منتدى نشر الفـــــــوائد
7.55K subscribers
4.31K photos
259 videos
279 files
5.62K links
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya

Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله

Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Download Telegram
Forwarded from TIM PEDULI BENCANA
Kebutuhan di Pengungsian
.:
APAKAH FITNAH SHO'AFIQOH (MUSHO'FIQOH) ADALAH KHILAF ANTARA SYAIKH MUHAMMAD BIN HADY DENGAN SYAIKH ROBI' HAFIZHAHULLOH DALAM MENGHUKUMI SESEORANG?

🎙Disampaikan Oleh:
Al-Ustadz Muhammad Afifuddin -hafizhahullah-

🗓 Kajian "BIMBINGAN ULAMA HARUSKAH DIIKUTI?" | Ahad, 27 al-Muharram 1440 H/ 07 Oktober 2018 M di Masjid Agung Nur Sulaiman Banyumas
(1,9 MB) - Durasi [00:06:44]


(*) Juga penjelasan:

▪️Bantahan syubhat "la yulzimuni.." (tidak mengharuskan saya untuk mengikuti_jangan memaksakan untuk menerima salahsatu pendapat).
▪️Bagaimana sikap kita apabila ulama yang dulunya kita ikuti namun belakangan ini menyimpang, seorang ulama yang dulunya mu'tabar bahkan faqih dan kibar?

•••
📶 t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net | www.ilmusyari.com
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
.:
MENJADI SUTROH BAGI ORANG YANG SHOLAT DI BELAKANGNYA, APAKAH BERDOSA JIKA MENINGGALKANNYA SEBELUM IA SELESAI SHOLAT?

🎙 Disampaikan Oleh:
Al-Ustadz Muhammad Umar As-Sewed -hafizhahullah-

📆 Kajian "Keberkahan Ada Bersama Ulama Kibar" | Ahad, 27 AlMuharram 1440 H / 07 Oktober 2018 di Masjid Ma'had Darul Ilmi as Salafy, Lumajang

(152 KB) - Durasi [00:00:29]



•••
📶 t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net | www.ilmusyari.com
::
🚇 BACAAN MUROTTAL AL-QUR'AN SURAT AL-QIYAMAH
Oleh: Bandar Balila

Durasi 00:03:58 (0,95 MB)


••••
#murottal #bandar_balila #balilah #quran #surat_alqiyamah #alqiyamah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇

💾 @ForumBerbagiFaidah [FBF]
🏀 www.alfawaaid.net | www.ilmusyari.com
::
🚇 Orang Bawahan namun Istiqomah Lebih Baik dari Pemimpin di atas Kebatilan

Al-Atsram rahimahullah -salah seorang murid al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah- berkata:

"لأن يكون الرجل تابعا في الخير خير من أن يكون رأسا في الشر."

Seseorang menjadi PENGIKUT dalam kebaikan itu lebih baik daripada menjadi PIMPINAN dalam kejelekan.

📖 Al-Jami' fi Aqaaid wa Rasaaili Ahlissunnah wal Atsar, hal. 491.

📑 Alih Bahasa:
Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafizhahullah

••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍 www.alfawaaid.net | www.ilmusyari.com
.:
KETIKA ADA KHILAF MU'TABAR: APAKAH KITA HARUS MEMILIH PENDAPAT YANG ROJIH (KUAT) ATAUKAH BOLEH MENGAMALKAN KEDUA PENDAPAT?

🎙Disampaikan Oleh:
Al-Ustadz Muhammad Afifuddin -hafizhahullah-

🗓 Kajian "BIMBINGAN ULAMA HARUSKAH DIIKUTI?" | Ahad, 27 al-Muharram 1440 H/ 07 Oktober 2018 M di Masjid Agung Nur Sulaiman Banyumas
(0,94 MB) - Durasi [00:02:28]


(*) Juga tambahan faidah: ketika turun sujud mendahulukan lutut dulu/kedua tangan?

•••
📶 t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net | www.ilmusyari.com
::
🚇 RITUAL PENYEMBELIHAN HEWAN UNTUK SESAJI/SESAJEN ADALAH KESYIRIKAN *:


Masuk Neraka karena Seekor Lalat


Dari Thariq bin Syihab, (beliau menceritakan) bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda,

“Ada seorang lelaki yang masuk surga gara-gara seekor lalat. Ada pula lelaki lain yang masuk neraka gara-gara lalat.”

Mereka (para sahabat) bertanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi, wahai Rasulullah?”

Beliau ﷺ menjawab, “Ada dua orang lelaki yang melewati daerah suatu kaum yang memiliki sesembahan selain Allah Ta'ala. Tidak ada seorang pun yang diperbolehkan melewati daerah itu melainkan dia harus berkorban sesuatu untuk sesembahan tersebut. Mereka mengatakan kepada salah satu di antara dua lelaki itu, ‘Berkorbanlah.’

Dia menjawab, ‘Aku tidak punya apa-apa untuk dikorbankan.’

Mereka pun mengatakan, ‘Berkorbanlah walaupun dengan seekor lalat.’

Dia pun berkorban dengan seekor lalat sehingga mereka pun memperbolehkannya lewat dan meneruskan perjalanan. Karena itulah, dia masuk neraka.

Mereka juga mengatakan kepada lelaki yang kedua, ‘Berkorbanlah.’

Dia menjawab, ‘Tidak pantas bagiku berkorban untuk sesuatu selain Allah Ta'ala.’

Mereka pun memenggal lehernya dan karena itulah dia masuk surga.” (HR. Ahmad dalam az-Zuhd [no. 15 & 16], Abu Nu’aim dalam al-Hilyah [1/203], dari Thariq bin Syihab, dari Salman al-Farisi Radhiyallahu 'anhu secara mauquf dengan sanad yang sahih)

❗️Perhatikanlah hadits di atas dengan baik!

Tradisi atau ritual penyembelihan binatang adalah ibadah sehingga harus dilaksanakan sesuai dengan aturan Allah Ta'ala, baik dalam hal tujuan, waktu, tempat, maupun niatnya.

Adalah sebuah dosa besar, bahkan dosa terbesar, saat seorang hamba menyembelih hewan untuk selain Allah Ta'ala. Entah untuk memohon bantuan makhluk gaib, harmonisasi manusia dengan alam, meredakan amarah makhluk halus, atau sebab-sebab kesyirikan lainnya.

Menyembelih hewan dalam rangka ritual adalah perbuatan yang tidak boleh dipersembahkan kepada selain Allah Ta'ala. Barang siapa melakukannya, Allah Ta'ala akan melaknatnya. Pelakunya telah melakukan kemusyrikan.

Apabila ia mati dalam keadaan tidak bertaubat, ia akan dihukum kekal di dalam neraka. Surga haram baginya. Seluruh amalnya akan musnah bagaikan debu yang beterbangan. Penyesalan dan kesedihan, itulah kesudahan yang akan dia rasakan pada hari kemudian.

Dari sini, kita bisa mengetahui bahwa tradisi atau ritual semacam ini adalah tindakan yang sangat membahayakan. Perbuatan yang mereka lakukan bukan menolak bala, tetapi justru mengundang murka Allah Ta'ala.

Contoh terbaru adalah ritual penyembelihan korban terkait dengan bencana meletusnya gunung Merapi. Paguyuban Kebatinan Tri Tunggal (PKTT) Yogyakarta menggelar ritual tolak bala pada Senin (8/11/2010) malam.

Ritual yang bernama asli Kuat Maheso Luwung Saji Rojosunya tersebut dimaksudkan agar warga Yogyakarta dan sekitarnya terhindar dari marabahaya akibat letusan Merapi. Ritual yang dipusatkan di sekitar kawasan Tugu ini diawali dengan mengarak kerbau bule.

Puncak acara diisi dengan pemotongan seekor kerbau bule dan sembilan ayam jago jurik kuning sebagai sesaji untuk makhluk-makhluk halus. Kepala kerbau dan sembilan jago jurik kuning itu rencananya akan dibawa ke lereng Merapi untuk ditanam di sana.


(*) Judul utama dari tim redaksi channel @ForumBerbagiFaidah

••••
Sumber: https://www.google.co.id/amp/asysyariah.com/tradisi-menyembelih-di-masyarakat/amp/
::
🚇 BACAAN MUROTTAL AL-QUR'AN SURAT AT-TAGHOBUN (64)
Oleh: Nasser al-Qotami

Durasi 00:05:46 (1,4 MB)


••••
#murottal #nasser_alqotami #alqotami #quran #surat_taghobun #at_taghobun
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇

💾 @ForumBerbagiFaidah [FBF]
🏀 www.alfawaaid.net | www.ilmusyari.com
::
🚇 INILAH ALASAN KLASIK MEREKA YANG MEMBERI SESAJI/SESAJEN/ SEDEKAH LAUT/SEDEKAH BUMI & GUNUNG UNTUK "TOLAK BALA", DLL


Apakah Alasan Mereka?

Sebagian pelaku kesyirikan dalam bentuk menyembelih untuk selain Allah Ta'ala terkadang mengemukakan beberapa alasan untuk membenarkan perbuatan mereka. Di antaranya adalah pernyataan,

“Bagaimana mungkin perbuatan ini dikatakan syirik, padahal ketika menyembelih saya mengucapkan ‘Bismillah’?”

Yang pasti, orang semacam ini tidak mengerti hakikat syirik, sebagaimana halnya ia tidak mengerti tentang tauhid.

Dalam hal ini, hukum tidak hanya ditetapkan berdasarkan mengucapkan basmalah atau tidak. Namun, niat dan tujuan pun mengambil peran besar.

Apalah arti kalimat basmalah yang diucapkan, apabila di dalam hati, seseorang yang menyembelih berniat dan bertujuan untuk mendekatkan diri, mengagungkan, menghormati, dan memohon pertolongan kepada makhluk.

Ia berharap keinginannya terkabul, dan takut jika hal yang diinginkan tidak terwujud. Hatinya berpaling kepada selain Allah Ta'ala.

Syaikhul Islam Rahimahullah berkata, ”Telah diketahui bahwa sesuatu (hewan yang disembelih) yang diperuntukkan bagi selain Allah Ta'ala yang disebutkan secara jelas adalah diharamkan. Demikian pula jika hanya diniatkan karena hal ini sama dengan niat-niat lain dalam ibadah. Meskipun dengan melafadzkan lebih kuat, namun yang menjadi hukum asal adalah tujuan.” (al-Iqtidha, hlm. 286)

Syaikhul Islam rahimahullah berkata, ”Dengan demikian, jika dia menyembelih hewan untuk selain Allah Ta'ala dalam rangka mendekatkan diri, hal tersebut diharamkan meskipun dia mengucapkan ‘bismillah’, sebagaimana yang dilakukan oleh sekelompok kaum munafik umat ini. Mereka adalah orang-orang yang mendekatkan diri kepada para wali dan bintang-bintang dengan cara menyembelih serta membakar dupa, atau yang semisalnya.” (al-Iqtidha hlm. 291)

Ash-Shan’ani rahimahullah berkata, ”Apabila orang tersebut beralasan bahwa ia menyembelih dan menyebut nama Allah atasnya, jawablah, ‘Jika memang sembelihan tersebut untuk Allah Ta'ala , apa alasannya engkau mendekatkan hewan sembelihanmu di pintu kubur orang yang engkau pilih dan engkau yakini? Apakah engkau ingin mengagungkannya?’ Jika ia menjawab, ‘Ya,’ sampaikanlah kepadanya, ‘Penyembelihan ini untuk selain Allah Ta'ala. Bahkan, engkau telah mempersekutukan Allah Ta'ala bersama yang lain. Jika engkau tidak ingin mengagungkannya, apakah engkau ingin mengotori pintu kubur dan menyebabkan najisnya orang-orang yang masuk ke dalamnya?! Engkau, sebenarnya mengetahui secara yakin bahwa pada dasarnya engkau tidak menginginkan hal tersebut. Engkau tidak berniat selain niat yang pertama. Tidak pula engkau keluar meninggalkan rumahmu selain untuk tujuan tersebut dan untuk berdoa kepada mereka.’ Hal yang mereka lakukan ini adalah kesyirikan, tanpa diragukan sedikitpun.” (Tathhirul I’tiqad hlm. 72—73)


Asy-Syaikh ar-Rajihi menambahkan dalam catatan kaki, “Karena sebagian kaum musyrikin terkadang mengucapkan ‘bismillah.’ Apabila dia mengucapkan ‘bismillah’—namun dengan hewan sembelihan tersebut dia bermaksud taqarrub (mendekatkan diri) kepada penghuni kubur, jin, malaikat, atau yang lain—dia adalah pelaku kesyirikan.
Meskipun dia mengucapkan ‘bismillah’ seribu kali, tidak ada gunanya karena yang menjadi ukuran adalah keyakinan dan tujuan, bukan sekadar pengucapan.”

(*) Judul utama dari tim redaksi channel @ForumBerbagiFaidah

••••
Sumber: https://www.google.co.id/amp/asysyariah.com/tradisi-menyembelih-di-masyarakat/amp/