منتدى نشر الفـــــــوائد
7.54K subscribers
4.31K photos
259 videos
279 files
5.62K links
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya

Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله

Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Download Telegram
::
🚇 “DUA FAIDAH MEMPERLUAS KATA TATKALA BERDO'A”


Dari Abu Hurairah –radhiallahu ‘anhu- bahwa Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wasallam- berkata di dalam sujudnya:

(( اللَّهُمَّ اغْفِرْ لي ذَنْبِي كُلَّهُ : دِقَّهُ وَجِلَّهُ ، وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ ، وَعَلاَنِيَتَهُ وَسِرَّهُ ))

_”Ya Allah Ampunilah dosaku seluruhnya, yang kecil dan besarnya, awal dan akhirnya, yang terang dan tersembunyi.”_ [H.R. Muslim dan Abu Daud]

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:

“Di sini sudah ditentukan tempat dari dzikir ini yaitu ketika sujud.

Dan hadits ini ada penjabaran (kata-kata doa) di dalamnya. Dengan mengingat bahwa mungkin bagi Nabi –shalallahu ‘alaihi wasallam- untuk berkata “Ya Allah ampunilah aku” saja.

Dan bisa pula untuk beliau tidak menyebut “dosa” (dalam doanya) karena memohon ampunan tidak lain pasti terkait dengan dosa.

Namun dalam menjabarkan (kata dalam  doa) terkandung dua hal:

Pertama:

Bahwa manusia berada di hadapan Rabbnya ketika sedang berdoa -dan seorang mukmin mencintai Rabbnya- dan memperpanjang berposisi(doa) di hadapan Allah ‘azza wa jalla sangat menunjukkan sifat cinta (kepada-Nya).

Kedua:

Bahwa ia merasakan kehadiran dosa-dosanya. Sebab ada dosa yang besar dan kecil, terdahulu dan akan datang. Sehingga perincian (dalam doa memohon ampunan) tidak diragukan lebih kuat efeknya (bagi jiwa) daripada (ucapan doa yang)global.

Dan beranjak dari ini, ia akan lebih khusyuk dalam doanya dan lebih bersih (jiwanya) dalam permohonan(ampunan).

📖 At-Ta’liq ‘alal Muntaqo min Akhbaaril Musthofa: 1/ 407

📑 Penerjemah: Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafidzahullah

••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net
::

🚇 UJIAN TERDAHSYAT DI AKHIR HAYAT
(Hanya Lolos dan Selamat dengan Keyakinan )

✍🏻 Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin –rahimahullah- berkata:

💥“Dan insan –kita memohon keselamatan- terkadang samar atasnya kebenaran dengan kebatilan ketika datang kematian.

Sampai datang (riwayat) menyebut bahwa sebagian manusia akan dipampangkan kepadanya agama-agama ketika datang ajalnya: Islam – yahudi – nashrani. Dan syaithon akan datang beralih rupa sebagai ayahnya mengajak kepada agama yahudi atau nashrani.

Padahal seseorang di saat-saat itu tidak memiliki akal yang sempurna KECUALI seseorang yang Allah –‘azza wa jalla- karuniai kekokohan. Sehingga bisa jadi ia memilih menjadi seorang yahudi atau nashrani –kita memohon perlindungan kepada Allah-.

☝🏻Namun hal ini tidak berlaku umum bagi setiap orang, sebagaimana disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah-.**

BAHKAN perkara tersebut –wallahua’lam- terjadi pada seorang yang di hatinya ada keraguan atau kebimbangan (terhadap kebenaran Islam). Sehingga dengannya ia dihukum dengan hukuman ini.

Dan yang tampak bahwa yang dipampangkan kepadanya adalah tiga agama saja, yang ditetapkan oleh para ulama. Adapun yang selainnya tidak berlaku.”

📖 At-Ta’liq ‘alal Muntaqo min Akhbaaril Musthofa: 1/ 385.

-----------------------------------------------------

Catatan:

** Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah- berkata:

“Adapun dibentangkan agama (di hadapan seseorang) ketika waktu kematian maka ini ujian untuk sebagian orang saja, tidak berlaku bagi yang lainnya.”
[Majmu’ Al-Fatawa 14/ 202].

# _yakin terhadap Islam dari awal - akhir kehidupan_

📑 Penerjemah: Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafidzahullah

••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net
..
🗂🔉Arsip Audio Klip FBF 1 s/d 10 :

📌Bukan karena Dunia Kita Berteman
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4339

📌Ingin Mengetahui Gaji Suami Orang Lain?
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4344

📌Hukum anak menerima nafkah yang haram dari ayahnya?
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4348

📌Muru'ah Ada 4 Perkara
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4351

📌Hikmah Duduk dengan Fakir Miskin
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4354

📌Orang Kafir Membantu Pembangunan Masjid?
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4357

📌Berobat di Rumah Sakit Nasrani?
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4367

📌Macam-Macam Jihad
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4369

📌Miliki Kepekaan Sosial
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4371

📌Dahsyatnya Pahala Khusyu'
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4375
::

🚇 TIGA UNSUR PENYEMPURNA SUSUNAN KATA TATKALA BERDOA


Dari Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu bahwa beliau berkata kepada Rasulullah ﷺ:

“Ajarkan kepadaku suatu doa yang aku berdoa dengannya di dalam shalatku.

Rasulullah ﷺ pun bersabda:

“Ucapkanlah:

اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنِي، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

”Ya Allah sungguh aku telah menzhalimi diriku dengan kezhaliman yang banyak, sedangkan tidak ada yang bisa mengampuni dosa-dosa itu kecuali Engkau, maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu, dan sayangilah aku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Muttafaqun ‘alaih].

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin –rahimahullah- berkata:

“Doa ini mengumpulkan konteks yang sempurna dalam berdoa.

✍🏻Sebab doa:

🔘Terkadang menyebut keadaan orang yang berdoa saja

🔘Terkadang hanya menyebut sifat yang dihaturkan kepadanya doa(yaitu Allah)

🔘Kadangkala  dengan menyebut permintaannya saja

🔘Dan terkadang  menyebutkan seluruhnya (yang tersebut di atas).


☝🏻Contoh doa yang di dalamnya hanya mengucapkan permintaan saja yaitu jika kamu katakan:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي

Ya Allah ampunilah aku.

☝🏻Permisalan doa yang menyebut keadaan orang yang berdoa saja seperti ucapan Nabi Musa –‘alaihissalam- dalam firman Allah Ta’ala:

فَسَقَى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ ﴿٢٤﴾

_Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa:  "Duhai Rabb-ku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku". [Q.S. Al-Qashash: 24]

Di sini tidak disebut kecuali keadaan orang yang berdoa saja yang berkonsekuensi meminta kedekatan dan rahmat-Nya.

☝🏻Dan contoh doa yang menyebut keadaan orang yang berdoa dan permintaan, seperti ucapan Nabi Musa –‘alaihissalam- (dalam firman Allah Ta’ala):

قَالَ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي فَغَفَرَ لَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ﴿١٦﴾

_“Musa berdoa:  "Wahai Rabbku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku". Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.[Q.S. Al-Qashash: 16]

Dan doa yang paling sempurna yang disebut di dalamnya:
keadaan orang yang berdoa,
yang dipintakan doa kepadanya,
dan permintaan.

☝🏻 Sebagaimana di dalam hadits ini.
Oleh karenanya Nabi –shalallahu ‘alaihi wasallam- mengajarkan kepada beliau (Abu Bakr) ucapan yang paling mencakup dalam konteks kalimat dan permintaannya.

📖 At-Ta’liq ‘alal Muntaqo min Akhbaaril Musthofa, 1/394.



_________
Catatan:

✍🏻اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا،

”Ya Allah sungguh aku telah menzhalimi diriku dengan kezhaliman yang banyak,"

Ini penyebutan kondisi orang yang berdoa

✍🏻 وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ

"sedangkan tidak ada yang bisa mengampuni dosa-dosa itu kecuali Engkau,_"

Ini penyebutan sifat yang dipintakan doa kepadanya

✍🏻 فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنِي، 

"maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu, dan sayangilah aku,"

Ini permintaannya.

✍🏻 إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

"sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Ini penyebutan sifat yang dipintakan doa kepadanya.


📑 Penerjemah: Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafidzahullah

••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net
..
🚇 KIDS ZAMAN NOW

Istilah yang disematkan kepada anak-anak remaja (baca: ABG) kekinian yang tengah populer di media sosial.

Perilaku dan gaya kids zaman now yang tersebar di medsos, biasanya menampilkan kebiasaan dan kelakuan nyeleneh yang mungkin tidak dilakukan di era remaja sebelumnya.

Di antara trademark kids zaman now adalah bangganya mereka ketika bisa menampilkan selfi mesra bersama pasangannya (baca: pacar), padahal mereka masih seumuran anak sekolah dasar (SD), laa haula wala quwwata illa billah. Kadang tak sebatas itu, kita akan merasa geli tapi miris ketika kata-kata romantis bertabur di status-status medsos pasangan bau kencur ini, sekali lagi ini dilakukan oleh anak umuran SD, memanglah kids zaman now..!

Di status yang lain, kids zaman now kerap memposting selfinya dengan bangga ketika mereka bisa bergaya dengan rokok di mulutnya atau botol khamr di tangannya, pikirnya dia telah hebat dan pantas tuk menyandang kids zaman now!

Pembaca rahimakumullahu, tentunya kenyataan di atas adalah fenomena yang menyedihkan, lalu, salah siapakah? Mungkin kurang tepat jika kita kambing hitamkan kepada kids zaman now ini sepenuhnya, di samping kelabilan jiwa yang ada pada umuran mereka, kurangnya penanaman akidah tauhid sejak dini juga menjadi sebab mengapa kids zaman now melakukan aksi-aksi negatif di atas.

Pengajaran akidah dan tauhid sejatinya adalah pondasi kokoh dalam pembentukkan karakter positif seorang anak, dan ini merupakan tanggung jawab dan kewajiban kedua orang tua dan para pendidiknya.

Ketika seorang anak diajari akidah dan tauhid, niscaya dia akan mengetahui hakikat tujuan hidupnya, yakni beribadah hanya kepada Allah saja, dan ini adalah pondasi dan pokok dasar dalam akidah, yakni memahamkan kepada seorang anak tentang firman Allah taala,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya:

"Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk mengibadahi-Ku". (QS. Adz Dzariyat: 56)

Jika kids zaman now telah memahami pondasi yang agung ini, maka harapan akan indah dan positifnya mereka dalam berperilaku akan bisa lebih kita harapkan sebagai penyejuk pandangan generasi old-nya sekarang, insya Allah.


💐 Wa Sedikit Faidah Saja (SFS)

💾 Arsip lama terkumpul di catatankajianku.blogspot.com dan di link telegram @sedikitfaidahsaja

#hati_berbisik
..

🚇 HUKUM BERDOA SETELAH SHALAT


Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah

Pertanyaan :
“Apakah berdoa setelah shalat itu bid’ah atau makruh?



Jawaban:

“Doa setelah shalat fardhu adalah bid’ah. Sebab Nabi –shalallahu ‘alaihi wasallam- tidak melakukannya.

Dan setiap orang yang menghambakan diri kepada Allah dengan sesuatu yang :

◾️tidak dilaksanakan oleh Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wasallam-,
◾️tidak diperintahkan,
◾️dan tidak tsabit (tetap) datang dari syariatnya..

MAKA itu adalah bid’ah.

Berdasarkan sabda Nabi –shalallahu ‘alaihi wasallam-:

فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ

_Setiap perkara yang muhdats(baru dan tidak ada dalilnya) adalah bid’ah._

Adapun Nabi –shalallahu ‘alaihi wasallam- telah membimbing kepada waktu berdoa di dalam shalat, beliau bersabda:

وَأَمَّا اَلسُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِي اَلدُّعَاءِ , فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ

_Adapun sujud maka bersungguh-sunguhlah dalam berdoa, maka itu sudah dekat dikabulkannya  untuk kalian._ H.R. Muslim

Dan Nabi –shalallahu ‘alaihi wasallam- bersabda kepada Abdullah ibnu Mas’ud ketika beliau mengajarkan tasyahud kepadanya:

ثُمَّ يَتَخَيَّرُ مِنْ الْمَسْأَلَةِ مَا شَاءَ

_Lalu ia(yang telah selesai dari tasyahud akhir) memilih permintaan(doa) yang ia inginkan._ H.R. Muslim

Yaitu: Sebelum ia berpaling (mengucap salam) dari shalatnya.

Begitu pula, sebagaimana doa di dalam shalat sebelum salam tersebut adalah hal yang ditunjukkan nash-nash yang syar’i, demikian juga  hal itu merupakan tuntutan dari sudut pandang yang benar.

Sebab seseorang selama ia di dalam shalatnya maka ia sedang bermunajat dengan Rabb-nya dan Dia ada di hadapannya.

Lalu bagaimana bisa diakhirkan doa sampai ia salam, berpaling, dan memutus sambungan antara dia dengan Allah Ta’ala di dalam shalatnya?

Hal ini menyelisihi logika yang lurus.


Dan dengan ini maka kami katakan:

Shalat Fardhu disunnahkan setelahnya berdzikir, sedangkan berdoa sebelum salam. Hal ini berasaskan firman Allah Tabaaraka wa Ta’ala:

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاَةَ فَاذْكُرُواْ اللّهَ قِيَاماً وَقُعُوداً وَعَلَى جُنُوبِكُمْ ﴿١٠٣﴾

_Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat (mu), ingatlah Allah (berdzikir) di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring._ Q.S. An-Nisaa’: 103.

Adapun doa setelah nafilah (shalat sunnah) maka hal tersebut juga menyelisihi sunnah. Sebab tidak datang riwayat dari Nabi –shalallahu ‘alaihi wasallam- bahwa Beliau berdoa setelah shalat nafilah. Maka kita katakan:

“Jika kamu ingin berdoa maka berdoalah kepada Allah Ta’ala sebelum salam dari shalat” dengan alasan yang telah kami sebut  terkait shalat fardhu di atas.


Kemudian jika ada seseorang yang berkata:

Bukankah telah _tsabit_ dari Nabi -shalallahu ‘alaihi wasallam- bahwa beliau bersabda kepada Mu’ad bin Jabal –radhiallahu ‘anhu-:

لَا تَدَعَنَّ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ أَنْ تَقُولُ :

اَللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

_Janganlah kamu meninggalkan di setiap dubur (akhir) shalat untuk berdoa:
"Ya Allah tolonglah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur, dan baik dalam beribadah kepada-Mu."

Dan ini doa(setelah shalat)?


📚 Kita jawab:

Ini benar. Ucapan itu adalah doa. Dan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam memberi wejangan kepada Mu’adz bin Jabal untuk membacanya.

📌Namun apa yang dimaksud _dubur_(akhir) shalat?

📌Apakah doa tersebut dilakukan setelah salam (selesai shalat) atau di akhir shalat?

Jawaban atas pertanyaan ini diambil dari konsekuensi kandungan nash-nash yang syar’i:

🔺Maka (berdasar keterangan terdahulu) Nabi –shalallahu ‘alaihi wasallam- telah menjadikan setelah tasyahhud (sebelum berdoa) tempat untuk berdoa.

🔺Dan di dalam Al-Quranul Karim, Allah Ta’ala telah menjadikan setelah salam untuk berdzikir. Allah berfirman:

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاَةَ فَاذْكُرُواْ اللّهَ قِيَاماً وَقُعُوداً وَعَلَى جُنُوبِكُمْ ﴿١٠٣﴾

_Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat (mu), ingatlah Allah (berdzikir) di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring._ Q.S. An-Nisaa’: 103.