika kita mengetahui bahwa ia seorang mukmin, kita berharap semoga ia masuk di dalam surga.

Kita beriman bahwa Allah Ta’ala mencintai seorang yang mukmin dan muhsin(berbuat baik ). Sehingga, andaikan kita melihat seseorang berbuat ihsan dan menyaksikan seorang mukmin menegakkan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan, apakah kita bersaksi bahwa Allah mencintainya?

Jawabnya: Tidak!

Sebab ta’yin (penentuan secara khusus) bukan ta’mim (penetapan secara umum). Namun yang kita katakan:

“Kami bersaksi untuk setiap mukmin (secara umum) bahwa Allah mencintainya dan kami berharap semoga orang ini secara individunya termasuk golongan yang Allah ‘azza wa jalla mencintainya”.

Al-Bukhari –rahimahullah- dalam shahihnya telah mengisyaratkan kepada hal ini. Beliau berkata,“Bab: Tidak dikatakan “Fulan mati syahid”.”

Walaupun ia terbunuh fi sabilillah jangan katakan bahwa ia mati syahid.  Dan beliau berdalil dengan sabda Nabi –shalallahu ‘alaihi wasallam- :

مَا مِنْ مَكْلُومٍ يُكْلَمُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ  - وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَنْ يُكْلَمُ فِي سَبِيلِهِ - إِلَّا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَجُرْحُهُ يَثْعَبُ دَمًا اللَّوْنُ لَوْنُ دَمٍ وَالرِّيحُ رِيحُ الْمِسْكِ

Tidaklah seseorang terluka di jalan Allah –dan Allah yang lebih mengetahui siapa yang terluka di jalan-Nya- kecuali ia datang pada hari Kiamat dan lukanya masih mengeluarkan darah, warnanya warna darah sedangkan aromanya aroma misik.

Sabda beliau,“dan Allah yang lebih mengetahui siapa yang terluka di jalan-Nya” mengisyaratkan untuk tidak memberi kesaksian(secara khusus) kepada individu tertentu. Bahkan katakan “Allah yang lebih mengetahui”.

Dan Umar –radhiallahu ‘anhu-, Amirul Mukminin, berkhutbah lalu berkata:

“Sesungguhnya kalian mengucapkan: “Si fulan syahid! Si fulan syahid!”

 Padahal kamu tidak mengetahui mungkin ia berbuat demikian dan demikian?

☝🏻Namun hendaknya yang kalian katakan,” Siapa yang mati fi sabilillah atau terbunuh maka ia syahid.”

Sehingga beliau –radhiallahu ‘anhu- membedakan antara ta’yin(penentuan khusus) dan ta’mim (penetapan secara umum).”

Fataawa Nuurun ‘alad Darb, al-‘Utsaimin, 1/ 78 - 79.

📑 Alih Bahasa:
Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafizhahullah

••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍 www.alfawaaid.net | www.ilmusyari.com
.:
MASING-MASING SIBUK DENGAN HP & MEDSOS : SEBAB HILANGNYA INTERAKSI SUAMI-ISTERI DAN ANAK DALAM KEHIDUPAN RUMAH TANGGA

🎙Disampaikan Oleh:
Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf -hafizhahullah-

🗓 Sesi 2 Kajian "MEDIA SOSIAL ANTARA MANFAAT & MUDHOROT" | Ahad, 17 Rabiul Awwal 1440 39 H / 25 November 2018 M di Masjid Abu Bakr Ash-Shiddiq, Jl. Kluwih RT.01/RW.15 Planjan, Kesugihan, Cilacap

(2,7 MB) - Durasi [00:06:46]

#gonta_ganti_status #media_sosial #update_status #keluarga #whatsapp #cemburu #bahaya
•••
📶 t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net | www.ilmusyari.com
::
🚇 BACAAN MUROTTAL AL-QUR'AN SURAT AN-NAML (27)
Oleh: Abu Bakr Al-Shatri

Durasi 00:23:34 (5,4 MB)

••••
#murottal #al_shatri #abu_bakr_shatry #assatry #assyatiry #surat_annaml #an_naml
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇

💾 @ForumBerbagiFaidah [FBF]
🏀 www.alfawaaid.net | www.ilmusyari.com
.:
APA KIAT-KIAT YANG HARUS DITEMPUH UNTUK MERAJUT UKHUWAH?

🎙Disampaikan Oleh:
Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf -hafizhahullah-

🗓 Sesi TJ Kajian "MEDIA SOSIAL ANTARA MANFAAT & MUDHOROT" | Ahad, 17 Rabiul Awwal 1440 39 H / 25 November 2018 M di Masjid Abu Bakr Ash-Shiddiq, Jl. Kluwih RT.01/RW.15 Planjan, Kesugihan, Cilacap

(1,5 MB) - Durasi [00:04:06]


•••
📶 t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net | www.ilmusyari.com
::
🚇 KENAPA HARAPAN DAN DOA BELUM TERKABUL?

🎙 Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin –rahimahullah- berkata: Jika ada seseorang berkata:

"Terkadang seseorang berdoa namun Allah tidak meng-ijabahi doanya, sementara di sini Zakaria ‘alaihissalam berkata (sebagaimana dalam firman-Nya):

إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاء ﴿٣٨﴾
Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa .Q.S. Ali-Imraan : 38.

Dan Ibrahim ‘alaihissalam berkata (sebagaimana dalam firman-Nya):

إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاء ﴿٣٩﴾
Sesungguhnya Rabbku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) do
a. Q.S. Ibrahim : 39.

🎙Maka jawabannya dikatakan:
Bahwa Allah tidak mengabulkan suatu doa, baik itu karena:

Adanya hal yang mencegah (terkabulnya),
Atau untuk kemaslahatan bagi orang yang berdoa,
Atau karena luputnya syarat-syarat(pengabulan doa).

✍🏻 Adapun jika :
telah sempurna syarat-syaratnya,
tidak ada hal-hal yang mencegah(dari ijabah),
dan tidak ada konsekuensi maslahat yang bertentangan dengan apa yang dimohonkan oleh yang berdoa, maka Allah Ta’ala sungguh pasti akan mengabulkan doa tersebut. Sebab Allah Ta’ala berfirman:

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ﴿٦٠﴾
"Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” Q.S. Ghafir: 60.

Sehingga apabila seorang insan berdoa kepada Rabbnya sedangkan hatinya lalai, ia berkata “Ya Allah sungguh aku memohon kepadamu surga dan apa-apa yang mendekatkan kepadanya dari ucapan dan perbuatan” namun hatinya tersibukkan dengan hal yang lain. Maka hal ini terkandung padanya adab yang jelek kepada Allah.

Sehingga terkadang luput pengabulan doa karena tidak terpenuhi syaratnya.

Adapun yang tergolong pencegah (terkabulnya doa) diantaranya seseorang makan sesuatu yang haram –__wal’iyadzubillah__. Sebab memakan suatu yang haram termasuk penghalang terbesar untuk dikabulkannya doa. Nabi –shalallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

إنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إلاَّ طَيِّباً
“Sesungguhnya Allah Maha Baik, tidak menerima kecuali yang baik.

Dan sungguh Allah telah memerintah orang-orang mukmin dengan apa yang Dia perintahkan kepada para Rasul, Dia berfirman:

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحاً إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ ﴿٥١﴾
Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Q.S. Al-Mukminuun: 51.

Dan Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُلُواْ مِن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ ﴿١٧٢﴾
Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu. Q.S. Al-Baqarah : 172.

Kemudian disebutkan seorang yang sedang dalam safar yang panjang, yang kusut rambutnya dan berdebu seluruh tubuhnya, ia menjulurkan tangannya ke langit (berdoa) “Wahai Rabbku, wahai Rabbku” sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan diasupi dengan sesuatu yang haram, lalu bagaimana akan dikabulkan untuknya?!” [H.R. Muslim]

Wal’iyadzubillah (kita berlindung kepada Allah). Sangatlah jauh untuk Allah mengabulkan orang yang berdoa ini.

Sehingga di sini luput pengabulan doa karena ada sesuatu yang mencegahnya.

Dan kadangkala (tidak dikabulkan) demi kemaslahatan orang yang berdoa.
Allah simpan untuknya sesuatu -yang lebih baik dari yang ia minta- di sisi-Nya.
Atau Allah mengetahui bahwa andai Dia mengabulkannya niscaya ia mendapatkan kejelekan dalam agamanya.

Contohnya: dengan dikabulkan doanya menjadi sebab ia mendapatkan musibah dalam diinnya. Maka dengan rahmat dari Allah dan hikmah-Nya, Dia tidak mengabulkan doa ini karena demi kemaslahatan orang yang berdoa.

☝🏻Oleh sebab itu, sepatutnya bagi seseorang untuk :
Tidak bosan jika telah berdoa dan belum dikabulkan.
Dan tidak berprasangka jelek dan sedih lalu berkata “Aku telah berdoa lalu berdoa namun tidak dikabulkan untukku!”. Maka jika ia berkata demikian niscaya tidak terkabul untuknya.

Sehingga(dengan penjelasan di atas) hilanglah _isykal_(problem) yang muncul dari firman-Nya:

إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاء ﴿٣٨﴾
”Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa". Q.S. Ali-Imraan:38