منتدى نشر الفـــــــوائد
7.64K subscribers
4.28K photos
254 videos
279 files
5.59K links
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya

Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله

Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Download Telegram
Maka muncullah istilah Jarh wa Ta'dil (الجرح والتعديل), yaitu celaan dan pujian. Hal ini merupakan bagian dari penjagaan terhadap syariat Islam, terutama dalam ilmu hadits, untuk menilai para perawi.

Dengan demikian, dapat dipilah apakah suatu hadits diterima atau ditolak, dan apakah seorang perawi riwayatnya dapat dijadikan hujjah atau tidak.

Kemudian pertanyaan itu berlanjut:

وهل يمكن تطبيقها على الجماعات الإسلامية حيث أن بعض أهل العلم عدلوا هذه الجماعات وبعضهم جرحوها فهل نقدم المجرح على المعدل لأنه عنده زيادة علم

Apakah kaidah ini bisa diterapkan pada kelompok-kelompok Islam, ketika sebagian ulama memuji kelompok tersebut dan sebagian lainnya mencelanya?

Apakah kita mendahulukan pihak yang mencela (dibandingkan pihak yang memuji) karena dianggap memiliki tambahan ilmu?
Ini pertanyaannya.


Dijawab oleh Al-Imam Al-Mujahid Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali rahimahullahu Ta'ala:

نعم هذا المنهج قائم ومستمر إلى يوم القيامة إن شاء الله

Ya, manhaj ini akan tetap tegak dan terus berjalan hingga hari kiamat, insya Allah.

Artinya, jika ada seseorang yang mencela fulan dengan penjelasan yang rinci—misalnya mengatakan bahwa fulan tidak layak diambil ilmunya karena memiliki sifat tertentu seperti berdusta, berkhianat, atau suka mengadu domba—maka itu termasuk jarh (celaan).

Sementara di sisi lain, ada yang memuji fulan, mengatakan bahwa ia baik dan layak diambil ilmunya.

Maka menurut Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali, jika celaan tersebut disertai hujjah dan penjelasan yang rinci, dijelaskan alasannya maka kaidah ini tetap berlaku hingga hari kiamat, insya Allah.

لأنه منهج إسلامي صحيح تقوم عليه حياة المسلمين.

Karena ini adalah manhaj Islam yang benar, yang tegak di atasnya kehidupan kaum muslimin. Kehidupan kaum muslimin tegak dengan adanya jarh wa ta'dil.

Kalau di Al-Qur’an, ada pihak-pihak yang di-jarh. Abu Lahab, misalnya:

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ.

Itu contoh jarh dalam Al-Qur’an, disebutkan namanya. Ini faedah dari Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullah, contoh jarh di dalam Al-Qur’an, dicela agar jangan diikuti seperti dia, tokoh ini, Abu Lahab. Na’am.

ويقوم عليها دينهم.

Tegak di atasnya agama mereka.

ويحمى بها دينهم.

Dan dilindungi dengannya agama mereka.

وتحمى بها أعراضهم.

Dilindungi dengannya kehormatan-kehormatan mereka.

وتحمى بها أموالهم.

Dilindungi dengannya, dengan jarh wa ta'dil, harta-harta mereka. Harta kaum muslimin terlindungi dengan adanya jarh.

Ada sosok yang dikenal baik, sementara orang tidak mengetahui keburukannya—suka menipu, berkhianat, dan ingkar janji. Lalu orang-orang tertipu bekerja sama dengannya, sehingga banyak harta kaum muslimin yang dirugikan.

Maka, dengan jarh, terlindungi—biidznillah—harta kaum muslimin.

هذا منهج عظيم في الإسلام.

Ini adalah manhaj yang agung di dalam Islam.

لا يحط من شأنه إلا إنسان منحرف فاسد التصور والتفكير.

Tidaklah yang meremehkan masalah ini kecuali orang yang menyimpang, yang rusak cara pandang dan cara berpikirnya. Na’am.

Sampai ada yang mengatakan bahwa kita tidak perlu jarh wa ta'dil, tidak perlu ada kritikan-kritikan. Ini menunjukkan rusaknya cara berpikir.

Di dalam Al-Qur’an disebutkan ciri-ciri orang munafik. Di dalam Al-Qur’an juga terdapat celaan bagi Yahudi dan banyak pihak. Kalau yang di-jarh secara nama, contohnya tadi:

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ.

Celaka kedua tangan Abu Lahab dan sungguh celaka. Na’am, itu bagian dari jarh.

Kemudian kata Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali rahimahullah:

فنعم هذا المنهج الآن ماش في الجماعات.

Ya, manhaj ini sekarang berjalan pada kelompok-kelompok.

وقد يزكي الرجل وهو فاضل بناء على الظاهر.

Kadang seorang yang mulia men-tazkiyah—yakni memuji atau merekomendasikan—berdasarkan yang zhahir (nampak).

ولا يعرف حقيقة ما عليه هذا القوم.

Namun, orang yang mulia tersebut tidak mengetahui hakikat dari kaum tersebut.

فيأتي إنسان يدرس كتبهم ويدرس واقعهم.

Lalu datang seseorang yang mempelajari kitab-kitab mereka dan mempelajari realita mereka.

فيجد أن هذا الذي زكاهم قد وقع في الخطأ من حيث لا يدري.

Kemudian ia mendapati bahwa orang yang men-tazkiyah tadi ternyata keliru tanpa ia sadari.
فزكاهم بناء على الظاهر.

Karena ia memuji berdasarkan yang tampak secara zhahir.

هذا شيء حصل للأئمة الكبار.

Hal seperti ini bisa terjadi bahkan pada imam-imam besar.

• Syaikh bin Baz rahimahullah pernah memuji sebagian kelompok ketika belum mengetahui hakikatnya. Beliau pernah memuji Jamaah Tabligh sebelum mengetahui hakikatnya.

Dan di antara yang menjelaskan hakikat Jamaah Tabligh hingga membuat Syaikh bin Baz merevisi fatwanya adalah Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali rahimahullah.

• Adapun Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, jika kita mencari fatwa beliau yang mencela Jamaah Tabligh, secara pribadi saya belum pernah menemukannya. Dari sekian banyak fatwa yang ada, lebih banyak berupa pujian dan husnudzhon, karena itu yang tampak secara zhahir bagi beliau. Na’am.

فكم من إنسان عدله الإمام أحمد فقال تلامذته الذين لا يصلون إلى شيء من فضله عرفوا ما عند هؤلاء وما فيهم من قدح وما فيهم من جرح فأسقطوهم وإن كان قد زكاهم أحمد.

• Betapa banyak orang yang dipuji oleh Imam Ahmad rahimahullah, namun murid-murid beliau—yang tidak sampai pada derajat keutamaan beliau—mengetahui keadaan orang tersebut, mengetahui celaan dan kekurangannya, lalu menjatuhkan mereka, meskipun sebelumnya telah dipuji oleh Imam Ahmad rahimahullah.

وزكى الشافعي أناسا وجرحهم آخرون.

• Asy-Syafi’i memuji sekelompok orang, namun dicela, dikritik oleh yang lain.

وقدم جرح هؤلاء المفسر القائم على معرفة الحقيقة على أقوال الأئمة الذين زكوا بناء على ما ظهر لهم.

Kemudian didahulukan jarh yang dijelaskan secara rinci dan berdasarkan pengetahuan hakikat, dibandingkan pujian para imam yang hanya berdasarkan zhahir.

فاليوم يعني قد يأتي إنسان يدعي أنه طلب العلم ويتظاهر بالدين والنسك والأخلاق الطيبة ويجلس ويمكث أياما فتبني على الظاهر.

Pada zaman sekarang, bisa saja datang seseorang yang mengaku penuntut ilmu, menampakkan diri berpegang dengan agama, ibadah, dan akhlak yang baik. Ia tinggal beberapa hari, lalu engkau menilainya berdasarkan zhahir.

“Kita lihat fulan ini baik, pakai gamis, shalat bersama kita, zhahirnya baik, datang ke taklim.”

Kata Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali rahimahullah:

أنا والله زكيت أناسا في هذا العام.

Demi Allah, saya telah memuji beberapa orang pada tahun ini.

والله لازموني وما شاء الله تنسك وكذا وكذا وكذا.

Demi Allah, mereka selalu bersama saya, tampak ibadahnya baik, begini dan begitu.

ثم ظهر لي جرحهم.

Namun kemudian tampak bagi saya celaan mereka.

أنا إذا صلى معي وزكى وذكر الله وسافر معي إلى آخره أشهد بما رأيت ولا أزكي على الله أحداً.

Jika seseorang shalat bersama saya, saya memujinya, ia berdzikir bersama saya, safar bersama saya, maka saya bersaksi sesuai yang saya lihat. Namun saya tidak akan men-tazkiyah seseorang secara mutlak di hadapan Allah.

لكن يأتي إنسان آخر عرفه أكثر مني واكتشف عليه أخطاء.

Kemudian datang orang lain yang lebih mengenalnya daripada saya, lalu menemukan kesalahan-kesalahannya.

واكتشف عليه أشياء تقدح في عدالته.

Dan menemukan hal-hal yang mencederai keadilannya.

فيجرحه بعلم وببرهان على جرحه بالأدلة ويفسر جرحه.

Lalu ia mencelanya disertai dengan ilmu, bukti, dan dalil, serta menjelaskan secara rinci sebab celaannya.

فيقدم جرحه على تعديلي.

Maka didahulukan jarh tersebut dibandingkan ta’dil dari saya.

وكذلك قدم جرح من قدمه على تعديلي وأنا استسلمت.

Jarh tersebut didahulukan, dan saya pun menerima.

قدم الأدلة على جرح هذا الإنسان خلاص الحق معه.

Karena ia membawa dalil, maka kebenaran bersamanya.

Jadi, Syaikh mengakui bahwa terkadang beliau memuji seseorang berdasarkan zhahir. Namun, ketika ada orang lain yang ternyata lebih mengetahui dan memiliki catatan-catatan, bukti serta hujjah, maka beliau mendahulukan jarh tersebut dibandingkan pujian beliau sendiri.

فجماعة يعني جاؤوا عند عالم من العلماء وقالوا: والله نحن من أهل السنة وندعو إلى التوحيد ونحارب الشرك ونحارب القبورية وكذا وكذا.

Ada sekelompok orang datang kepada seorang ulama dan berkata:

“Demi Allah, kami ini Ahlussunnah. Kami mengajak kepada tauhid, memusuhi kesyirikan, memusuhi kuburiyah, demikian dan demikian.”

ورأيت فيهم الصلاح.

Dan engkau melihat adanya sisi keshalihan pada orang-orang tersebut.

كتبت لهم إلى من يعاونهم.
Kemudian engkau menuliskan rekomendasi untuk dikirimkan kepada orang yang kira-kira bisa mendukung dan menolong mereka.

فإنهم يدعون إلى كتاب الله وسنة الرسول.

Bahwa mereka ini mengajak kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul.

ثم راح ناس معهم خالطوهم عاشروهم من طلاب العلم.

Perhatikan. Namun, seiring berjalannya waktu, ada orang-orang yang bergaul dan berinteraksi dengan mereka, DARI KALANGAN PENUNTUT ILMU, BUKAN ULAMA.

فوجدوا أن الحقيقة تختلف تماماً.

Mereka mendapati bahwa ternyata hakikat kelompok yang direkomendasikan oleh Syaikh, yang ditulis pujian-pujiannya dengan tangan Syaikh, sangat berbeda dengan kenyataannya.

وأن هؤلاء أهل بدع وأنهم صوفية وأنهم خرافيون.

Ternyata mereka adalah Ahlul Bid'ah, Sufiyah, dan Khurafiyyun.

وقدم الأدلة على ما يقول.

Lalu mereka menyampaikan bukti-bukti atas ucapannya.

فيصدق ويقدم على تعديلي أو تعديل هذا العالم.

Maka kritikan para penuntut ilmu tadi dibenarkan dan didahulukan dibandingkan pujianku atau pujian ulama tersebut.


هذه قاعدة مطردة مستمرة إن شاء الله في الأفراد وفي الجماعات إلى يوم القيامة.

Ini adalah kaidah umum yang akan terus berlaku, insyaAllah, berkaitan dengan individu maupun jama'ah-jama'ah hingga hari kiamat.

Ini adalah ucapan Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali rahimahullahu Ta’ala. Beliau mengajarkan kepada kita ketundukan kepada bukti kebenaran. Dalilnya jelas. Orang yang jujur akan mampu mendatangkan bukti.

قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ.

Katakanlah, “Tunjukkanlah bukti-bukti kalian jika kalian adalah orang-orang yang jujur.”

Kita diperintah oleh Allah untuk bertakwa kepada-Nya dan bergabung bersama orang-orang yang jujur.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ.

"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang jujur".

Orang yang jujur pada asalnya tidak suka mencela orang lain. Namun, terkadang celaan itu harus disampaikan ketika maslahatnya lebih besar.

Tidak pantas seorang muslim dighibah. Namun, ketika seseorang adalah kadzdzab, pendusta misalnya, maka ia layak untuk dighibahi dengan tujuan agar manusia menjauh darinya dan tidak muncul korban-korban baru, kecuali jika ia bertaubat kepada Allah.

Kita berharap dan senang apabila orang-orang yang salah bertaubat kepada Allah.

Ada faedah dari fatwa Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullah tentang masalah para pendusta. Bagaimana jika seorang pendusta besar benar-benar bertaubat?

Syaikh Muqbil menjelaskan bahwa ada perbedaan antara pendusta yang berdusta dalam meriwayatkan hadits dan pendusta dalam perkara selain hadits.

Jika kedustaannya berkaitan dengan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka riwayatnya tetap tidak bisa diterima. Artinya, periwayatan darinya tertolak, meskipun ia telah bertaubat.

Adapun jika kedustaannya dalam perkara lain, lalu ia benar-benar bertaubat, maka taubatnya diterima. Namun, jangan mudah menerima pernyataan taubat tanpa kesungguhan dan bukti yang jelas.

Hal ini karena kita sayang kepada kaum muslimin, menjaga kehormatan mereka, dan menjaga harta mereka agar jangan sampai menjadi korban.

Kemudian, sebagai faedah tambahan, kita akan membaca fatwa lain dari Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali rahimahullah berkaitan dengan apakah jarh wa ta'dil itu khusus untuk ulama saja? Apakah semuanya harus dikembalikan kepada ulama? Dalam perkara apa hal itu bisa dilakukan oleh selain ulama?

Ini adalah fatwa Syaikh Rabi’ dari kaset berjudul Jalsah fi Yaumil Khamis, dan juga tertuang di situs resmi beliau.


Pertanyaannya adalah:

الجرح والتعديل في الأشخاص هل هو خاص بالعلماء فقط؟

Jarh wa ta'dil terhadap pribadi-pribadi tertentu, apakah khusus bagi ulama saja?

أو حتى بالشباب الذين عندهم معرفة؟

Atau bisa juga dilakukan oleh para pemuda yang memiliki ilmu dan pengenalan yang baik?

وماذا يشترط في المعرفة؟

Apa syarat yang dipersyaratkan dalam pengenalan tersebut?



Berkata Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali rahimahullah:

الجرح والتعديل لا بد فيه من صحة العقيدة كما أشار إلى ذلك الخطيب البغدادي.
Jarh wa ta'dil itu harus didasari akidah yang benar. Orang yang menerapkan jarh wa ta'dil harus memiliki akidah yang benar, sebagaimana hal itu diisyaratkan oleh Al-Khathib Al-Baghdadi.

ولا بد فيه من العلم بأسباب الجرح بارك الله فيك.

Dan ia harus mengetahui sebab-sebab jarh, yaitu sebab-sebab mengapa orang ini dicela. Ia harus benar-benar memahaminya. Barakallahu fik.

لا بد أن يعلم.

Ia harus mengetahui.

ولا بد فيه من التقوى والورع.

Dan harus ada ketakwaan serta wara’.

فإذا كان هذا الذي ينتقد عنده علم بالجرح والتعديل يجرح.

Jika orang yang mengkritik ini memiliki ilmu tentang jarh wa ta'dil, maka silakan ia mengkritik.

اللهم إلا إذا كان أمر واضح يعرفه الخاص والعام.

Kecuali jika perkaranya jelas, diketahui oleh orang khusus maupun orang umum.

يعرف أن هذا يسرق هذا يزني يعرف تماماً.

Ia mengetahui bahwa orang ini mencuri atau berzina. Ia benar-benar mengetahui hal itu.

يعرف أن هذا خائن.

Ia mengetahui bahwa orang ini berkhianat.

يقول العامي والعالم يقول في هذا.

Maka orang awam maupun ulama boleh berbicara dalam hal ini.

Jadi ini termasuk bagian dari penjagaan terhadap syari'at.

Jika orang awam saat ini yang beredar bahwa ada seseorang oknum yang mengaku sebagai Ustadz yang dikenal sebagai tokoh dari Mesir tapi terduga --bahkan mungkin sudah masuk ke dalam status tersangka-- pencabulan , kalau benar ini terjadi ia telah mencoreng citra seorang dai namun jika seorang awam memiliki bukti bahwa dia telah melakukan perbuatan bejat, misalnya, apakah harus menunggu sampai ada ulama dari Saudi yang berbicara?

Tidak. Dalam perkara seperti ini, ia bisa menunjukkan bukti kepada pihak yang berwenang, menghadirkan korban-korban yang bersaksi, dan menyampaikan bukti-buktinya. Tidak harus selalu kepada ulama dalam hal seperti itu.

يعرف أن هذا رافضي يعني ما يشترط فيه العلم.

Contoh lain, seseorang mengetahui bahwa orang ini adalah Rafidhah. Dalam hal seperti ini tidak dipersyaratkan ilmu yang khusus.

يعرف أن هذا صوفي يطوف أمامه ويقيم الموالد.

Ia mengetahui bahwa orang ini adalah sufi yang melakukan thawaf di hadapannya dan menegakkan perayaan-perayaan mawalid.

يعني يذهب إلى العالم ويأتي يجرحه؟

Apakah ia harus datang konsultasi terlebih dahulu kepada ulama untuk menetapkan jarh terhadapnya?

قريته ما فيها عالم يبقى ساكت؟

Kalau di kampungnya tidak ada ulama, apakah ia harus diam?

أي بارك الله فيك فالأمور الواضحة التي يشترك في معرفتها العالم وغير العالم.

Ya, barakallahu fik. Perkaranya jelas, yang diketahui bersama oleh orang berilmu maupun selain ulama.

هذه على كل مسلم.

Ini adalah perintah yang berlaku bagi setiap muslim.

من رأى منكم منكرا فليغيره بيده، فإن لم يستطع فبلسانه، فإن لم يستطع فبقلبه، وذلك أضعف الإيمان.

Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-lemah iman.

على كل مسلم أن ينصح للمسلمين.

Setiap muslim wajib memberikan an-nashihah kepada kaum muslimin.

بايعت رسول الله صلى الله عليه وسلم على إقام الصلاة وإيتاء الزكاة والنصح لكل مسلم.

Sebagian sahabat—kalau tidak salah Jarir bin Abdillah Al-Bajali radhiyallahu ‘anhu—meriwayatkan hadits:

“Aku membaiat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan memberikan an-nashihah kepada setiap muslim.”

الدين النصيحة قلنا لمن؟ قال لله ولرسوله ولكتابه ولأئمة المسلمين وعامتهم.

Agama adalah an-nashihah.

Kami bertanya, “Untuk siapa an-nashihah itu, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Untuk Allah, untuk Rasul-Nya, untuk kitab-Nya, untuk para pemimpin kaum muslimin, dan orang-orang awam mereka.”
الآن أرى واحداً رافضياً يخالط عامياً ويدعوه إلى الرفض، أذهب أجيء بالعالم كي يجرحه؟

Sekarang, jika aku melihat seorang Rafidhah berinteraksi dengan orang awam, mendekati mereka, dan mengajak kepada pemahaman Rafidhah, apakah aku harus pergi mendatangkan ulama agar ulama tersebut mencela (men-jarh) orang Rafidhi tadi?

أي بارك الله فيك، صوفي قبوري يخالط واحداً من أهل الفطرة ويوجهه إلى بدعته وأنا أعرفه أنه قبوري وأنا أعرف، أقول له هذا قبوري أعرفه، واضح هذا؟

Barakallahu fik. Jika ada seorang Sufi Quburi yang bergaul dengan seseorang yang masih di atas fitrah, lalu mengarahkannya kepada bid’ahnya, sementara aku mengetahui bahwa dia Quburi dan aku mengenalnya, maka mestinya aku katakan, “Orang ini Quburi, memiliki pemahaman yang menyimpang.” Jelas, demikian kata Syaikh.

بارك الله فيكم، فيه أمور خفية تحتاج إلى علم وخبرة وغيرها من الشروط التي قلناها.

Barakallahu fikum. Di dalamnya terdapat perkara-perkara yang samar yang membutuhkan ilmu, pengetahuan yang detail, dan syarat-syarat lain yang telah disebutkan sebelumnya.

هذه توكل إلى العلماء.

Perkara-perkara seperti itu diserahkan kepada ulama, apabila memang bersifat samar.

Misalnya, apakah ini termasuk penyimpangan dalam akidah atau tidak? Apakah ini termasuk perkara yang diperbolehkan atau tidak? Apakah ada ulama yang berpendapat demikian atau tidak? Apakah ini menyelisihi ijma’ ulama atau tidak?

Perkara-perkara yang samar seperti ini dikembalikan kepada ulama.

Demikian pula dalam masalah-masalah nazilah (kontemporer), seperti kasus Covid: bagaimana cara menangani jenazah korban Covid? Bolehkah menggunakan pakaian khusus? Apakah boleh tidak dimandikan seperti jenazah lainnya?

Apakah boleh menerapkan jaga jarak dalam shalat sehingga shaf tidak rapat, padahal pada kondisi normal diperintahkan untuk merapatkan shaf?

Ini adalah kasus baru yang samar bagi banyak orang dan membutuhkan fatwa ulama. Maka hal-hal seperti ini dikembalikan kepada ulama.

أما الأمور الواضحة والمشهورة يشترك فيها المسلمون جميعاً.

Adapun perkara-perkara yang jelas dan masyhur, yang diketahui oleh kaum muslimin secara umum—seperti haramnya berkhianat dan dosa dusta—maka tidak harus dikembalikan kepada ulama. Na’am.

Pembahasan ini bukan berarti meremehkan ulama. Justru kita mengembalikan sesuatu pada porsinya secara adil. Kita wajib memuliakan ulama, karena ulama dipuji oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Maka bagaimana mungkin kita mencela mereka?

Begitu banyak ayat yang memuji orang-orang berilmu. Na’am.

Namun, Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali rahimahullah mengingatkan kita untuk bersikap adil dan ketundukan kepada al-haq.

Al-haq itu disertai hujjah dan bukti. Meskipun yang menyampaikan adalah orang yang lebih rendah keilmuannya, jika disertai bukti dan hujjah, maka itu diterima. Dan hal ini dipraktikkan oleh Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali rahimahullah dalam perbuatan beliau. Na’am.

Maka dari itu, seorang alim pun harus tunduk kepada kebenaran yang disampaikan, meskipun oleh muridnya, selama disertai bukti dan data yang valid, bukan sekadar tuduhan.

Terkadang, kritikan dari seorang penuntut ilmu didasari oleh hujjah dan bukti yang kuat. Maka hal itu lebih didahulukan dibandingkan rekomendasi dari seorang alim yang hanya mengetahui secara zhahir saja.

Hal ini bisa terjadi karena husnudzon dari seorang alim yang belum mendapatkan informasi yang lengkap, belum final. Sebagaimana Syaikh bin Baz rahimahullah dahulu memuji Jama’atut Tabligh ketika informasi yang sampai kepada beliau belum sempurna.

Inilah yang bisa kita kaji pada kesempatan sore hari ini.

Kita telah mendengarkan pembacaan fatwa dari Syaikh Rabi’ dalam dua hal:

• Pertama, bagaimana jika seorang penuntut ilmu yang memiliki bukti dan hujjah mencela seseorang yang justru dipuji oleh ulama. Maka Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali rahimahullah mengajarkan untuk mengikuti pihak yang menyampaikan jarh dengan bukti dan hujjah, meskipun itu bertentangan dengan ta’dil dari beliau (Syaikh Rabi') sendiri.
• Kedua, Syaikh Rabi’ juga mengingatkan bahwa tanggung jawab amr ma’ruf nahi munkar berlaku bagi setiap muslim. Tidak semua perkara harus dikembalikan kepada ulama. Jika kemungkaran itu jelas dan diketahui oleh ulama maupun orang awam sebagai kemungkaran, maka wajib diingkari sesuai kemampuan.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits yang telah dibacakan sebelumnya, dari kaset berjudul:جلسة في يوم الخميس

إخواني في الله رحمني ورحمكم الله.

Inilah yang dapat kita kaji pada kesempatan sore hari ini.

Sebagai tambahan catatan, jika seorang penuntut ilmu biasa saja menyampaikan kritikan dengan hujjah, maka itu bisa didahulukan dibandingkan pujian seorang ulama yang hanya mengetahui berdasarkan zhahir.

Lalu bagaimana jika penuntut ilmu tersebut dikenal bahkan dipandang oleh sebagian Masyaikh sebagai seorang Syaikh, meskipun ia sendiri tidak ingin disetarakan dengan mereka?

Apalagi jika dalam berbagai fitnah ia menyampaikan hujjah yang diterima oleh ulama-ulama besar, maka hal ini menjadi nilai tambah untuk tidak meremehkan data dan bukti yang disampaikannya.

Sekali lagi, pada asalnya tidak boleh mencela sesama muslim karena mereka memiliki kehormatan. Namun, dalam kondisi tertentu—ketika kesalahan sudah parah, telah dinasihati, telah ditegur, dan terdapat banyak keluhan dari berbagai pihak tanpa adanya perbaikan—maka demi maslahat yang lebih besar, hal tersebut terpaksa diungkap.

Dan jarh dilakukan sebagai bagian dari an-nashihah.

Demikian yang dapat kita kaji pada kesempatan sore hari ini. Kurang lebihnya saya mohon maaf.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

📥 Unduhan file:
https://t.me/mahadminhajusshalihin/1978
Ukuran 13,58 MB (32 kb/s)
Durasi 55:51 menit
Forwarded from Kajian Salafy Palopo
بسم الله الرحمن الرحيم

SIMAK & IKUTI


📖 KAJIAN TELEKONFERENSI SALAFY PALOPO

In syaa Allah dengan tema:

📑 MENYINGKAP SYUBHAT MENJAGA MANHAJ: SIKAP ILMIAH DI TENGAH GELOMBANG FITNAH

🎙 Pemateri:
Al-Ustadz Abu Fuad Saiful حفظه الله تعالى

🗓 Hari/Tanggal:
Jum'at, 13 Dzulqa'dah 1447 H
(1 Mei 2026 M)

Waktu Kajian:
Pukul 06.30 Pagi WITA - Sampai Selesai

🔊 Live Streaming di
Radio Durus Ilmiyah Palopo
di Aplikasi Radio Manhajul Anbiya
Versi Web di.
http://manhajulanbiya.com/
Download Aplikasi:
http://manhajulanbiya.com/radio
Dan di Channel Telegram Kajian Salafy Palopo
https://t.me/kajiansalafypalopo


📲 Join • Save • Share ll
https://t.me/kajiansalafypalopo

Media Dakwah Salafy Palopo

🔄
HIDUP MULIA DENGAN KEJUJURAN

قَالَ الْعَلَّامَةُ الشَّيْخُ رَبِيعُ بْنُ هَادِي الْمَدْخَلِيُّ حَفِظَهُ اللَّهُ:

"يَجِبُ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَكُونَ عَزِيزًا عَفِيفًا وَرِعًا صَدُوقًا، يَتَحَرَّى الصِّدْقَ، وَيَكُونَ مِنَ الصَّادِقِينَ الشُّرَفَاءِ، وَلْيَحْذَرْ مِنْ أَهْلِ الْكَذِبِ التَّافِهِينَ الرُّوَيْبِضَاتِ، فَإِنَّهُ فِي زَمَانٍ فَشَا فِيهِ الْكَذِبُ وَإِشَاعَةُ الْأَكَاذِيبِ."

[تَقْدِيمُ الشَّيْخِ لِمَوْقِعِ السَّلَفِيَّةِ]


Al-‘Allamah Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah berkata:

“Wajib bagi seorang muslim untuk menjadi pribadi yang mulia, menjaga kehormatan diri, bersikap wara’, dan jujur. Ia harus selalu berusaha menegakkan kejujuran serta termasuk dalam golongan orang-orang yang jujur lagi terhormat.

Hendaklah ia waspada terhadap para pendusta, orang-orang rendah, dan kaum ruwaibidhah.

Sebab, ia hidup di zaman ketika kedustaan telah tersebar luas dan berbagai berita dusta banyak disebarkan.”

🌏 Channel FBF:
t.me/ForumBerbagiFaidah
Forwarded from Kajian Salafy Palopo
Radio Durus Ilmiyah Palopo

Simak Sekarang!!

MENYINGKAP SYUBHAT MENJAGA MANHAJ: SIKAP ILMIAH DI TENGAH GELOMBANG FITNAH | Al-Ustadz Abu Fuad Saiful hafizhahullah | Rumbel Al-Istiqamah Palopo - Sulawesi Selatan

Versi Web di
http://manhajulanbiya.com
atau 
Download Aplikasi di
http://manhajulanbiya.com/radio
Telegram
https://t.me/kajiansalafypalopo
Forwarded from Kajian Salafy Palopo
💽 Audio Muhadharah Telekonferensi

📑 MENYINGKAP SYUBHAT MENJAGA MANHAJ: SIKAP ILMIAH DI TENGAH GELOMBANG FITNAH

🎙 Pemateri:
Al-Ustadz Abu Fuad Saiful حفظه الله تعالى


📲 Join • Save • Share ll
https://t.me/kajiansalafypalopo/7986

Media Dakwah Salafy Palopo

🔄
Forwarded from Ahlussunnah Cilacap
📣 JANGAN LEWATKAN !
HARI INI, Ba'da MAGHRIB

📜DAURAH ILMIAH IMAM ASY-SYAFI'I CILACAP

Insya Allah...

🎙Bersama :
Al-Ustadz Abu Jundi hafizhahullah

📚 Seorang Pendusta, Ilmunya Tidak Boleh Diambil

🕌 Masjid Ma’had Daarul Hikmah, Jl. Wungu, Gumilir Cilacap

🏵️ Untuk UMUM (Muslim Muslimah)

📡 InsyaAllah LIVE di:
Radio SABILUL ANBIYA' di apk Radio Manhajul Anbiya':
https://play.google.com/store/apps/details?id=com.manhajul.anbiya

Atau siaran telegram:
https://t.me/ahlussunnah_cilacap
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
Forwarded from SALAFY BARLINGMASCAKEB
📲 SIMAK SEKARANG! (LIVE)

📜DAURAH ILMIAH IMAM ASY-SYAFI'I CILACAP

🎙Al-Ustadz Abu Jundi hafizhahullah

📚 Seorang Pendusta, Ilmunya Tidak Boleh Diambil (Sesi 1)

🕌 Masjid Ma’had Daarul Hikmah, Jl. Wungu, Gumilir Cilacap

📡 LIVE di:
Radio SABILUL ANBIYA' di apk Radio Manhajul Anbiya':
https://play.google.com/store/apps/details?id=com.manhajul.anbiya

Atau siaran telegram:
https://t.me/ahlussunnah_cilacap
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
Forwarded from Kajian Salafy Palopo
بسم الله الرحمن الرحيم

JANGAN LEWATKAN!


📖 KAJIAN TELEKONFERENSI SALAFY PALOPO

In syaa Allah dengan tema:

📑 MENYINGKAP SYUBHAT MENJAGA MANHAJ: SIKAP ILMIAH DI TENGAH GELOMBANG FITNAH (Bagian 2)

🎙 Pemateri:
Al-Ustadz Abu Fuad Saiful حفظه الله تعالى

🗓 Hari/Tanggal:
Ahad, 15 Dzulqa'dah 1447 H
(3 Mei 2026 M)

Waktu Kajian:
Pukul 06.30 Pagi WITA - Sampai Selesai

🏠 Tempat Kajian:
Rumbel Al-Istiqomah Palopo

🔊 Live Streaming di
Radio Durus Ilmiyah Palopo
di Aplikasi Radio Manhajul Anbiya
Versi Web di.
http://manhajulanbiya.com/
Download Aplikasi:
http://manhajulanbiya.com/radio
Dan di Channel Telegram Kajian Salafy Palopo
https://t.me/kajiansalafypalopo


📲 Join • Save • Share ll
https://t.me/kajiansalafypalopo

Media Dakwah Salafy Palopo

🔄
Forwarded from Kajian Salafy Palopo
Radio Durus Ilmiyah Palopo

Simak Sekarang!!

MENYINGKAP SYUBHAT MENJAGA MANHAJ: SIKAP ILMIAH DI TENGAH GELOMBANG FITNAH (Bagian 2) | Al-Ustadz Abu Fuad Saiful hafizhahullah | Rumbel Al-Istiqomah Palopo - Sulawesi Selatan

Versi Web di
http://manhajulanbiya.com
atau 
Download Aplikasi di
http://manhajulanbiya.com/radio
Telegram
https://t.me/kajiansalafypalopo
Forwarded from Kajian Salafy Palopo
💽 Audio Muhadharah Full Version

📑 (FULL) MENYINGKAP SYUBHAT MENJAGA MANHAJ: SIKAP ILMIAH DI TENGAH GELOMBANG FITNAH (BAGIAN 2)

🎙 Pemateri:
Al-Ustadz Abu Fuad Saiful حفظه الله تعالى

Alhamdulillah..

Kami telah mendapatkan backup rekaman dari seorang ikhwah -jazakumullahu khayran- dan telah disisipkan mengisi bagian awal rekaman yang tidak terekam (walau ada sedikit perbedaan kualitas rekaman).

Tafadhdhal disimak kembali rekaman muhadharah bagian 2 ini dengan utuh dari awal hingga akhir. Semoga bermanfaat..

📎 https://t.me/kajiansalafypalopo/8007

Barakallahu fiikum



📲 Join • Save • Share ll
https://t.me/kajiansalafypalopo

Media Dakwah Salafy Palopo

🔄
Forwarded from Manhajul Anbiya
🔊 HADIRI KAJIAN IKHWAH HARI INI !

📚 Salah Satu Prinsip Ahlussunnah: Merendahkan Ahlul Bid'ah dan Tidak Memuliakan Mereka

🎙Ustadz Abu Said Hamzah hafizhahullah
📆 Senin, 16 Dzulqo'dah 1447 / 4 Mei 2026
Ba'da Maghrib
📍Masjid Al-Ikhlas ( Kav. Ma'had 1 Minhajul Atsar)

📣 Live Streaming
Radio Manhajul Anbiya
https://manhajulanbiya.com/
https://t.me/ManhajulAnbiya?livestream
Forwarded from Manhajul Anbiya
260504 Salah Satu Prinsip Ahlussunnah Merendahkan Ahlul Bid'ah dan…
Ustadz Abu Said Hamzah
📀 [AUDIO KAJIAN]
📚 Salah Satu Prinsip Ahlussunnah: Merendahkan Ahlul Bid'ah dan Tidak Memuliakan Mereka

🎙 Ustadz Abu Said Hamzah hafizhahullah
📆 Senin, 16 Dzulqo'dah 1447 / 4 Mei 2026
📍 Masjid Al-Ikhlas (Komplek Ma'had 1 Minhajul Atsar)

🔗 https://t.me/ManhajulAnbiya/10873