📬 KALA HILAL AROFAH TAK TAMPAK DI NUSANTARA
[ Tanggapan terhadap Artikel:
Haji di Arofah, Bukan di Nusantara" oleh Nasrudin Joha ]
(Bagian 2)
🟧 Saya khawatir, niat tulus ikhlas puasa arofah untuk mendekatkan diri kepada Allah justru berbuntut maksiat, karena kaifiyahnya menyelisihi Sunnah.
Tanggapan:
MasyaAllah, ketika anda menyebut Sunnah, ada satu makna yang terselip. Yakni makna Sunnah yang berarti prinsip aqidah, yang hukumnya wajib bagi setiap muslim meyakininya.
Walaupun dalam bidang fiqh dan ushulnya, tentu berbeda artinya. Saat sunnah dalam bidang ilmu tersebut bermakna amalan yang ternilai pahala bagi pelaku yang mengerjakannya karena melaksanakan perintah Allah, dan tidak berdosa dan tidak memperoleh keutamaan orang yang tidak melakukannya. Artinya tidak sampai diwajibkan untuk melakukannya.
Ada juga makna lain dalam bidang ilmu-ilmu hadits. Sunnah dalam konteks ilmu ini bermakna semua hal yang berasal dari Rasulullah shollallahu alai wasallam baik berupa ucapan, perbuatan ataupun pembiaran beliau terhadap kejadian atau kondisi tertentu.
Saat anda menyebut maksiat, saya sadar bahwa sunnah dalam definisi bidang ilmu aqidahlah yang anda maksudkan. Apabila memang demikian yang dimaksudkan, sungguh ikrar para ulama sejak dulu hingga kini membantah dugaan menggelikan ini.
Rakyat yang patuh terhadap ketetapan pemerintahnya yang telah memilih salah satu pendapat fiqh pantaskah disebut bermaksiat? Sebaliknya yang memprovokasi untuk menyelisihi ketetapan pemerintah muslim dianggap sesuai sunnah?
Padahal Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah menekankan:
ﻭﻣﻦ اﻟﺴﻨﺔ اﻟﻻﺯﻣﺔ اﻟﺘﻲ ﻣﻦ ﺗﺮﻙ ﻣﻨﻬﺎ ﺧﺼﻠﺔ ﻟﻢ ﻳﻘﺒﻠﻬﺎ ﻭﻳﺆﻣﻦ ﺑﻬﺎ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻣﻦ ﺃﻫﻠﻬﺎ ...
"Dan termasuk sunnah (prinsip keyakinan) yang wajib, di mana barang siapa yang meninggalkan sebagian saja, jika dia tidak menerima, tidak pula meyakininya, berati dia bukan termasuk penganutnya..."
(Kemudian beliau sebutkan poin-poin prinsip yang wajib diyakini tersebut, hingga sampai pada pernyataan beliau)
... ﻭﻻ ﻳﺤﻞ ﻗﺘﺎﻝ اﻝﺳﻠﻄﺎﻥ ﻭﻻ اﻟﺨﺮﻭﺝ ﻋﻠﻴﻪ ﻷﺣﺪ ﻣﻦ اﻟﻨﺎﺱ ﻓﻤﻦ ﻓﻌﻞ ﺫﻟﻚ ﻓﻬﻮ ﻣﺒﺘﺪﻉ ﻋﻠﻰ ﻏﻴﺮ اﻟﺴﻨﺔ
"... Juga tidak halal melakukan perlawanan menghadapi penguasa, tidak pula menentangnya bagi seorangpun dari masyarakat. Barangsiapa yang melakukan hal itu berarti dia adalah mubtadi' tidak di atas sunnah."
(Ushul As Sunnah 1/17 & 1/46)
Adapun saya percaya dengan yang disampaikan Imam Ahmad rahimahullah. Sehingga saya mengkhawatirkan pihak yang menentang ketetapan penguasa justru terjerumus dalam maksiat, bahkan terancam dikategorikan mubtadi'. Semoga Allah menjauhkan kita semua dari kedua hal yang membahayakan tersebut.
🟧 Kalau menyelisihi Sunnah masak masih mau terus ditaati ?
Kalau nanti yang di ikuti masuk jurang, masih mau konsisten ikut jurang ? Makanya, yang diikuti itu petuahnya yang sesuai Sunnah, bukan orangnya, bukan Ketokohannya, bukan kiyainya, bukan jabatannya.
Tanggapan:
Setuju! Jangan lagi mentaati orang yang menyelisihi sunnah. Termasuk terhadap para pembangkang ketetapan dan kebijakan pemerintah muslim, perlu kita imbau saudara-saudara kita seiman agar tidak mengikuti seruan pembangkangan itu. Jangan terkecoh dengan tokoh-tokoh hanya karena piawai bersilat lidah. Jangan pula mengikuti provokasi hanya karena telah viral di masyarakat. Hindarkan diri kita dari jurang yang coba mereka masuki!
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Artikel lain yang semoga juga bermanfaat:
https://itishom.org/blog/artikel/ruduud/kala-hilal-arofah-tak-tampak-di-nusantara-bagian-1/
https://itishom.org/blog/artikel/fatwa/jika-waliyyul-amr-memerintahkan-shalat-ghaib-ikutilah/
https://itishom.org/blog/artikel/manhaj/bertanya-kepada-para-ulama-serta-meninggalkan-pertikaian-dan-perselisihan/
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
🟧 Sekarang saya Persilahkan Anda memilih, mau ikut wukuf Arofah atau wukuf nusantara?
Mau haji mengikuti ketentuan Amir Mekkah atau Amir nusantara?
Mau puasa arofah atau puasa Nusantara? Mau Idul Adha atau Idul nusantara?
Tanggapan:
Coba anda simak salah satu kutipan fatwa Komisi Tetap untuk Fatwa dan Penelitian Ilmiah Kerajaan Saudi Arabia berikut ini, semoga pilihan anda selanjutnya lebih terbimbing:
[ Tanggapan terhadap Artikel:
Haji di Arofah, Bukan di Nusantara" oleh Nasrudin Joha ]
(Bagian 2)
🟧 Saya khawatir, niat tulus ikhlas puasa arofah untuk mendekatkan diri kepada Allah justru berbuntut maksiat, karena kaifiyahnya menyelisihi Sunnah.
Tanggapan:
MasyaAllah, ketika anda menyebut Sunnah, ada satu makna yang terselip. Yakni makna Sunnah yang berarti prinsip aqidah, yang hukumnya wajib bagi setiap muslim meyakininya.
Walaupun dalam bidang fiqh dan ushulnya, tentu berbeda artinya. Saat sunnah dalam bidang ilmu tersebut bermakna amalan yang ternilai pahala bagi pelaku yang mengerjakannya karena melaksanakan perintah Allah, dan tidak berdosa dan tidak memperoleh keutamaan orang yang tidak melakukannya. Artinya tidak sampai diwajibkan untuk melakukannya.
Ada juga makna lain dalam bidang ilmu-ilmu hadits. Sunnah dalam konteks ilmu ini bermakna semua hal yang berasal dari Rasulullah shollallahu alai wasallam baik berupa ucapan, perbuatan ataupun pembiaran beliau terhadap kejadian atau kondisi tertentu.
Saat anda menyebut maksiat, saya sadar bahwa sunnah dalam definisi bidang ilmu aqidahlah yang anda maksudkan. Apabila memang demikian yang dimaksudkan, sungguh ikrar para ulama sejak dulu hingga kini membantah dugaan menggelikan ini.
Rakyat yang patuh terhadap ketetapan pemerintahnya yang telah memilih salah satu pendapat fiqh pantaskah disebut bermaksiat? Sebaliknya yang memprovokasi untuk menyelisihi ketetapan pemerintah muslim dianggap sesuai sunnah?
Padahal Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah menekankan:
ﻭﻣﻦ اﻟﺴﻨﺔ اﻟﻻﺯﻣﺔ اﻟﺘﻲ ﻣﻦ ﺗﺮﻙ ﻣﻨﻬﺎ ﺧﺼﻠﺔ ﻟﻢ ﻳﻘﺒﻠﻬﺎ ﻭﻳﺆﻣﻦ ﺑﻬﺎ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻣﻦ ﺃﻫﻠﻬﺎ ...
"Dan termasuk sunnah (prinsip keyakinan) yang wajib, di mana barang siapa yang meninggalkan sebagian saja, jika dia tidak menerima, tidak pula meyakininya, berati dia bukan termasuk penganutnya..."
(Kemudian beliau sebutkan poin-poin prinsip yang wajib diyakini tersebut, hingga sampai pada pernyataan beliau)
... ﻭﻻ ﻳﺤﻞ ﻗﺘﺎﻝ اﻝﺳﻠﻄﺎﻥ ﻭﻻ اﻟﺨﺮﻭﺝ ﻋﻠﻴﻪ ﻷﺣﺪ ﻣﻦ اﻟﻨﺎﺱ ﻓﻤﻦ ﻓﻌﻞ ﺫﻟﻚ ﻓﻬﻮ ﻣﺒﺘﺪﻉ ﻋﻠﻰ ﻏﻴﺮ اﻟﺴﻨﺔ
"... Juga tidak halal melakukan perlawanan menghadapi penguasa, tidak pula menentangnya bagi seorangpun dari masyarakat. Barangsiapa yang melakukan hal itu berarti dia adalah mubtadi' tidak di atas sunnah."
(Ushul As Sunnah 1/17 & 1/46)
Adapun saya percaya dengan yang disampaikan Imam Ahmad rahimahullah. Sehingga saya mengkhawatirkan pihak yang menentang ketetapan penguasa justru terjerumus dalam maksiat, bahkan terancam dikategorikan mubtadi'. Semoga Allah menjauhkan kita semua dari kedua hal yang membahayakan tersebut.
🟧 Kalau menyelisihi Sunnah masak masih mau terus ditaati ?
Kalau nanti yang di ikuti masuk jurang, masih mau konsisten ikut jurang ? Makanya, yang diikuti itu petuahnya yang sesuai Sunnah, bukan orangnya, bukan Ketokohannya, bukan kiyainya, bukan jabatannya.
Tanggapan:
Setuju! Jangan lagi mentaati orang yang menyelisihi sunnah. Termasuk terhadap para pembangkang ketetapan dan kebijakan pemerintah muslim, perlu kita imbau saudara-saudara kita seiman agar tidak mengikuti seruan pembangkangan itu. Jangan terkecoh dengan tokoh-tokoh hanya karena piawai bersilat lidah. Jangan pula mengikuti provokasi hanya karena telah viral di masyarakat. Hindarkan diri kita dari jurang yang coba mereka masuki!
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Artikel lain yang semoga juga bermanfaat:
https://itishom.org/blog/artikel/ruduud/kala-hilal-arofah-tak-tampak-di-nusantara-bagian-1/
https://itishom.org/blog/artikel/fatwa/jika-waliyyul-amr-memerintahkan-shalat-ghaib-ikutilah/
https://itishom.org/blog/artikel/manhaj/bertanya-kepada-para-ulama-serta-meninggalkan-pertikaian-dan-perselisihan/
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
🟧 Sekarang saya Persilahkan Anda memilih, mau ikut wukuf Arofah atau wukuf nusantara?
Mau haji mengikuti ketentuan Amir Mekkah atau Amir nusantara?
Mau puasa arofah atau puasa Nusantara? Mau Idul Adha atau Idul nusantara?
Tanggapan:
Coba anda simak salah satu kutipan fatwa Komisi Tetap untuk Fatwa dan Penelitian Ilmiah Kerajaan Saudi Arabia berikut ini, semoga pilihan anda selanjutnya lebih terbimbing:
اﺧﺘﻼﻑ ﻣﻄﺎﻟﻊ اﻷﻫﻠﺔ ﻣﻦ اﻷﻣﻮﺭ اﻟﺘﻲ ﻋﻠﻤﺖ ﺑﺎﻟﻀﺮﻭﺭﺓ ﺣﺴﺎ ﻭﻋﻘﻼ، ﻭﻟﻢ ﻳﺨﺘﻠﻒ ﻓﻲ ﻫﺬا ﺃﺣﺪ ﻣﻦ اﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻭﻻ ﻏﻴﺮﻫﻢ ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻭﻗﻊ اﻻﺧﺘﻼﻑ ﺑﻴﻦ ﻋﻠﻤﺎء اﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻓﻲ اﻋﺘﺒﺎﺭ
اﺧﺘﻼﻑ اﻟﻤﻄﺎﻟﻊ ﻓﻲ اﺑﺘﺪاء ﺻﻮﻡ ﺷﻬﺮ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻭاﻟﻔﻄﺮ ﻣﻨﻪ، ﻭﻋﺪﻡ اﻋﺘﺒﺎﺭﻩ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ؛ ﻭﺳﺒﺐ ﻫﺬا ﺃﻥ ﻫﺬﻩ اﻟﻤﺴﺄﻟﺔ ﻣﻦ اﻟﻤﺴﺎﺋﻞ اﻟﻨﻈﺮﻳﺔ اﻟﺘﻲ ﻟﻻﺟﺘﻬﺎﺩ ﻓﻴﻬﺎ ﻣﺠﺎﻝ، ﻭﻟﺬا اﺧﺘﻠﻒ ﻋﻠﻤﺎء اﻹﺳﻼﻡ ﻓﻴﻬﺎ ﻗﺪﻳﻤﺎ ﻭﺣﺪﻳﺜﺎ ﻋﻠﻰ ﻗﻮﻟﻴﻦ ﻓﻤﻨﻬﻢ ﻣﻦ ﺭﺃﻯ اﻋﺘﺒﺎﺭ اﺧﺘﻼﻑ اﻟﻤﻄﺎﻟﻊ ﻓﻲ اﺑﺘﺪاء ﺻﻮﻡ اﻟﺸﻬﺮ ﻭﻧﻬﺎﻳﺘﻪ، ﻭﻣﻨﻬﻢ ﻣﻦ ﻟﻢ ﻳﺮ اﻋﺘﺒﺎﺭﻩ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ، ﻭاﺳﺘﺪﻝ ﻛﻞ ﻓﺮﻳﻖ ﺑﺄﺩﻟﺔ ﻣﻦ اﻟﻜﺘﺎﺏ ﻭاﻟﺴﻨﺔ ﻭاﻟﻘﻴﺎﺱ، ﻭﺭﺑﻤﺎ اﺳﺘﺪﻝ اﻟﻔﺮﻳﻘﺎﻥ ﺑﺎﻟﻨﺺ اﻟﻮاﺣﺪ ﻛﺎﺷﺘﺮاﻛﻬﻤﺎ ﻓﻲ اﻻﺳﺘﺪﻻﻝ ﺑﻘﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ: {ﻓﻤﻦ ﺷﻬﺪ ﻣﻨﻜﻢ اﻟﺸﻬﺮ ﻓﻠﻴﺼﻤﻪ} (¬1) ﻭﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ: {ﻳﺴﺄﻟﻮﻧﻚ ﻋﻦ اﻷﻫﻠﺔ ﻗﻞ ﻫﻲ ﻣﻮاﻗﻴﺖ ﻟﻠﻨﺎﺱ} (¬2) ﻭﺑﻘﻮﻟﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: «ﺻﻮﻣﻮا ﻟﺮﺅﻳﺘﻪ ﻭﺃﻓﻄﺮﻭا ﻟﺮﺅﻳﺘﻪ (¬3) » ﺇﻟﺦ، ﻭﻏﻴﺮ ﻫﺬا ﻣﻦ اﻟﻨﺼﻮﺹ ﻭﺫﻟﻚ ﻻﺧﺘﻼﻑ اﻟﻔﺮﻳﻘﻴﻦ ﻓﻲ ﻓﻬﻢ اﻟﻨﺼﻮﺹ ﻭﺳﻠﻮﻙ ﻛﻞ ﻣﻨﻬﻤﺎ ﻃﺮﻳﻘﺎ ﻓﻲ اﻻﺳﺘﺪﻻﻝ ﺑﻬﺎ، ﻭﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻟﻬﺬا اﻻﺧﺘﻼﻑ ﺑﻴﻨﻬﻢ ﺃﺛﺮ ﺳﻲء ﺗﺨﺸﻰ ﻋﺎﻗﺒﺘﻪ ﻟﺤﺴﻦ ﻗﺼﺪﻫﻢ ﻭاﺣﺘﺮاﻡ ﻛﻞ ﻣﺠﺘﻬﺪ ﻣﻨﻬﻢ اﺟﺘﻬﺎﺩ اﻵﺧﺮ ﻭﺣﻴﺚ اﺧﺘﻠﻒ اﻟﺴﺎﺑﻘﻮﻥ ﻣﻦ ﺃﺋﻤﺔ اﻟﻔﻘﻬﺎء ﻓﻲ ﻫﺬﻩ اﻟﻤﺴﺄﻟﺔ ﻭﻛﺎﻥ ﻟﻜﻞ ﺃﺩﻟﺘﻪ، ﻓﻌﻠﻴﻜﻢ ﺇﺫا ﺛﺒﺖ ﻟﺪﻳﻜﻢ ﺑﺎﻹﺫاﻋﺔ ﺃﻭ ﻏﻴﺮﻫﺎ ﺛﺒﻮﺕ اﻟﺮﺅﻳﺔ ﻓﻲ ﻏﻴﺮ ﻣﻄﻠﻌﻜﻢ ﺃﻥ ﺗﺠﻌﻠﻮا اﻷﻣﺮ ﺑﺎﻟﺼﻴﺎﻡ ﺃﻭ ﻋﺪﻣﻪ ﺇﻟﻰ ﻭﻟﻲ اﻷﻣﺮ اﻟﻌﺎﻡ ﻟﺪﻭﻟﺘﻜﻢ، ﻓﺈﻥ ﺣﻜﻢ ﺑﺎﻟﺼﻴﺎﻡ ﺃﻭ ﻋﺪﻣﻪ ﻭﺟﺒﺖ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﻃﺎﻋﺘﻪ، ﻓﺈﻥ ﺣﻜﻢ اﻟﺤﺎﻛﻢ ﻳﺮﻓﻊ اﻟﺨﻼﻑ ﻓﻲ ﻣﺜﻞ ﻫﺬا، ﻭﻋﻠﻰ ﻫﺬا ﺗﺘﻔﻖ اﻟﻜﻠﻤﺔ ﻋﻠﻰ اﻟﺼﻴﺎﻡ ﺃﻭ ﻋﺪﻣﻪ ﺗﺒﻌﺎ ﻟﺣﻜﻢ ﺭﺋﻴﺲ ﺩﻭﻟﺘﻜﻢ ﻭﺗﻨﺤﻞ اﻟﻤﺸﻜﻠﺔ.
"Perbedaan zona terbitnya bulan merupakan perkara yang telah dipahami secara mendasar baik secara fisik maupun akal. Juga tidak ada perselisihan tentang hal ini baik internal muslimin maupun selain mereka. Perbedaanya hanyalah terjadi sesama ulama muslimin antara memperhitungkan perbedaan zona terbit itu dalam penentuan awal puasa bulan Ramadhan dan (kapan) mengakhirinya, dengan (pendapat lain yang) tidak memperhitungkan zonasi tersebut dalam hal itu. Sementara sebab terjadinya (perbedaan pendapat) ini karena permasalahan ini termasuk permasalahan yang membutuhkan pandangan yang memang memberikan kesempatan ruang ijtihad. Karenanyalah para ulama Islam berbeda pendapat tentang hal tersebut sejak dulu hingga sekarang (secara garis besar) menjadi dua pendapat. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa perbedaan zona terbit diperhitungkan dalam (penentuan) batas memulai puasa bulan dan mengakhirinya. Di antara mereka ada yang tidak memandang hal itu patut diperhitungkan. Masing-masing pihak berdalil dengan sekian dalil dari Al Kitab dan As Sunnah serta qiyas. Dan tak jarang kedua belah pihak sama-sama berdalil dengan satu redaksi nash (ayat atau hadits). Seperti kesamaan kedua pihak ketika berdalil dengan firman Allah Ta'ala,
فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ
"Karena itu, barangsiapa di antara kalian hadir (di negeri tempat tinggalnya) menyaksikan bulan itu, hendaklah ia berpuasa pada bulan itu." (QS. Al Baqoroh: 185)
Begitu pula dengan firman Allah Ta'ala,
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ ۖ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ
"Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: «Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia»." (QS. Al Baqarah: 189).
Demikian juga dengan sabda Nabi shollallahu alaihi wasallam
صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ، وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ
"Berpuasalah setelah melihat hilal, dan akhirilah puasa kalian dengan melihatnya. (hingga akhir redaksinya)" (HR. Al Bukhari dan Muslim).
Dan nash-nash lainnya. (Semua itu terjadi) karena perbedaan memahami nash-nash itu pada kedua pihak. Juga karena (perbedaan) metode yang ditempuh dalam mengambil kesimpulan hukum dari dalil tersebut pada masing-masing dari keduanya.
Namun perbedaan ini tidaklah menimbulkan pengaruh buruk di antara mereka yang dikhawatirkan akibatnya. Karena memang maksud mereka sama-sama baik.
Dan masing-masing pihak yang berijtihad dari mereka menghormati ijtihad pihak lainnya. Dan memang para pendahulu mereka dari para imam ahli fiqh telah berbeda pandang tentang masalah ini. Sedangkan masing-masing pendapat memiliki pijakan dalilnya.
اﺧﺘﻼﻑ اﻟﻤﻄﺎﻟﻊ ﻓﻲ اﺑﺘﺪاء ﺻﻮﻡ ﺷﻬﺮ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻭاﻟﻔﻄﺮ ﻣﻨﻪ، ﻭﻋﺪﻡ اﻋﺘﺒﺎﺭﻩ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ؛ ﻭﺳﺒﺐ ﻫﺬا ﺃﻥ ﻫﺬﻩ اﻟﻤﺴﺄﻟﺔ ﻣﻦ اﻟﻤﺴﺎﺋﻞ اﻟﻨﻈﺮﻳﺔ اﻟﺘﻲ ﻟﻻﺟﺘﻬﺎﺩ ﻓﻴﻬﺎ ﻣﺠﺎﻝ، ﻭﻟﺬا اﺧﺘﻠﻒ ﻋﻠﻤﺎء اﻹﺳﻼﻡ ﻓﻴﻬﺎ ﻗﺪﻳﻤﺎ ﻭﺣﺪﻳﺜﺎ ﻋﻠﻰ ﻗﻮﻟﻴﻦ ﻓﻤﻨﻬﻢ ﻣﻦ ﺭﺃﻯ اﻋﺘﺒﺎﺭ اﺧﺘﻼﻑ اﻟﻤﻄﺎﻟﻊ ﻓﻲ اﺑﺘﺪاء ﺻﻮﻡ اﻟﺸﻬﺮ ﻭﻧﻬﺎﻳﺘﻪ، ﻭﻣﻨﻬﻢ ﻣﻦ ﻟﻢ ﻳﺮ اﻋﺘﺒﺎﺭﻩ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ، ﻭاﺳﺘﺪﻝ ﻛﻞ ﻓﺮﻳﻖ ﺑﺄﺩﻟﺔ ﻣﻦ اﻟﻜﺘﺎﺏ ﻭاﻟﺴﻨﺔ ﻭاﻟﻘﻴﺎﺱ، ﻭﺭﺑﻤﺎ اﺳﺘﺪﻝ اﻟﻔﺮﻳﻘﺎﻥ ﺑﺎﻟﻨﺺ اﻟﻮاﺣﺪ ﻛﺎﺷﺘﺮاﻛﻬﻤﺎ ﻓﻲ اﻻﺳﺘﺪﻻﻝ ﺑﻘﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ: {ﻓﻤﻦ ﺷﻬﺪ ﻣﻨﻜﻢ اﻟﺸﻬﺮ ﻓﻠﻴﺼﻤﻪ} (¬1) ﻭﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ: {ﻳﺴﺄﻟﻮﻧﻚ ﻋﻦ اﻷﻫﻠﺔ ﻗﻞ ﻫﻲ ﻣﻮاﻗﻴﺖ ﻟﻠﻨﺎﺱ} (¬2) ﻭﺑﻘﻮﻟﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: «ﺻﻮﻣﻮا ﻟﺮﺅﻳﺘﻪ ﻭﺃﻓﻄﺮﻭا ﻟﺮﺅﻳﺘﻪ (¬3) » ﺇﻟﺦ، ﻭﻏﻴﺮ ﻫﺬا ﻣﻦ اﻟﻨﺼﻮﺹ ﻭﺫﻟﻚ ﻻﺧﺘﻼﻑ اﻟﻔﺮﻳﻘﻴﻦ ﻓﻲ ﻓﻬﻢ اﻟﻨﺼﻮﺹ ﻭﺳﻠﻮﻙ ﻛﻞ ﻣﻨﻬﻤﺎ ﻃﺮﻳﻘﺎ ﻓﻲ اﻻﺳﺘﺪﻻﻝ ﺑﻬﺎ، ﻭﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻟﻬﺬا اﻻﺧﺘﻼﻑ ﺑﻴﻨﻬﻢ ﺃﺛﺮ ﺳﻲء ﺗﺨﺸﻰ ﻋﺎﻗﺒﺘﻪ ﻟﺤﺴﻦ ﻗﺼﺪﻫﻢ ﻭاﺣﺘﺮاﻡ ﻛﻞ ﻣﺠﺘﻬﺪ ﻣﻨﻬﻢ اﺟﺘﻬﺎﺩ اﻵﺧﺮ ﻭﺣﻴﺚ اﺧﺘﻠﻒ اﻟﺴﺎﺑﻘﻮﻥ ﻣﻦ ﺃﺋﻤﺔ اﻟﻔﻘﻬﺎء ﻓﻲ ﻫﺬﻩ اﻟﻤﺴﺄﻟﺔ ﻭﻛﺎﻥ ﻟﻜﻞ ﺃﺩﻟﺘﻪ، ﻓﻌﻠﻴﻜﻢ ﺇﺫا ﺛﺒﺖ ﻟﺪﻳﻜﻢ ﺑﺎﻹﺫاﻋﺔ ﺃﻭ ﻏﻴﺮﻫﺎ ﺛﺒﻮﺕ اﻟﺮﺅﻳﺔ ﻓﻲ ﻏﻴﺮ ﻣﻄﻠﻌﻜﻢ ﺃﻥ ﺗﺠﻌﻠﻮا اﻷﻣﺮ ﺑﺎﻟﺼﻴﺎﻡ ﺃﻭ ﻋﺪﻣﻪ ﺇﻟﻰ ﻭﻟﻲ اﻷﻣﺮ اﻟﻌﺎﻡ ﻟﺪﻭﻟﺘﻜﻢ، ﻓﺈﻥ ﺣﻜﻢ ﺑﺎﻟﺼﻴﺎﻡ ﺃﻭ ﻋﺪﻣﻪ ﻭﺟﺒﺖ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﻃﺎﻋﺘﻪ، ﻓﺈﻥ ﺣﻜﻢ اﻟﺤﺎﻛﻢ ﻳﺮﻓﻊ اﻟﺨﻼﻑ ﻓﻲ ﻣﺜﻞ ﻫﺬا، ﻭﻋﻠﻰ ﻫﺬا ﺗﺘﻔﻖ اﻟﻜﻠﻤﺔ ﻋﻠﻰ اﻟﺼﻴﺎﻡ ﺃﻭ ﻋﺪﻣﻪ ﺗﺒﻌﺎ ﻟﺣﻜﻢ ﺭﺋﻴﺲ ﺩﻭﻟﺘﻜﻢ ﻭﺗﻨﺤﻞ اﻟﻤﺸﻜﻠﺔ.
"Perbedaan zona terbitnya bulan merupakan perkara yang telah dipahami secara mendasar baik secara fisik maupun akal. Juga tidak ada perselisihan tentang hal ini baik internal muslimin maupun selain mereka. Perbedaanya hanyalah terjadi sesama ulama muslimin antara memperhitungkan perbedaan zona terbit itu dalam penentuan awal puasa bulan Ramadhan dan (kapan) mengakhirinya, dengan (pendapat lain yang) tidak memperhitungkan zonasi tersebut dalam hal itu. Sementara sebab terjadinya (perbedaan pendapat) ini karena permasalahan ini termasuk permasalahan yang membutuhkan pandangan yang memang memberikan kesempatan ruang ijtihad. Karenanyalah para ulama Islam berbeda pendapat tentang hal tersebut sejak dulu hingga sekarang (secara garis besar) menjadi dua pendapat. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa perbedaan zona terbit diperhitungkan dalam (penentuan) batas memulai puasa bulan dan mengakhirinya. Di antara mereka ada yang tidak memandang hal itu patut diperhitungkan. Masing-masing pihak berdalil dengan sekian dalil dari Al Kitab dan As Sunnah serta qiyas. Dan tak jarang kedua belah pihak sama-sama berdalil dengan satu redaksi nash (ayat atau hadits). Seperti kesamaan kedua pihak ketika berdalil dengan firman Allah Ta'ala,
فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ
"Karena itu, barangsiapa di antara kalian hadir (di negeri tempat tinggalnya) menyaksikan bulan itu, hendaklah ia berpuasa pada bulan itu." (QS. Al Baqoroh: 185)
Begitu pula dengan firman Allah Ta'ala,
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ ۖ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ
"Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: «Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia»." (QS. Al Baqarah: 189).
Demikian juga dengan sabda Nabi shollallahu alaihi wasallam
صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ، وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ
"Berpuasalah setelah melihat hilal, dan akhirilah puasa kalian dengan melihatnya. (hingga akhir redaksinya)" (HR. Al Bukhari dan Muslim).
Dan nash-nash lainnya. (Semua itu terjadi) karena perbedaan memahami nash-nash itu pada kedua pihak. Juga karena (perbedaan) metode yang ditempuh dalam mengambil kesimpulan hukum dari dalil tersebut pada masing-masing dari keduanya.
Namun perbedaan ini tidaklah menimbulkan pengaruh buruk di antara mereka yang dikhawatirkan akibatnya. Karena memang maksud mereka sama-sama baik.
Dan masing-masing pihak yang berijtihad dari mereka menghormati ijtihad pihak lainnya. Dan memang para pendahulu mereka dari para imam ahli fiqh telah berbeda pandang tentang masalah ini. Sedangkan masing-masing pendapat memiliki pijakan dalilnya.
Sehingga merupakan kewajiban bagi kalian, apabila telah valid berita kepada kalian - melalui siaran atau selainnya - bahwa rukyat (hilal) telah berhasil (teramati) di tempat selain zona terbit (yang sama dengan) kalian, hendaklah urusan (waktu) berpuasa atau tidaknya kalian merujuk kepada pemerintah pusat di negara kalian.
Apabila (pemerintah itu) telah menetapkan hukum untuk berpuasa ataupun tidak berpuasa, wajib bagi kalian mentaatinya. Karena (sesuai kaedah)
ﺣُﻜْﻢُ اﻟﺤﺎﻛٍﻢِ ﻳَﺮْﻓَﻊُ اﻟﺨِﻼﻑ
"sesungguhnya hukum dari pemerintah melenyapkan perselisihan", seperti contoh permasalahan ini.
Sehingga dengan demikian akan terwujudlah kesatuan kata dalam berpuasa ataupun tidak, mengikuti keputusan Kepala Negara kalian, serta problematika akan sirna."
(Fatawa Al Lajnah Ad Daimah 10/98)
Saudaraku, apabila para ulama negeri yang kota Mekkah berada di sana telah memberikan arahan agar masing-masing warga negara hendaklah mengikuti ketetapan kepala negaranya masing-masing. Lalu kenapa yang bukan penduduk kota Mekkah masih ngotot agar mesti sama dengan Amir Mekkah?
Sungguh beruntung orang-orang yang mengakui kesalahannya dan bersegera rujuk untuk meraih keridhoan Allah.
🟧 Wahai orang yang beriman, orang yang berakal, kelak Allah SWT akan meminta pertanggungjawaban atas kesadaran akal yang diberikan.
Karena itu, jadikanlah agama sebagai pedoman dan akal sebagai sarana untuk memahami. Jangan menjadi pentaklid buta.
Tanggapan:
Pembaca bisa menilai siapa yang sebenarnya yang belum menjadikan akal sebagai sarana memahami agama dengan memperhatikan kutipan beberapa komitmen ulama berikut.
- Abu Bakar Ahmad bin Ali Al Jashosh Al Hanafi rahimahullah berkata,
ﻭﺃﻣﺎ اﻷﺣﻜﺎﻡ ﻓﺈﻧﻤﺎ ﺗﺜﺒﺖ ﺑﻘﻮﻟﻬﻢ، ﻷﻥ ﻗﺒﻮﻝ ﺣﻜﻢ اﻟﺤﺎﻛﻢ ﻭاﺟﺐ ﻋﻠﻰ ﺭﻋﻴﺘﻪ، ﻭﻻ ﻳﺼﺢ ﻷﺣﺪ ﻣﻨﻬﻢ اﻻﺟﺘﻬﺎﺩ ﻓﻲ ﻣﺨﺎﻟﻔﺔ ﺭﺃﻳﻪ.
"Adapun tentang berbagai hukum (yang diberlakukan di masyarakat), yang menjadi ketetapan hanyalah merujuk ucapan mereka (pemerintah). Karena memang menerima hukum pemerintah merupakan kewajiban bagi rakyatnya. Serta tidak dibenarkan bagi salah seorangpun dari mereka (rakyat), berijtihad untuk menyelisihi pendapatnya (sang pemimpin)."
(Al Fushul fi Al Ushul 3/96)
- Ibnul Qoyyim Al Jauziyah rahimahullah menegaskan dengan bahasa lain,
ﻭﻟﻢ ﻳﻮﺟﺐ ﺃﺣﺪ ﻣﻦ اﻷﺋﻤﺔ ﻧﻘﺾ ﺣﻜﻢ اﻟﺤﺎﻛﻢ ﻭﻻ ﺇﺑﻄﺎﻝ ﻓﺘﻮﻯ اﻟﻤﻔﺘﻲ ﺑﻜﻮﻧﻪ ﺧﻼﻑ ﻗﻮﻝ ﺯﻳﺪ ﺃﻭ ﻋﻤﺮﻭ، ﻭﻻ ﺳﻮﻍ اﻟﻨﻘﺾ ﺑﺬﻟﻚ ﻣﻦ اﻷﺋﻤﺔ ﻭاﻟﻤﺘﻘﺪﻣﻴﻦ ﻣﻦ ﺃﺗﺒﺎﻋﻬﻢ
"Dan tidak ada seorangpun dari para Imam yang mewajibkan untuk menolak ketetapan hukum pemerintah, tidak pula boleh membatalkan fatwa seorang mufti hanya karena berbeda dengan pendapat Zaid atau 'Amr (dari para tokoh idola-pen). Tidak pula diberikan toleransi untuk menolak (ketetapan) itu dari kalangan para Imam dan para pendahulu dari kalangan pengikut para imam tersebut."
(I'lam Al Muwaqqi'in 4/223-224)
Alhamdulillah, ulama di atas bukan pentaklid. Meraka menerima ketetapan hukum pemerintah muslim. Mengikuti pilihan pendapat fiqh pemerintah bagi para ulama bukanlah sikap taklid tercela.
Justru menolak ketetapan hukum pemerintah merupakan aib bagi mereka.
Akankah dengan keterangan ini masih ada yang tetap bersikukuh memampangkan aibnya sendiri? Sungguh merugi orang yang menutup akal dengan egonya.
🟧 Kelak di akherat ketika yaumul hisab, tidak ada alasan. Tidak ada pembenaran beragama mengikuti nenek moyang, tidak ada pembenaran beragama mengikuti kesepakatan wukuf nusantara. Perhatikanlah peringatan ini.
Tanggapan:
Jangan terburu nafsu, wahai saudaraku. Bedakan antara berbeda pandangan dalam masalah prinsip dasar beragama (aqidah dan manhaj) dengan perbedaan dalam masalah rincian hukum fiqh (ibadah maupun mu'amalah).
Pada kategori pertama pihak yang menyelisihi dalil dan tidak mau rujuk setelah ditegakkan hujjah dikhawatirkan menyimpang dari jalan kaum muslimin. Yang menyelisihi dan tidak mau kembali dinyatakan telah memisahkan diri, berpecah dari barisan kaum muslimin sejati.
Adapun kategori kedua, perbedaan dan selisih paham tidak boleh menyebabkan perpecahan, permusuhan dan menganggap sesat.
Apabila (pemerintah itu) telah menetapkan hukum untuk berpuasa ataupun tidak berpuasa, wajib bagi kalian mentaatinya. Karena (sesuai kaedah)
ﺣُﻜْﻢُ اﻟﺤﺎﻛٍﻢِ ﻳَﺮْﻓَﻊُ اﻟﺨِﻼﻑ
"sesungguhnya hukum dari pemerintah melenyapkan perselisihan", seperti contoh permasalahan ini.
Sehingga dengan demikian akan terwujudlah kesatuan kata dalam berpuasa ataupun tidak, mengikuti keputusan Kepala Negara kalian, serta problematika akan sirna."
(Fatawa Al Lajnah Ad Daimah 10/98)
Saudaraku, apabila para ulama negeri yang kota Mekkah berada di sana telah memberikan arahan agar masing-masing warga negara hendaklah mengikuti ketetapan kepala negaranya masing-masing. Lalu kenapa yang bukan penduduk kota Mekkah masih ngotot agar mesti sama dengan Amir Mekkah?
Sungguh beruntung orang-orang yang mengakui kesalahannya dan bersegera rujuk untuk meraih keridhoan Allah.
🟧 Wahai orang yang beriman, orang yang berakal, kelak Allah SWT akan meminta pertanggungjawaban atas kesadaran akal yang diberikan.
Karena itu, jadikanlah agama sebagai pedoman dan akal sebagai sarana untuk memahami. Jangan menjadi pentaklid buta.
Tanggapan:
Pembaca bisa menilai siapa yang sebenarnya yang belum menjadikan akal sebagai sarana memahami agama dengan memperhatikan kutipan beberapa komitmen ulama berikut.
- Abu Bakar Ahmad bin Ali Al Jashosh Al Hanafi rahimahullah berkata,
ﻭﺃﻣﺎ اﻷﺣﻜﺎﻡ ﻓﺈﻧﻤﺎ ﺗﺜﺒﺖ ﺑﻘﻮﻟﻬﻢ، ﻷﻥ ﻗﺒﻮﻝ ﺣﻜﻢ اﻟﺤﺎﻛﻢ ﻭاﺟﺐ ﻋﻠﻰ ﺭﻋﻴﺘﻪ، ﻭﻻ ﻳﺼﺢ ﻷﺣﺪ ﻣﻨﻬﻢ اﻻﺟﺘﻬﺎﺩ ﻓﻲ ﻣﺨﺎﻟﻔﺔ ﺭﺃﻳﻪ.
"Adapun tentang berbagai hukum (yang diberlakukan di masyarakat), yang menjadi ketetapan hanyalah merujuk ucapan mereka (pemerintah). Karena memang menerima hukum pemerintah merupakan kewajiban bagi rakyatnya. Serta tidak dibenarkan bagi salah seorangpun dari mereka (rakyat), berijtihad untuk menyelisihi pendapatnya (sang pemimpin)."
(Al Fushul fi Al Ushul 3/96)
- Ibnul Qoyyim Al Jauziyah rahimahullah menegaskan dengan bahasa lain,
ﻭﻟﻢ ﻳﻮﺟﺐ ﺃﺣﺪ ﻣﻦ اﻷﺋﻤﺔ ﻧﻘﺾ ﺣﻜﻢ اﻟﺤﺎﻛﻢ ﻭﻻ ﺇﺑﻄﺎﻝ ﻓﺘﻮﻯ اﻟﻤﻔﺘﻲ ﺑﻜﻮﻧﻪ ﺧﻼﻑ ﻗﻮﻝ ﺯﻳﺪ ﺃﻭ ﻋﻤﺮﻭ، ﻭﻻ ﺳﻮﻍ اﻟﻨﻘﺾ ﺑﺬﻟﻚ ﻣﻦ اﻷﺋﻤﺔ ﻭاﻟﻤﺘﻘﺪﻣﻴﻦ ﻣﻦ ﺃﺗﺒﺎﻋﻬﻢ
"Dan tidak ada seorangpun dari para Imam yang mewajibkan untuk menolak ketetapan hukum pemerintah, tidak pula boleh membatalkan fatwa seorang mufti hanya karena berbeda dengan pendapat Zaid atau 'Amr (dari para tokoh idola-pen). Tidak pula diberikan toleransi untuk menolak (ketetapan) itu dari kalangan para Imam dan para pendahulu dari kalangan pengikut para imam tersebut."
(I'lam Al Muwaqqi'in 4/223-224)
Alhamdulillah, ulama di atas bukan pentaklid. Meraka menerima ketetapan hukum pemerintah muslim. Mengikuti pilihan pendapat fiqh pemerintah bagi para ulama bukanlah sikap taklid tercela.
Justru menolak ketetapan hukum pemerintah merupakan aib bagi mereka.
Akankah dengan keterangan ini masih ada yang tetap bersikukuh memampangkan aibnya sendiri? Sungguh merugi orang yang menutup akal dengan egonya.
🟧 Kelak di akherat ketika yaumul hisab, tidak ada alasan. Tidak ada pembenaran beragama mengikuti nenek moyang, tidak ada pembenaran beragama mengikuti kesepakatan wukuf nusantara. Perhatikanlah peringatan ini.
Tanggapan:
Jangan terburu nafsu, wahai saudaraku. Bedakan antara berbeda pandangan dalam masalah prinsip dasar beragama (aqidah dan manhaj) dengan perbedaan dalam masalah rincian hukum fiqh (ibadah maupun mu'amalah).
Pada kategori pertama pihak yang menyelisihi dalil dan tidak mau rujuk setelah ditegakkan hujjah dikhawatirkan menyimpang dari jalan kaum muslimin. Yang menyelisihi dan tidak mau kembali dinyatakan telah memisahkan diri, berpecah dari barisan kaum muslimin sejati.
Adapun kategori kedua, perbedaan dan selisih paham tidak boleh menyebabkan perpecahan, permusuhan dan menganggap sesat.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah salah seorang ahli fiqih terkemuka masa kini dari negeri Arab sendiri, beliau telah seringkali mewasiatkan agar menghargai perbedaan pendapat yang memang pantas ditolerir selama dalam ranah ijtihad. Salah satunya dalam nasihat beliau,
وهذا التفرق في دين الله يؤدي ولا شك إلى العداوة والبغضاء، ولا سيما إذا كان التفرق بين طلبة العلم في أمور الاجتهاد التي يصوغ فيها الخلاف، فإن هذه المسائل التي يصوغ فيها الخلاف مسائل اجتهادية لا ينبغي أن يحدث منها، أو لا ينبغي أن يحدث منها بالخلاف فيها اختلافٌ في القلوب؛ لأن هذا الاختلاف في القلوب مخالفٌ لما كان عليه الصحابة رضي الله عنهم، فالصحابة رضي الله عنهم يختلفون في المسائل كثيراً، ومع ذلك فإن قلوبهم متفقة لا تختلف، وأنا أضرب مثلاً لاختلاف الصحابة رضي الله عنهم حين ندبهم النبي صلى الله عليه وسلم بعد الرجوع من غزوة الأحزاب إلى أن يخرجوا لبني قريظة، وقال لهم: لا يصلين أحدٌ العصر إلا في بني قريظة، فخرجوا فأدركتهم صلاة العصر في الطريق، فمنهم من صلاها في وقتها ومنهم من أخرها حتى وصل بني قريظة فصلى بعد الوقت، ولم يعنف واحدٌ منهم الآخر، ولم يوبخ النبي صلى الله عليه وسلم طائفةً منهم، ولم تختلف قلوبهم في ذلك؛ لأن الحديث فيه احتمالٌ لهذا؛ ولهذا فمن نظر إلى قوله: لا يصلين أحدٌ العصر إلا في بني قريظة وأخذ بظاهره قال: لا أصلي إلا في بني قريظة وكوني أصل إلى محل القتال عذرٌ في تأخير الصلاة ومن نظر إلى أن المراد بقول النبي صلى الله عليه وسلم لا يصلين أحدٌ إلا في بني قريظة هو المبادرة والإسراع وأخذ بعموم الأدلة الموجبة للصلاة في وقتها للصلاة أن تكون في وقتها صلى في الطريق فلكلٍ وجهة، فكذلك أيضاً المسائل الاجتهادية التي تكون بين العلماء إلى يومنا هذا؛ فإذا كان للخلاف مساق فإنه يجب ألا يكون هذا الخلاف سبباً لاختلاف القلوب، هذه نصيحة أود أن أذكر بها إخواني المسلمين، ولا سيما بعض طلبة العلم الذين يتخذون من الخلاف في المسائل الاجتهادية سبباً للتنافر والتباغض
"Dan perpecahan dalam agama Allah semacam ini tanpa diragukan lagi akan mengantarkan kepada permusuhan dan saling membenci. Terutama jika perpecahan antar para penuntut ilmu terjadinya dalam masalah ijtihad yang di dalamnya perselisihan itu dirumuskan, maka masalah-masalah di mana perselisihan itu dirumuskan adalah masalah ijtihad yang tidak boleh muncul dari mereka. Atau tidak boleh sampai terjadi perselisihan yang menyebabkan perpecahan dalam kalbu padanya. Karena perpecahan dalam hati semacam ini menyelisihi keadaan para sahabat radhiyallahu anhum. Adapun para sahabat radhiyallahu anhum memang telah berbeda pendapat dalam sekian banyak permasalahan. Dengan keadaan itu sesungguhnya kalbu-kalbu mereka bersatu, tidak berpecah.
Dan saya berikan satu contoh tentang perbedaan pandang di antara para sahabat radhiyallahu anhum ketika Nabi shollallahu alaihi wasallam mengutus mereka sekembalinya mereka dari perang Ahzab untuk menuju Bani Quraizhah. Beliau shollallahu alaihi wasallam bersabda kepada mereka,
لا يصلين أحدٌ العصر إلا في بني قريظة
"Janganlah salah seorangpun yang sholat ashar kecuali di Bani Quraizhah."
Maka berangkatlah mereka. Selanjutnya mereka memasuki waktu sholat ashr di tengah perjalanan. Di antara mereka ada yang mengerjakan sholat ashar pada waktunya, sementara yang lain ada yang menunda sampai tiba di Bani Qurazhah, sehingga mereka mengerjakan sholat setelah lewat waktunya. Namun tidak ada seorangpun yang bersikap kaku terhadap yang lain. Begitu pula Nabi shollallahu alaihi wasallam tidak mencela pihak manapun dari mereka. Seluruh kalbu merekapun tidak berpecah karena hal itu. Karena memang hadits tentang hal itu mengandung kemungkinan hal tersebut. Oleh karena itu barang siapa yang melihat sabda beliau, «Janganlah salah seorangpun yang sholat ashar kecuali di Bani Quraizhah» lalu dia meninjau secara zahir (letterlijk), seraya berkata, "Aku tidak akan sholat kecuali nanti setelah tiba di Bani Quraizhah, sedangkan kondisiku yang sampai di medan tempur menjadi udzur diakhirkannya sholat." Sementara pihak yang meninjau dari sisi bahwa yang dimaksudkan dengan sabda Nabi shollallahu alaihi wasallam: «Janganlah salah seorangpun yang sholat ashar kecuali di Bani Quraizhah» adalah
وهذا التفرق في دين الله يؤدي ولا شك إلى العداوة والبغضاء، ولا سيما إذا كان التفرق بين طلبة العلم في أمور الاجتهاد التي يصوغ فيها الخلاف، فإن هذه المسائل التي يصوغ فيها الخلاف مسائل اجتهادية لا ينبغي أن يحدث منها، أو لا ينبغي أن يحدث منها بالخلاف فيها اختلافٌ في القلوب؛ لأن هذا الاختلاف في القلوب مخالفٌ لما كان عليه الصحابة رضي الله عنهم، فالصحابة رضي الله عنهم يختلفون في المسائل كثيراً، ومع ذلك فإن قلوبهم متفقة لا تختلف، وأنا أضرب مثلاً لاختلاف الصحابة رضي الله عنهم حين ندبهم النبي صلى الله عليه وسلم بعد الرجوع من غزوة الأحزاب إلى أن يخرجوا لبني قريظة، وقال لهم: لا يصلين أحدٌ العصر إلا في بني قريظة، فخرجوا فأدركتهم صلاة العصر في الطريق، فمنهم من صلاها في وقتها ومنهم من أخرها حتى وصل بني قريظة فصلى بعد الوقت، ولم يعنف واحدٌ منهم الآخر، ولم يوبخ النبي صلى الله عليه وسلم طائفةً منهم، ولم تختلف قلوبهم في ذلك؛ لأن الحديث فيه احتمالٌ لهذا؛ ولهذا فمن نظر إلى قوله: لا يصلين أحدٌ العصر إلا في بني قريظة وأخذ بظاهره قال: لا أصلي إلا في بني قريظة وكوني أصل إلى محل القتال عذرٌ في تأخير الصلاة ومن نظر إلى أن المراد بقول النبي صلى الله عليه وسلم لا يصلين أحدٌ إلا في بني قريظة هو المبادرة والإسراع وأخذ بعموم الأدلة الموجبة للصلاة في وقتها للصلاة أن تكون في وقتها صلى في الطريق فلكلٍ وجهة، فكذلك أيضاً المسائل الاجتهادية التي تكون بين العلماء إلى يومنا هذا؛ فإذا كان للخلاف مساق فإنه يجب ألا يكون هذا الخلاف سبباً لاختلاف القلوب، هذه نصيحة أود أن أذكر بها إخواني المسلمين، ولا سيما بعض طلبة العلم الذين يتخذون من الخلاف في المسائل الاجتهادية سبباً للتنافر والتباغض
"Dan perpecahan dalam agama Allah semacam ini tanpa diragukan lagi akan mengantarkan kepada permusuhan dan saling membenci. Terutama jika perpecahan antar para penuntut ilmu terjadinya dalam masalah ijtihad yang di dalamnya perselisihan itu dirumuskan, maka masalah-masalah di mana perselisihan itu dirumuskan adalah masalah ijtihad yang tidak boleh muncul dari mereka. Atau tidak boleh sampai terjadi perselisihan yang menyebabkan perpecahan dalam kalbu padanya. Karena perpecahan dalam hati semacam ini menyelisihi keadaan para sahabat radhiyallahu anhum. Adapun para sahabat radhiyallahu anhum memang telah berbeda pendapat dalam sekian banyak permasalahan. Dengan keadaan itu sesungguhnya kalbu-kalbu mereka bersatu, tidak berpecah.
Dan saya berikan satu contoh tentang perbedaan pandang di antara para sahabat radhiyallahu anhum ketika Nabi shollallahu alaihi wasallam mengutus mereka sekembalinya mereka dari perang Ahzab untuk menuju Bani Quraizhah. Beliau shollallahu alaihi wasallam bersabda kepada mereka,
لا يصلين أحدٌ العصر إلا في بني قريظة
"Janganlah salah seorangpun yang sholat ashar kecuali di Bani Quraizhah."
Maka berangkatlah mereka. Selanjutnya mereka memasuki waktu sholat ashr di tengah perjalanan. Di antara mereka ada yang mengerjakan sholat ashar pada waktunya, sementara yang lain ada yang menunda sampai tiba di Bani Qurazhah, sehingga mereka mengerjakan sholat setelah lewat waktunya. Namun tidak ada seorangpun yang bersikap kaku terhadap yang lain. Begitu pula Nabi shollallahu alaihi wasallam tidak mencela pihak manapun dari mereka. Seluruh kalbu merekapun tidak berpecah karena hal itu. Karena memang hadits tentang hal itu mengandung kemungkinan hal tersebut. Oleh karena itu barang siapa yang melihat sabda beliau, «Janganlah salah seorangpun yang sholat ashar kecuali di Bani Quraizhah» lalu dia meninjau secara zahir (letterlijk), seraya berkata, "Aku tidak akan sholat kecuali nanti setelah tiba di Bani Quraizhah, sedangkan kondisiku yang sampai di medan tempur menjadi udzur diakhirkannya sholat." Sementara pihak yang meninjau dari sisi bahwa yang dimaksudkan dengan sabda Nabi shollallahu alaihi wasallam: «Janganlah salah seorangpun yang sholat ashar kecuali di Bani Quraizhah» adalah
agar bersegera dan bergerak cepat serta meninjau keumuman dalil-dalil yang mewajibkan penunaian sholat pada waktunya, sehingga supaya berada pada waktunya merekapun sholat di perjalanan. Jadi pada setiap pihak ada sisi tinjauannya tersendiri.
Demikian pula sekian banyak permasalahan ijtihadiyah yang terjadi antar ulama hingga masa kita sekarang ini. Maka apabila pada suatu perbedaan terdapat sisi sudut pandang (yang dapat ditolerir), seharusnya jangan sampai perbedaan yang terjadi menyebabkan perpecahan kalbu-kalbu.
Demikianlah nasihat ini aku harap dapat mengingatkan saudara-saudaraku muslimin. Terutama sebagian penuntut ilmu yang menjadikan perbedaan pendapat dalam masalah-masalah ijtihadiyah sebagai sebab saling menjauhi dan saling membenci."
(Fatawa Nurun 'ala Ad Darb, kaset no. 199)
🟧 Mumpung belum terlambat, segera bertaubatlah.
Puasalah ketika jamaah haji wukuf di arofah. Berhari rayalah, ketika jamaah haji ber Idul Adha. Tak usah pedulikan ujaran yang menyelisihi Sunnah, kelak diakherat argumen yang menyelisihi Sunnah itu tidak bernilai dihadapan Allah SWT.
Tanggapan:
Pada bagian (1) tanggapan kami bukankah sudah dikutipkan haditsnya, dan justru redaksi dan maknanya tidak seperti narasi yang anda sampaikan. Bolehlah kita ingat kembali.
الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ، وَالْأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ
"Puasa (Ramadhan) adalah hari ketika masyarakat (beserta pemerintahnya)bersama berpuasa, dan Idul Fithri adalah hari ketika masyarakat bersama merayakan Idul Fithri, dan Idul Adha adalah haru saat masyarakat bersama menyembelih kurban mereka." (HR. Abu Dawud & At Tirmidzi dan redaksi sesuai riwayat beliau).
Imam At Tirmidzi rahimahullah sendiri kemudian menegaskan,
فسر بعض أهل العلم هذا الحديث فقال إنما معنى هذا الصوم والفطر مع الجماعة وعظم الناس
"Sebagian ulama menafsirkan makna hadits ini dengan ucapan, 'Puasa dan berbuka (pada idul fithri) tersebut hanyalah terbatas maknanya (dilaksanakan) bersama Al Jama'ah dan mayoritas masyarakat.
Diperkuat dengan keterangan Al Khoththobi rahimahullah,
معنى الحديث أن الخطأ موضوع عن الناس فيما كان سبيله الاجتهاد ...
"(Termasuk kandungan) makna hadits, bahwa kesalahan diabaikan/tidak dianggap terhadap seseorang, selama upaya yang ditempuhnya berdasarkan ijtihad."
Hingga sampai pada ucapan beliau rahimahullah,
... وكذلك هذا في الحج إذا أخطئوا يوم عرفة فإنه ليس عليهم إعادته ويجزيهم أضحاؤهم كذلك، وإنما هذا تخفيف من الله سبحانه ورفق بعباده
"Dan begitu pula (keluhuran) ini berlaku pada haji. Apabila mereka salah dalam menentukan hari Arofah, sesungguhnya mereka tidak perlu mengulanginya, dan tetap memperoleh pahala dari penyembelihan kurban-kurban mereka juga. Hal ini merupakan kelonggaran dari Allah Subhanahu dan kelembutan terhadap para hamba-Nya."
(Aunul Ma'bud 6/316)
Jika redaksi anda berbeda dengan redaksi sunnah, lalu masih menyebut pihak lain menyelisihi sunnah, maka adab siapa yang hendak anda ikuti?
Dan hendaklah anda berhati-hati karena memang argumen yang menyelisihi sunnah bukan hanya tidak bernilai di sisi Allah bahkan terancam dengan siksa-Nya, jika tidak diampuni-Nya. Sehingga bertobatlah dengan benar, semoga Allah mengampuni kita semua.
Apabila anda memiliki bahan kritikan terhadap pandangan pemerintah, hendaklah disampaikan secara langsung atau melalui jalur resmi yang telah tersedia. Apakah nantinya kritik anda didengar, dipertimbangkan atau justru ditolak dan diabaikan bukanlah kewajiban kita memaksakan kehendak.
Ingat kita adalah rakyat, sementara pemerintahlah yang berwenang mengeluarkan ketetapan dan perintah terhadap warga negaranya.
Mari kita berdoa agar mereka para pemerintah muslimin Allah berikan taufiq untuk menjalankan tugas dan tanggung jawabnya secara jujur, adil, amanah dan terbimbing dengan Sunnah Nabi shollallahu alaihi wasallam.
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
🖋️ Abu Abdirrohman Sofian
Grup WA Al I'tishom
Situs web resmi:
https://itishom.org/
Radio kajian petang:
https://itishom.org/radio-al-fauzan/
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
Demikian pula sekian banyak permasalahan ijtihadiyah yang terjadi antar ulama hingga masa kita sekarang ini. Maka apabila pada suatu perbedaan terdapat sisi sudut pandang (yang dapat ditolerir), seharusnya jangan sampai perbedaan yang terjadi menyebabkan perpecahan kalbu-kalbu.
Demikianlah nasihat ini aku harap dapat mengingatkan saudara-saudaraku muslimin. Terutama sebagian penuntut ilmu yang menjadikan perbedaan pendapat dalam masalah-masalah ijtihadiyah sebagai sebab saling menjauhi dan saling membenci."
(Fatawa Nurun 'ala Ad Darb, kaset no. 199)
🟧 Mumpung belum terlambat, segera bertaubatlah.
Puasalah ketika jamaah haji wukuf di arofah. Berhari rayalah, ketika jamaah haji ber Idul Adha. Tak usah pedulikan ujaran yang menyelisihi Sunnah, kelak diakherat argumen yang menyelisihi Sunnah itu tidak bernilai dihadapan Allah SWT.
Tanggapan:
Pada bagian (1) tanggapan kami bukankah sudah dikutipkan haditsnya, dan justru redaksi dan maknanya tidak seperti narasi yang anda sampaikan. Bolehlah kita ingat kembali.
الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ، وَالْأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ
"Puasa (Ramadhan) adalah hari ketika masyarakat (beserta pemerintahnya)bersama berpuasa, dan Idul Fithri adalah hari ketika masyarakat bersama merayakan Idul Fithri, dan Idul Adha adalah haru saat masyarakat bersama menyembelih kurban mereka." (HR. Abu Dawud & At Tirmidzi dan redaksi sesuai riwayat beliau).
Imam At Tirmidzi rahimahullah sendiri kemudian menegaskan,
فسر بعض أهل العلم هذا الحديث فقال إنما معنى هذا الصوم والفطر مع الجماعة وعظم الناس
"Sebagian ulama menafsirkan makna hadits ini dengan ucapan, 'Puasa dan berbuka (pada idul fithri) tersebut hanyalah terbatas maknanya (dilaksanakan) bersama Al Jama'ah dan mayoritas masyarakat.
Diperkuat dengan keterangan Al Khoththobi rahimahullah,
معنى الحديث أن الخطأ موضوع عن الناس فيما كان سبيله الاجتهاد ...
"(Termasuk kandungan) makna hadits, bahwa kesalahan diabaikan/tidak dianggap terhadap seseorang, selama upaya yang ditempuhnya berdasarkan ijtihad."
Hingga sampai pada ucapan beliau rahimahullah,
... وكذلك هذا في الحج إذا أخطئوا يوم عرفة فإنه ليس عليهم إعادته ويجزيهم أضحاؤهم كذلك، وإنما هذا تخفيف من الله سبحانه ورفق بعباده
"Dan begitu pula (keluhuran) ini berlaku pada haji. Apabila mereka salah dalam menentukan hari Arofah, sesungguhnya mereka tidak perlu mengulanginya, dan tetap memperoleh pahala dari penyembelihan kurban-kurban mereka juga. Hal ini merupakan kelonggaran dari Allah Subhanahu dan kelembutan terhadap para hamba-Nya."
(Aunul Ma'bud 6/316)
Jika redaksi anda berbeda dengan redaksi sunnah, lalu masih menyebut pihak lain menyelisihi sunnah, maka adab siapa yang hendak anda ikuti?
Dan hendaklah anda berhati-hati karena memang argumen yang menyelisihi sunnah bukan hanya tidak bernilai di sisi Allah bahkan terancam dengan siksa-Nya, jika tidak diampuni-Nya. Sehingga bertobatlah dengan benar, semoga Allah mengampuni kita semua.
Apabila anda memiliki bahan kritikan terhadap pandangan pemerintah, hendaklah disampaikan secara langsung atau melalui jalur resmi yang telah tersedia. Apakah nantinya kritik anda didengar, dipertimbangkan atau justru ditolak dan diabaikan bukanlah kewajiban kita memaksakan kehendak.
Ingat kita adalah rakyat, sementara pemerintahlah yang berwenang mengeluarkan ketetapan dan perintah terhadap warga negaranya.
Mari kita berdoa agar mereka para pemerintah muslimin Allah berikan taufiq untuk menjalankan tugas dan tanggung jawabnya secara jujur, adil, amanah dan terbimbing dengan Sunnah Nabi shollallahu alaihi wasallam.
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
🖋️ Abu Abdirrohman Sofian
Grup WA Al I'tishom
Situs web resmi:
https://itishom.org/
Radio kajian petang:
https://itishom.org/radio-al-fauzan/
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📬 KALA HILAL AROFAH TAK TAMPAK DI NUSANTARA
[ Tanggapan terhadap Artikel:
Haji di Arofah, Bukan di Nusantara" oleh Nasrudin Joha ]
(Bagian 1)
Dzulhijjah telah kita masuki, rangkaian ibadah penuh keutamaan menanti. Diperlukan kebersihan hati dan solidaritas…
[ Tanggapan terhadap Artikel:
Haji di Arofah, Bukan di Nusantara" oleh Nasrudin Joha ]
(Bagian 1)
Dzulhijjah telah kita masuki, rangkaian ibadah penuh keutamaan menanti. Diperlukan kebersihan hati dan solidaritas…
🌈⛔MENGUAK TINJAUAN SYARIAT PADA HURUF "T" DALAM LGBT
📝Baca Selengkapnya di:
https://buletin-alilmu.net/tinjauan-syariat-tentang-transgender/
📝Baca Selengkapnya di:
https://buletin-alilmu.net/tinjauan-syariat-tentang-transgender/
Buletin Al Ilmu
Tinjauan Syariat tentang Transgender - Buletin Al Ilmu
Sesak dan sempit dada seorang mukmin melihat fenomena kehidupan kaum gay dan lesbi, terhenyak dada menghela napas dengan aktifitas mereka, teriring harapan dan doa semoga Sang Pencipta membersihkan kaum muslimin dari berbagai penyakit hati tersebut. Kaum…
Forwarded from SALAFY BANDUNG
Sesaat lagi...
📚 LIVE KAJIAN ILMIAH BA'DA MAGHRIB
Alhamdulillah, dengan taufik dari Allah Ta'ala semata akan diadakan Kajian Ilmiah Tematik, in syaa Allah bersama:
🎙️ Ustadz Irbadh Jember hafizhahullah
📆 Sabtu, 16 Dzulhijjah 1443 H/16 Juli 2022 M
📜 NASEHAT UNTUK PENUNTUT ILMU SYAR'I
⏰ Ba'da Maghrib - Isya'
🖥️ Disiarkan langsung melalui streaming:
http://t.me/SalafyBandung?livestream
=====®=====
📚 LIVE KAJIAN ILMIAH BA'DA MAGHRIB
Alhamdulillah, dengan taufik dari Allah Ta'ala semata akan diadakan Kajian Ilmiah Tematik, in syaa Allah bersama:
🎙️ Ustadz Irbadh Jember hafizhahullah
📆 Sabtu, 16 Dzulhijjah 1443 H/16 Juli 2022 M
📜 NASEHAT UNTUK PENUNTUT ILMU SYAR'I
⏰ Ba'da Maghrib - Isya'
🖥️ Disiarkan langsung melalui streaming:
http://t.me/SalafyBandung?livestream
=====®=====
Telegram
SALAFY BANDUNG
Pembimbing:
- Al-Ustadz Abu Jundi hafizhahullah
- Al-Ustadz Abu Ahmad Kediri hafizhahullah
Website resmi:
www.SalafyBandung.com
Channel Telegram resmi:
https://t.me/SalafyBandung
Informasi/nomor kontak:
wa.me/628388889088
- Al-Ustadz Abu Jundi hafizhahullah
- Al-Ustadz Abu Ahmad Kediri hafizhahullah
Website resmi:
www.SalafyBandung.com
Channel Telegram resmi:
https://t.me/SalafyBandung
Informasi/nomor kontak:
wa.me/628388889088
Forwarded from SALAFY BARLINGMASCAKEB
🌠🕹 TA'AWUN PEMBANGUNAN PONPES "MANARUL ILMI" SELANEGARA SUMPIUH BANYUMAS JATENG TAHUN 1443 H /2022 M
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على المبعوث رحمة للعالمين، وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد:
📚 Dakwah Salafiyah merupakan dakwah yang membawa cahaya dan rahmat bagi seluruh alam. Sudah selayaknya kita bersama-sama menyebarkan dakwah mulia ini, yang tak lain melanjutkan dakwah para nabi dan rasul.
Salah satunya adalah melalui lembaga-lembaga pendidikan ilmu agama.
Dalam rangka melaksanakan firman Allah subhanahu wa ta’ala :
{وتعاونوا على البر و التقوى}
"Dan tolong menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan."
📖 [Al maidah : 2]
Kami selaku pengurus dan pengelola Ponpes Tahfizh "Manarul Ilmi" mengajak kepada kaum muslimin para muhsinin untuk ikut berta'awun dalam proses pembangunan Ma’had Manarul Ilmi, yang insyaaAllah akan digunakan sebagai tempat tarbiyah putra-putri salafiyyin agar mereka menghafal, memahami dan mengamalkan Al-Qur'an & As-Sunnah sesuai pemahaman Salafus Shalih.
•┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈•
🔖 Alhamdulillah Yayasan telah memiliki tanah wakaf untuk Mahad Manarul Ilmi seluas ± 3330 m² = ± 250 ubin (resmi dengan aturan pemerintah) lokasi di pegunungan wilayah Selanegara jarak dari Taman Kota Sumpiuh ± 2 km ke utara ( 5 menit ditempuh dengan kendaraan).
📁 Rancangan Pembangunan Dan Anggaran Pembiayaan :
1. Masjid ''Sabilul Anbiya" ukuran 15 x15 M bangunan sederhana anggaran ± Rp 100.000.000
2. Asrama santri putra ukuran 5 x 12 M bangunan bata expose anggaran ± Rp 90.000.000
3. Asrama santri putri 24 x 6 M ± Rp 216.000.000
4. Kamar mandi & WC sebanyak 10 bh anggaran /paket 2.500.000 = Rp 25.000.000
5. Kantor, Ruang tamu, Ruang Serbaguna, Dapur pondok, 3 gazebo anggaran ± Rp 75.000.000
6. Pondasi sungai dan jembatan anggaran ± Rp 30.000.000
7. Rumah tamu 2 lokal dari bata dan bambu ukuran 4 x 8 M anggaran ± Rp 17.500.000
8. Pemagaran batas tanah baik tembok, kawat, tanaman pagar anggaran ± Rp 15.000.000
9. Sumur bor dan seperangkat alat2 (Tandon + pompa dll) ± Rp 25.000.000
10. Paving halaman 10 x 20 M dan taman ± Rp 15.000.000
💳 Total keseluruhan dana yang dibutuhkan senilai ± Rp 608.500.000 (Enam ratus delapan juta lima ratus ribu rupiah).
InsyaaAllah semua santri putra dan putri Ma’had Manarul Ilmi yang sekarang berada di Ma'had I akan dipindahkan ke lokasi Ma’had yang baru. Yassarallahul Umuur
•┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈•
▪️ Bagi muhsinin yang berkenan memberikan wakaf dan infaqnya bisa transfer ke rekening khusus yang dipakai Ma'had berikut:
🏧 Rekening MANDIRI (008)
💳 no: 1800011547058
🏧 Rekening BNI (009)
💳 no: 1184083900
A/n : YUSUP BASTIAR
📲 Konfirmasi transfer ke no WA
082225845293 ( Mohon difoto bukti transfer dan dikirim ke no WA)
⏳ Khusus Informasi Muhsinin
Via WA ke no: 085258235503
📝 Berapapun besarnya bantuan yang diberikan kami ucapkan Jazaakumullahu khairan atas ta'awun yang diberikan. Semoga Allah membalas dengan memberikan keistiqomahan di dalam beragama dan melapangkan serta memberikan barokah rezeki para muhsinin.
آمين يارب العالمين
Jazaakumullahu khairan wa Baarakallahu fiikum.
Sumpiuh, 3 Dzulhijjah 1443 H/ 3 Juli 2022 M
Mengetahui:
Al-Ustadz Muhammad Ali Mahdi hafizhahullahu
📑 YAYASAN MANARUL ILMI ASY-SYAR'I BANYUMAS JAWA TENGAH
↗️ Mohon ikut menyebarkan informasi ini, semoga menjadi amal shaleh kita semuanya.
[ ⚠️Tidak diperkenankan disebar di facebook ]
▫️▪️▫️▪️▫️▪️▫️▪️▫️▪️▫️▪️▫️▪️
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على المبعوث رحمة للعالمين، وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد:
📚 Dakwah Salafiyah merupakan dakwah yang membawa cahaya dan rahmat bagi seluruh alam. Sudah selayaknya kita bersama-sama menyebarkan dakwah mulia ini, yang tak lain melanjutkan dakwah para nabi dan rasul.
Salah satunya adalah melalui lembaga-lembaga pendidikan ilmu agama.
Dalam rangka melaksanakan firman Allah subhanahu wa ta’ala :
{وتعاونوا على البر و التقوى}
"Dan tolong menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan."
📖 [Al maidah : 2]
Kami selaku pengurus dan pengelola Ponpes Tahfizh "Manarul Ilmi" mengajak kepada kaum muslimin para muhsinin untuk ikut berta'awun dalam proses pembangunan Ma’had Manarul Ilmi, yang insyaaAllah akan digunakan sebagai tempat tarbiyah putra-putri salafiyyin agar mereka menghafal, memahami dan mengamalkan Al-Qur'an & As-Sunnah sesuai pemahaman Salafus Shalih.
•┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈•
🔖 Alhamdulillah Yayasan telah memiliki tanah wakaf untuk Mahad Manarul Ilmi seluas ± 3330 m² = ± 250 ubin (resmi dengan aturan pemerintah) lokasi di pegunungan wilayah Selanegara jarak dari Taman Kota Sumpiuh ± 2 km ke utara ( 5 menit ditempuh dengan kendaraan).
📁 Rancangan Pembangunan Dan Anggaran Pembiayaan :
1. Masjid ''Sabilul Anbiya" ukuran 15 x15 M bangunan sederhana anggaran ± Rp 100.000.000
2. Asrama santri putra ukuran 5 x 12 M bangunan bata expose anggaran ± Rp 90.000.000
3. Asrama santri putri 24 x 6 M ± Rp 216.000.000
4. Kamar mandi & WC sebanyak 10 bh anggaran /paket 2.500.000 = Rp 25.000.000
5. Kantor, Ruang tamu, Ruang Serbaguna, Dapur pondok, 3 gazebo anggaran ± Rp 75.000.000
6. Pondasi sungai dan jembatan anggaran ± Rp 30.000.000
7. Rumah tamu 2 lokal dari bata dan bambu ukuran 4 x 8 M anggaran ± Rp 17.500.000
8. Pemagaran batas tanah baik tembok, kawat, tanaman pagar anggaran ± Rp 15.000.000
9. Sumur bor dan seperangkat alat2 (Tandon + pompa dll) ± Rp 25.000.000
10. Paving halaman 10 x 20 M dan taman ± Rp 15.000.000
💳 Total keseluruhan dana yang dibutuhkan senilai ± Rp 608.500.000 (Enam ratus delapan juta lima ratus ribu rupiah).
InsyaaAllah semua santri putra dan putri Ma’had Manarul Ilmi yang sekarang berada di Ma'had I akan dipindahkan ke lokasi Ma’had yang baru. Yassarallahul Umuur
•┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈•
▪️ Bagi muhsinin yang berkenan memberikan wakaf dan infaqnya bisa transfer ke rekening khusus yang dipakai Ma'had berikut:
🏧 Rekening MANDIRI (008)
💳 no: 1800011547058
🏧 Rekening BNI (009)
💳 no: 1184083900
A/n : YUSUP BASTIAR
📲 Konfirmasi transfer ke no WA
082225845293 ( Mohon difoto bukti transfer dan dikirim ke no WA)
⏳ Khusus Informasi Muhsinin
Via WA ke no: 085258235503
📝 Berapapun besarnya bantuan yang diberikan kami ucapkan Jazaakumullahu khairan atas ta'awun yang diberikan. Semoga Allah membalas dengan memberikan keistiqomahan di dalam beragama dan melapangkan serta memberikan barokah rezeki para muhsinin.
آمين يارب العالمين
Jazaakumullahu khairan wa Baarakallahu fiikum.
Sumpiuh, 3 Dzulhijjah 1443 H/ 3 Juli 2022 M
Mengetahui:
Al-Ustadz Muhammad Ali Mahdi hafizhahullahu
📑 YAYASAN MANARUL ILMI ASY-SYAR'I BANYUMAS JAWA TENGAH
↗️ Mohon ikut menyebarkan informasi ini, semoga menjadi amal shaleh kita semuanya.
[ ⚠️Tidak diperkenankan disebar di facebook ]
▫️▪️▫️▪️▫️▪️▫️▪️▫️▪️▫️▪️▫️▪️
Forwarded from Travel Bina Umroh
🛩 Paket Umroh 9 Hari
🎙 Insyaallah, bersama Ustadz Luqman Baabduh Hafizhahullah
🌏 Periode Shafar 1444 H/September 2022
👍 Bina Umroh, Dambaan Menunaikan Ibadah Umroh di Atas Sunnah
🚎 Daftarkan segera!
1. Syamsul 082232766661
2. Rifky 081222275281
🌺 Barakallahufikum
===©===
Bergabung dan dapatkan informasi tentang kami di:
https://t.me/travelbinaumroh
🎙 Insyaallah, bersama Ustadz Luqman Baabduh Hafizhahullah
🌏 Periode Shafar 1444 H/September 2022
👍 Bina Umroh, Dambaan Menunaikan Ibadah Umroh di Atas Sunnah
🚎 Daftarkan segera!
1. Syamsul 082232766661
2. Rifky 081222275281
🌺 Barakallahufikum
===©===
Bergabung dan dapatkan informasi tentang kami di:
https://t.me/travelbinaumroh
بسم الله الرحمن الرحيم
📢 Sesaat lagi..
https://t.me/rijalradio?livestream=adfd56bb7fe601443a
📆 LIVE Kajian Islam Ilmiyah Ahad Ketiga [17 Dzul Hijjah 1443 H/ 17-07-2022 M]
✔️ Untuk umum Muslim dan Muslimah
⏰ Mulai Pukul 09.00 WIB hingga menjelang dzhuhur
___
💺 Sesi 1⃣ Al Ust. Abu Abdirrohman Salim حفظه الله
(Pengasuh Ma’had Nurus Salaf , Riau)
🗒️ Tema: Bersemangat dalam Menuntut Ilmu
💺 Sesi 2⃣ Al-Ust. Abu Sa'id Hamzah حفظه الله
(Pengasuh Ma’had Minhajul Atsar, Jember)
🗒️ Kitab: Nawaqidul Islam
Karya: Syaikhul Islam Muhammad At Tamimy رحمه الله
🕌 Tempat: Masjid Ma'had Riyadhul Jannah, Pulorejo, Rt. 02 / Rw. 07, Nambangan, Selogiri, Wonogiri
🏡 Tempat untuk Akhowat/ Ummahat di sakan lama (depan Masjid).
إن شاء الله
__
📱 wa.me/6285219558791
Live Streaming: https://t.me/rijalradio?livestream=adfd56bb7fe601443a
جزاكم الله خيرا
_
✒️ Wa Riyadhul Jannah Wonogiri
📢 Sesaat lagi..
https://t.me/rijalradio?livestream=adfd56bb7fe601443a
📆 LIVE Kajian Islam Ilmiyah Ahad Ketiga [17 Dzul Hijjah 1443 H/ 17-07-2022 M]
✔️ Untuk umum Muslim dan Muslimah
⏰ Mulai Pukul 09.00 WIB hingga menjelang dzhuhur
___
💺 Sesi 1⃣ Al Ust. Abu Abdirrohman Salim حفظه الله
(Pengasuh Ma’had Nurus Salaf , Riau)
🗒️ Tema: Bersemangat dalam Menuntut Ilmu
💺 Sesi 2⃣ Al-Ust. Abu Sa'id Hamzah حفظه الله
(Pengasuh Ma’had Minhajul Atsar, Jember)
🗒️ Kitab: Nawaqidul Islam
Karya: Syaikhul Islam Muhammad At Tamimy رحمه الله
🕌 Tempat: Masjid Ma'had Riyadhul Jannah, Pulorejo, Rt. 02 / Rw. 07, Nambangan, Selogiri, Wonogiri
🏡 Tempat untuk Akhowat/ Ummahat di sakan lama (depan Masjid).
إن شاء الله
__
📱 wa.me/6285219558791
Live Streaming: https://t.me/rijalradio?livestream=adfd56bb7fe601443a
جزاكم الله خيرا
_
✒️ Wa Riyadhul Jannah Wonogiri
Telegram
Radio RIJAL Wonogiri
Radio Ma'had Riyadhul Jannah As Salafy, Wonogiri
Pembina: Al Ust. Abu Said Hamzah Jember hafidzahullah.
Pembina: Al Ust. Abu Said Hamzah Jember hafidzahullah.
Forwarded from Ahlussunnah Ciamis
AJAKAN TA'AWUN PERBAIKAN BANGUNAN PONDOK PESANTREN TAHFIDZUL QUR'AN IRSYADUL BARIYAH CILACAP, JAWA TENGAH
بسم الله الرحمن الرحيم
والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين
Sungguh sudah tidak asing lagi di telinga kita dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi,
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” ( HR. al-Bukhari dari sahabat ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu)
Hadits tersebut seakan menjadi sebuah penyemangat bagi setiap muslim dan penggugah jiwa dalam mempelajari Al Qur'an dan mengajarkannya
Maka sejalan dengan itu, kami dari Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an Irsyadul Bariyah Cilacap, Jawa Tengah kini sedang merintis program pendidikan Al Qur'an untuk anak-anak. Dan kini telah berdiri sebuah bangunan tempat belajar untuk anak-anak tersebut, namun kondisinya masih membutuhkan perbaikan dan penyempurnaan
Untuk itu kami mengajak dan memberikan kesempatan kepada muhsinin yang akan memberikan bantuan dalam proses perbaikan dan penyempurnaan bangunan tersebut
Dana yang dibutuhkan untuk perbaikan dan penyempurnaan tersebut diperuntukkan pemasangan plafon dan pagar gerbang agar anak-anak tidak bebas keluar masuk.
Adapun biayanya sekitar Rp. 20.000.000,- (Dua Puluh Juta Rupiah)
Bagi yang akan memberikan bantuannya bisa tranfer melalui nomor rekening,
BNI : 0583803785
Atas nama MAHASIN
Konfirmasi Transfer
081325575135
Atas segala perhatiannya kami ucapkan Jazaakumullahu khaira
Mengetahui,
Ustadz Ali Mahdi hafizhahullah
Ustadz Abu Abdillah Amin hafizhahullah
Ustadz Abu Jundi hafizhahullah
بسم الله الرحمن الرحيم
والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين
Sungguh sudah tidak asing lagi di telinga kita dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi,
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” ( HR. al-Bukhari dari sahabat ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu)
Hadits tersebut seakan menjadi sebuah penyemangat bagi setiap muslim dan penggugah jiwa dalam mempelajari Al Qur'an dan mengajarkannya
Maka sejalan dengan itu, kami dari Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an Irsyadul Bariyah Cilacap, Jawa Tengah kini sedang merintis program pendidikan Al Qur'an untuk anak-anak. Dan kini telah berdiri sebuah bangunan tempat belajar untuk anak-anak tersebut, namun kondisinya masih membutuhkan perbaikan dan penyempurnaan
Untuk itu kami mengajak dan memberikan kesempatan kepada muhsinin yang akan memberikan bantuan dalam proses perbaikan dan penyempurnaan bangunan tersebut
Dana yang dibutuhkan untuk perbaikan dan penyempurnaan tersebut diperuntukkan pemasangan plafon dan pagar gerbang agar anak-anak tidak bebas keluar masuk.
Adapun biayanya sekitar Rp. 20.000.000,- (Dua Puluh Juta Rupiah)
Bagi yang akan memberikan bantuannya bisa tranfer melalui nomor rekening,
BNI : 0583803785
Atas nama MAHASIN
Konfirmasi Transfer
081325575135
Atas segala perhatiannya kami ucapkan Jazaakumullahu khaira
Mengetahui,
Ustadz Ali Mahdi hafizhahullah
Ustadz Abu Abdillah Amin hafizhahullah
Ustadz Abu Jundi hafizhahullah
::
📬 KEUTAMAAN SIKAP MEMAAFKAN DAN BERLAPANG DADA
(Cuplikan Khotbah Syaikh Kholid bin Qosim Ar-Raddadi rahimahullah)
Kebanyakan manusia mengira bahwa sikap memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain selalu identik dengan kelemahan dan kehinaan. Sungguh yang demikian itu tidaklah benar.
Saat kita memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain bukan berarti kita menjadi hina dan rendah. Bahkan itu adalah perlambang keberanian, sebuah karunia yang besar, serta kemampuan untuk mengendalikan diri.
Terlebih jika sikap memaafkan tersebut kita tempuh saat kita benar-benar mampu untuk membalas. Dalam hal ini, al-Imam al-Bukhari rahimahullah mencantumkan sebuah tema pembahasan dalam kitab sahih beliau bertajuk:
"Bab (pembahasan) tentang bolehnya membalas kedzaliman orang yang berbuat dzalim. Berdasarkan firman Allah ta’ala:
وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَابَهُمُ ٱلْبَغْىُ هُمْ يَنتَصِرُونَ
Dan orang-orang yang apabila diperlakukan dengan dzalim mereka membela diri (QS. asy-Syura: 39)
Lalu beliau membawakan ucapan Ibrahim anNakha’i rahimahullah: Mereka adalah orang-orang yang tidak suka untuk direndahkan. Namun jika mereka mampu (untuk membalasnya) mereka akan memaafkan.
Sebagian orang ada yang bersikap sangat keras sehingga mustahil baginya untuk memaafkan kesalahan orang kepadanya. Engkau tidak akan melihat dalam hidupnya kecuali membalas dan upaya untuk memuaskan hasrat dendamnya. Orang semacam itu tak lain merupakan musuh dari pikirannya sendiri dan dikuasai penuh oleh hawa nafsunya. Sehingga ia terpalingkan dari sikap yang lebih baik berupa memaafkan, dan selalu dituntut untuk bertindak buruk dengan membalas kesalahan orang lain tersebut.
Aisyah ibunda kaum beriman menceritakan:
ما ضَرَبَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ شيئًا قَطُّ بيَدِهِ، وَلَا امْرَأَةً، وَلَا خَادِمًا؛ إلَّا أَنْ يُجَاهِدَ في سَبيلِ اللهِ، وَما نِيلَ منه شَيءٌ قَطُّ، فَيَنْتَقِمَ مِن صَاحِبِهِ؛ إلَّا أَنْ يُنْتَهَكَ شَيءٌ مِن مَحَارِمِ اللهِ، فَيَنْتَقِمَ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah memukul siapapun dengan tangannya, tidak kepada istrinya atau bahkan pembantu beliau. Kecuali saat beliau berjihad di jalan Allah. Beliau juga tidak pernah membalas seseorang yang berlaku buruk kepada beliau, kecuali saat keharaman Allah dilanggar sehingga beliau akan menindaknya karena Allah azza wajalla (HR. Muslim)
Maka wahai sekalian hamba Allah, memaafkan adalah sikap yang senantiasa dihasung oleh agama islam ini. Darinya akan muncul berbagai buah yang sangat indah, di antara yang paling agung ialah orang yang gemar memaafkan akan diampuni oleh Allah. Allah berfirman:
فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلظَّٰلِمِينَ
Barangsiapa yang memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya di sisi Allah. Sesungguhnya Allah tidaklah mencintai orang-orang yang berbuat dzalim (QS. Asy-Syuro: 40)
Allah juga berfirman:
وَلْيَعْفُوْا وَلْيَصْفَحُوْاۗ اَلَا تُحِبُّوْنَ اَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَكُمْ ۗوَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Hendaklah kalian saling memaafkan dan melupakan kesalahan. Tidakkah kalian ingin Allah mengampuni kalian? Dan sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Q.S An-Nuur: 22)
📬 KEUTAMAAN SIKAP MEMAAFKAN DAN BERLAPANG DADA
(Cuplikan Khotbah Syaikh Kholid bin Qosim Ar-Raddadi rahimahullah)
Kebanyakan manusia mengira bahwa sikap memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain selalu identik dengan kelemahan dan kehinaan. Sungguh yang demikian itu tidaklah benar.
Saat kita memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain bukan berarti kita menjadi hina dan rendah. Bahkan itu adalah perlambang keberanian, sebuah karunia yang besar, serta kemampuan untuk mengendalikan diri.
Terlebih jika sikap memaafkan tersebut kita tempuh saat kita benar-benar mampu untuk membalas. Dalam hal ini, al-Imam al-Bukhari rahimahullah mencantumkan sebuah tema pembahasan dalam kitab sahih beliau bertajuk:
"Bab (pembahasan) tentang bolehnya membalas kedzaliman orang yang berbuat dzalim. Berdasarkan firman Allah ta’ala:
وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَابَهُمُ ٱلْبَغْىُ هُمْ يَنتَصِرُونَ
Dan orang-orang yang apabila diperlakukan dengan dzalim mereka membela diri (QS. asy-Syura: 39)
Lalu beliau membawakan ucapan Ibrahim anNakha’i rahimahullah: Mereka adalah orang-orang yang tidak suka untuk direndahkan. Namun jika mereka mampu (untuk membalasnya) mereka akan memaafkan.
Sebagian orang ada yang bersikap sangat keras sehingga mustahil baginya untuk memaafkan kesalahan orang kepadanya. Engkau tidak akan melihat dalam hidupnya kecuali membalas dan upaya untuk memuaskan hasrat dendamnya. Orang semacam itu tak lain merupakan musuh dari pikirannya sendiri dan dikuasai penuh oleh hawa nafsunya. Sehingga ia terpalingkan dari sikap yang lebih baik berupa memaafkan, dan selalu dituntut untuk bertindak buruk dengan membalas kesalahan orang lain tersebut.
Aisyah ibunda kaum beriman menceritakan:
ما ضَرَبَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ شيئًا قَطُّ بيَدِهِ، وَلَا امْرَأَةً، وَلَا خَادِمًا؛ إلَّا أَنْ يُجَاهِدَ في سَبيلِ اللهِ، وَما نِيلَ منه شَيءٌ قَطُّ، فَيَنْتَقِمَ مِن صَاحِبِهِ؛ إلَّا أَنْ يُنْتَهَكَ شَيءٌ مِن مَحَارِمِ اللهِ، فَيَنْتَقِمَ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah memukul siapapun dengan tangannya, tidak kepada istrinya atau bahkan pembantu beliau. Kecuali saat beliau berjihad di jalan Allah. Beliau juga tidak pernah membalas seseorang yang berlaku buruk kepada beliau, kecuali saat keharaman Allah dilanggar sehingga beliau akan menindaknya karena Allah azza wajalla (HR. Muslim)
Maka wahai sekalian hamba Allah, memaafkan adalah sikap yang senantiasa dihasung oleh agama islam ini. Darinya akan muncul berbagai buah yang sangat indah, di antara yang paling agung ialah orang yang gemar memaafkan akan diampuni oleh Allah. Allah berfirman:
فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلظَّٰلِمِينَ
Barangsiapa yang memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya di sisi Allah. Sesungguhnya Allah tidaklah mencintai orang-orang yang berbuat dzalim (QS. Asy-Syuro: 40)
Allah juga berfirman:
وَلْيَعْفُوْا وَلْيَصْفَحُوْاۗ اَلَا تُحِبُّوْنَ اَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَكُمْ ۗوَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Hendaklah kalian saling memaafkan dan melupakan kesalahan. Tidakkah kalian ingin Allah mengampuni kalian? Dan sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Q.S An-Nuur: 22)
Maka siapapun yang ingin diampuni oleh Allah hendaknya dia berusaha mengampuni hamba-hamba Allah dan selalu mempergauli mereka dengan sikap memaafkan, berlapang dada, tidak mempedulikan kesalahan mereka, dan selalu membalas kejelekan mereka dengan kebaikan.
ٱدْفَعْ بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُۥ عَدَٰوَةٌ كَأَنَّهُۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُوا۟ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ
Balaslah (keburukan itu) dengan perbuatan yang lebih baik. Sehingga orang yang ada permusuhan antara engkau dengannya menjadi layaknya sosok yang sangat dekat lagi mencintai. Dan tiadalah yang dianugerahi demikian kecuali orang yang sabar, dan tiadalah yang diberi taufik untuk melaksanakannya kecuali orang yang memiliki bagian (ganjaran) yang besar (QS. Fushshilat: 34-35)
Sumber: http://shorturl.at/cGQ25
Diterjemahkan oleh: Abu Dzayyal Muhammad Wafi hafizhahullah | WA Al I'tishom
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 منتدى نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
ٱدْفَعْ بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُۥ عَدَٰوَةٌ كَأَنَّهُۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُوا۟ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ
Balaslah (keburukan itu) dengan perbuatan yang lebih baik. Sehingga orang yang ada permusuhan antara engkau dengannya menjadi layaknya sosok yang sangat dekat lagi mencintai. Dan tiadalah yang dianugerahi demikian kecuali orang yang sabar, dan tiadalah yang diberi taufik untuk melaksanakannya kecuali orang yang memiliki bagian (ganjaran) yang besar (QS. Fushshilat: 34-35)
Sumber: http://shorturl.at/cGQ25
Diterjemahkan oleh: Abu Dzayyal Muhammad Wafi hafizhahullah | WA Al I'tishom
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 منتدى نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Forwarded from SALAFY BANDUNG
Sesaat lagi...
📚 LIVE KAJIAN ILMIAH BA'DA MAGHRIB
Alhamdulillah, dengan taufik dari Allah Ta'ala semata akan diadakan Kajian Ilmiah Tematik, in syaa Allah bersama:
🎙️ Ustadz Irbadh Jember hafizhahullah
📆 Ahad, 17 Dzulhijjah 1443 H/17 Juli 2022 M
📜 Nasehat Untuk Penuntut Ilmu Syar'i
⏰ Ba'da Maghrib/pukul 18.30 WIB - Isya'
🖥️ Disiarkan langsung melalui streaming:
http://t.me/SalafyBandung?livestream
=====®=====
📚 LIVE KAJIAN ILMIAH BA'DA MAGHRIB
Alhamdulillah, dengan taufik dari Allah Ta'ala semata akan diadakan Kajian Ilmiah Tematik, in syaa Allah bersama:
🎙️ Ustadz Irbadh Jember hafizhahullah
📆 Ahad, 17 Dzulhijjah 1443 H/17 Juli 2022 M
📜 Nasehat Untuk Penuntut Ilmu Syar'i
⏰ Ba'da Maghrib/pukul 18.30 WIB - Isya'
🖥️ Disiarkan langsung melalui streaming:
http://t.me/SalafyBandung?livestream
=====®=====
Telegram
SALAFY BANDUNG
Pembimbing:
- Al-Ustadz Abu Jundi hafizhahullah
- Al-Ustadz Abu Ahmad Kediri hafizhahullah
Website resmi:
www.SalafyBandung.com
Channel Telegram resmi:
https://t.me/SalafyBandung
Informasi/nomor kontak:
wa.me/628388889088
- Al-Ustadz Abu Jundi hafizhahullah
- Al-Ustadz Abu Ahmad Kediri hafizhahullah
Website resmi:
www.SalafyBandung.com
Channel Telegram resmi:
https://t.me/SalafyBandung
Informasi/nomor kontak:
wa.me/628388889088
Forwarded from SALAFY BANDUNG
📚 LIVE KAJIAN ILMIAH BA'DA MAGHRIB
Alhamdulillah, dengan taufik dari Allah Ta'ala semata akan diadakan Kajian Ilmiah Tematik, in syaa Allah bersama:
🎙️ Ustadz Abu Ahmad Kediri hafizhahullah
📆 Senin, 18 Dzulhijjah 1443 H/18 Juli 2022 M
📜 Nasehat Untuk Penuntut Ilmu Syar'i
⏰ Ba'da Maghrib/pukul 18.30 WIB - Isya'
🖥️ Disiarkan langsung melalui streaming:
http://t.me/SalafyBandung?livestream
=====®=====
Alhamdulillah, dengan taufik dari Allah Ta'ala semata akan diadakan Kajian Ilmiah Tematik, in syaa Allah bersama:
🎙️ Ustadz Abu Ahmad Kediri hafizhahullah
📆 Senin, 18 Dzulhijjah 1443 H/18 Juli 2022 M
📜 Nasehat Untuk Penuntut Ilmu Syar'i
⏰ Ba'da Maghrib/pukul 18.30 WIB - Isya'
🖥️ Disiarkan langsung melalui streaming:
http://t.me/SalafyBandung?livestream
=====®=====
Telegram
SALAFY BANDUNG
Pembimbing:
- Al-Ustadz Abu Jundi hafizhahullah
- Al-Ustadz Abu Ahmad Kediri hafizhahullah
Website resmi:
www.SalafyBandung.com
Channel Telegram resmi:
https://t.me/SalafyBandung
Informasi/nomor kontak:
wa.me/628388889088
- Al-Ustadz Abu Jundi hafizhahullah
- Al-Ustadz Abu Ahmad Kediri hafizhahullah
Website resmi:
www.SalafyBandung.com
Channel Telegram resmi:
https://t.me/SalafyBandung
Informasi/nomor kontak:
wa.me/628388889088