منتدى نشر الفـــــــوائد
7.64K subscribers
4.28K photos
254 videos
279 files
5.59K links
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya

Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله

Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Download Telegram
Media is too big
VIEW IN TELEGRAM
💥 جديد 💥

📄 #كلمة:

﴿ كلمة توجيهية لفضيلة الشيخ زكريا بن شعيب العدني للسلفيين في إندونيسيا حول الالتفاف بالشيخ لقمان باعبده حفظهما الله ﴾
🙍‍♂️الشيخ الفاضل |
أبي يحيى #زكريا_بن_شعيب 🇧🇼

🎬 على يوتيوب:
https://youtu.be/k_M0q-p7grA?si=aOWSl3nxZTDiXGeO

✈️ رابط الصوتية:
https://t.me/Zakaria_aladany/2493

💬💬💬💬💬💬💬💬💬
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
📣 📖 TRANSKRIP KAJIAN TELEKONFERENSI SALAFY PALOPO

📑 ( BAGIAN 2 ) MENYINGKAP SYUBHAT MENJAGA MANHAJ: SIKAP ILMIAH DI TENGAH GELOMBANG FITNAH

🎙 Pemateri:
Al-Ustadz Abu Fuad Saiful حفظه الله تعالى

🗓 Ahad, 15 Dzulqa'dah 1447 H
(3 Mei 2026 M)


Rekaman Audio:
https://t.me/kajiansalafypalopo/8007

Catatan:

Transkrip ini tidak disajikan secara harfiah (verbatim), namun telah melalui penyuntingan ringan berupa penghapusan pengulangan kata dan penataan kalimat tanpa mengubah makna yang disampaikan dalam muhadharah, dengan tujuan menjaga kejelasan dan kenyamanan pembaca.

Transkrip ini telah dibaca dan disetujui oleh Ustadz Abu Fuad hafizhahullah



1️⃣🗂Muqaddimah Muhadharah

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.


🗂 Tujuan Diselenggarakannya Muhadharah

Ma’asyiral muslimin wal muslimat, Ikhwany fiddin wa akhawati fillah rahimani wa rahimakumullah,

Alhamdulillah, senantiasa dan terus kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Pada kesempatan pagi hari ini, kembali Allah Subhanahu wa Ta‘ala memudahkan kita untuk menyelenggarakan muhadharah sesi kedua yang berjudul:

“Menyingkap Syubhat, Menjaga Manhaj: Sikap Ilmiah di Tengah Gelombang Fitnah.”

Ikhwany fiddin wa akhawati fillah rahimani wa rahimakumullah,

Sebagaimana Muqaddimah yang telah pernah kami sampaikan pada sesi pertama, bahwa muhadharah ini tidak lain kami selenggarakan melainkan dalam rangka menunaikan firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala:

﴿وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَىٰ تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ﴾

“Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi kaum mukminin.”
(Q.S. adz-Dzariyat: 55)

Dan juga sebagai bentuk penunaian terhadap sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

«وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ»

“Apabila engkau diminta nasihat, maka berilah nasihat tersebut.”
(HR. Muslim, no. 55)

Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

«الدِّينُ النَّصِيحَةُ»

“Agama itu adalah nasihat.”
(HR. Muslim, no. 55)


🗂Munculnya Statement Pasca Muhadharah Pertama

Ikhwany fiddin wa akhawati fillah rahimani wa rahimakumullah.

Setelah terselenggaranya sesi pertama atau bagian pertama (https://t.me/ForumBerbagiFaidah/14213) dari muhadharah ini, tersebar berbagai macam statement.

Namun, yang paling menarik perhatian saya berkaitan dengan sesi kedua ini adalah statement yang mengatakan:

«“Bukankah Syaikh Arafat telah menasihatkan untuk diam dan tidak lagi membahas fitnah? Lantas mengapa Ustadz Abu Fuad justru berbicara dan membahas fitnah?”»


Maka pada awal muhadharah ini penting saya sampaikan bahwa benar, betul, Syaikh Arafat telah menasihatkan untuk diam dan tidak lagi membahas fitnah.

Dan itu akan kami rinci nanti pada poinnya.

Secara terperinci akan kami sampaikan poin-poin jalsah Madinah. InsyaAllah kami akan paparkan secara jujur, apa adanya, dan penuh amanah.
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
2️⃣Namun, penting juga untuk antum ketahui, ayyuhal Ikhwah wal akhawat, mengapa Syaikh Arafat memerintahkan untuk diam? Apa sebabnya?

Ini yang penting untuk diketahui.

Demikian pula, mengapa Abu Fuad berbicara? Mengapa Abu Fuad sekarang membahas fitnah? Apa sebabnya?

Ini juga penting untuk diketahui.



🗂Sikap terhadap Syaikh Arafat hafizhahullah

Dan perlu saya tegaskan di awal muhadharah ini bahwa kami — kalau saya tidak katakan mewakili para Asatidzah yang lain, para Ikhwah, ataupun para du‘at lainnya — tetap menghormati Syaikh Arafat bin Hasan Al-Muhammadi hafizhahullah sebagaimana penghormatan yang telah lama kita lakukan sejak dahulu.

Dan dalam majelis Madinah, Ustadz Luqman menunjukkan penghormatan dan pemuliaan yang sangat besar kepada Syaikh Arafat.

Bahkan sampai-sampai Ustadz Luqman meninggalkan beberapa hak beliau sendiri karena ihtiram dan penghormatan kepada Syaikh Arafat.



🗂Perbedaan Sikap terhadap Jarh dan Tazkiyah

Muhadharah kedua ini — demikian pula muhadharah pertama dua hari yang lalu — bukanlah dalam rangka menandingi Syaikh.

Bukan.

Namun sebagaimana kami tidak bisa memaksa siapa pun untuk menerima jarh kami terhadap Ustadz Abul Harits, demikian pula antum tidak bisa memaksa kami untuk menerima tazkiyah Syaikh Arafat — atau klaim antum tentang adanya tazkiyah tersebut — kepada Ustadz Abul Harits.

Lalu mungkin ada yang berkata:

«“Bukankah ini kontradiksi sebagaimana kata Abu Faiz? Ini tanaqudh, Ustadz Abu Fuad!”»


Maka kita katakan:

Kalau saja dalam permasalahan fikih — dan antum yang pernah belajar di hadapan para Masyaikh, minimal mengikuti beberapa Daurah Al-Muzani atau belajar kepada para Asatidzah — dalam masalah fikih saja bisa terjadi perbedaan pendapat.



🗂Contoh Perbedaan Pendapat Para Masyaikh

Sebagai contoh:

Terjadi perbedaan pendapat antara Al-Imam Al-Albany dan Al-Imam Ibnu Baz terkait posisi tangan setelah ruku‘.

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berpendapat bahwa tangan tetap dalam posisi sedekap.

Sementara Asy-Syaikh Al-Albany rahimahullah berpendapat bahwa tangan di irsal, dibiarkan lurus sebagaimana sebelum takbiratul ihram.

Maka ketika ada seseorang yang mengambil pendapat Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz, apakah itu berarti dia merendahkan pendapat Asy-Syaikh Al-Albany?!

Apakah itu berarti dia tidak menghormati dan tidak memuliakan Asy-Syaikh Nashiruddin Al-Albany?!

Tidak sama sekali.

Demikian pula sebaliknya.

Ketika ada di antara kita yang lebih cenderung menguatkan pendapat Al-Imam Al-Albany bahwa posisi tangan setelah ruku‘ adalah irsal dan bukan sedekap, apakah itu berarti dia tidak menghormati Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz?

Tidak sama sekali.

Itu baru dalam perkara fikih.

Lantas bagaimana dalam perkara manhaj dan aqidah, terlebih berkaitan dengan mengunjungi atau berkawan dengan seorang Hizby Ikhwany?

Belum lagi adanya vonis-vonis berat dan tuduhan-tuduhan keji yang mengatakan:

«“Berbaju Salafy, tetapi komandan Hizby.”»


Ini bukan lagi sekadar pembahasan fikih, tetapi sudah berkaitan dengan manhaj dan aqidah.



🗂Tidak Menerima Tazkiyah Bukan Berarti Tidak Menghormati Syaikh

Maka kami katakan, sebagaimana kami tidak bisa memaksa antum untuk menerima jarh kami terhadap Ustadz Abul Harits, demikian pula antum tidak bisa memaksa kami untuk menerima tazkiyah Asy-Syaikh Arafat — atau klaim antum bahwa beliau mentazkiyah Ustadz Abul Harits.

Ikhwany fiddin rahimani wa rahimakumullah,

itu bukan berarti kami tidak menghormati atau tidak memuliakan Asy-Syaikh Arafat.

Bukan.

Kami menghormati kedudukan beliau dan memuliakan posisi beliau sebagai seorang yang berilmu.

Namun sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah, guru dari Al-Imam Asy-Syafi‘i rahimahumallah:

«كُلٌّ يُؤْخَذُ مِنْ قَوْلِهِ وَيُرَدُّ، إِلَّا صَاحِبَ هٰذَا الْقَبْرِ»

“Setiap orang bisa diambil dan ditolak pendapatnya, kecuali pemilik kubur ini.”

Kemudian Al-Imam Malik menunjuk ke kuburnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Maka setiap orang bisa diambil pendapatnya dan bisa pula ditolak.
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
3️⃣Namun ketika datang riwayat yang shahih, hadits yang shahih, data-data yang valid, maka perkara tersebut tidak boleh dibentur-benturkan dengan ucapan:

«“Ini menyelisihi Syaikh.”»
«“Ini tidak menghormati Syaikh.”»


Bukan demikian, ayyuhal Ikhwah rahimani wa rahimakumullah.



🗂Mengapa Sebagian Masyaikh Masih Mentazkiyah?

Maka pertanyaannya:

«“Kalau demikian, mengapa Asy-Syaikh Arafat sampai sekarang masih mentazkiyah Ustadz Abul Harits?”»


Bahkan mungkin kita juga bisa bertanya:

«“Mengapa Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hingga sekarang masih mentazkiyah Dzulqarnain?”»


Ana persaksikan kepada antum, ayyuhal Ikhwah, bahwa Ustadz Abul Harits tidak ada apa-apanya — baik dari sisi ilmu maupun pengalaman — jika dibandingkan dengan Dzulqarnain.

Shorohatan ana sampaikan kepada antum:

Ilmu dan pengalaman Ustadz Abul Harits tidak seberapa dibandingkan dengan Dzulqarnain, yang dahulu dipuji oleh Syaikh Muqbil rahimahullah dan hingga sekarang masih ditazkiyah oleh Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah.

Apakah kemudian kita menolak tazkiyah tersebut lalu berarti kita tidak menghormati Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan?

Apakah itu berarti kita mencela, menghina, atau merendahkan beliau?

كَلَّا

Sekali-kali tidak!
Bukan itu maknanya.

Jangan perkaranya diseret ke sana.



🗂Jarh Dibangun di Atas Data dan Fakta

Namun jarh Asy-Syaikh Al-Imam Rabi‘ bin Hadi Al-Madkhaly hafizhahullah — shahibur rayah al-jarh wat ta‘dil di zaman ini — dibangun di atas fakta dan data-data yang valid.

Dan penting untuk saya ingatkan kepada antum semuanya, ayyuhal Ikhwah wal akhawat:

Penting bagi ana untuk mengingatkan diri ana sendiri dan antum semua tentang Ustadzuna Luqman:

«لَا نُزَكِّي عَلَى اللَّهِ أَحَدًا، وَاللَّهُ حَسِيبُهُ»

“Kami tidak mendahului Allah dalam mentazkiyah seseorang, dan Allah-lah yang paling mengetahui hakikat dirinya.”

Namun:

«نَحْنُ نَحْكُمُ بِالظَّوَاهِرِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالْبَوَاطِنِ»

“Kita hanya bisa menghukumi berdasarkan yang tampak, sedangkan urusan batin diserahkan kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala.”



🗂Pengalaman Panjang Ustadz Luqman dalam Berbagai Kasus

Ustadz Luqman telah lebih dari dua puluh tahun menangani berbagai kasus di Indonesia.

Beliau telah menghadapi berbagai problematika semenjak kasus Ja‘far Umar Thalib.

Dan Ustadz Abul Harits tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Ja‘far Umar Thalib, khususnya dari sisi jasa dalam menanamkan aqidah dan manhaj Ahlus Sunnah wal Jama‘ah kepada Salafiyyin di Indonesia.

Namun ketika setelah itu tampak muncul pemikiran Khawarij dari Ja‘far Umar Thalib, maka data-data valid tersebut disampaikan kepada Asy-Syaikh Rabi‘ bin Hadi Al-Madkhaly rahimahullah.

Lalu keluarlah tahdzir terhadap Ja‘far Umar Thalib.

Demikian pula kasus Dzulqarnain sebagaimana yang tadi disebutkan.

Demikian pula kasus Askari yang kemudian menyeret Muhammad bin Hadi.

Maka yang dihadapi oleh Ustadz Luqman bukan lagi sekadar Askari, tetapi Muhammad bin Hadi, yang dahulu ditazkiyah oleh Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah.

Wallahi, ilmu Ustadz Abul Harits tidak ada apa-apanya dibanding nama-nama yang tadi kita sebutkan, terlebih lagi Muhammad bin Hadi.



🗂 Sikap Asy-Syaikh Rabi‘ terhadap Data dan Bukti

Namun di hadapan Asy-Syaikh Rabi‘, Ustadz Luqman dengan penuh penghormatan dan pemuliaan menyampaikan data-data beliau dengan penuh adab.

Bukan kemudian Asy-Syaikh Rabi‘ berkata:

«“Apa ini, Luqman? Pergi sana! Ini Muhammad bin Hadi yang ditazkiyah oleh Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz. Jangan macam-macam!”»


Apakah demikian sikap Asy-Syaikh Rabi‘ bin Hadi?

Tidak.

Beliau justru berkata:

«“Mana datamu?”»


Kemudian beliau membaca firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala:

﴿قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ﴾

“Katakanlah: Datangkanlah bukti kalian jika kalian memang benar.”
(Q.S. al-Baqarah: 111)

Demikianlah sikap seorang imam.

Demikianlah sikap seorang Sunni Salafy.

«“Mana datamu? Mana dalilmu jika engkau benar dalam pengakuanmu?”»
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
4️⃣🗂Klaim Tazkiyah dari Asy-Syaikh Zakariya hafizhahullah

إِخْوَانِي فِي الدِّينِ رَحِمَنِي وَرَحِمَكُمُ اللَّهُ

Sebelum kita masuk kepada pembahasan mengapa Asy-Syaikh Arafat sampai sekarang masih mentazkiyah Ustadz Abul Harits?, sepertinya ada satu poin yang belum tuntas dari sesi pertama.

Yaitu terkait ucapan Asy-Syaikh Zakariya yang diklaim oleh orang-orangnya Abul Harits sebagai bentuk tazkiyah kepada Ustadz Abul Harits.

Yakni ketika Ustadz Abul Harits menyebarkan tulisannya dan menukil percakapannya dengan Asy-Syaikh Zakariya:

«قَدْ تَوَاصَلْتُ الْيَوْمَ مَعَ فَضِيلَةِ شَيْخِنَا زَكَرِيَّا»

“Aku pada hari ini — yakni tanggal 14 April 2026 yang lalu — telah melakukan komunikasi dengan Fadhilatusy-Syaikh Zakariya.”

Kemudian beliau mengatakan:

«عَمَّا نُشِرَ عَنْهُ»

“Tentang apa yang disebarkan atas nama beliau.”

Yakni apa yang dinisbatkan kepada beliau.

Lalu beliau mengatakan:

«وَهُوَ طَلَبُهُ بِإِيقَافِ دُرُوسِي وَدَعْوَتِي، وَأَنَّهُ قَدْ حَذَّرَ مِنِّي»

“Yaitu tentang permintaan beliau agar dihentikan pelajaran-pelajaran dan dakwah-dakwahku, serta bahwa beliau telah mentahdzirku.”



🗂Klarifikasi Ucapan Asy-Syaikh Zakariya hafizhahullah

Kemudian Ustadz Abul Harits menyebutkan:

«فَأَجَابَ حَفِظَهُ اللَّهُ»

“Maka beliau hafizhahullah menjawab.”

Kemudian beliau menukil ucapan Asy-Syaikh Zakariya:

«إِنَّهُ لَيْسَ بِصَحِيحٍ، وَلَا يَصْدُرُ مِنِّي أَيُّ تَحْذِيرٍ»

“Berita itu tidak benar, dan tidak keluar dariku tahdzir sedikit pun.”

Perhatikan baik-baik kalimat ini, ayyuhal Ikhwah:

«لَا يَصْدُرُ مِنِّي أَيُّ تَحْذِيرٍ»

“Tidak keluar dariku tahdzir sedikit pun.”

Apa makna dari kalimat ini?

Kami telah menghubungi Asy-Syaikh Zakariya, sebagaimana telah ana sampaikan pada sesi pertama.

Kami bertanya:

«“Wahai Syaikh, apa makna ucapan antum yang dinukil dan disebarkan oleh Ustadz Abul Harits, bahwa antum mengatakan:»

«إِنَّهُ لَيْسَ بِصَحِيحٍ، وَلَا يَصْدُرُ مِنِّي أَيُّ تَحْذِيرٍ»

‘Tidak pernah keluar dariku tahdzir sedikit pun.’?”


Maka Asy-Syaikh Zakariya menjawab:

«“Benar, kalimat itu memang aku ucapkan. Akan tetapi yang aku maksud adalah bahwa yang mentahdzir antum secara langsung bukan aku, bukan Zakariya. Namun mereka — yakni Ustadz Luqman dan yang bersamanya — itu atas perintahku.”»



🗂Surat Penjelasan kepada Asy-Syaikh Zakariya hafizhahullah

Karena itulah, setelah itu kami kembali menyampaikan penjelasan kepada Asy-Syaikh Zakariya, sebagaimana surat panjang yang telah ana bacakan pada sesi pertama.

Namun tidak mengapa, ana bacakan kembali penggalan terakhir dari surat tersebut karena sesuai dengan konteks pembahasan ini.

Sebelumnya kami telah menyampaikan kepada beliau bahwa Abul Harits hingga hari ini tidak mau berhenti, tidak mau bertaubat, dan tidak mau mengakui kesalahannya.

Bahkan terkesan terus membela seorang Hizby Ikhwany, sampai-sampai para pengikutnya menjadi ragu terhadap kehizbiyyahan orang tersebut.

Dan Abul Harits juga tidak mau mengakui serta tidak mau mengklarifikasi tuduhan-tuduhan keji dan vonis-vonis berat dari istrinya kepada Ustadz Luqman, yang mengatakan bahwa beliau adalah:

«“Hizby berbaju Salafy,”»

«“komandan Hizby,”»

«atau “duta fitnah.”»

Kemudian pada penggalan terakhir surat tersebut kami sampaikan:

«وَلَمَّا عَلِمْنَا أَنَّ شَرَّهُ وَضَرَرَهُ قَدْ فَشَا وَانْتَشَرَ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْمَنَاطِقِ وَالْمَعَاهِدِ فِي إِنْدُونِيسِيَا»

“Maka ketika kami mengetahui bahwa keburukan dan bahaya Abul Harits semakin meluas di berbagai daerah dan berbagai ma’had di Indonesia.”

Kemudian kami mengatakan:

«فَبَعْدَ النَّصَائِحِ الْمُتَكَرِّرَةِ لَهُ، وَلَمْ نَجِدْ اسْتِجَابَةً، أَدْنَى اسْتِجَابَةٍ»

“Setelah nasihat demi nasihat kami sampaikan berulang kali, namun kami tidak mendapatkan respons sedikit pun.”

Lalu kami lanjutkan:

«وَأَصَرَّ عَلَىٰ مَا هُوَ عَلَيْهِ، قُمْنَا بِبَيَانِ حَالِهِ لَهُمْ وَالتَّحْذِيرِ مِنْهُ»

“Dan karena beliau tetap bersikeras di atas sikapnya, maka kami pun menjelaskan keadaan Abul Harits yang sebenarnya kepada Salafiyyin dan memperingatkan mereka dari bahayanya.”
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
5️⃣Kemudian kami berkata:

«وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَبِفَضْلِهِ وَحْدَهُ، فَطِنُوا لِحَالِهِ وَسَلِمُوا مِنْ شَرِّهِ»

“Maka kami bersyukur kepada Allah, dengan karunia dan keutamaan-Nya semata, Salafiyyin akhirnya mengetahui hakikat keadaan dirinya dan selamat dari keburukannya (bahayanya).”



🗂Tentang Balasan Jempol dari Asy-Syaikh Zakariya

Kemudian, sebagaimana yang ana sampaikan kemarin, tidak lama setelah kalimat tersebut dikirimkan, beliau membalas dengan tanda jempol ke atas.

Namun ternyata hal ini pun dipermasalahkan oleh orang-orang di pihak Abul Harits.

Mereka mengatakan:

«“Wah, cuma jempol saja kok sudah dianggap sebagai persetujuan? Itu kan bukan ucapan, bukan kalimat.”»


Ketika mengetahui adanya komentar seperti ini, ana teringat sebuah pepatah Arab.

Afwan saja, pepatah tersebut berbunyi:

«الْعَاقِلُ تَكْفِيهِ الْإِشَارَةُ، وَالْأَحْمَقُ لَا تَكْفِيهِ الْعِبَارَةُ»

“Orang yang berakal cukup baginya sebuah isyarat. Adapun orang yang dungu, tidak cukup baginya walaupun telah dijelaskan panjang lebar.”

Maka kami memahami isyarat jempol ke atas tersebut sebagai bentuk persetujuan dari Syaikh Arafat hafizhahullahu Ta‘ala terhadap langkah yang telah kami lakukan.

Afwan. Ana tadi keliru menyebut nama.Yang ana maksud tadi adalah Asy-Syaikh Zakariya, bukan Syaikh Arafat.

Ana ulangi dan ana ralat:

Tadi ana sempat menyebut nama Syaikh Arafat terkait dengan jempol ke atas tersebut. Itu hanyalah sabqul lisan — lidah yang mendahului maksud.

Yang benar, Asy-Syaikh Zakariya langsung membalas dengan jempol ke atas.

Dan kami memahami isyarat tersebut sebagai bentuk persetujuan beliau hafizhahullahu Ta‘ala.


🗂 Mengapa Asy-Syaikh Arafat Masih Mentazkiyah?

Thayyib.

Sekarang kita masuk kepada pembahasan:

«“Mengapa Asy-Syaikh Arafat masih mentazkiyah Al-Ustadz Abul Harits?”»


Na‘am.

«هَدَانِيَ اللَّهُ وَإِيَّاهُ، وَهَدَانَا اللَّهُ وَإِيَّاهُ»

“Semoga Allah memberikan hidayah kepada saya dan kepadanya.”

Yang ana maksud adalah Abul Harits.

Semoga Allah memberikan hidayah kepada kita dan kepada Ustadz Abul Harits.



Surat Ustadz Abu Salim Iqbal Pekanbaru

Sebagaimana hal itu tertuang dalam surat Ustadz Abu Salim Iqbal Pekanbaru.

Na‘am.

Di mana Ustadz Iqbal bertemu langsung dengan Syaikh Arafat pada tanggal 7 Ramadhan 1447 Hijriyah, yang bertepatan dengan tanggal 25 Februari 2026 Masehi.

Dalam keterangannya, Ustadz Iqbal menukil bahwa beliau bertemu dengan Syaikh Arafat di Madinah pada waktu Ashar, lalu menanyakan kepada beliau pertanyaan berikut:

«شَيْخَنَا الْكَرِيمُ، نَحْنُ نُرِيدُ أَنْ نَدْعُوَ الْأُسْتَاذَ أَبَا الْحَارِثِ لِلْمُحَاضَرَةِ أَوِ الدَّوْرَةِ فِي مَعْهَدِنَا، فَمَاذَا تَرَوْنَ؟»

“Wahai Syaikh kami yang mulia, kami ingin mengundang Ustadz Abul Harits untuk menyampaikan muhadharah atau dauroh di ma’had kami. Bagaimana pendapat Anda, wahai Syaikh?”

Kata Ustadz Iqbal, Syaikh menjawab:

«اِسْتَدْعُوهُ، اِسْتَدْعُوهُ»

“Undanglah dia, undanglah dia.”

Kemudian Ustadz Iqbal kembali berkata kepada Syaikh:

«لٰكِنَّهُ قَدْ مُنِعَ مِنَ التَّدْرِيسِ يَا شَيْخَنَا»

“Akan tetapi, beliau telah dilarang mengajar, wahai Syaikh kami.”

Maka Syaikh berkata:

«أَنَا قَدْ قُلْتُ لَهُمْ: لَا تَمْنَعُوهُ، وَلٰكِنَّهُمْ لَا يَسْمَعُونَ الْكَلَامَ»

“Aku sudah mengatakan kepada mereka agar jangan melarangnya, namun mereka tidak mendengarkan ucapanku.”

Kemudian Syaikh melanjutkan:

«وَإِذَا قَالَ لَكَ وَاحِدٌ: لِمَاذَا تَسْتَدْعِي أَبَا الْحَارِثِ؟ فَقُلْ لَهُمْ: عَرَفَاتُ قَالَ هٰكَذَا، عَرَفَاتُ قَالَ هٰكَذَا»

“Dan jika ada seseorang berkata kepadamu: ‘Mengapa engkau masih mengundang Abul Harits?’ maka katakan kepada mereka: ‘Arafat yang mengatakan demikian, Arafat yang mengatakan demikian.’”

Ini nukilan yang pertama.



🗂Penyebaran Nukilan di Channel Pro Abul Harits

Kemudian nukilan tersebut kembali tersebar, sebagaimana tersebar pula di beberapa channel yang pro kepada Ustadz Abul Harits.

Yang paling gencar di antaranya adalah channel Salafi Sejati.
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
6️⃣Adminnya Abu Faiz, dan pembimbingnya Arifin Kendari, yang dahulu meragukan kehizbiyyahan Khalid Basalamah.

اللَّهُ الْمُسْتَعَانُ، اللَّهُ الْمُسْتَعَانُ

Mungkin ada yang berkata:

«“Bukankah dia sudah taubat, Ustadz, dan sudah menulis klarifikasi?”»


Kita katakan: iya, betul.

Namun kalimat-kalimat yang dia tulis tidak menunjukkan secara tegas bahwa dia menarik ucapannya yang menyatakan bahwa Khalid Basalamah juga mengajarkan sunnah.

Dia tidak menarik ucapan tersebut.

Masih terkesan ada keraguan terhadap kehizbiyyahan orang Ikhwany tersebut.


🗂Nukilan Kedua dari Ustadz Abu Salim Iqbal

Kemudian muncul lagi tulisan berikutnya dari Abu Salim Rahmat Iqbal.

Sebenarnya panjang, namun karena keterbatasan waktu kita, maka kita bacakan penggalan yang paling sensitif menurut sebagian pihak.

Yaitu ketika Abu Salim Rahmat Iqbal mengatakan:

«“Wahai Syaikh, aku memohon arahan dari Anda terkait dakwah di daerah kami. Setelah kepulanganku dari Madinah dan setelah mengamalkan nasihat antum, wahai Syaikh, kami langsung mengundang Ustadz Abul Harits untuk menyampaikan muhadharah via Telegram dalam acara penutupan tahun ajaran.”»


Kemudian beliau berkata:

«وَبَعْدَ ذٰلِكَ سَأَلَنِي بَعْضُ الْإِخْوَةِ: لِمَاذَا اسْتَدْعَيْنَا أَبَا الْحَارِثِ؟ فَأَجَبْتُ بِمَا تُرْشِدُنِي»

“Kemudian sebagian Ikhwah masih bertanya kepadaku: ‘Mengapa kita masih mengundang Abul Harits?’ Maka aku menjawab sesuai dengan arahanmu, wahai Syaikh.”

Kemudian beliau melanjutkan:

«ثُمَّ انْتَشَرَ بَعْدَ ذٰلِكَ أَنَّ تَعْدِيلَكَ أَوْ تَزْكِيَتَكَ لِأَبِي الْحَارِثِ هٰذَا عَامٌّ، أَمَّا جَرْحُ الْأُسْتَاذِ لُقْمَانَ عَلَيْهِ فَمُفَسَّرٌ، وَالْجَرْحُ الْمُفَسَّرُ مُقَدَّمٌ عَلَى التَّعْدِيلِ»

“Kemudian tersebar setelah itu bahwa ta‘dil atau tazkiyah antum kepada Abul Harits bersifat umum, sedangkan jarh Ustadz Luqman terhadapnya bersifat mufassar (terperinci). Dan kaidah menyebutkan bahwa al-jarhul mufassar muqaddamun ‘alat ta‘dil.”

Na‘am.

Dan memang benar, sampai hari ini tazkiyah tersebut tidak dirinci.

Sementara jarh Ustadz Luqman bersifat mufassar, terperinci poin demi poin, sebagaimana telah kita sebutkan pada sesi pertama dan sesi kedua ini.

Dan memang dalam kaidah disebutkan:

«الْجَرْحُ الْمُفَسَّرُ مُقَدَّمٌ عَلَى التَّعْدِيلِ»

“Jarh yang dirinci didahulukan daripada ta‘dil.”

Kemudian beliau berkata:

«فَأَرْشِدْنَا يَا شَيْخَنَا، أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَجَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا»

“Maka berilah kami bimbingan, wahai Syaikh kami. Semoga Allah berbuat baik kepada Anda dan membalas Anda dengan kebaikan.”

Ini sebenarnya surat yang panjang.

Ada upaya dari beliau untuk meminta arahan kepada Syaikh.

Kemudian dijawab oleh Syaikh:

«وَعَلَيْكُمُ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، اِسْتَمِرُّوا فِي الِاسْتِفَادَةِ مِنْهُ»

“Wa‘alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Teruslah kalian mengambil faedah darinya.”

Ini jawaban Syaikh.



🗂Catatan terhadap Cara Bertanya

Yang kita sayangkan, ayyuhal Ikhwah, adalah cara Ustadz Iqbal menyampaikan pertanyaan kepada Syaikh.

Adapun Asy-Syaikh Arafat, tetap kita hormati dan kita muliakan.

Yang kita sayangkan adalah Ustadz Iqbal.

Karena sebenarnya kami berharap pada tulisan keduanya — ketika beliau mengatakan bahwa telah tersebar tazkiyah Syaikh kepada Ustadz Abul Harits sementara jarh Ustadz Luqman mufassar — mestinya beliau juga menyebutkan rincian jarh tersebut.

Walaupun tidak seluruhnya, paling tidak beliau menyampaikan:

«“Wahai Syaikh, Ustadz Luqman men-jarh Ustadz Abul Harits karena sampai sekarang beliau masih membela seorang Ikhwany, seorang Hizby. Dan sampai sekarang beliau juga tidak menarik serta tidak mengklarifikasi vonis-vonis berat istrinya yang mengatakan bahwa Ustadz Luqman adalah Hizby berbaju Salafy.”»


Mestinya ini yang disampaikan oleh Ustadz Iqbal.

Kenapa?

Karena para ulama mengatakan:

«الْحُكْمُ عَلَى الشَّيْءِ فَرْعٌ عَنْ تَصَوُّرِهِ»

“Hukum terhadap sesuatu sangat bergantung pada pemahaman terhadap hakikat sesuatu tersebut.”

Yakni jawaban seseorang tentu akan sesuai dengan bentuk pertanyaan yang dia terima.
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
7️⃣🗂Jawaban Akan Sesuai dengan Bentuk Pertanyaan

Karena pertanyaan Ustadz Iqbal hanya:

«“Bagaimana pendapat Anda, wahai Syaikh, jika kami mengundang Ustadz Abul Harits?”»

Maka sebenarnya kita semua sudah bisa memperkirakan jawabannya, bahkan sebelum Syaikh menjawab.

Sebagaimana jika sekarang antum bertanya kepada Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan:

«“Wahai Syaikh Shalih al-Fauzan, bagaimana pendapat Anda jika kami mengundang Dzulqarnain untuk memberikan muhadharah di ma’had kami?”»


Antum tentu sudah bisa membayangkan apa jawaban Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan.

Namun, apakah seperti itu sikap seorang Sunni Salafy?

Bukankah kaidah mengatakan:

«الْجَرْحُ الْمُفَسَّرُ مُقَدَّمٌ عَلَى التَّعْدِيلِ»

Padahal Asy-Syaikh Rabi‘ telah mengeluarkan tahdzir terhadap Dzulqarnain:

«عَنْ ذِي الْقَرْنَيْنِ أَنَّهُ لَعَّابٌ، مُتَلَوِّنٌ، مَاكِرٌ، يَمْشِي عَلَى طَرِيقِ الْحَلَبِيِّ فِي الْمَكْرِ»

“Bahwa Dzulqarnain adalah seorang yang suka bermain-main, berubah-ubah warna, penuh makar, dan berjalan di atas jalannya Al-Halaby dalam makar.”



🗂Sikap Ilmiah Seorang Salafy

Ini yang ana maksud:

Salafiyyun itu harus ilmiah.

Salafiyyun harus dididik dan diajarkan dengan sikap ilmiah.

Dan inilah yang kita sayangkan dari Ustadz Iqbal Pekanbaru.

Coba kalau beliau menyampaikan — walaupun tidak semuanya, cukup sebagian saja — alasan mengapa Ustadz Luqman men-jarh Ustadz Abul Harits.

Maka boleh jadi jawaban Syaikh akan berbeda dan sesuai dengan rincian pertanyaan yang disampaikan.

Namun:

«قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ»

“Apa yang Allah takdirkan, itulah yang terjadi.”



🗂Awal Pembahasan Jalsah Madinah

Sekarang pertanyaannya:

«“Apa sebenarnya isi jalsah Madinah antara Ustadzuna Luqman dengan Syaikhuna Arafat?”»


Mari kita simak dengan saksama.

Ana memohon taufik kepada Allah agar dimudahkan untuk menyampaikan ini dengan jujur dan amanah.

Semoga Allah menjauhkan ana dari sikap khianat.

Ana akan sampaikan:

«بِسْمِ اللَّهِ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ»

Di antara isi majelis tersebut, Asy-Syaikh Arafat berkata kepada Ustadz Luqman:

«أَنْتَ يَا لُقْمَانُ، تَعْلَمُ كَلَامَ السَّلَفِ فِي تَقْسِيمِ الْمُبْتَدِعَةِ: دَاعٍ لِبِدْعَتِهِ وَغَيْرُ دَاعٍ لِبِدْعَتِهِ، وَهٰذَا رَحْمَةُ لَعَلَّهُ غَيْرُ دَاعٍ لِبِدْعَتِهِ أَوْ لِحِزْبِيَّتِهِ»

“Wahai Luqman, engkau tentu mengetahui ucapan Salaf tentang pembagian ahlul bid‘ah: ada yang mengajak kepada bid‘ahnya dan ada yang tidak mengajak kepada bid‘ahnya. Dan Rachmat Parenrengi ini, bisa jadi dia bukan termasuk orang yang mengajak kepada bid‘ah atau hizbiyyah-nya.”

Perhatikan baik-baik!

Ini ucapan Asy-Syaikh Arafat.

Dan beliau menyebut nama Rachmat dengan sangat jelas dan fasih.

Kemudian Ustadz Luqman menanggapi dengan penuh penghormatan, pemuliaan, dan adab.



🗂 Poin Penting dari Ucapan Asy-Syaikh Arafat

Namun sebelum kita nukilkan jawaban beliau, ada satu poin penting yang perlu diperhatikan dari ucapan Asy-Syaikh Arafat tadi.

Yaitu bahwa beliau tidak mengingkari bahwa Rachmat tersebut adalah seorang Hizby atau mubtadi‘.

Beliau tidak mengingkari hal itu.

Akan tetapi, yang beliau ragukan adalah:

«“Apakah dia termasuk Hizby atau mubtadi‘ yang mengajak kepada hizbiyyah dan bid‘ahnya atau tidak?”»


Itu titik pembahasannya.

Kalau tidak, tentu beliau tidak akan mengatakan:

«لَعَلَّهُ غَيْرُ دَاعٍ لِبِدْعَتِهِ أَوْ لِحِزْبِيَّتِهِ»

“Bisa jadi dia bukan orang yang mengajak kepada bid‘ah atau hizbiyyah-nya.”

Artinya, beliau mengakui bahwa orang tersebut memang seorang Hizby mubtadi‘.
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
8️⃣🗂Tanggapan Ustadz Luqman dengan Data dan Bukti

Lalu bagaimana tanggapan Ustadz Luqman?

Dengan penuh penghormatan dan pemuliaan kepada Asy-Syaikh Arafat, serta dengan penuh adab, Ustadz Luqman berkata:

«يَا شَيْخَنَا، أَمَّا كَلَامُ السَّلَفِ فَمُسَلَّمٌ، وَكُلُّنَا نَعْتَقِدُ أَنَّهُ حَقٌّ، وَلٰكِنْ حَقِيقَةُ الرَّجُلِ رَحْمَةَ هٰذَا، هَلْ هُوَ غَيْرُ دَاعٍ لِبِدْعَتِهِ أَوْ لِحِزْبِيَّتِهِ؟ أَمَّا أَنَا فَعِنْدِي وَثَائِقُ وَفِيدْيُوهَاتٌ دَالَّةٌ عَلَى أَنَّهُ حِزْبِيٌّ دَاعٍ لِحِزْبِيَّتِهِ»

“Wahai Syaikh kami, adapun ucapan Salaf yang engkau sebutkan tadi maka kami semua menerimanya, dan kami semua meyakini bahwa itu adalah kebenaran. Akan tetapi, hakikat orang ini — yakni Rachmat Parenrengi — apakah benar dia bukan pengajak kepada bid‘ah dan hizbiyyah-nya? Adapun saya, wahai Syaikh, saya memiliki dokumen-dokumen dan video-video yang menunjukkan bahwa dia adalah seorang Hizby yang mengajak kepada hizbiyyah-nya.”

Mendengar tanggapan Ustadz Luqman ini, Syaikh Arafat pun terdiam.

Ana sampaikan kepada antum, ayyuhal Ikhwah:

Mendengar jawaban Ustadz Luqman tersebut, Syaikh Arafat terdiam.



🗂Harapan agar Bukti dan Data Ditanyakan

Sebenarnya harapan kami kepada Syaikh Arafat — tanpa mengurangi rasa hormat dan pemuliaan kami kepada beliau — ketika Ustadz Luqman telah mengatakan:

«“Saya punya bukti, data, dan video.”»


Maka yang kami harapkan adalah beliau bertanya:

«“Mana datamu?”»


Sebagaimana itulah sikap imam kita, bapak-bapak kita:

Al-Imam Al-Mujahid, shahibur rayah al-jarh wat ta‘dil, Asy-Syaikh Rabi‘ bin Hadi Al-Madkhaly hafizhahullah.

Demikian pula Al-Imam Ubaid Al-Jabiry rahimahullah.

Ketika Ustadz Luqman dahulu menyampaikan tentang:

Ja‘far Umar Thalib, Dzulqarnain, Askary, hingga Muhammad bin Hady, maka Asy-Syaikh Rabi‘ tidak langsung menolak.

Namun beliau bertanya:

﴿قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ﴾

“Katakanlah: Datangkanlah bukti kalian jika kalian memang benar.”
(Q.S. al-Baqarah: 111)

«“Mana bukti kalian? Mana data kalian?”»


Itulah yang sebenarnya kami harapkan.

Namun demikian, kami tetap menghormati Syaikh Arafat.

Tidak sebagaimana yang dihembuskan dan dituduhkan bahwa kami mencela atau merendahkan beliau.

Dusta itu.

Tidak demikian.



🗂Tanda Tanya tentang Penilaian terhadap Rachmat Parenrengi

Dan sebenarnya, ayyuhal Ikhwah, ketika Syaikh Arafat menyampaikan penilaian beliau tentang Rachmat Parenrengi tadi kepada Ustadz Luqman, di sisi kami muncul tanda tanya besar:

«“Dari mana Syaikh Arafat sampai pada penilaian tersebut?”»


Beliau menyebut nama Rachmat dengan sangat fasih.

Dari mana beliau mengetahui hal itu?

Mungkin Abu Faiz tahu jawabannya.

Atau Arifin Kendari tahu jawabannya.

Atau mungkin Ustadz Abul Harits sendiri bisa menjawab:

«“Bagaimana Syaikh Arafat bisa sampai pada penilaian tersebut?”»


Dari sisi kami, ada tiga kemungkinan mengapa Syaikh Arafat sampai pada penilaian itu:

1⃣ Yang pertama, boleh jadi beliau mencari sendiri informasi tersebut secara mandiri tentang Rachmat Parenrengi melalui video-video ataupun ceramah-ceramahnya.

Namun kemungkinan pertama ini kecil.

Kenapa?

Karena Rachmat Parenrengi dalam berbagai ceramahnya lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia.

2⃣ Kemungkinan yang kedua, boleh jadi karena Syaikh sangat menginginkan ishlah sehingga beliau tergiring — afwan — mungkin hanya memperkirakan saja tentang keadaan Rachmat Parenrengi ini.

Namun kemungkinan kedua ini juga kecil.

Tidak mungkin dalam perkara sebesar ini kemudian hanya dibangun di atas perkiraan semata.

Maka kami katakan, dengan penuh penghormatan dan pemuliaan kepada Syaikh, tidak mungkin hal seperti itu terjadi dari beliau.

3⃣ Atau kemungkinan yang ketiga — والله أعلم بالصواب — beliau mengetahui hal tersebut dari informasi yang datang dari Abul Harits atau pihak-pihak yang bersama Ustadz Abul Harits.

Dan jika kemungkinan ketiga inilah yang menjadi dasar penilaian beliau, maka sungguh sangat disayangkan.

Karena sebagian kasus Ustadz Abul Harits justru dibocorkan sendiri oleh Syaikh Arafat kepada kami.

Afwan, maaf-maaf saja, ayyuhal Ikhwah wal akhawat.

Na‘am.
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
9️⃣Ada beberapa perkara dari kasus-kasus Ustadz Abul Harits yang justru Syaikh Arafat sendiri yang menyampaikannya kepada kami.

Apa saja itu?

Nanti akan ada waktunya untuk dijelaskan.

Namun paling tidak, sekarang kita akan menyebutkan isi nasihat Asy-Syaikh Arafat kepada Ustadz Luqman. Na‘am.

Asy-Syaikh Arafat berkata kepada Ustadz Luqman:

«أَنَا قَدْ جَلَسْتُ مَعَ مُحَمَّدٍ مُصْلِحٍ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ قَدْ نَصَحْتُهُ، وَالظَّاهِرُ أَنَّهُ يَقْبَلُ النَّصِيحَةَ»

“Aku telah duduk bersama Muhammad Muslih — yakni Abul Harits — dan alhamdulillah aku telah menasihatinya, dan yang tampak padaku dia menerima nasihat.”

Namun sebelum itu, ayyuhal Ikhwah, ana ingin sedikit kembali kepada pembahasan tentang penilaian Syaikh Arafat terhadap Rachmat Parenrengi.

Sebenarnya Ustadz Luqman memiliki pertanyaan pada saat itu, namun beliau mengurungkannya karena penghormatan dan pemuliaan kepada Syaikh.

Karena kalau pertanyaan itu dilontarkan, dikhawatirkan nanti suasana berubah dan Syaikh menjadi tidak nyaman atau emosi.

Itu yang dijaga oleh Ustadz Luqman.

Padahal sebenarnya beliau punya hak untuk melakukan istifshal, meminta rincian.

Na‘am.

Beliau sebenarnya ingin bertanya:

«يَا شَيْخُ، مِنْ أَيْنَ لَكَ هٰذَا؟»

“Wahai Syaikh, dari mana Anda sampai pada penilaian ini?”

Namun pertanyaan itu diurungkan oleh Ustadz Luqman karena penghormatan beliau kepada Syaikh.



🗂Inti Permasalahan: Alasan di Balik Sikap Diam dan Berbicara

Kemudian, apa yang disampaikan Asy-Syaikh Arafat kepada Ustadz Luqman di akhir-akhir majelis tersebut?

Inilah di antara poin yang paling penting untuk menjawab:

«“Mengapa Syaikh Arafat menasihatkan agar diam?”»

«“Dan mengapa Ustadz Abu Fuad sekarang berbicara?”»


Karena inti permasalahannya bukan sekadar:

berbicara atau diam,

membahas atau tidak membahas.

Tetapi:

«“Apa alasannya?”»

Sebagaimana para Masyaikh kita, ketika disampaikan sebuah perkara, mereka bertanya:

«“Mana dalilnya?”»

«“Apa alasannya?”»

Demikian sikap seorang Sunni Salafy yang ilmiyyah.



🗂Nasihat Asy-Syaikh Arafat kepada Abul Harits

Kata Syaikh kepada Ustadz Luqman:

«أَنَا قَدْ جَلَسْتُ مَعَ مُحَمَّدٍ مُصْلِحٍ»

“Aku telah duduk bersama Muhammad Muslih.”

Yakni Abul Harits.

Na‘am, nama asli Abul Harits adalah Muhammad Muslih.

Kemudian Syaikh berkata:

«وَالْحَمْدُ لِلَّهِ قَدْ نَصَحْتُهُ»

“Dan alhamdulillah aku telah menasihatinya.”

Catat baik-baik ini, ayyuhal Ikhwah.

Garis bawahi kalimat ini:

«قَدْ نَصَحْتُهُ»

“Aku telah menasihatinya.”

Kemudian beliau berkata:

«وَالظَّاهِرُ أَنَّهُ يَقْبَلُ النَّصِيحَةَ»

“Dan yang tampak padaku, dia menerima nasihat.”

Sekali lagi ana ulangi:

«قَدْ نَصَحْتُهُ»

“Aku telah menasihatinya.”

«وَالظَّاهِرُ أَنَّهُ يَقْبَلُ النَّصِيحَةَ»

“Dan yang tampak padaku, dia menerima nasihat.”



🗂Ustadz Luqman Tidak Meminta Rincian karena Menghormati Syaikh

Ikhwany fiddin wa akhawati fillah rahimani wa rahimakumullah.

Sebenarnya Ustadz Luqman juga memiliki hak untuk meminta rincian.

Beliau bisa saja bertanya:

«“Dalam kasus yang mana beliau telah menerima nasihatmu, wahai Syaikh?”»

«“Pada poin apa beliau telah bertaubat?”»


Namun pertanyaan itu tidak beliau sampaikan.

Kenapa?

Karena penghormatan dan pemuliaan kepada Syaikh.

Dan juga karena Ustadz Luqman merasa senang dengan berita gembira tersebut, bahwa Abul Harits telah menerima nasihat dan bertaubat di hadapan Syaikh.

Jawaban “Absyir ya Syaikh”

Maka ketika mendengar kalimat tersebut, Ustadz Luqman langsung menjawab:

««أَبْشِرْ يَا شَيْخُ»»

“Bergembiralah, wahai Syaikh.”

Kalau diterjemahkan secara makna:

«“Jangan khawatir terhadap saya, wahai Syaikh. Saya siap menerima nasihat Anda.”»

Inilah sebab mengapa Ustadz Luqman langsung mengatakan:

«“Absyir ya Syaikh.”»

Karena alasannya jelas:

Asy-Syaikh Arafat telah menasihati Ustadz Abul Harits, dan beliau menerima nasihat tersebut.



🗂Alasan Syaikh Arafat Menasihatkan untuk Diam

Inilah juga alasan mengapa Syaikh Arafat menasihatkan agar diam.

Karena secara zahir — menurut penilaian beliau — Abul Harits telah menerima nasihat.
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
1️⃣0️⃣🗂Permintaan agar Abul Harits Kembali Mengajar

Kemudian setelah Ustadz Luqman berkata:

«“Absyir ya Syaikh.”»

Maka Asy-Syaikh Arafat melanjutkan:

«وَأَنْتَ يَا لُقْمَانُ، خَلِّهِ يُدَرِّسُ كَمَا كَانَ»

“Dan engkau wahai Luqman, biarkanlah Abul Harits kembali mengajar sebagaimana sebelumnya.”

Maka Ustadz Luqman kembali menjawab:

«“Absyir ya Syaikh.”»

“Bergembiralah wahai Syaikh, jangan khawatir.”



🗂Permintaan agar Pembicaraan Dihentikan

Kemudian Asy-Syaikh Arafat berkata lagi:

«خَلِّ الْكَلَامَ بَعْدَ هٰذَا يَعْنِي يَنْتَهِي، لَا يَكُنْ كَلَامٌ بَعْدَ هٰذَا»

“Dan setelah ini, hendaknya pembicaraan tentang masalah ini dihentikan. Jangan ada lagi pembicaraan setelah ini.”

Maka Ustadz Luqman kembali menjawab:

«“Absyir ya Syaikh.”»

“Jangan khawatir wahai Syaikh, saya menerima nasihat Anda.”



🗂 Pesan-Pesan Asy-Syaikh Arafat untuk Abul Harits

Apakah nasihat Syaikh hanya sampai di situ?

Tidak.

Setelah itu, Syaikh menitipkan pesan kepada Ustadz Luqman untuk disampaikan kepada Ustadz Abul Harits.

Ini juga penting untuk saya sampaikan dengan jujur, penuh amanah, apa adanya.

Na‘am.

Asy-Syaikh Arafat menitipkan beberapa pesan kepada Ustadz Luqman untuk disampaikan kepada Ustadz Abul Harits.

1⃣ Pesan Pertama

Asy-Syaikh Arafat berkata:

«قُلْ لَهُ، قُلْ لَهُ يَا لُقْمَانُ: عَجِّلْ، عَجِّلْ بِإِخْرَاجِ أَهْلِهِ مِنْ جَمْبَر.»

“Katakan kepadanya wahai Luqman, katakan kepada Abul Harits: segera, segera keluarkan istrinya dari Jember.”

هٰذَا الْأَوَّلُ

Ini yang pertama.

2⃣ Pesan Kedua

Asy-Syaikh Arafat berkata:

«قُلْ لَهُ: لَا تَتَدَخَّلْ فِي قَضَايَا الدَّعْوَةِ إِلَّا بِمَشُورَتِكَ.»

“Katakan kepadanya, wahai Abul Harits: jangan engkau masuk dalam perkara-perkara dakwah kecuali setelah bermusyawarah denganmu, wahai Luqman.”

Jangan Abul Harits masuk dalam urusan dakwah tanpa musyawarah denganmu. Jangan.

Sampaikan itu kepadanya.

هٰذَا الثَّانِي

Ini yang kedua.

3⃣ Pesan Ketiga

Asy-Syaikh Arafat berkata:

«قُلْ لَهُ: أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ.»

“Katakan kepadanya: tahan lisanmu, wahai Abul Harits.”

هٰذَا الثَّالِثُ

Ini yang ketiga.

4⃣ Pesan Keempat

Kemudian yang keempat — dan ini yang terakhir — Asy-Syaikh Arafat berkata:

«قُلْ لَهُ أَنْ يَبِيعَ مُمْتَلَكَاتِهِ لِرَدِّ أَمْوَالِ النَّاسِ الَّتِي عَلَيْهِ.»

“Katakan kepadanya, hendaklah dia menjual seluruh aset dan harta miliknya untuk mengembalikan hak-hak manusia dan menutupi hutang-hutangnya kepada orang lain.”



🗂 Jawaban terhadap Tuduhan Menyembunyikan Hasil Jalsah

Ikhwani fiddin wa akhawati fillah rahimani wa rahimakumullah.


Beberapa pekan yang lalu banyak tersebar berbagai statement:

«“Wah, Ustadz Luqman menyembunyikan hasil jalsah di Madinah.”»

«“Kenapa Ustadz Luqman tidak menyampaikannya?”»

«“Kenapa takut?”»

«“Ada apa sebenarnya?”»

Nah, ini poin-poinnya.



🗂 Ada Peristiwa Sebelum dan Sesudah Jalsah

Namun sebenarnya pembahasan kita bukan hanya pada poin pertama atau kedua.

Ada sesuatu yang terjadi beberapa saat sebelum dan sesudah jalsah tersebut.

Ini yang penting.

Karena dari sinilah akan terjawab pertanyaan:

«“Mengapa Abu Fuad tetap berbicara?”»

«“Bukankah sudah dinasihati untuk diam?”»



🗂 Pesan WhatsApp Sebelum Jalsah

Ikhwani fiddin wa akhawati fillah.

Sebelum jalsah bersama Asy-Syaikh Arafat dimulai, ternyata Ustadz Abul Harits telah lebih dahulu mengirimkan pesan kepada Ustadz Luqman melalui WhatsApp.

Na‘am.

Pesan itu dikirim sebelum jalsah berlangsung.

Kemudian ada pula hal-hal yang terjadi beberapa saat setelah jalsah bersama Asy-Syaikh Arafat selesai.

Dan inilah poin yang penting.



🗂Penutup dan Isyarat Sesi Ketiga

Materi ini sebenarnya masih panjang.

Namun muhadharah kita sudah melewati batas waktu dan telah berlangsung lebih dari satu jam.

Meski demikian, tidak mengapa kita nukilkan sedikit terlebih dahulu.

Kalau memang harus berlanjut ke sesi yang ketiga, maka InsyaAllah akan kita lanjutkan.

Kecuali apabila Ustadz Abul Harits memberikan klarifikasi, bertaubat, dan rujuk.
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
1️⃣1️⃣Kalau itu terjadi, maka sesi ketiga tidak jadi dilaksanakan.

Namun apabila sampai waktunya Ustadz Abul Harits masih belum bertaubat dan belum rujuk, maka InsyaAllah muhadharah sesi ketiga tetap akan kami lanjutkan.

Na‘am.



🗂Isi Pesan Ustadz Abul Harits kepada Ustadz Luqman

Lalu, apa isi pesan Ustadz Abul Harits kepada Ustadz Luqman?

Apa isi pesan Ustadz Abul Harits kepada Ustadz Luqman?

Nah, perlu untuk kita ketahui bahwa jalsah antara Ustadz Luqman dengan Asy-Syaikh Arafat terjadi pada tanggal 25 November 2025.

Dan tidak benar apabila dikatakan bahwa jalsah tersebut dilakukan bertiga antara Asy-Syaikh Arafat, Ustadz Luqman, dan Ustadz Abul Harits.

Itu tidak benar.

Yang benar adalah Asy-Syaikh Arafat telah lebih dahulu melakukan jalsah dengan Abul Harits sebelum bertemu dengan Ustadz Luqman.

Kemudian setelah itu, Asy-Syaikh Arafat melakukan jalsah dengan Ustadz Luqman.

Jadi tidak ada jalsah bertiga antara Asy-Syaikh Arafat, Ustadz Luqman, dan Ustadz Abul Harits.

Itu dusta, sebagaimana yang tersebar. Itu dusta.



🗂 Pesan WhatsApp Sebelum Jalsah

Beberapa saat sebelum jalsah Ustadz Luqman bersama Asy-Syaikh Arafat, Ustadz Abul Harits — yang saat itu juga berada di negeri Madinah, di Kota Madinah — mengirimkan pesan WhatsApp kepada Ustadz Luqman.

Isi pesannya sebagai berikut:

«السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، كَيْفَ حَالُكَ يَا أُسْتَاذُ؟ عَسَاكَ بِخَيْرٍ وَعَافِيَةٍ.»

“Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bagaimana kabarmu wahai Ustadz? Semoga engkau berada dalam keadaan baik dan sehat.”

«الْحَمْدُ لِلَّهِ أُبَشِّرُكَ، قَدْ زُرْتُ شَيْخَنَا عَرَفَاتَ حَفِظَهُ اللهُ.»

“Alhamdulillah, aku ingin menyampaikan kabar gembira kepadamu. Aku telah mengunjungi Syaikh kita Arafat hafizhahullah.”

«وَجَلَسْتُ مَعَهُ جَلْسَةً طَيِّبَةً.»

“Dan aku telah melakukan jalsah bersama beliau dengan jalsah yang sangat baik.”

«تَذَاكَرْنَا فِيهَا بَعْضَ الْمُسْتَجَدَّاتِ فِي سَاحَةِ الدَّعْوَةِ وَغَيْرِهَا.»

“Dalam jalsah tersebut kami membahas beberapa perkembangan baru di medan dakwah dan yang selain itu.”

Beliau tidak merinci apa yang dimaksud dengan “dan yang selain itu”.

«وَأَرْشَدَنِي بِنَصَائِحَ وَتَوْجِيهَاتٍ، جَزَاهُ اللهُ خَيْرًا، وَجَعَلَ ذٰلِكَ فِي مِيزَانِ حَسَنَاتِهِ.»

“Dan beliau memberikan kepadaku berbagai nasihat dan arahan. Semoga Allah membalas beliau dengan kebaikan dan menjadikan itu sebagai pemberat timbangan amal kebaikan beliau.”

«تَجْتَمِعُ بِهَا كَلِمَةُ السَّلَفِيِّينَ، وَخَاصَّةً عِنْدَنَا فِي بِلَادِ إِنْدُونِيسِيَا.»

“Yang dengan nasihat dan arahan tersebut, InsyaAllah akan menyatukan kalimat Salafiyyin, khususnya di negeri kita Indonesia.”

«وَأَنْتَ أَخُونَا الْكَبِيرُ.»

“Dan engkau wahai Ustadz Luqman adalah saudara tua kami.”

Yakni orang yang kami tuakan.

«وَالشَّيْخُ طَلَبَ مِنِّي أَنْ أَرْجِعَ إِلَيْكَ.»

“Dan Syaikh meminta aku untuk kembali kepadamu.”

«وَأَسْتَشِيرَكَ فِيمَا يَتَعَلَّقُ بِأُمُورِ الدَّعْوَةِ وَغَيْرِهَا.»

“Dan agar aku senantiasa bermusyawarah denganmu dalam perkara-perkara dakwah dan selainnya.”

Beliau juga tidak merinci apa yang dimaksud dengan “selainnya”.

«وَأَنْتَ لَكَ جُهُودُكَ الَّتِي تُذْكَرُ فَتُشْكَرُ.»

“Dan engkau memiliki jasa dan kontribusi besar yang patut disebut dan disyukuri.”

«وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ نَزَغَاتِ الشَّيَاطِينِ.»

“Dan kita berlindung kepada Allah dari gangguan-gangguan setan.”

«أَسْأَلُ اللهَ أَنْ يُوَفِّقَنِي وَإِيَّاكَ لِمَا يُحِبُّ وَيَرْضَى.»

“Aku memohon kepada Allah agar memberikan taufik kepadaku dan kepadamu pada perkara yang Dia cintai dan Dia ridai.”

«وَأَنْ يُجَنِّبَنَا الْفِتَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.»

“Dan semoga Allah menjauhkan kita dari berbagai fitnah, yang tampak maupun yang tersembunyi. Amin, wahai Rabb semesta alam.”
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
1️⃣2️⃣🗂 Jawaban Ustadz Luqman setelah Jalsah

Pesan ini dikirim menjelang jalsah bersama Asy-Syaikh Arafat. Karena itu, Ustadz Luqman belum sempat membalasnya.

Barulah setelah jalsah selesai — sebagaimana poin-poin jalsah yang telah kita sebutkan tadi — Ustadz Luqman memberikan jawaban.

Namun karena saat itu beliau baru keluar dari rumah Asy-Syaikh Arafat dan sedang berjalan kaki, maka beliau tidak mengetik balasan tersebut.

Beliau membalasnya dengan voice note atau pesan suara.

Ustadz Luqman menjawab:

«وَعَلَيْكُمُ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، حَيَّاكَ اللهُ يَا أَبَا الْحَارِثِ، حَيَّاكَ اللهُ.»

“Wa‘alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Semoga Allah memberikan kehidupan yang baik kepadamu, wahai Abul Harits. Semoga Allah memberikan kehidupan yang baik kepadamu.”

«مَرْحَبًا، مَرْحَبًا، الْحَمْدُ لِلَّهِ أَنَا بِخَيْرٍ.»

“Selamat datang, selamat datang. Alhamdulillah, aku dalam keadaan baik.”

«وَعَسَاكَ كَذٰلِكَ.»

“Dan aku berharap demikian pula keadaanmu.”

«نَعَمْ، إِنْ شَاءَ اللهُ نَجْلِسُ عِنْدَ وُصُولِنَا إِلَى إِنْدُونِيسِيَا بِإِذْنِ اللهِ تَعَالَى، وَنَسْأَلُ اللهَ التَّوْفِيقَ.»

“Na‘am. InsyaAllah nanti kita akan duduk bersama setelah sampai di Indonesia dengan izin Allah Ta‘ala. Dan kita memohon taufik dari Allah Subhanahu wa Ta‘ala.”



🗂 Belum Sampai 24 Jam Setelah Jalsah

Ayyuhal Ikhwah,

Baru saja Ustadz Luqman sampai di penginapan hotel. Belum sampai 24 jam sejak jalsah bersama Asy-Syaikh Arafat — yang tadi telah ana sampaikan garis besar isi pembicaraannya kepada antum — di mana Asy-Syaikh Arafat berkata:

«قَدْ نَصَحْتُهُ، وَالظَّاهِرُ أَنَّهُ يَقْبَلُ النَّصِيحَةَ.»

“Aku telah menasihatinya, dan yang tampak padaku dia menerima nasihat.”

Ini perlu dicatat.

Kemudian dalam suratnya kepada Ustadz Luqman, Abul Harits mengatakan bahwa:

- Syaikh telah memerintahkannya untuk bermusyawarah dengan Ustadz Luqman.
- Syaikh telah menasihatinya.
- Syaikh telah memberinya arahan.
- Dan Syaikh meminta dirinya untuk kembali merujuk kepada Ustadz Luqman serta bermusyawarah dengannya dalam perkara-perkara dakwah dan selainnya.

Na‘am.

Ini adalah janji Ustadz Abul Harits kepada Asy-Syaikh Arafat secara langsung, dan juga kepada Ustadz Luqman melalui pesan WhatsApp.



🗂Munculnya Status Istri Kedua Abul Harits

Namun — والعياذ بالله — belum sampai 24 jam. Saat itu Ustadz Luqman masih berada di negeri Madinah.

Demikian pula Ustadz Abul Harits masih berada di negeri Madinah.

Tiba-tiba muncul screenshot status dari istri kedua Ustadz Abul Harits. Kalau kita tidak menyebut ini sebagai bentuk pengkhianatan dari Ustadz Abul Harits, lalu apa lagi?

Baru saja beliau berjanji kepada Ustadz Luqman untuk memusyawarahkan segala perkara yang berkaitan dengan dakwah.

Lantas bagaimana dengan status istrinya yang berkaitan dengan dakwah?

Isi jalsah Madinah justru dibongkar oleh istrinya melalui status WhatsApp, bahkan belum sampai 24 jam.

Dan pada salah satu poin dari sekian poin yang disampaikan dalam status tersebut, ternyata tidak sesuai dengan isi jalsah Madinah.

Walaupun memang ada beberapa poin lain yang sesuai dengan isi jalsah Madinah.

Na‘am.



🗂Penutup Muhadharah dan Isyarat Sesi Ketiga

Apa isi status tersebut?

Apa sebenarnya isi status itu?

InsyaAllah akan kita beberkan dan kita sampaikan pada pertemuan berikutnya.

Na‘am.

Karena kita khawatir waktunya menjadi terlalu panjang.

Sekarang muhadharah sudah berlangsung lebih dari satu jam.

Kita tadi mulai pukul 06.30, dan sekarang sudah pukul 07.47.

Di antara antum mungkin ada yang harus bekerja atau mempersiapkan berbagai urusan.

Maka untuk muhadharah sesi kedua ini kita cukupkan sampai di sini terlebih dahulu.

InsyaAllah, terkait status istri Ustadz Abul Harits akan kita bahas pada sesi yang ketiga.

Kapan waktunya?

Nanti akan diumumkan, InsyaAllah.

وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Dan Allah lebih mengetahui mana yang benar.
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
1️⃣3️⃣🗂Nasihat Terakhir kepada Ustadz Abul Harits

Sebelum kita akhiri, ana secara pribadi ingin menyampaikan kepada Ustadz Abul Harits:

«“Ya akhona, ya Ustadz Abul Harits, hentikanlah apa-apa yang telah engkau lakukan ini.”»


Terus terang, sampai sekarang kami masih membuka pintu.

Sekiranya antum mau, sebenarnya perkara ini mudah.

Antum cukup mengklarifikasi dan menarik kembali tuduhan-tuduhan berat tersebut.

Sampaikan bahwa itu tidak benar.

Sampaikan bahwa itu dusta.

Karena Ustadz Luqman adalah seorang Sunni Salafy yang dikenal oleh para Masyaikhul Kibar, baik yang telah wafat maupun yang masih hidup.

Sebenarnya perkara ini mudah.

Namun mengapa terasa begitu berat bagi beliau?

Dan juga sangat mudah sebenarnya bagi beliau untuk mengatakan:

«“Orang tersebut adalah seorang Hizby Ikhwany dan saya mentahdzirnya.”»

Apa susahnya?



🗂Penutup Muhadharah

Semoga saja beliau bisa menerima nasihat ini.

Kalau tidak, maka InsyaAllah pada sesi ketiga nanti akan kita lanjutkan lagi penjelasannya.

وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

«سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.»

Rekaman Audio:
https://t.me/kajiansalafypalopo/8007

Catatan:

Transkrip ini tidak disajikan secara harfiah (verbatim), namun telah melalui penyuntingan ringan berupa penghapusan pengulangan kata dan penataan kalimat tanpa mengubah makna yang disampaikan dalam muhadharah, dengan tujuan menjaga kejelasan dan kenyamanan pembaca.

Transkrip ini telah dibaca dan disetujui oleh Ustadz Abu Fuad hafizhahullah.


🌏 Channel FBF:
t.me/ForumBerbagiFaidah
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Forwarded from Salafy Probolinggo
Simak Sekarang!!

Siaran Langsung MUHADHARAH ILMIAH Sesi 1 Bertemakan: MENGHIDUPKAN CAHAYA SALAFIYYAH DI TENGAH GELAPNYA FITNAH (Renungan Penting Tentang Beberapa Kejahatan Terhadap Pokok-pokok Dakwah Salafiyyah) | Bersama Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, LC hafidzahullah | Bertempat di Masjid Al Fauzan Kompleks Ma'had Al I'tishom bis Sunnah Kraksaan Probolinggo

Tautan:
https://t.me/ahlussunnahprobolinggo?livestream
Forwarded from SALAFY BANDUNG
📺Live sekarang!
FIGUR ISTRI SHALIHAH KETIKA DI RUMAH | Pemateri : Al-Ustadz Abu Jundi hafizhahullah | KAJIAN RUTIN IKHWAH WAL UMMAHAT BANDUNG RAYA SETIAP AHAD SIANG (Pekan Ke-1 dan Ke-3)

📑Live Telekonferensi:
t.me/SalafyBandung


Barakallahu Fiikum

◽️◾️◽️◾️◽️◽️◾️◽️◾️◽️
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Forwarded from SABILUL ANBIYA
📡🌙🇮🇩 PENETAPAN 1 Dzulhijjah 1447 H

Keputusan pemerintah RI melalui Kemenag berdasarkan hasil sidang isbat malam ini menetapkan bahwa, tanggal 1 Dzulhijjah 1447 H jatuh pada hari Senin, 18 Mei 2026 M.

🗓 Hari Raya Idul Adha 1447 H jatuh pada hari Rabu , tanggal 27 Mei 2026 M

🔹 قناة سبيل الأنبياء 🔹

📲 Join • Save • Share ll
http://t.me/sabilulanbiya

🔄
Forwarded from Salafy Probolinggo
🗓⛔️ KETENTUAN LARANGAN POTONG KUKU BAGI CALON PENUNAI KURBAN DAN HIKMAHNYA

Dari Ummu Salamah radhiyallahu anha beliau berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda:

مَنْ كَانَ لَهُ ذِبْحٌ يَذْبَحُهُ، فَإِذَا أُهِلَّ هِلَالُ ذِي الْحِجَّةِ فَلَا يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعَرِهِ، وَلَا مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا، حَتَّى يُضَحِّيَ

"Barang siapa yang memilki binatang sembelihan yang hendak dia kurbankan, apabila telah terlihat hilal bulan Dzulhijjah janganlah dia mengambil bagian rambutnya, jangan pula kuku-kukunya sedikitpun, sampai dia menunaikan penyembelihan kurbannya." (HR. Muslim)

Syaikh Muhammad Bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah menjelaskan,

ﻓﺈﺫا ﺩﺧﻞ اﻟﻌﺸﺮ ﻣﻦ ﺫﻱ اﻟﺤﺠﺔ ﻭﺃﻥ ﺗﺮﻳﺪ ﺃﻥ ﺗﻀﺤﻲ ﺃﺿﺤﻴﺔ ﻋﻦ ﻧﻔﺴﻚ ﺃﻭ ﻋﻦ ﻏﻴﺮﻙ ﻣﻦ ﻣﺎﻟﻚ ﻓﻼ ﺗﺄﺧﺬ ﺷﻴﺌﺎ ﻣﻦ ﺷﻌﺮﻙ ﻻ ﻣﻦ اﻹﺑﻂ ﻭﻻ ﻣﻦ اﻟﻌﺎﻧﺔ ﻭﻻ ﻣﻦ اﻟﺸﺎﺭﺏ ﻭﻻ ﻣﻦ اﻟﺮﺃﺱ ﺣﺘﻰ ﺗﻀﺤﻲ ﻭﻛﺬﻟﻚ ﻻ ﺗﺄﺧﺬﻥ ﺷﻴﺌﺎ ﻣﻦ اﻟﻈﻔﺮ ﻇﻔﺮ اﻟﻘﺪﻡ ﺃﻭ ﻇﻔﺮ اﻟﻴﺪ ﺣﺘﻰ ﺗﻀﺤﻲ

"Jadi apabila telah masuk sepuluh hari permulaan bulan Dzulhijjah, sedangkan anda telah berencana menunaikan penyembelihan hewan kurban dari atas nama anda pribadi atau atas nama orang lain dari perolehan harta anda, janganlah anda mengambil sedikitpun (dengan cara apapun; mencabut ataupun memotong -pen) sedikitpun dari rambut anda, tidak boleh untuk ketiak, kemaluan, kumis maupun kepala anda, sampai anda melaksanakan penyembelihan kurban. Begitu pula janganlah memotong sedikitpun dari bagian kuku, baik itu kuku kaki maupun kuku tangan, sampai anda melakukan penyembelihan kurban.

ﻭﺯاﺩ ﻏﻴﺮ ﻣﺴﻠﻢ: ﻭَﻻَ ﻣِﻦ ﺑَﺸَﺮَﺗِﻪِ - ﻳﻌﻨﻲ ﻣﻦ ﺟﻠﺪﻩ - ﻻ ﻳﺄﺧﺬ ﺷﻴﺌﺎ ﺣﺘﻰ ﻳﻀﺤﻲ

Selain Imam Muslim ada yang menambahkan (redaksi riwayat): 'jangan pula (merontokkan) permukaan badannya'. Yaitu kulitnya, jangan sampai diambil sama sekali sampai dia melakukan penyembelihan kurbannya.

ﻭﺫﻟﻚ اﺣﺘﺮاﻡ للأضحية ﻭﻷﺟﻞ ﺃﻥ ﻳﻨﺎﻝ ﻏﻴﺮ اﻟﻤﺤﺮﻣﻴﻦ ﻣﺎ ﻧﺎﻟﻪ اﻟﻤﺤﺮﻣﻮﻥ ﻣﻦ اﺣﺘﺮاﻡ اﻟﺸﻌﻮﺭ لأن اﻹﻧﺴﺎﻥ ﺇﺫا ﺣﺞ ﺃﻭ اﻋﺘﻤﺮ ﻓﺈﻧﻪ ﻻ ﻳﺤﻠﻖ ﺭﺃﺳﻪ ﺣﺘﻰ ﻳﺒﻠﻎ اﻟﻬﺪﻱ ﻣﺤﻠﻪ فأراد اﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ﺃﻥ ﻳﺠﻌﻞ ﻟﻌﺒﺎﺩﻩ اﻟﺬﻳﻦ ﻟﻢ ﻳﺤﺠﻮا ﻭﻳﻌﺘﻤﺮﻭا ﻧﺼﻴﺒﺎ ﻣﻦ ﺷﻌﺎﺋﺮ اﻟﻨﺴﻚ ﻭاﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ

(Ketentuan) demikian itu dimaksudkan sebagai bentuk penghormatan terhadap ibadah kurban. Dan supaya selain jemaah haji yang tengah berihram juga memperoleh (keutamaan) sebagaimana yang diperoleh orang-orang yang berihram, berupa menjaga rambut-rambutnya. Karena sesungguhnya seseorang yang tengah menjalani ihram dia tidak diperbolehkan mencukur rambut kepalanya sampai hewan (hadyu) sesembelihannya telah sampai pada (waktu) dan tempat pembagiannya (pasca penyembelihan -pen). Sehingga Allah Azza wa Jalla berkehendak agar para hamba-Nya yang tidak menunaikan haji dan tidak sedang berumroh turut mendapatkan bagian dari (keutamaan) syariat ritual penyembelihan binatang ternak (An Nusuk). Wallahu a'lam."

📚 Syarh Riyadush-Shalihin 6/450

https://t.me/ahlussunnahprobolinggo/479

•••❁○┈○❁•••
Channel Telegram:
Salafy Probolinggo
@ahlussunnahprobolinggo
Forwarded from SALAFY BANDUNG
📺Live sekarang!

LIVE Materi Tematik | Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah | Al-Ustadz Abdullah Rizal hafizhahullah | Kajian Rutin Selasa Malam Rabu di Rumbel Shabran Jamila Bandung

📑Live Telekonferensi:
t.me/SalafyBandung


Barakallahu Fiikum

◽️◾️◽️◾️◽️◽️◾️◽️◾️◽️
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM