منتدى نشر الفـــــــوائد
7.61K subscribers
4.29K photos
256 videos
279 files
5.6K links
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya

Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله

Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Download Telegram
Demikian pula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang Khawarij:

> «كِلَابُ النَّارِ»

“Mereka adalah anjing-anjing neraka.”
(HR. Ibnu Majah no. 176, dishahihkan oleh Albany)

Ini tahdzir terhadap siapa? Terhadap orangnya.

Begitu pula ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan dari Dzul Khuwaishirah, beliau bersabda:

> «إِنَّ مِنْ ضِئْضِئِ هَذَا الرَّجُلِ قَوْمًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ»

“Sesungguhnya dari keturunan orang ini akan muncul suatu kaum yang membaca Al-Qur’an tetapi tidak melewati tenggorokan mereka.”
(HR. Al-Bukhari no. 3610 dan Muslim no. 1064)

Maka men-jarh orang-orang yang pantas dijarh adalah perkara yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena itu Asy-Syaikh Rabi’ rahimahullah menjelaskan, jika kaidah:

> «نُصَحِّحُ وَلَا نُجَرِّحُ»

dipakai, maka kita tidak akan pernah berbicara tentang ahlul bid’ah sama sekali.



Kaidah “إِذَا حَكَمْتَ حُكِمْتَ”

Di antara kaidah bathil yang dibuat oleh para mumayyi’un adalah ucapan:

> «إِذَا حَكَمْتَ حُكِمْتَ»

“Kalau engkau menghukumi, maka engkau pun akan dihukumi.”

Kaidah ini digencarkan untuk menakut-nakuti orang agar tidak melakukan bantahan terhadap kesalahan dan tidak menjelaskan penyimpangan kepada manusia.

Asy-Syaikh Zaid bin Muhammad Al-Madkhaly rahimahullah berkata:

> «هَذِهِ أَيْضًا قَاعِدَةٌ خَاطِئَةٌ بَاطِلَةٌ»

“Ini juga merupakan kaidah yang salah dan bathil.”

Beliau berkata lagi:

> «قَدْ يَكُونُ الْمُرَادُ مِنْهَا التَّرْهِيبُ لِمَنْ يَتَصَدَّى لِرَدِّ الْخَطَإِ وَبَيَانِهِ لِلنَّاسِ»

“Tujuan dari kaidah ini adalah untuk menakut-nakuti orang yang ingin membantah kesalahan dan menjelaskannya kepada manusia.”

Akhirnya orang menjadi takut berbicara. Takut mentahdzir ahlul bid’ah. Takut menghukumi hizby dan mubtadi’. Padahal para ulama sejak dahulu telah menulis kitab-kitab jarh wat ta’dil, kitab-kitab rijalul hadits, kitab Adh-Dhu’afa, kitab Al-Majruhin, dan yang semisalnya.

Kalau para ulama tidak menghukumi berdasarkan dalil dan bayyinah, tentu kitab-kitab tersebut tidak akan pernah ada.



Kaidah “نُرِيدُ مَنْهَجًا وَاسِعًا أَفْيَحَ”

Kaidah ketiga yang dibuat para mumayyi’un adalah ucapan:

> «نُرِيدُ مَنْهَجًا وَاسِعًا أَفْيَحَ»

“Kami menginginkan manhaj yang luas dan lapang.”

Maksud mereka adalah manhaj yang bisa merangkul semua pihak. Selama seseorang berbicara tentang tauhid dan sunnah maka dianggap teman dan saudara, walaupun ternyata dia bergaul dengan ahlul bid’ah dan hizbiyyin.

Asy-Syaikh Rabi’ rahimahullah setelah menyebutkan tiga kaidah tadi berkata:

> «كُلُّهَا ضِدُّ أُصُولِ الْمَنْهَجِ فِي الدَّعْوَةِ إِلَى اللَّهِ وَالتَّحْذِيرِ مِنْ أَهْلِ الْبِدَعِ، وَهَذِهِ الْقَوَاعِدُ تُمَيِّعُ الشَّبَابَ»

“Seluruh kaidah tersebut menyelisihi prinsip-prinsip manhaj dalam berdakwah kepada Allah dan dalam memperingatkan dari ahlul bid’ah. Kaidah-kaidah ini melembekkan para pemuda.”

Akibatnya para pemuda Salafy akhirnya mengambil ilmu dari siapa saja dengan alasan sama-sama mengajarkan tauhid dan sunnah. Ketika diperingatkan bahwa orang tersebut memiliki pemikiran Khawarij atau Sururiyyah, mereka menjawab:

> «نُصَحِّحُ وَلَا نُجَرِّحُ»

atau mengatakan:

> “Kita butuh manhaj yang luas.”

Padahal ini mirip dengan prinsip Ikhwanul Muslimin:

> «نَتَعَاوَنُ فِيمَا اتَّفَقْنَا عَلَيْهِ، وَيَعْذُرُ بَعْضُنَا بَعْضًا فِيمَا اخْتَلَفْنَا فِيهِ»

“Kita bekerja sama dalam perkara yang kita sepakati, dan saling memberi udzur dalam perkara yang kita perselisihkan.”

Walaupun perselisihannya dalam masalah aqidah dan prinsip.



Prinsip Hajr dalam Ahlus Sunnah

Ikhwani fiddin rahimakumullah, prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah sejak dahulu adalah menerapkan al-hajr kepada orang-orang yang layak dihajr, baik: ahlul ma’ashi yang terang-terangan bermaksiat, ahlul bid’ah, maupun orang-orang kafir.


Para ulama berdalil dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Di antaranya adalah hadits Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu dalam kisah tiga sahabat yang tidak ikut Ghazwah Tabuk tanpa udzur syar’i. Mereka jujur kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa memang tidak ada alasan syar’i yang menghalangi mereka.

Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat menghajr mereka sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima taubat mereka. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 4418 dan Muslim no. 2769.



Dalil Batilnya Kaidah “نُصَحِّحُ وَلَا نُجَرِّحُ”

Empat puluh hari pertama mereka dihajr oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat, namun mereka masih bersama istri-istri mereka. Kemudian setelah empat puluh hari, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirimkan utusan lagi bahwa istri-istri mereka pun harus menghajr mereka. Lihat dan bayangkan, mereka tetap taat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akhirnya genap lima puluh hari. Setelah itu Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima taubat sahabat Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu dan dua sahabat lainnya radhiyallahu ‘anhum.

Hadits ini, kata para ulama, menjadi salah satu dalil prinsip disyari’atkannya al-hajr, yaitu menghajr orang yang mukhalif. Siapa mereka? Ahlul bid’ah, demikian pula al-mujahir bil ma’ashi, orang yang terang-terangan melakukan kemaksiatan. Maka mereka berhak mendapatkan sikap demikian. Kisah ini terdapat dalam hadits Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu, diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 4418 dan Muslim no. 2769.

Namun dengan prinsip mumayyi’un dan kaidah-kaidah mumayyi’ah yang mereka keluarkan, prinsip-prinsip seperti ini menjadi hilang atau dipahami tidak sebagaimana mestinya. Karena mereka membawa kaidah-kaidah yang telah disebutkan tadi.



Kaidah “لَا يُلْزِمُنِي”

Kami tambahkan, Asy-Syaikh Rabi’ rahimahullah dalam maqalah lainnya menyebutkan beberapa kaidah mumayyi’un. Beliau mengatakan:

> «وَلِلتَّمَلُّصِ مِنَ الْحَقِّ وَالثَّبَاتِ عَلَى الْبَاطِلِ»

“Dalam rangka menghindar dari al-haq dan tetap kokoh di atas kebatilan.”

Mereka membuat kaidah, di antaranya kaidah:

> «لَا يَلْزَمُنِي»
atau
«لَا يُلْزِمُنِي»

“Tidak mengharuskan saya mengambil pendapat Anda.”

Ketika terjadi perbedaan pendapat, mereka mengatakan: “Laa yulzimuni.” Maksudnya, “Itu tidak mengharuskan saya untuk mengikutinya.” Kaidah ini digunakan secara mutlak, walaupun pendapat yang mereka pegang adalah pendapat yang lemah dan menyelisihi dalil. Namun mereka membentenginya dengan kaidah ini. “Jangan memaksa. Jangan mengomando.” Demikian bahasa-bahasa yang mereka gunakan.



Memerangi Prinsip Al-Jarhul Mufassar

Demikian pula, kata Asy-Syaikh Rabi’ rahimahullah:

> «وَالْحَرْبُ عَلَى أَصْلِ الْجَرْحِ الْمُفَسَّرِ»

“Mereka memerangi prinsip al-jarhul mufassar.”

Apa itu al-jarhul mufassar? Yaitu kritikan yang terperinci, dengan disebutkan sebab-sebab jarh-nya. Kaidahnya:

> «الْجَرْحُ الْمُفَسَّرُ مُقَدَّمٌ عَلَى التَّعْدِيلِ»

“Jarh yang terperinci lebih didahulukan daripada ta’dil.”

Yakni, kritikan yang terperinci dan disebutkan sebab-sebabnya lebih didahulukan daripada rekomendasi atau pujian. Asy-Syaikh Rabi’ rahimahullah dan para ulama lainnya benar-benar memegang kuat prinsip ini, karena inilah yang ingin dihancurkan oleh para mumayyi’un.

Asy-Syaikh Rabi’ rahimahullah banyak menjelaskan, apabila muncul seorang alim yang memberikan ta’dil, pujian, atau rekomendasi kepada seseorang, kemudian ada alim lain yang mengetahui sebab-sebab jarh lalu menjarh orang tersebut, maka di sini terjadi perbedaan. Satu alim menta’dil, memuji, dan merekomendasikan. Satu alim lainnya menjarh dan mengkritik. Maka ketika itu, kata Asy-Syaikh Rabi’ rahimahullah, seorang Ahlus Sunnah wal Jama’ah jangan taklid dan jangan ta’ashub, tetapi hendaknya melihat kepada bayyinah wal hujjah.

Apabila jarh tersebut mufassar, dibangun di atas sebab-sebab yang jelas dan di atas hujjah, maka didahulukanlah al-jarhul mufassar. Karena dalam jarh tersebut terdapat ilmu yang tidak diketahui oleh seorang alim yang memberikan ta’dil atau pujian.
Penolakan Mumayyi’un terhadap Al-Jarhul Mufassar

Orang-orang mumayyi’un, kata Asy-Syaikh Rabi’ rahimahullah, mereka melakukan:

> «الْحَرْبُ عَلَى أَصْلِ الْجَرْحِ الْمُفَسَّرِ»



“Mereka memerangi prinsip al-jarhul mufassar.”

Mereka tidak suka dengan prinsip ini. Mengapa? Karena mereka akan ketahuan ketika ada pihak-pihak yang mengetahui sebab-sebab jarh lalu menjarh mereka. Sementara mereka berusaha melakukan pendekatan-pendekatan kepada sebagian alim untuk mendapatkan rekomendasi atau ta’dil. Dan alim tersebut, karena menghukumi secara zahir dan husnuzhan, memberikan ta’dil atau pujian.

Maka orang-orang mumayyi’un yang mendapatkan ta’dil dari sebagian ulama paling tidak suka dengan jarhul mufassar. Mereka akan memerangi prinsip jarhul mufassar. Di antara cara memeranginya adalah dengan mengatakan bahwa jarh wa ta’dil hanya berlaku dalam masalah perawi hadits. Mereka juga menjatuhkan orang-orang yang melakukan jarhul mufassar, dengan mengatakan bahwa orang-orang tersebut tidak mengetahui sebab-sebab jarh. Padahal yang melakukan jarh adalah orang-orang yang ma’ruf dan memang mengetahui ilmu tentang jarh wa ta’dil serta sebab-sebab jarh. Namun mereka tetap dijatuhkan dengan berbagai macam ucapan.

Yang jelas, kata Asy-Syaikh Rabi’ rahimahullah, di antara perbuatan mumayyi’un adalah memerangi prinsip al-jarhul mufassar.

Menolak Kabar Orang-Orang Tsiqah

Demikian pula mereka melakukan:

> «وَرَدُّ أَخْبَارِ الثِّقَاتِ»



“Menolak kabar orang-orang terpercaya.”

Datang kabar dari orang terpercaya, namun mereka menolaknya. Di antara cara penolakannya adalah seperti yang dilakukan oleh Abul Hasan Al-Ma’ribi ketika membela Sayyid Quthb. Siapa Sayyid Quthb? Dia adalah tokoh Ikhwanul Muslimin yang memiliki sejumlah penyimpangan aqidah, di antaranya celaan terhadap sahabat, pemikiran hululiyyah, dan penyimpangan lainnya.

Ketika Abul Hasan Al-Ma’ribi membelanya, dalam keadaan para aimmah dan ulama besar telah menjarh Sayyid Quthb — seperti Al-Imam Albany rahimahullah, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, Asy-Syaikh Rabi’ rahimahullah, dan para ulama lainnya — Abul Hasan Al-Ma’ribi menolaknya dengan mengatakan bahwa dia belum menjarh atau mengkritik Sayyid Quthb karena belum mendapatkan penyimpangan-penyimpangan Sayyid Quthb. Dia berkata harus tatsabbut.

Ini sekilas bahasa kehati-hatian. Namun ternyata kalimat tatsabbut ditempatkan bukan pada tempatnya, bahkan digunakan dalam rangka menolak akhbaruts tsiqat. “Coba kalau tatsabbut kepada saya. Jangan hanya mendengar berita dari pihak sana. Coba kalian tatsabbut kepada saya.” Ini termasuk upaya untuk menolak akhbaruts tsiqat.

InsyaAllah nanti akan diberikan contoh bagaimana Asy-Syaikh Rabi’ rahimahullah dalam praktik beliau, dan apa yang beliau nukilkan dari para ulama mutaqaddimin, dalam membantah hal ini.

Manhaj Al-Muwazanat

Ikhwani fiddin rahimakumullah, kemudian kaidah mumayyi’un yang kelima adalah qaidah atau manhaj al-muwazanat. Manhaj al-muwazanat ini juga disebut manhaj ‘adl. Bahasanya seakan bagus, namun maksudnya berbahaya.

Apa maksud muwazanat? Yakni harus seimbang. Ketika menjarh atau mengkritik seseorang, jangan hanya menyebutkan kejelekan dan kesalahannya, tetapi sebutkan pula kebaikan-kebaikannya. Inilah yang mereka sebut muwazanat. Sekilas tampak bijak. Seakan-akan orang yang menerapkannya tidak hanya melihat satu sisi, tetapi melihat dua sisi.

Namun ternyata, wallahul musta’an, manhaj al-muwazanat ini menyelisihi prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan prinsip dakwah Salafiyyah. Asy-Syaikh Rabi’ rahimahullah banyak membantah manhaj al-muwazanat, baik dalam kitab-kitab khusus beliau maupun dalam fatwa dan jawaban-jawaban beliau.

Dengan ringkas disebutkan bahwa Al-Qur’an, As-Sunnah, dan kitab-kitab para ulama ketika menjelaskan penyimpangan orang-orang yang berbahaya tidak menyebutkan kebaikan-kebaikan mereka.
Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mentahdzir dari Yahudi dan Nashara, Allah memperingatkan mereka dalam ayat-ayat Al-Qur’an tanpa menyebutkan kebaikan-kebaikan mereka. Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan tentang Abu Lahab, Allah berfirman:

> «تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ»

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia.”
(QS. Al-Masad: 1)

Allah mencela Abu Lahab. Apakah Allah menyebutkan kebaikan Abu Lahab? Tidak. Padahal Abu Lahab sebagai manusia mungkin memiliki sisi-sisi kebaikan, tetapi Allah tidak menyebutkannya dalam maqam tahdzir.

Demikian pula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika memperingatkan dari orang-orang yang berbahaya, beliau tidak menyebutkan kebaikan-kebaikan mereka. Demikian pula para ulama dalam kitab-kitab jarh, kitab-kitab rijal, kitab-kitab dhu’afa, dan kitab-kitab majruhin. Mereka menyebutkan kritikan-kritikan tanpa menyebutkan kebaikan-kebaikan. Mengapa? Karena itu adalah maqam tahdzir, maqam untuk memperingatkan manusia, bukan maqam tarjamah.

Tujuannya adalah memperingatkan manusia dari bahaya orang tersebut agar mereka menjauh. Kalau disebutkan kebaikan-kebaikannya, apakah tujuan tahdzir tercapai? Tidak. Karena itulah manhaj muwazanat dikeluarkan oleh mumayyi’un untuk merusak prinsip tahdzir.

Ikhwanul Muslimin dan Tamyi’

Ikhwani fiddin rahimakumullah, terakhir kami sebutkan karena sudah masuk waktu shalat Isya. Sebagai penutup sesi pertama ini, kami nukilkan ucapan Asy-Syaikh Rabi’ rahimahullah. Beliau berkata:

> «الْإِخْوَانُ الْمُسْلِمُونَ مُمَيِّعُونَ، الْإِخْوَانُ الْمُسْلِمُونَ هُمْ مُمَيِّعُونَ، يَقُولُونَ: الرَّوَافِضُ إِخْوَانُنَا، وَالصُّوفِيَّةُ إِخْوَانُنَا»



“Ikhwanul Muslimin adalah mumayyi’un. Ikhwanul Muslimin, mereka adalah mumayyi’un. Mereka mengatakan, ‘Rafidhah adalah saudara kami, Shufiyyah adalah saudara kami.’”

Itu aqidah siapa? Aqidah Ikhwanul Muslimin. Mereka mengatakan, “Rafidhah saudara kami, Shufiyyah saudara kami.” Sementara kata Asy-Syaikh Rabi’ rahimahullah, mereka juga mengatakan:

> «وَدَعْوَةُ السَّلَفِيَّةِ تُفَرِّقُ وَتُشَدِّدُ»



“Dakwah Salafiyyah itu memecah belah dan bersikap keras.”

Maka Asy-Syaikh Rabi’ rahimahullah memberikan komentar:

> «هَذَا التَّمْيِيعُ»



“Inilah tamyi’.”

Inilah di antara perkara yang akan melunakkan dan melembekkan prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah serta melembekkan para pemuda Salafy.

Wallahu a’lam bish-shawab. Mungkin ini bagian pertama yang bisa kami sampaikan berupa penukilan sifat-sifat, ciri-ciri, dan kaidah-kaidah mumayyi’un. Kami cukupkan sampai di sini. InsyaAllah pada sesi kedua kami akan memberikan contoh dan praktik dari penerapan bantahan para ulama terhadap kaidah ini.

> «سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ»


Link audio:
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/14284

Catatan:

Transkrip ini tidak disajikan secara harfiah (verbatim), namun telah melalui penyuntingan ringan berupa penghapusan pengulangan kata dan penataan kalimat tanpa mengubah makna yang disampaikan dalam muhadharah, dengan tujuan menjaga kejelasan dan kenyamanan pembaca.

Transkrip ini telah dibaca dan disetujui oleh Ustadz Abu Jundi hafizhahullah.

🌏 Channel FBF:
t.me/ForumBerbagiFaidah
💥 جديد 💥

✍️ #كلمة:

﴿ نصائح وتوجيهات للإخوة السلفيين في بلاد إندونيسيا ﴾

🎙للشيخ الفاضل |
أبي يحيى
#زكريا_بن_شعيب 🇧🇼

🎬 على يوتيوب:
https://youtu.be/dG8Fv70q5iQ?si=KPU5a4AM0rODH0Dc

✈️ رابط الصوتية:
https://t.me/Zakaria_aladany/2519

💬💬💬💬💬💬💬💬
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Forwarded from Kajian Salafy Palopo
🤲🏼 SEMOGA ALLAH 'AZZA WA JALLA MENGOKOHKAN MEREKA

✍🏼 Fadhilatusy Syaikh Zakariyya bin Syu'aib al-Adeni hafizhahullah,

بَلْ وَاجِبٌ عَلَيْكُمْ أَنْ تُحَافِظُوا عَلَى دَعْوَتِكُمْ، وَمَشَايِخِ أَجِلَّاءَ عِنْدَكُمْ، نَعَمْ، كَالشَّيْخِ لُقْمَانَ حَفِظَهُ اللَّهُ، وَالْإِخْوَةِ الْمُدَرِّسِينَ جَمِيعِهِمْ، أَيْضًا كُلُّهُمْ عَلَى خَيْرٍ وَصَلَاحٍ

وَنَسْأَلُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُسَدِّدَهُمْ، وَأَنْ يَحْفَظَهُمْ جَمِيعًا، وَأَنْ يَحْفَظَ بِلَادَ إِنْدُونِيسِيَا، وَيَكْبِتَ أَعْدَاءَكُمْ وَأَعْدَاءَ الدَّعْوَةِ السَّلَفِيَّةِ

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

📚 نصائح وتوجيهات للإخوة السلفيين في بلاد إندونيسيا

📎 https://t.me/Zakaria_aladany/2518


"Wajib atas kalian menjaga dakwah kalian. Kalian memiliki para masyaikh (asatidzah) yang mulia. Seperti syaikh (ustadz) Luqman hafizhahullah dan seluruh para pengajar lainnya, semuanya berada di atas kebaikan dan keshalihan.

Kita memohon kepada Allah 'Azza wa Jalla agar mengokohkan mereka (istiqamah di atas kebenaran dan selamat dari penyimpangan), menjaga mereka semuanya, menjaga negeri Indonesia, menghinakan musuh-musuh kalian dan musuh-musuh dakwah salafiyyah.

Dan segala pujian yang sempurna hanya milik Allah Rabb semesta alam."


📚 Nashaih wat Taujihat Lil Ikhwatis Salafiyyin fi Biladi Indunisiya


📲 Join • Save • Share ll
https://t.me/kajiansalafypalopo/8147

Media Dakwah Salafy Palopo

🔄
Forwarded from SALAFY BANDUNG
بِسْــــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

📣 Telekonferensi Muhadharah
InsyaAllah

📚 SILSILAH RUDUD MANHAJIYAH AHLUS SUNNAH: “Mengenal Rudud, Jarh wa Ta’dil, dan Tahdzir Para Ulama"

💺 Disampaikan oleh:
🎙 Al-Ustadz Abu Muhammad Musa bin Hadi hafizhahullah
(Pembina Ma’had Minhajul Atsar Timika)

📆 SETIAP JUM’AT MALAM SABTU
🕰️ Pukul 20.00 WIB – selesai



📖 Materi Pertemuan

Pertemuan 1
Apakah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat yang menjunjung akhlaqul karimah juga mencontohkan tahdzir dan rudud?

Pertemuan 2
Pentingnya tahdzir dan mempelajari kitab-kitab rudud (bantahan).

Pertemuan 3
Menjawab syubhat bahwa mempelajari rudud akan mengeraskan hati.

Pertemuan 4
Menjawab syubhat bahwa rudud menyebabkan sikap kasar dan memecah belah persatuan kaum muslimin.


---

📌 TERBUKA UNTUK UMUM
👤 Pria & Wanita

🎧 Disiarkan melalui:

◽️Channel Telegram
https://t.me/SalafyBandung

◽️Website
https://manhajulanbiya.com/

◽️Aplikasi Radio Salafy Bandung
https://manhajulanbiya.com/radio

🍃Informasi
https://wa.me/628388889088


---

📝 Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

> «مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ»

“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim no. 2699)

🌐 www.SalafyBandung.com

◽️◽️◽️◽️◽️◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Forwarded from Salafy Probolinggo


📝 JADWAL KAJIAN ISLAM AHAD TERPADU (KIAT)

🗓 Pekan Ke-2
14 Dzulhijjah 1447 H
(31 Mei 2026 M
)

Rincian jadwal dan tema, biidznillah:

📖 Sesi 1 (09:00 - 09:40)
Kajian Akidah Kitab At Taudhih wal Bayan
Bersama Ustadz Abu Abdil Majid Fauzan

🧋 09:40 - 10:10 ISTIRAHAT

📖 Sesi 2 (10:10 - 10:50)
Kajian Fiqh Shalat Kitab Matn Abi Syuja'
Bersama Ustadz Abu Ali Zain

📖 Sesi 3 (10:55 - Zuhur)
Serial Fawaid Manhajiyyah: Kritikan Ilmiah terhadap Ust Khalid Basalamah terkait Hadits Nabi & Atsar Sahabat
Bersama Ustadz Abu Utsman Kharisman

📍 Terbuka untuk umum:
- Muslimin di Masjid Al Fauzan
- Muslimat di Gedung Putri

🛜 Siaran langsung di:
Radio Suara Islam Probolinggo
Via web:
https://radioma.my.id/start/suaraislam/
Atau:
https://manhajulanbiya.com/
Unduh Aplikasi:
https://manhajulanbiya.com/radio

📍 Kajian Bahasa Arab untuk Ummahat Pekan ini Diliburkan

Penyelenggara:
BKM Al Fauzan didukung Yayasan I'tishom Bissunnah Probolinggo

•┈┈•✿❁✿•┈┈•
Media Publikasi:
Salafy Probolinggo
t.me/ahlussunnahprobolinggo
Forwarded from Salafy Probolinggo
بسم الله الرحمن الرحيم

HADIRILAH, BIIDZNILLAH...

📜 SERIAL FAWAID MANHAJIYYAH:
KRITIKAN ILMIAH TERHADAP UST. KHALID BASALAMAH TERKAIT HADITS NABI DAN ATSAR SAHABAT


🎙️ Bersama:
Ustadz Abu Utsman Kharisman hafidzahullah

🗓️ Ahad, 14 Dzulhijjah 1447 H/ 31 Mei 2026 M

Waktu Kajian:
Sesi Terakhir KIAT (10:55 - Dzuhur)

🕌 Masjid Al Fauzan
Kompleks Ma'had Al I'tishom bis Sunnah Kraksaan-Probolinggo

Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk hadir di majelis taklim dan mencatat faidah yang didapat.

🛜 Siaran langsung di:
Radio Suara Islam Probolinggo
Via web:
https://radioma.my.id/start/suaraislam/
Atau:
https://manhajulanbiya.com/
Unduh Aplikasi:
https://manhajulanbiya.com/radio

🔏 Penyelenggara:
BKM Al Fauzan didukung oleh Yayasan I'tishom Bissunnah Probolinggo

•┈┈•✿❁✿•┈┈•
Media Publikasi:
Salafy Probolinggo
t.me/ahlussunnahprobolinggo
Forwarded from Salafy Probolinggo
FAWAID MANHAJIYYAH 17.pdf
413.4 KB
📜 Serial Fawaid Manhajiyyah Bag.17:
KRITIKAN ILMIAH TERHADAP UST. KHALID BASALAMAH TERKAIT HADITS NABI DAN ATSAR SAHABAT

🔗 Tautan:
https://t.me/ahlussunnahprobolinggo/4792

~
Forwarded from SALAFY BANDUNG
📣 TELEKONFERENSI MUHADHARAH
InsyaAllah

Silsilah Rudud Manhajiyah Ahlus Sunnah : MENGENAL RUDUD, JARH WA TA’DIL, DAN TAHDZIR PARA ULAMA

Seri 1

Apakah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabat yang menjunjung akhlaqul karimah juga mencontohkan tahdzir dan rudud?

🎙Disampaikan oleh:

Al-ustadz Abu Muhammad Musa Bin Hadi hafizhahullah
(Pembina Ma’had Minhajul Atsar Timika)

📆 Jum’at Malam Sabtu
19 Dzulhijjah 1447 H / 5 Juni 2026 M

🕗 Pukul 20.00 WIB – selesai

📺 DISIARKAN MELALUI:

📡 Channel Telegram
https://t.me/SalafyBandung

🌐 Website
https://manhajulanbiya.com

📻 Aplikasi Radio Salafy Bandung
https://manhajulanbiya.com/radio

📱 Informasi
https://wa.me/628388889088

🌐
SALAFYBANDUNG.COM

◾️◽️◾️◽️◾️◽️◾️◽️◾️◽️◾️◽️
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Forwarded from SALAFY BANDUNG
📣 TELEKONFERENSI MUHADHARAH
InsyaAllah

Silsilah Rudud Manhajiyah Ahlus Sunnah : MENGENAL RUDUD, JARH WA TA’DIL, DAN TAHDZIR PARA ULAMA

Seri 1

Apakah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabat yang menjunjung akhlaqul karimah juga mencontohkan tahdzir dan rudud?

🎙Disampaikan oleh:

Al-ustadz Abu Muhammad Musa Bin Hadi hafizhahullah
(Pembina Ma’had Minhajul Atsar Timika)

📆 Jum’at Malam Sabtu
19 Dzulhijjah 1447 H / 5 Juni 2026 M

🕗 Pukul 20.00 WIB – selesai

📺 DISIARKAN MELALUI:

📡 Channel Telegram
https://t.me/SalafyBandung

🌐 Website
https://manhajulanbiya.com

📻 Aplikasi Radio Salafy Bandung
https://manhajulanbiya.com/radio

📱 Informasi
https://wa.me/628388889088

🌐
SALAFYBANDUNG.COM

◾️◽️◾️◽️◾️◽️◾️◽️◾️◽️◾️◽️
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Forwarded from SALAFY BANDUNG
📣 LIVE SEKARANG!
TELEKONFERENSI MUHADHARAH

LIVE Silsilah Rudud Manhajiyah Ahlus Sunnah : MENGENAL RUDUD, JARH WA TA’DIL, DAN TAHDZIR PARA ULAMA | Apakah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabat yang menjunjung akhlaqul karimah juga mencontohkan tahdzir dan rudud? | Al-Ustadz Abu Muhammad Musa hafizhahullah | Kajian Rutin Jum'at Malam Sabtu di Rumbel Shabran Jamila Bandung

📺Disiarkan Melalui:

📡 Channel Telegram
https://t.me/SalafyBandung

🌐 Website
https://manhajulanbiya.com

📻 Aplikasi Radio Salafy Bandung
https://manhajulanbiya.com/radio

📱 Informasi
https://wa.me/628388889088

🌐
SALAFYBANDUNG.COM

◾️◽️◾️◽️◾️◽️◾️◽️◾️◽️◾️◽️
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Forwarded from SALAFY BANDUNG
Seri 1 Rudud Manhajiyah_Apakah Rasulullah dan Shahabat Mengajarkan…
Al-Ustadz Musa bin Hadi hafizhahullah
📣 AUDIO REKAMAN TELEKONFERENSI MUHADHARAH
Silsilah Rudud Manhajiyah Ahlus Sunnah : MENGENAL RUDUD, JARH WA TA’DIL, DAN TAHDZIR PARA ULAMA

Seri 1

Apakah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabat yang menjunjung akhlaqul karimah juga mencontohkan tahdzir dan rudud?

🎙Disampaikan oleh:

Al-ustadz Abu Muhammad Musa Bin Hadi hafizhahullah
(Pembina Ma’had Minhajul Atsar Timika)

📆 Jum’at Malam Sabtu
19 Dzulhijjah 1447 H / 5 Juni 2026 M

📱 Informasi
https://wa.me/628388889088

🌐
SALAFYBANDUNG.COM

◾️◽️◾️◽️◾️◽️◾️◽️◾️◽️◾️◽️
Forwarded from BINCANG ISLAM HARI INI
Bincang IHI - [08] Fikih Jual Beli Kontemporer
Ustadz Abu Utsman Kharisman
💽 [ REKAMAN AUDIO]
🔖 #Fikih_Jual_Beli_Kontemporer

🎤 Narasumber:
Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
🎤 MC:
Ustadz Abu Ibrahim Firdaus hafizhahullah

🗓 Sabtu, 20 Dzulhijjah 1447 / 6 Juni 2026
📍 Studio Radio Minhajul Atsar

⬇️ Link Audio
Kualitas 128 kbps: https://t.me/bincangIHI/198

#BincangIHI_08 #Audio_Bincang_IHI #bincang_islam_hari_ini
🌐 t.me/bincangIHI
🌐 t.me/radiominhajulatsar
Forwarded from SALAFY BANDUNG
📣TELEKONFERENSI MUHADHARAH
InsyaAllah

SILSILAH RUDUD MANHAJIYAH AHLUS SUNNAH : “MENGENAL RUDUD, JARH WA TA’DIL, DAN TAHDZIR PARA ULAMA”

Seri 2
Pentingnya tahdzir dan mempelajari kitab-kitab rudud (bantahan).

🎙 Disampaikan oleh:
AL-USTADZ ABU MUHAMMAD MUSA BIN HADI hafizhahullah
(Pembina Ma’had Minhajul Atsar Timika)

📆 Jum’at Malam Sabtu
26 Dzulhijjah 1447 H / 12 Juni 2026 M
🕗 Pukul 20.00 WIB – selesai



📺DISIARKAN MELALUI:

📡 Channel Telegram
https://t.me/SalafyBandung

🌐 Website
https://manhajulanbiya.com

📻 Aplikasi Radio Salafy Bandung
https://manhajulanbiya.com/radio

📱 Informasi
https://wa.me/628388889088

🌐
SALAFYBANDUNG.COM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Forwarded from Ahlussunnah Timika
SALAFI TAPI MASIH NONTON PIALA DUNIA?

بسم الله الرحمن الرحيم الحمدلله رب العالمين والصلاة والسلام علي سيد الرسلين وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد

PIALA DUNIA.....Sebuah ajang besar dalam gelaran olahraga kancah internasional, tinggal menunggu hitungan hari.

Sekedar nasihat buat diri pribadi dan ikhwani fillah, sudah terlalu banyak dan sering para ulama kita memperingatkan efek negatif dan hukum piala dunia, hanya terkadang hawa nafsu masih mengalahkan catatan dua malaikat Raqib dan Atid, hawa nafsu masih mengalahkan ilmu yang sudah diketahui, dan hawa nafsu entah apa lagi yang lainnya.

Duhai sekiranya jiwa yang mau mengekang hawa nafsunya, sungguh Allah Ta'ala telah berfirman dalam Al Quran:

وَاَمَّا مَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ وَنَهَى النَّفۡسَ عَنِ الۡهَوٰىۙ‏ ٤٠ فَاِنَّ الۡجَـنَّةَ هِىَ الۡمَاۡوٰىؕ‏ ٤١

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggalnya.

Piala dunia dengan hadiah fantastis yang digelontorkan¹, benar-benar menyihir banyak manusia, wahai saudaraku...semoga aku dan engkau bukan termasuk dari pengekor hawa nafsu yang tersihir olehnya.

BEBERAPA MUDHARAT DARI MENONTON PIALA DUNIA DAN KEJUARAAN SEPAK BOLA YANG SEMISAL:

1. Mengakibatkan dosa bagi yang menghadiri dan menontonnya, sebagaimana fatwa Al Lajnah Daimah jilid 15 hal 238.
2. Menyia-nyiakan waktu dan harta serta menyeret kepada sebuah perkara yang sangat membahayakan yaitu kecintaan dan pemuliaan kepada orang kafir, sebagaimana fatwa Syaikh Al Utsaimin rahimahullah dalam syarah beliau atas kitab Zaadul Mustaqni' (kitabush shalat kaset 40 b).
3. Menjerumuskan dalam keharaman yang lainnya yaitu melihat aurat (paha) pemainnya, sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Al Utsaimin (idem).
4. Menyebabkan banyak orang yang menontonnya meninggalkan shalat atau meninggalkan jamaah karena tidak jarang pertandingan dilaksanakan di waktu shalat, sebagaimana fatwa Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh Grand Mufti kerajaan Saudi Arabia sebelum Syaikh bin Baz rahimahumallah (Fatawa lbnu lbrahim 8/116-117).
5. Menimbulkan permusuhan dan memecah belah persatuan, sebagaimana fatwa Syaikh Muhammad bin lbrahim Alusy Syaikh (idem).
6. Memunculkan dendam yang bahkan bisa menyebabkan pembunuhan, sebagaimana fatwa Syaikh Muhammad bin lbrahim Alusy Syaikh (idem).
7. Ketika menggemari pemain bola kafir maka bisa membawanya kepada cinta buta setengah gila, sebagaimana fatwa Syaikh Ubaid Al Jabiry rahimahullah (cuplikan video beliau yang berjudul:
حكم حب وتشجيع فرق كرة القدم الكافرة)

Akhi salafi, masihkah anda mau menonton piala dunia? Ataukah anda akan menjadi budak hawa nafsumu?

الله المستعان


✍🏼 Musa bin Hadi, sehari menjelang pembukaan piala dunia 2026


•••--------◇◆🌸📗🌸◆◇--------•••
📻 📡 Ahlussunnah Timika
Gabung - Ikuti - Share
📟 ▶️ Kanal Telegram: https://t.me/ahlussunnah_timika/6599

¹. Disebutkan dalam beberapa tulisan bahwa jumlah total uang yang digelontorkan untuk hadiah para peserta mencapai sekitar 15 triliun rupiah, Allahul musta'an.