::
🚇 MENJADI KIDS ZAMAN NOW YANG LEBIH BAIK
Seorang siswa sekolah dasar didapati tengah memposting selfi dirinya sedang menangis, sepertinya dia sedang dirundung duka yang sangat, ada apakah gerangan?
Tangisan plus ratapan dramatis ternyata bukan karena dimarahi pak guru atau mendapat nilai jelek, akan tetapi karena dia tengah diputus cintanya oleh sang kekasih, masya Allah.
Di status lainnya, ada seorang pasangan yang berselfi mesra, kata-kata romantis dengan panggilan papa dan mama mengesankan pembacanya bahwa ini adalah sepasang suami dan istri, akan tetapi jauh dari dugaan, pasangan papa mama ini ternyata adalah anak-anak SD yang baru beberapa tahun kemaren masih lugu dan imut, Allahu mustaan.
Netizen (warga pengguna aktif internet) yang menyaksikan keedanan ini hanya bisa menggeleng-geleng kepala dan mengelus dada, tanpa panjang komen, netizen pun dipaksa tuk memaklumi fenomena ini, karena mereka adalah kids zaman now.
Pembaca rahimakumullah, mengapa budaya maksiat yang bernama pacaran ini tidak lagi menjadi sesuatu yang tabu untuk dikonsumsi oleh anak-anak bau kencur tersebut? Perlahan tapi pasti, pergeseran budaya maksiat ini telah menyentuh ranah kids zaman now.
Lalu kira-kira apa yang menjadi pemicu hal ini terjadi?
Pembaca rahimakumullahu, dari beberapa sebab yang ada, ternyata faktor tayangan atau tontonanlah yang kuat mendorong mereka untuk melakukan hal-hal di atas. Berbagai tayangan cinema yang menampilkan indahnya kisah asmara sekolah selalu dijejalkan ke benaknya para kids zaman now ini, disamping tabiat mereka yang masih labil, mereka pun sebenarnya tengah berada di fase peniruan. Oleh karenanya tak heran jika muncul keinginan mereka tuk meniru dan menjadi pelaku kebahagiaan laknat itu (baca: pacaran).
Oleh karenanya, di antara solusi dasar atas permasalahan ini adalah adanya peran aktif orang tua dan para pendidik untuk mengajarkan nilai-nilai agama yang lurus, selaras berlandaskan Al Qur'an dan As Sunnah sesuai dengan pemahaman generasi salaf.
Adalah Ibnu Abbas radhiallahu anhuma, seorang shahabat nabi yang menjadi salah satu rujukan umat di masanya merupakan salah satu contoh dari keberhasilan pedidikan yang diajarkan Nabi shallahu alaihi wasallam, ketika beliau masih kisaran umur sepuluh tahunan, beliau bercerita,
كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَوْمًا، فَقَالَ: 《يَا غُلاَمُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ؛ احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْبِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ》
Artinya:
"Suatu hari aku berada di belakang (dibonceng) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau berkata,“Wahai Nak, sesungguhnya aku ingin mengajarkan kepadamu beberapa kalimat:
◾️Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu.
◾️Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu.
◾️Jika engkau ingin meminta, maka mintalah kepada Allah.
◾️Jika engkau ingin meminta tolong, maka minta tolonglah kepada Allah.
💥Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberikanmu sesuatu manfaat, niscaya manfaat itu tidak akan mengenaimu kecuali menimpa dengan apa yang telah Allah tetapkan untukmu.
💥Jika mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, niscaya bahaya itu tidak akan mengenaimu kecuali menimpa dengan apa yang memang telah Allah tetapkan untuk dirimu.
Telah diangkat pena dan telah mengering lembaran (takdir).”
(HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Imam al Albani).
Inilah beberapa pengajaran agama yang ditanamkan Rasulullah kepada seorang anak umuran sekolah dasar, apakah itu?
Aqidah ash shahihah!
Ya, seorang anak hendaknya sejak dini di ajari ilmu akidah yang lurus, di antara bentuk pengajarannya adalah sebagaimana yang tercantum pada poin-poin hadits di atas:
🚇 MENJADI KIDS ZAMAN NOW YANG LEBIH BAIK
Seorang siswa sekolah dasar didapati tengah memposting selfi dirinya sedang menangis, sepertinya dia sedang dirundung duka yang sangat, ada apakah gerangan?
Tangisan plus ratapan dramatis ternyata bukan karena dimarahi pak guru atau mendapat nilai jelek, akan tetapi karena dia tengah diputus cintanya oleh sang kekasih, masya Allah.
Di status lainnya, ada seorang pasangan yang berselfi mesra, kata-kata romantis dengan panggilan papa dan mama mengesankan pembacanya bahwa ini adalah sepasang suami dan istri, akan tetapi jauh dari dugaan, pasangan papa mama ini ternyata adalah anak-anak SD yang baru beberapa tahun kemaren masih lugu dan imut, Allahu mustaan.
Netizen (warga pengguna aktif internet) yang menyaksikan keedanan ini hanya bisa menggeleng-geleng kepala dan mengelus dada, tanpa panjang komen, netizen pun dipaksa tuk memaklumi fenomena ini, karena mereka adalah kids zaman now.
Pembaca rahimakumullah, mengapa budaya maksiat yang bernama pacaran ini tidak lagi menjadi sesuatu yang tabu untuk dikonsumsi oleh anak-anak bau kencur tersebut? Perlahan tapi pasti, pergeseran budaya maksiat ini telah menyentuh ranah kids zaman now.
Lalu kira-kira apa yang menjadi pemicu hal ini terjadi?
Pembaca rahimakumullahu, dari beberapa sebab yang ada, ternyata faktor tayangan atau tontonanlah yang kuat mendorong mereka untuk melakukan hal-hal di atas. Berbagai tayangan cinema yang menampilkan indahnya kisah asmara sekolah selalu dijejalkan ke benaknya para kids zaman now ini, disamping tabiat mereka yang masih labil, mereka pun sebenarnya tengah berada di fase peniruan. Oleh karenanya tak heran jika muncul keinginan mereka tuk meniru dan menjadi pelaku kebahagiaan laknat itu (baca: pacaran).
Oleh karenanya, di antara solusi dasar atas permasalahan ini adalah adanya peran aktif orang tua dan para pendidik untuk mengajarkan nilai-nilai agama yang lurus, selaras berlandaskan Al Qur'an dan As Sunnah sesuai dengan pemahaman generasi salaf.
Adalah Ibnu Abbas radhiallahu anhuma, seorang shahabat nabi yang menjadi salah satu rujukan umat di masanya merupakan salah satu contoh dari keberhasilan pedidikan yang diajarkan Nabi shallahu alaihi wasallam, ketika beliau masih kisaran umur sepuluh tahunan, beliau bercerita,
كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَوْمًا، فَقَالَ: 《يَا غُلاَمُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ؛ احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْبِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ》
Artinya:
"Suatu hari aku berada di belakang (dibonceng) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau berkata,“Wahai Nak, sesungguhnya aku ingin mengajarkan kepadamu beberapa kalimat:
◾️Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu.
◾️Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu.
◾️Jika engkau ingin meminta, maka mintalah kepada Allah.
◾️Jika engkau ingin meminta tolong, maka minta tolonglah kepada Allah.
💥Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberikanmu sesuatu manfaat, niscaya manfaat itu tidak akan mengenaimu kecuali menimpa dengan apa yang telah Allah tetapkan untukmu.
💥Jika mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, niscaya bahaya itu tidak akan mengenaimu kecuali menimpa dengan apa yang memang telah Allah tetapkan untuk dirimu.
Telah diangkat pena dan telah mengering lembaran (takdir).”
(HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Imam al Albani).
Inilah beberapa pengajaran agama yang ditanamkan Rasulullah kepada seorang anak umuran sekolah dasar, apakah itu?
Aqidah ash shahihah!
Ya, seorang anak hendaknya sejak dini di ajari ilmu akidah yang lurus, di antara bentuk pengajarannya adalah sebagaimana yang tercantum pada poin-poin hadits di atas:
1. Menjaga hak-hak Allah dengan melakukan ketaatan dan menjauhi larangan Allah, tidak seperti kids zaman now yang mungkin karena kurang keilmuan dan keimanannya malah bangga jika bermaksiat, seperti pacaran, mabuk-mabukkan dsb.
2. Selalu menjadikan Allah sebagai tempat mengadu dan meminta, dengan ini akan menempa jiwa kids zaman now tuk tidak mudah lebay mendramatisir postingan-postingan keluhannya di medsos.
3. Optimis dan berani dalam melangkah tuk menempuh sebab-sebab positif karena memahami bahwa manfaat dan bahaya telah ditetapkan oleh Allah, jika ini telah ada pada jiwa kids zaman now, insya Allah penyakit galau tidak akan menjadi suatu hal yang dibiarkan berlarut, apalagi sampai membuat tindakan konyol semacam bunuh diri dll.
Semoga Allah menjaga generasi kita dari kejelekkan dan menjadikan kita dan mereka sebagai hamba-hamba Allah yang mentauhidkan-Nya, amin.
➖➖➖
💐 Wa Sedikit Faidah Saja (SFS)
➖➖➖
💾 Arsip lama terkumpul di catatankajianku.blogspot.com dan di link telegram http://bit.ly/1OMF2xr @SedikitFaidahSaja
#hatiku_berbisik
2. Selalu menjadikan Allah sebagai tempat mengadu dan meminta, dengan ini akan menempa jiwa kids zaman now tuk tidak mudah lebay mendramatisir postingan-postingan keluhannya di medsos.
3. Optimis dan berani dalam melangkah tuk menempuh sebab-sebab positif karena memahami bahwa manfaat dan bahaya telah ditetapkan oleh Allah, jika ini telah ada pada jiwa kids zaman now, insya Allah penyakit galau tidak akan menjadi suatu hal yang dibiarkan berlarut, apalagi sampai membuat tindakan konyol semacam bunuh diri dll.
Semoga Allah menjaga generasi kita dari kejelekkan dan menjadikan kita dan mereka sebagai hamba-hamba Allah yang mentauhidkan-Nya, amin.
➖➖➖
💐 Wa Sedikit Faidah Saja (SFS)
➖➖➖
💾 Arsip lama terkumpul di catatankajianku.blogspot.com dan di link telegram http://bit.ly/1OMF2xr @SedikitFaidahSaja
#hatiku_berbisik
Telegram
SedikitFaidahSaja
Channel ini telah dipindah ke t.me/faidahringancatatankajianku
::
🚇 MINTA UZUR TIDAK PAHAM BAHASA AL-QUR'AN?
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah
Pertanyaan:
Apakah turunnya Al-Qur’an dengan bahasa Arab menjadikan orang-orang a’jamiy (selain Arab) mendapat uzur atau alasan(tidak memahami Al-Qur’an), sebab Al-Qur’an tidak turun dengan bahasa mereka?
Jawaban:
💥Tidak ada alasan atau uzur bagi orang-orang selain Arab karena Al-Qur’an bukan dengan bahasa mereka.
BAHKAN wajib atas mereka untuk belajar bahasa Al-Qur’an. Sebab apabila memahami Kitabullah dan Sunnah rasul-Nya –shalallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- itu diperoleh dengan belajar bahasa Arab maka mempelajari bahasa Arab itu WAJIB. Karena sesuatu -apabila tidak sempurna suatu perkara yang WAJIB kecuali dengannya- maka sesuatu itu hukumnya wajib(pula).
Oleh karena ini diantara imam pakar bahasa Arab ada yang dari kalangan _‘ajam_ (bukan Arab), dari Persia dan selainnya. Dan mereka menjadi imam dalam bahasa Arab sebab mereka memahami kadar mempelajari bahasa Arab(untuk memahami Kitabullah dan Sunnah), lalu mereka menekuninya dan menjadikan mereka sebagai imam di dalam bidang tersebut.
❌ Adapun halnya sebagian orang yang _ta’ashshub_ (fanatik) dengan bahasa mereka dan tidak mau berusaha untuk menggantinya kepada bahasa Arab bersamaan mereka mampu, maka hal ini termasuk sikap fanatisme kesukuan zaman jahiliyah.
Al-Qur’an –walhamdulillah- saat ini telah tersebar di penjuru dunia, diterjemahkan maknanya ke dalam berbagai bahasa, bahasa internasional dan bahasa khusus di wilayah tertentu.
Sehingga tidak ada _hujjah_ (alasan) bagi siapapun di hari ini untuk berucap:
“Sesungguhnya lisanku bukan dari bangsa Arab maka aku tidak bisa memahami Al-Qur’an.”
📖 Fataawa Nuurun ‘alad Darb: 1/ 201 – 202.
📑 Alih Bahasa: Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafidzahullah
••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net
🚇 MINTA UZUR TIDAK PAHAM BAHASA AL-QUR'AN?
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah
Pertanyaan:
Apakah turunnya Al-Qur’an dengan bahasa Arab menjadikan orang-orang a’jamiy (selain Arab) mendapat uzur atau alasan(tidak memahami Al-Qur’an), sebab Al-Qur’an tidak turun dengan bahasa mereka?
Jawaban:
💥Tidak ada alasan atau uzur bagi orang-orang selain Arab karena Al-Qur’an bukan dengan bahasa mereka.
BAHKAN wajib atas mereka untuk belajar bahasa Al-Qur’an. Sebab apabila memahami Kitabullah dan Sunnah rasul-Nya –shalallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- itu diperoleh dengan belajar bahasa Arab maka mempelajari bahasa Arab itu WAJIB. Karena sesuatu -apabila tidak sempurna suatu perkara yang WAJIB kecuali dengannya- maka sesuatu itu hukumnya wajib(pula).
Oleh karena ini diantara imam pakar bahasa Arab ada yang dari kalangan _‘ajam_ (bukan Arab), dari Persia dan selainnya. Dan mereka menjadi imam dalam bahasa Arab sebab mereka memahami kadar mempelajari bahasa Arab(untuk memahami Kitabullah dan Sunnah), lalu mereka menekuninya dan menjadikan mereka sebagai imam di dalam bidang tersebut.
❌ Adapun halnya sebagian orang yang _ta’ashshub_ (fanatik) dengan bahasa mereka dan tidak mau berusaha untuk menggantinya kepada bahasa Arab bersamaan mereka mampu, maka hal ini termasuk sikap fanatisme kesukuan zaman jahiliyah.
Al-Qur’an –walhamdulillah- saat ini telah tersebar di penjuru dunia, diterjemahkan maknanya ke dalam berbagai bahasa, bahasa internasional dan bahasa khusus di wilayah tertentu.
Sehingga tidak ada _hujjah_ (alasan) bagi siapapun di hari ini untuk berucap:
“Sesungguhnya lisanku bukan dari bangsa Arab maka aku tidak bisa memahami Al-Qur’an.”
📖 Fataawa Nuurun ‘alad Darb: 1/ 201 – 202.
📑 Alih Bahasa: Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafidzahullah
••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
..
🗂🔉Arsip Audio Klip FBF 11 s/d 20 :
Pengaruh Dosa terhadap Istri dan Kendaraan
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4378
Futsal untuk Wasilah Dakwah?
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4381
Dunia Akhirat harus Seimbang?
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4386
Jangan Berhenti Berdoa
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4388
Jangan Tertipu Penampilan
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4390
Fatamorgana Hidupnya Orang Kafir
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4393
Kisah Goa yang Dhaif
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4395
Bila Anak Futur Menuntut Ilmu
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4399
Kiat Hidup Bahagia
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4402
Tingkatan dalam Menunaikan Hajat
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4409
_______________
↩️ 🔉Arsip Audio Klip FBF sebelumya 1 s/d 10 :
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4382
🗂🔉Arsip Audio Klip FBF 11 s/d 20 :
Pengaruh Dosa terhadap Istri dan Kendaraan
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4378
Futsal untuk Wasilah Dakwah?
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4381
Dunia Akhirat harus Seimbang?
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4386
Jangan Berhenti Berdoa
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4388
Jangan Tertipu Penampilan
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4390
Fatamorgana Hidupnya Orang Kafir
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4393
Kisah Goa yang Dhaif
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4395
Bila Anak Futur Menuntut Ilmu
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4399
Kiat Hidup Bahagia
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4402
Tingkatan dalam Menunaikan Hajat
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4409
_______________
↩️ 🔉Arsip Audio Klip FBF sebelumya 1 s/d 10 :
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4382
Telegram
Forum Berbagi Faidah [ FBF ]