::
🚇SHALAT DALAM KEADAAN JUNUB KARENA LUPA
Al-Ustadz Muhammad Sarbini hafidzahullah
➰Seseorang dalam keadaan junub kemudian shalat fardhu. Kondisi dia pada saat itu dalam keadaan sakit (demam). Ia ingat setelah masuk dua kali shalat fardhu. Apakah shalat yang dilakukannya sah? Jika harus mengqadha, bagaimana caranya?
Jawaban:
Shalat fardhu yang dilaksanakan tanpa mandi karena lupa, wajib diqadha. Jika demam dan akan termudaratkan oleh air (tambah sakit atau memperlama kesembuhan), boleh tayammum.
Cara mengqadhanya digabung keduanya pada waktu zhuhur. Jadi, setelah shalat zhuhur, langsung qadha zhuhur lalu qadha ashar.
📊asysyariah.com/tanya-jawab-ringkas-edisi-102/
🚇SHALAT DALAM KEADAAN JUNUB KARENA LUPA
Al-Ustadz Muhammad Sarbini hafidzahullah
➰Seseorang dalam keadaan junub kemudian shalat fardhu. Kondisi dia pada saat itu dalam keadaan sakit (demam). Ia ingat setelah masuk dua kali shalat fardhu. Apakah shalat yang dilakukannya sah? Jika harus mengqadha, bagaimana caranya?
Jawaban:
Shalat fardhu yang dilaksanakan tanpa mandi karena lupa, wajib diqadha. Jika demam dan akan termudaratkan oleh air (tambah sakit atau memperlama kesembuhan), boleh tayammum.
Cara mengqadhanya digabung keduanya pada waktu zhuhur. Jadi, setelah shalat zhuhur, langsung qadha zhuhur lalu qadha ashar.
📊asysyariah.com/tanya-jawab-ringkas-edisi-102/
::
🚇WAS-WAS DARI SYAITHAN
_Majalah Asy Syariah Edisi 035_
Tanya:
ِSaya sering dikuasai rasa was-was. Bila saya ingin melintasi sebuah jalan, rasa was-was itu menghantui saya hingga saya merasa bahwa jalan yang saya lalui salah, seharusnya lewat sisi yang lain.
Ketika hendak makan, setan juga menyusupkan was-was pada diri saya bahwa makanan saya tidak sehat dan menimbulkan mudarat. Karenanya saya mohon nasihat antum, semoga Allah Ta'ala memberi balasan kebaikan kepada antum.
Jawab:
Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah menjawab:
“Was-was itu dari setan, sebagaimana Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman:
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ (1) مَلِكِ النَّاسِ (2) إِلَهِ النَّاسِ (3) مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (4)
“Katakanlah (ya Muhammad): Aku berlindung kepada Rabb manusia. Rajanya manusia. Sesembahan manusia, dari kejelekan was-was al-khannas.” (An-Nas: 1-4)
Al-Khannas adalah setan.
Maka wajib bagi anda wahai saudaraku untuk berta’awwudz kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aladari was-was tersebut serta berhati-hati dari tipu daya setan.
Dan hendaknya pula anda berketetapan hati dalam melakukan segala urusan anda. Jika anda melewati sebuah jalan maka mantapkanlah, terus anda lalui hingga anda memang mengetahui dengan yakin di jalan tersebut ada sesuatu yang akan mengganggu. Jika memang demikian, tinggalkanlah.
Demikian pula ketika memakan makanan. Jika anda tidak tahu ada perkara yang membuat makanan tersebut diharamkan, makanlah serta tinggalkan was-was yang ada.
👉🏽Saat berwudhu juga demikian, terus kerjakan dan tinggalkan segala was-was yang mungkin membisikkan, “Anda tidak menyempurnakan wudhu”, “Anda belum melakukan ini dan itu”, teruskan wudhu anda selama anda pandang telah menyempurnakannya. Lalu pujilah Allah Subhaanahu wa Ta'ala. Demikian pula saat anda mengerjakan shalat.
Hati-hatilah anda dari was-was dalam segala sesuatu, yakinlah itu dari setan. Bila anda mendapati suatu was-was dalam jiwa anda, berlindunglah kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala dari setan serta teruskan apa yang sedang anda lakukan.
Berketetapan hatilah hingga membuat jengkel setan musuh anda. Hingga pada akhirnya ia tidak dapat menguasai anda setelah sebelumnya dapat melakukannya karena sikap lembek anda kepadanya. Kita mohon perlindungan kepada Allah k dari kejelekan dan tipu daya setan.” (Fatawa Nurun ‘Alad Darbi, hal. 76)
📊asysyariah.com/was-was-dari-syaithan/
🚇WAS-WAS DARI SYAITHAN
_Majalah Asy Syariah Edisi 035_
Tanya:
ِSaya sering dikuasai rasa was-was. Bila saya ingin melintasi sebuah jalan, rasa was-was itu menghantui saya hingga saya merasa bahwa jalan yang saya lalui salah, seharusnya lewat sisi yang lain.
Ketika hendak makan, setan juga menyusupkan was-was pada diri saya bahwa makanan saya tidak sehat dan menimbulkan mudarat. Karenanya saya mohon nasihat antum, semoga Allah Ta'ala memberi balasan kebaikan kepada antum.
Jawab:
Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah menjawab:
“Was-was itu dari setan, sebagaimana Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman:
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ (1) مَلِكِ النَّاسِ (2) إِلَهِ النَّاسِ (3) مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (4)
“Katakanlah (ya Muhammad): Aku berlindung kepada Rabb manusia. Rajanya manusia. Sesembahan manusia, dari kejelekan was-was al-khannas.” (An-Nas: 1-4)
Al-Khannas adalah setan.
Maka wajib bagi anda wahai saudaraku untuk berta’awwudz kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aladari was-was tersebut serta berhati-hati dari tipu daya setan.
Dan hendaknya pula anda berketetapan hati dalam melakukan segala urusan anda. Jika anda melewati sebuah jalan maka mantapkanlah, terus anda lalui hingga anda memang mengetahui dengan yakin di jalan tersebut ada sesuatu yang akan mengganggu. Jika memang demikian, tinggalkanlah.
Demikian pula ketika memakan makanan. Jika anda tidak tahu ada perkara yang membuat makanan tersebut diharamkan, makanlah serta tinggalkan was-was yang ada.
👉🏽Saat berwudhu juga demikian, terus kerjakan dan tinggalkan segala was-was yang mungkin membisikkan, “Anda tidak menyempurnakan wudhu”, “Anda belum melakukan ini dan itu”, teruskan wudhu anda selama anda pandang telah menyempurnakannya. Lalu pujilah Allah Subhaanahu wa Ta'ala. Demikian pula saat anda mengerjakan shalat.
Hati-hatilah anda dari was-was dalam segala sesuatu, yakinlah itu dari setan. Bila anda mendapati suatu was-was dalam jiwa anda, berlindunglah kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala dari setan serta teruskan apa yang sedang anda lakukan.
Berketetapan hatilah hingga membuat jengkel setan musuh anda. Hingga pada akhirnya ia tidak dapat menguasai anda setelah sebelumnya dapat melakukannya karena sikap lembek anda kepadanya. Kita mohon perlindungan kepada Allah k dari kejelekan dan tipu daya setan.” (Fatawa Nurun ‘Alad Darbi, hal. 76)
📊asysyariah.com/was-was-dari-syaithan/
::
➰ DO'A KETIKA WAS-WAS
Majalah Asy Syariah Edisi 035
Tanya:
Apa doa yang bisa dipanjatkan agar terlepas dari was-was setan?
Jawab:
Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah menjawab:
“Seseorang dapat berdoa dengan doa yang Allah Subhaanahu wa Ta'ala mudahkan baginya, seperti ia mengatakan:
اللَّهُمَّ أَعِذْنِي مِنَ الشَّيْطَانِ، اللَّهُمَّ أَجِرْنِي مِنَ الشَّيْطَانِ، اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنَ الشَّيْطَانِ، اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ ،اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ مَكَائِدِ عَدُوِّكَ الشَّيْطَانِ
“Ya Allah, lindungilah aku dari setan. Ya Allah, jagalah aku dari setan. Ya Allah, tolonglah aku untuk mengingat-Mu (berdzikir kepada-Mu), untuk bersyukur kepada-Mu dan membaguskan ibadah kepada-Mu. Ya Allah, jagalah aku dari tipu daya musuh-Mu (yaitu) setan.”
Hendaklah ia memperbanyak dzikir kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala, banyak membaca Al-Qur`an dan berta’awwudz kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala ketika mendapatkan was-was, sekalipun ia sedang mengerjakan shalat.
Bila gangguan was-was itu mendominasinya dalam shalat, hendaklah ia meludah (meniup dengan sedikit ludah) ke kiri tiga kali dan berta’awwudz dari gangguan setan sebanyak tiga kali.
Ketika ’Utsman bin Abil ’Ash Ats-Tsaqafi Radhiyallahu 'Anhu mengeluh kepada Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam tentang was-was yang didapatkannya di dalam shalat, beliau memerintahkannya untuk meludah ke kiri tiga kali dan berta’awwudz kepada Allah Ta'ala dari gangguan setan dalam keadaan ia mengerjakan shalat.
Utsman pun melakukan saran Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam tersebut. Allah Subhaanahu wa Ta'ala pun menghilangkan gangguan yang didapatkannya.
Kesimpulannya, bila seorang mukmin dan mukminah diuji dengan was-was,
▪️Hendaknya bersungguh-sungguh meminta kesembuhan dan keselamatan kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala dari gangguan tersebut.
▪️Ia banyak berta’awwudz kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala dari setan, berupaya menepis perasaan was-was tersebut, tidak memedulikan serta menurutinya, baik di dalam maupun di luar shalatnya.
▪️Bila berwudhu, ia melakukannya dengan mantap dan tidak mengulang-ulangi wudhunya.
▪️Bila sedang shalat ia mantap mengerjakannya dan tidak mengulang-ulangi shalatnya.
▪️Bila bertakbir (takbiratul ihram) ia mengerjakannya dengan mantap dan tidak mengulangi takbirnya.
Semuanya dalam rangka menyelisihi bisikan musuh Allah Subhaanahu wa Ta'ala serta dalam rangka menyalakan permusuhan terhadapnya.
Demikianlah yang wajib dilakukan seorang mukmin, agar ia menjadi musuh bagi setan, memeranginya, menepisnya, dan tidak tunduk kepadanya. Bila setan membisikkan kepada anda bahwa anda belum berwudhu dan belum shalat (dengan tujuan menyusupkan was-was hingga anda mengulang-ulangi wudhu dan shalat karena merasa belum mengerjakannya dengan benar, -pent.), padahal anda tahu anda telah berwudhu, anda lihat sisa-sisa air pada tangan anda dan anda tahu anda telah mengerjakan shalat, maka janganlah menaati musuh Allah itu. Yakinlah anda telah shalat. Yakinlah anda telah berwudhu sebelumnya. Jangan anda ulang-ulangi wudhu dan shalat anda serta berta’awwudzlah kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala dari musuh-Nya.
Wajib bagi seorang mukmin untuk kuat dalam melawan ‘musuh Allah Subhaanahu wa Ta'ala’ (setan) hingga musuh itu tidak bisa/mampu mengalahkan dan mengganggunya.
Karena ketika setan dapat menguasai dan mengalahkan seseorang, ia akan menjadikan orang itu seperti orang gila yang dipermainkannya. Wajib bagi mukmin dan mukminah untuk berhati-hati dari musuh Allah Subhaanahu wa Ta'ala , ber-ta’awwudz kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala dari kejelekan dan tipu dayanya.
Hendaklah si mukmin itu kuat dalam melawan setan serta bersabar dalam menangkal gangguan tersebut (tidak mudah menyerah), sehingga ia tidak menuruti setan untuk mengulangi shalatnya, wudhunya, takbirnya, atau yang lainnya.
Demikian pula bila setan mengatakan kepada anda, “Pakaianmu itu najis”, “Tempat ini najis”, “Di dalam kamar mandi ada najis”, “Tanah yang anda pijak ada najisnya”, atau “Tempat shalatmu ada ini dan itu”..
➰ DO'A KETIKA WAS-WAS
Majalah Asy Syariah Edisi 035
Tanya:
Apa doa yang bisa dipanjatkan agar terlepas dari was-was setan?
Jawab:
Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah menjawab:
“Seseorang dapat berdoa dengan doa yang Allah Subhaanahu wa Ta'ala mudahkan baginya, seperti ia mengatakan:
اللَّهُمَّ أَعِذْنِي مِنَ الشَّيْطَانِ، اللَّهُمَّ أَجِرْنِي مِنَ الشَّيْطَانِ، اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنَ الشَّيْطَانِ، اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ ،اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ مَكَائِدِ عَدُوِّكَ الشَّيْطَانِ
“Ya Allah, lindungilah aku dari setan. Ya Allah, jagalah aku dari setan. Ya Allah, tolonglah aku untuk mengingat-Mu (berdzikir kepada-Mu), untuk bersyukur kepada-Mu dan membaguskan ibadah kepada-Mu. Ya Allah, jagalah aku dari tipu daya musuh-Mu (yaitu) setan.”
Hendaklah ia memperbanyak dzikir kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala, banyak membaca Al-Qur`an dan berta’awwudz kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala ketika mendapatkan was-was, sekalipun ia sedang mengerjakan shalat.
Bila gangguan was-was itu mendominasinya dalam shalat, hendaklah ia meludah (meniup dengan sedikit ludah) ke kiri tiga kali dan berta’awwudz dari gangguan setan sebanyak tiga kali.
Ketika ’Utsman bin Abil ’Ash Ats-Tsaqafi Radhiyallahu 'Anhu mengeluh kepada Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam tentang was-was yang didapatkannya di dalam shalat, beliau memerintahkannya untuk meludah ke kiri tiga kali dan berta’awwudz kepada Allah Ta'ala dari gangguan setan dalam keadaan ia mengerjakan shalat.
Utsman pun melakukan saran Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam tersebut. Allah Subhaanahu wa Ta'ala pun menghilangkan gangguan yang didapatkannya.
Kesimpulannya, bila seorang mukmin dan mukminah diuji dengan was-was,
▪️Hendaknya bersungguh-sungguh meminta kesembuhan dan keselamatan kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala dari gangguan tersebut.
▪️Ia banyak berta’awwudz kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala dari setan, berupaya menepis perasaan was-was tersebut, tidak memedulikan serta menurutinya, baik di dalam maupun di luar shalatnya.
▪️Bila berwudhu, ia melakukannya dengan mantap dan tidak mengulang-ulangi wudhunya.
▪️Bila sedang shalat ia mantap mengerjakannya dan tidak mengulang-ulangi shalatnya.
▪️Bila bertakbir (takbiratul ihram) ia mengerjakannya dengan mantap dan tidak mengulangi takbirnya.
Semuanya dalam rangka menyelisihi bisikan musuh Allah Subhaanahu wa Ta'ala serta dalam rangka menyalakan permusuhan terhadapnya.
Demikianlah yang wajib dilakukan seorang mukmin, agar ia menjadi musuh bagi setan, memeranginya, menepisnya, dan tidak tunduk kepadanya. Bila setan membisikkan kepada anda bahwa anda belum berwudhu dan belum shalat (dengan tujuan menyusupkan was-was hingga anda mengulang-ulangi wudhu dan shalat karena merasa belum mengerjakannya dengan benar, -pent.), padahal anda tahu anda telah berwudhu, anda lihat sisa-sisa air pada tangan anda dan anda tahu anda telah mengerjakan shalat, maka janganlah menaati musuh Allah itu. Yakinlah anda telah shalat. Yakinlah anda telah berwudhu sebelumnya. Jangan anda ulang-ulangi wudhu dan shalat anda serta berta’awwudzlah kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala dari musuh-Nya.
Wajib bagi seorang mukmin untuk kuat dalam melawan ‘musuh Allah Subhaanahu wa Ta'ala’ (setan) hingga musuh itu tidak bisa/mampu mengalahkan dan mengganggunya.
Karena ketika setan dapat menguasai dan mengalahkan seseorang, ia akan menjadikan orang itu seperti orang gila yang dipermainkannya. Wajib bagi mukmin dan mukminah untuk berhati-hati dari musuh Allah Subhaanahu wa Ta'ala , ber-ta’awwudz kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala dari kejelekan dan tipu dayanya.
Hendaklah si mukmin itu kuat dalam melawan setan serta bersabar dalam menangkal gangguan tersebut (tidak mudah menyerah), sehingga ia tidak menuruti setan untuk mengulangi shalatnya, wudhunya, takbirnya, atau yang lainnya.
Demikian pula bila setan mengatakan kepada anda, “Pakaianmu itu najis”, “Tempat ini najis”, “Di dalam kamar mandi ada najis”, “Tanah yang anda pijak ada najisnya”, atau “Tempat shalatmu ada ini dan itu”..
❗️ jangan anda turuti ucapan tersebut, tapi dustakanlah si musuh Allah Subhaanahu wa Ta'ala itu. Berlindunglah kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala dari kejelekannya.
Tetaplah anda shalat di tempat yang biasanya, pakailah alas yang biasa anda gunakan, di atas tanah yang biasa anda pijak selama anda tahu tempat itu bersih/suci. Kecuali anda melihat dengan mata kepala anda ada najis yang anda injak dalam keadaan basah barulah cuci kaki anda. Ketahuilah hukum asal sesuatu itu adalah berada di atas thaharah/kesucian, sehingga jangan menuruti musuh Allah Subhaanahu wa Ta'ala dalam suatu perkara pun kecuali pada diri anda ada keyakinan yang anda lihat dan saksikan dengan mata kepala anda. Itu semua agar musuh Allah Subhaanahu wa Ta'ala tidak menguasai anda. Kita mohon keselamatan kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala dari semuanya.” (Fatawa Nurun ‘Alad Darbi, hal. 77-78)
📇 http://asysyariah.com/was-was-dari-syaithan/
Tetaplah anda shalat di tempat yang biasanya, pakailah alas yang biasa anda gunakan, di atas tanah yang biasa anda pijak selama anda tahu tempat itu bersih/suci. Kecuali anda melihat dengan mata kepala anda ada najis yang anda injak dalam keadaan basah barulah cuci kaki anda. Ketahuilah hukum asal sesuatu itu adalah berada di atas thaharah/kesucian, sehingga jangan menuruti musuh Allah Subhaanahu wa Ta'ala dalam suatu perkara pun kecuali pada diri anda ada keyakinan yang anda lihat dan saksikan dengan mata kepala anda. Itu semua agar musuh Allah Subhaanahu wa Ta'ala tidak menguasai anda. Kita mohon keselamatan kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala dari semuanya.” (Fatawa Nurun ‘Alad Darbi, hal. 77-78)
📇 http://asysyariah.com/was-was-dari-syaithan/
::
Ⓜ️ SHALAT DALAM KEADAAN JUNUB KARENA LUPA
Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini -hafidzahullah-
Pertanyaan:
Seseorang dalam keadaan junub kemudian shalat fardhu. Kondisi dia pada saat itu dalam keadaan sakit (demam). Ia ingat setelah masuk dua kali shalat fardhu. Apakah shalat yang dilakukannya sah? Jika harus mengqadha, bagaimana caranya?
Jawaban:
Shalat fardhu yang dilaksanakan tanpa mandi karena lupa, wajib diqadha. Jika demam dan akan termudaratkan oleh air (tambah sakit atau memperlama kesembuhan), boleh tayammum.
Cara mengqadhanya digabung keduanya pada waktu zhuhur. Jadi, setelah shalat zhuhur, langsung qadha zhuhur lalu qadha ashar.
➰asysyariah.com/tanya-jawab-ringkas-edisi-102/
Ⓜ️ SHALAT DALAM KEADAAN JUNUB KARENA LUPA
Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini -hafidzahullah-
Pertanyaan:
Seseorang dalam keadaan junub kemudian shalat fardhu. Kondisi dia pada saat itu dalam keadaan sakit (demam). Ia ingat setelah masuk dua kali shalat fardhu. Apakah shalat yang dilakukannya sah? Jika harus mengqadha, bagaimana caranya?
Jawaban:
Shalat fardhu yang dilaksanakan tanpa mandi karena lupa, wajib diqadha. Jika demam dan akan termudaratkan oleh air (tambah sakit atau memperlama kesembuhan), boleh tayammum.
Cara mengqadhanya digabung keduanya pada waktu zhuhur. Jadi, setelah shalat zhuhur, langsung qadha zhuhur lalu qadha ashar.
➰asysyariah.com/tanya-jawab-ringkas-edisi-102/
::
_Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al 'Utsaimin rahimahullah_
Pertanyaan:
Saya shalat di salah satu masjid dan terjadi lupanya imam dengan tasyahhud awal dan berdiri tegak lalu makmum mengingatkan dengan tasbih sehingga imam kembali lalu duduk untuk bertasyahhud. Kemudian berdiri menyempurnakan shalat dengan bentuk yang benar. Namun setelah kami selesai shalat seseorang berkata: Wahai manusia sesungguhnya shalat kalian batal. Maka kami mohon perhatian dari Anda yang mulia penjelasan hukum masalah ini?
Jawaban:
Para ulama berkata: Sesungguhnya jahl murakkab (kebodohan yang rangkap) lebih jelek dari jahl basith (tidak tahu secara keseluruhan). Jahl murakkab adalah bahwasannya seseorang tidak mengetahui, namun dia tidak mengetahui bahwasannya dia tidak tahu. Ini tentunya sebuah musibah.
Seperti seseorang memberimu fatwa dengan perkara yang dia tidak tahu ilmunya dari al Quran maupun hadits Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam atau pun ucapan ulama diperhitungkan yang diambil darinya untuk mengokohkannya. Dia pun berfatwa tanpa ilmu sehingga dia sesat dan menyesatkan orang lain.
Jadi, orang yang berfatwa kepada mereka dengan batalnya shalat dan wajib mengulanginya, tidaklah memiliki dalil tentang hal itu.
Seperti bentuk ini: Jika imam berdiri dari tasyahhud awal hingga menyempurnakan berdiri, maka haram baginya kembali karena Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pernah berdiri dari tasyahhud awal pada suatu hari lalu mereka bertasbih mengingatkan lalu Beliau meneruskan dan tidak kembali.
👉🏽 Ketika Beliau menyelesaikan shalat dan orang-orang menunggu salamnya, Beliau pun bersujud sebanyak dua kali lalu salam.
Jadi, inilah yang wajib ketika imam berdiri dari tasyahhud awal hingga menyempurnakan berdiri, *maka kembalinya dia itu haram dan tidak boleh dia kembali.
Sebagaimana pada imam ini yang makmum bertasbih mengingatkan, maka dia pun kembali. Jika dia mengetahui kembalinya itu haram, maka shalatnya batal.
👉🏽Namun jika dia tidak tahu bahwa kembalinya itu haram dan mengira bahwa yang wajib adalah kembali dan duduk tasyahhud awal serta dia mengira bahwa seseorang jika diperingatkan untuk tasyahhud awal setelah berdiri wajib baginya kembali, sehingga dia pun kembali dan mengira bahwa hal ini wajib, maka shalatnya tidak batal dan shalatnya sah.
Wajib baginya sujud sahwi setelah salam karena ziyadah (menambah gerakan shalat). Inilah hukum untuk masalah ini.
[Majmu' Fatawa wa Rasail]
@Al-Ukhuwwah
ⓂHUKUM MENINGGALKAN TASYAHHUD AWAL LALU BERDIRI DAN KEMBALI SETELAH SEMPURNA BERDIRI
_Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al 'Utsaimin rahimahullah_
Pertanyaan:
Saya shalat di salah satu masjid dan terjadi lupanya imam dengan tasyahhud awal dan berdiri tegak lalu makmum mengingatkan dengan tasbih sehingga imam kembali lalu duduk untuk bertasyahhud. Kemudian berdiri menyempurnakan shalat dengan bentuk yang benar. Namun setelah kami selesai shalat seseorang berkata: Wahai manusia sesungguhnya shalat kalian batal. Maka kami mohon perhatian dari Anda yang mulia penjelasan hukum masalah ini?
Jawaban:
Para ulama berkata: Sesungguhnya jahl murakkab (kebodohan yang rangkap) lebih jelek dari jahl basith (tidak tahu secara keseluruhan). Jahl murakkab adalah bahwasannya seseorang tidak mengetahui, namun dia tidak mengetahui bahwasannya dia tidak tahu. Ini tentunya sebuah musibah.
Seperti seseorang memberimu fatwa dengan perkara yang dia tidak tahu ilmunya dari al Quran maupun hadits Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam atau pun ucapan ulama diperhitungkan yang diambil darinya untuk mengokohkannya. Dia pun berfatwa tanpa ilmu sehingga dia sesat dan menyesatkan orang lain.
Jadi, orang yang berfatwa kepada mereka dengan batalnya shalat dan wajib mengulanginya, tidaklah memiliki dalil tentang hal itu.
Seperti bentuk ini: Jika imam berdiri dari tasyahhud awal hingga menyempurnakan berdiri, maka haram baginya kembali karena Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pernah berdiri dari tasyahhud awal pada suatu hari lalu mereka bertasbih mengingatkan lalu Beliau meneruskan dan tidak kembali.
👉🏽 Ketika Beliau menyelesaikan shalat dan orang-orang menunggu salamnya, Beliau pun bersujud sebanyak dua kali lalu salam.
Jadi, inilah yang wajib ketika imam berdiri dari tasyahhud awal hingga menyempurnakan berdiri, *maka kembalinya dia itu haram dan tidak boleh dia kembali.
Sebagaimana pada imam ini yang makmum bertasbih mengingatkan, maka dia pun kembali. Jika dia mengetahui kembalinya itu haram, maka shalatnya batal.
👉🏽Namun jika dia tidak tahu bahwa kembalinya itu haram dan mengira bahwa yang wajib adalah kembali dan duduk tasyahhud awal serta dia mengira bahwa seseorang jika diperingatkan untuk tasyahhud awal setelah berdiri wajib baginya kembali, sehingga dia pun kembali dan mengira bahwa hal ini wajib, maka shalatnya tidak batal dan shalatnya sah.
Wajib baginya sujud sahwi setelah salam karena ziyadah (menambah gerakan shalat). Inilah hukum untuk masalah ini.
[Majmu' Fatawa wa Rasail]
@Al-Ukhuwwah
🔵ALHAMDULILLAH🔵
🚀SEGERA HADIR (إن شآء الله) MAJALAH FAWAID EDISI KE-19
🔹Pesan di agen terdekat atau Sirkulasi Fawaid HP 082138981004
Mengetengahkan sajian hangat yang sarat ilmu dan faidah-faidah:
➰Bersabar Menghadapi Ujian (al-Ustadz Muhammad Umar As-Sewed hafizhohulloh):
Dunia adalah negeri ujian, dan tak ada jalan selamat darinya kecuali dengan menempuh kesabaran, karena kedudukan kesabaran pada iman sebagaimana kedudukan kepala pada tubuh.
➰Nikah Mut’ah (al-Ustadz Abdul Mu’thi, Lc hafizhohulloh):
Bersepakatnya umat ini tentang haromnya mut’ah tidak ada yang menyelisihinya kecuali orang-orang Syi’ah al-Ja’fariyah ar-Rofidhoh.
➰Mut’ah = Zina (asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rohimahulloh):
Ada pendapat yang disandarkan kepada imam-imam Ahlussunnah seperti Imam ‘Atho, Ibnu Juraij, Malik Ibnu Anas, Asy-Syafi’i, Ahmad bin Hambal, Ibnu Jarir dan yang lainnya yang membolehkan nikah mut’ah. Benarkah demikian?
➰Fiqih Fitnah (al-Ustadz Muhammad Afifuddin hafizhohulloh):
Di antara sunnatulloh adalah terjadinya beragam fitnah, baik syubhat maupun syahwat, berskala kecil maupun besar, yang menimpa manusia sebagai seleksi iman. Ikutilah bimbingan agar sukses dalam menghadapi ujian-ujian tersebut!
➰Perbedaan yang Sangat Jelas antara Salafi dengan ISIS (Abu Abdil Haq & Dr. ‘Abdul Lathif bin Ahmad al-Kurdy):
Di masa sekarang ini banyak sekali tuduhan keji kepada dakwah Salafi, bahwa mereka adalah ISIS. Simak rincian bantahannya pada Fawaid edisi ini.
➰Fatwa-Fatwa Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rohimahulloh:
Apakah Syaithon Bisa Masuk ke Tubuh Manusia?, Berdarah ketika Sholat, Khitan Bagi Wanita, Menghadap Qiblat saat Buang Hajat, Kencing Sambil Berdiri, Menggerakkan Cincin Saat Berwudhu, Pahala untuk Orang Mati, Bimbingan untuk yang Belum Menikah, dll
➰ Mazhab Salaf dalam Masalah Melihat Alloh ta’ala (asy-Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rohimahulloh):
Melihat Alloh ta’ala, Siapa yang Lebih Mulia, Malaikat atau Orang Sholih?, Pengaruh Jin terhadap Manusia dan Cara Berlindung dari Jin, Hakikat Jin, Berdoa agar Alloh Memberi Petunjuk kepada Setan Qorin Seseorang.
➰Kiat-Kiat Untuk Mendapatkan Anak yang Sholih (al-Ustadz Saiful Bahri hafizhohulloh)
➰Menyingkap Tabir Kesesatan Sebagian Dai (oleh: asy-Syaikh Robi’ bin Hadi hafizhohulloh)
➰Jagalah Dirimu dan Keluargamu dari Api Neraka (al-Ustadz Muhammad Umar as-Sewed hafizhohulloh):
Apapun hasilnya yang akan diperoleh isteri-isteri dan anak-anak kita nanti di akhirat, kitalah yang bertanggung jawab dihadapan Alloh ta’la. bagaimana kiat untuk menyelamatkan mereka dari api neraka?
•••
📗 Pesan di agen terdekat atau Sirkulasi Fawaid HP 082138981004
🚀SEGERA HADIR (إن شآء الله) MAJALAH FAWAID EDISI KE-19
🔹Pesan di agen terdekat atau Sirkulasi Fawaid HP 082138981004
Mengetengahkan sajian hangat yang sarat ilmu dan faidah-faidah:
➰Bersabar Menghadapi Ujian (al-Ustadz Muhammad Umar As-Sewed hafizhohulloh):
Dunia adalah negeri ujian, dan tak ada jalan selamat darinya kecuali dengan menempuh kesabaran, karena kedudukan kesabaran pada iman sebagaimana kedudukan kepala pada tubuh.
➰Nikah Mut’ah (al-Ustadz Abdul Mu’thi, Lc hafizhohulloh):
Bersepakatnya umat ini tentang haromnya mut’ah tidak ada yang menyelisihinya kecuali orang-orang Syi’ah al-Ja’fariyah ar-Rofidhoh.
➰Mut’ah = Zina (asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rohimahulloh):
Ada pendapat yang disandarkan kepada imam-imam Ahlussunnah seperti Imam ‘Atho, Ibnu Juraij, Malik Ibnu Anas, Asy-Syafi’i, Ahmad bin Hambal, Ibnu Jarir dan yang lainnya yang membolehkan nikah mut’ah. Benarkah demikian?
➰Fiqih Fitnah (al-Ustadz Muhammad Afifuddin hafizhohulloh):
Di antara sunnatulloh adalah terjadinya beragam fitnah, baik syubhat maupun syahwat, berskala kecil maupun besar, yang menimpa manusia sebagai seleksi iman. Ikutilah bimbingan agar sukses dalam menghadapi ujian-ujian tersebut!
➰Perbedaan yang Sangat Jelas antara Salafi dengan ISIS (Abu Abdil Haq & Dr. ‘Abdul Lathif bin Ahmad al-Kurdy):
Di masa sekarang ini banyak sekali tuduhan keji kepada dakwah Salafi, bahwa mereka adalah ISIS. Simak rincian bantahannya pada Fawaid edisi ini.
➰Fatwa-Fatwa Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rohimahulloh:
Apakah Syaithon Bisa Masuk ke Tubuh Manusia?, Berdarah ketika Sholat, Khitan Bagi Wanita, Menghadap Qiblat saat Buang Hajat, Kencing Sambil Berdiri, Menggerakkan Cincin Saat Berwudhu, Pahala untuk Orang Mati, Bimbingan untuk yang Belum Menikah, dll
➰ Mazhab Salaf dalam Masalah Melihat Alloh ta’ala (asy-Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rohimahulloh):
Melihat Alloh ta’ala, Siapa yang Lebih Mulia, Malaikat atau Orang Sholih?, Pengaruh Jin terhadap Manusia dan Cara Berlindung dari Jin, Hakikat Jin, Berdoa agar Alloh Memberi Petunjuk kepada Setan Qorin Seseorang.
➰Kiat-Kiat Untuk Mendapatkan Anak yang Sholih (al-Ustadz Saiful Bahri hafizhohulloh)
➰Menyingkap Tabir Kesesatan Sebagian Dai (oleh: asy-Syaikh Robi’ bin Hadi hafizhohulloh)
➰Jagalah Dirimu dan Keluargamu dari Api Neraka (al-Ustadz Muhammad Umar as-Sewed hafizhohulloh):
Apapun hasilnya yang akan diperoleh isteri-isteri dan anak-anak kita nanti di akhirat, kitalah yang bertanggung jawab dihadapan Alloh ta’la. bagaimana kiat untuk menyelamatkan mereka dari api neraka?
•••
📗 Pesan di agen terdekat atau Sirkulasi Fawaid HP 082138981004