بسم الله الرحمن الرحيم
Hari ini tanggal 8 Muharram.
Dua hari lagi hari 'Asyura' (tanggal 10 Muharram) yang disyariatkan utk berpuasa.
Terkait dengan keutamaan puasa 'Asyura' Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
صِيامُ يَومِ عاشُوراءَ، أحتسِبُ على اللهِ أن يكَفِّرَ السَّنةَ التي قَبْلَه
Puasa 'Asyura', aku berharap kepada Allah dapat menghapus (dosa-dosa kecil) tahun yang lalu. (H.R. Muslim)
Yang afdhal puasa Asyura' diiringi dengan puasa sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.
Dan yang afdhal dari keduanya adalah diiringi dengan puasa sehari sebelumnya.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
صُومُوا التَّاسِع وَالعَاشِر وَخَالِفُوا اليَهُود
Berpuasalah pada hari ke sembilan dan ke sepuluh (Muharram) dan selisihilah kaum Yahudi (H.R. Baihaqi)
Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah,
فالأفضل أن يصوم يوم العاشر ويضيف إليه يوما قبله أو يوما بعده
وإضافة اليوم التاسع إليه أفضل من الحادي عشر
"Yang afdhal adalah berpuasa tanggal 10 (Muharram) dan ditambah dengan sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.
Menambahkan (puasa) tanggal 9 (Muharram) lebih afdhal dibandingkan tanggal 11 (Muharram) "
(Majmu'ul Fatawa, 20/34)
Semoga Allah memudahkan kita semua mengamalkan sunnah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam.
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/9507
Hari ini tanggal 8 Muharram.
Dua hari lagi hari 'Asyura' (tanggal 10 Muharram) yang disyariatkan utk berpuasa.
Terkait dengan keutamaan puasa 'Asyura' Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
صِيامُ يَومِ عاشُوراءَ، أحتسِبُ على اللهِ أن يكَفِّرَ السَّنةَ التي قَبْلَه
Puasa 'Asyura', aku berharap kepada Allah dapat menghapus (dosa-dosa kecil) tahun yang lalu. (H.R. Muslim)
Yang afdhal puasa Asyura' diiringi dengan puasa sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.
Dan yang afdhal dari keduanya adalah diiringi dengan puasa sehari sebelumnya.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
صُومُوا التَّاسِع وَالعَاشِر وَخَالِفُوا اليَهُود
Berpuasalah pada hari ke sembilan dan ke sepuluh (Muharram) dan selisihilah kaum Yahudi (H.R. Baihaqi)
Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah,
فالأفضل أن يصوم يوم العاشر ويضيف إليه يوما قبله أو يوما بعده
وإضافة اليوم التاسع إليه أفضل من الحادي عشر
"Yang afdhal adalah berpuasa tanggal 10 (Muharram) dan ditambah dengan sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.
Menambahkan (puasa) tanggal 9 (Muharram) lebih afdhal dibandingkan tanggal 11 (Muharram) "
(Majmu'ul Fatawa, 20/34)
Semoga Allah memudahkan kita semua mengamalkan sunnah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam.
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/9507
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
InsyaAllah Rabu dan Kamis..
::
📬 BERHATI-HATI DARI PERKARA YANG DIADA-ADAKAN OLEH SYIAH PADA HARI ASYURA
Menghidupkan kembali kedukaan dan ratapan tangis untuk musibah yang telah lama berlalu termasuk niyahah yang dilarang di dalam Islam. Adapun bagi kaum Syiah, hal ini dianggap sebuah ibadah.
Bagi umat Islam, hari Asyura adalah hari mereka berpuasa karena rasa syukur atas pertolongan Allah terhadap Nabi Musa dan kaumnya. Berbeda dengan kaum Syiah yang menganggap hari Asyura adalah hari dengan penuh sejarah kelam yaitu hari di saat terbunuhnya al-Husain bin Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhuma dengan penuh kezaliman pada 61 H. Mereka melakukan drama berkabung dengan menampilkan kaum laki-laki yang menyerupai wanita.
Di dalam Islam hal ini sangat dilarang. Larangan tersebut dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu:
لَعَنَ رَسُولُ الله الرَّجُلَ يَلْبَسُ لِبْسَةَ الْمَرْأَةِ وَالْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لِبْسَةَ الرَّجُلِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat lelaki yang berpakaian seperti model pakaian wanita dan (melaknat) wanita yang berpakaian seperti lelaki". ¹
Bukan hanya itu, pada hari Asyura mereka juga menyuguhkan makanan yang sengaja dibuat tidak enak.
Tentu perkara yang mereka lakukan ini adalah perbuatan yang sia-sia dan bahkan terhatuh pada sekian keharaman. Perkara tersebut tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam baik ketika meninggal orang-orang besar di sisi beliau seperti Hamzah bin Abdil Muthalib radhiyallahu anhu atau yang lainnya.
Adapun istigasah yang mereka lakukan pada hari Asyura, dengan berdo’a kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, menganggap imam-imam mereka mengetahui perkara gaib, tanpa diragukan lagi bahwasanya hal itu adalah syirik besar berdasarkan ijma’ ulama.
Sungguh aneh yang mereka lakukan ini. Begitu berkabungnya mereka atas terbunuhnya Husain bin Ali radhiyallahu anhu sehingga melakukan hal-hal yang sangat berlebihan itu hingga diantaranya terjatuh pada kesyirikan.
Padahal kita tahu seseorang yang lebih utama dari Husain juga telah terbunuh, yaitu ayahnya Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu.
Sebelum itu juga telah terbunuh Umar bin al Khattab dan Utsman bin Affan radhiallahu anhuma. Namun syi’ah tidak menjadikan waktu terbunuhnya Ali, Utsman dan Umar radhiyallahu anhum sebagai hari berkabung.
Bukankah ini menunjukkan apa yang mereka lakukan itu adalah hiasan tipu daya setan semata kepada mereka untuk menampakkan permusuhan dan kebencian terhadap kaum muslimin.
Maka sekarang kita telah mengetahui bahwa apa yang dilakukan orang-orang Syi’ah tersebut tidak ada dasarnya dalam Islam, bahkan ia bertolak belakang dengan ajaran Islam.
Ibnu Rajab -rahimahumullah- berkata:
“Adapun menjadikannya (hari Asyura) sebagai hari ratapan sebagaimana yang dilakukan oleh syi’ah rafidhah dalam rangka memperingati kematian Al-Husain bin Ali radiallahu’anhu di hari itu, maka ini termasuk amalan orang-orang yang sia-sia usahanya di kehidupan dunia ini, dalam keadaan dia mengira telah berbuat kebaikan.
Allah dan Rasul-Nya tidak pernah memerintakan untuk menjadikan hari-hari terjadinya musibah dan kematian para nabi sebagai hari ratapan, lantas bagaimana dengan orang yang kedudukannya di bawah mereka??”
Adapun menurut umat Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah, Al Husain meninggal sebagai syahid.
Oleh sebab itu, beliau dimuliakan. Beliau dan saudaranya, Al Hasan, adalah dua pemuda surga. Karena kedudukan yang tinggi harus diperoleh dengan pengorbanan yang besar pula.
📬 BERHATI-HATI DARI PERKARA YANG DIADA-ADAKAN OLEH SYIAH PADA HARI ASYURA
Menghidupkan kembali kedukaan dan ratapan tangis untuk musibah yang telah lama berlalu termasuk niyahah yang dilarang di dalam Islam. Adapun bagi kaum Syiah, hal ini dianggap sebuah ibadah.
Bagi umat Islam, hari Asyura adalah hari mereka berpuasa karena rasa syukur atas pertolongan Allah terhadap Nabi Musa dan kaumnya. Berbeda dengan kaum Syiah yang menganggap hari Asyura adalah hari dengan penuh sejarah kelam yaitu hari di saat terbunuhnya al-Husain bin Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhuma dengan penuh kezaliman pada 61 H. Mereka melakukan drama berkabung dengan menampilkan kaum laki-laki yang menyerupai wanita.
Di dalam Islam hal ini sangat dilarang. Larangan tersebut dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu:
لَعَنَ رَسُولُ الله الرَّجُلَ يَلْبَسُ لِبْسَةَ الْمَرْأَةِ وَالْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لِبْسَةَ الرَّجُلِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat lelaki yang berpakaian seperti model pakaian wanita dan (melaknat) wanita yang berpakaian seperti lelaki". ¹
Bukan hanya itu, pada hari Asyura mereka juga menyuguhkan makanan yang sengaja dibuat tidak enak.
Tentu perkara yang mereka lakukan ini adalah perbuatan yang sia-sia dan bahkan terhatuh pada sekian keharaman. Perkara tersebut tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam baik ketika meninggal orang-orang besar di sisi beliau seperti Hamzah bin Abdil Muthalib radhiyallahu anhu atau yang lainnya.
Adapun istigasah yang mereka lakukan pada hari Asyura, dengan berdo’a kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, menganggap imam-imam mereka mengetahui perkara gaib, tanpa diragukan lagi bahwasanya hal itu adalah syirik besar berdasarkan ijma’ ulama.
Sungguh aneh yang mereka lakukan ini. Begitu berkabungnya mereka atas terbunuhnya Husain bin Ali radhiyallahu anhu sehingga melakukan hal-hal yang sangat berlebihan itu hingga diantaranya terjatuh pada kesyirikan.
Padahal kita tahu seseorang yang lebih utama dari Husain juga telah terbunuh, yaitu ayahnya Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu.
Sebelum itu juga telah terbunuh Umar bin al Khattab dan Utsman bin Affan radhiallahu anhuma. Namun syi’ah tidak menjadikan waktu terbunuhnya Ali, Utsman dan Umar radhiyallahu anhum sebagai hari berkabung.
Bukankah ini menunjukkan apa yang mereka lakukan itu adalah hiasan tipu daya setan semata kepada mereka untuk menampakkan permusuhan dan kebencian terhadap kaum muslimin.
Maka sekarang kita telah mengetahui bahwa apa yang dilakukan orang-orang Syi’ah tersebut tidak ada dasarnya dalam Islam, bahkan ia bertolak belakang dengan ajaran Islam.
Ibnu Rajab -rahimahumullah- berkata:
“Adapun menjadikannya (hari Asyura) sebagai hari ratapan sebagaimana yang dilakukan oleh syi’ah rafidhah dalam rangka memperingati kematian Al-Husain bin Ali radiallahu’anhu di hari itu, maka ini termasuk amalan orang-orang yang sia-sia usahanya di kehidupan dunia ini, dalam keadaan dia mengira telah berbuat kebaikan.
Allah dan Rasul-Nya tidak pernah memerintakan untuk menjadikan hari-hari terjadinya musibah dan kematian para nabi sebagai hari ratapan, lantas bagaimana dengan orang yang kedudukannya di bawah mereka??”
Adapun menurut umat Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah, Al Husain meninggal sebagai syahid.
Oleh sebab itu, beliau dimuliakan. Beliau dan saudaranya, Al Hasan, adalah dua pemuda surga. Karena kedudukan yang tinggi harus diperoleh dengan pengorbanan yang besar pula.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya,
أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟
فَقَالَ: الْأَنِبْيَاءُ ثُمَّالصَّالِحُونَ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ،
فَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ صَلَابَةٌزِيدَ فِي بَلَائِهِ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ خُفِّفَعَنْهُ،
وَ يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ حَتَّى يَمْشِيَ عَلَى الْأَرْضِ وَلَيْسَ عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ
“Siapakah yang paling berat cobaannya?
Beliau menjawab, “Para nabi kemudian orang-orang shaleh, kemudian setelah mereka, kemudian setelah mereka.
Seseorang itu diuji sesuai dengan kadar agamanya. Jika agamanya kokoh maka ditambah ujiannya. Jika agamanya lembek maka diringankan ujiannya.
Terus menerus bala menimpa seorang yang beriman hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak berdosa.”²
Footnotes
¹ HR. Abu Dawud no. 4098, Ahmad 2/325
² HR. Ahmad 1/172 dan ini lafadz beliau; at-Tirmidzi dalam Sunan-nya 4/28, “Abwabuz Zuhud” no. 2509 dan beliau mengatakan hadits hasan sahih; ad-Darimi dalam Sunan-nya, “Kitab ar-Raqaiq” 2/320; Ibnu Majah dalam Sunan-nya, “Kitab al-Fitan” 2/1334 no. 4023
Sumber: https://islamhariini.com/berhati-hati-dari-perkara-yang-diada-adakan-oleh-syiah-pada-hari-asyura/
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 منتدى نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟
فَقَالَ: الْأَنِبْيَاءُ ثُمَّالصَّالِحُونَ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ،
فَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ صَلَابَةٌزِيدَ فِي بَلَائِهِ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ خُفِّفَعَنْهُ،
وَ يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ حَتَّى يَمْشِيَ عَلَى الْأَرْضِ وَلَيْسَ عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ
“Siapakah yang paling berat cobaannya?
Beliau menjawab, “Para nabi kemudian orang-orang shaleh, kemudian setelah mereka, kemudian setelah mereka.
Seseorang itu diuji sesuai dengan kadar agamanya. Jika agamanya kokoh maka ditambah ujiannya. Jika agamanya lembek maka diringankan ujiannya.
Terus menerus bala menimpa seorang yang beriman hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak berdosa.”²
Footnotes
¹ HR. Abu Dawud no. 4098, Ahmad 2/325
² HR. Ahmad 1/172 dan ini lafadz beliau; at-Tirmidzi dalam Sunan-nya 4/28, “Abwabuz Zuhud” no. 2509 dan beliau mengatakan hadits hasan sahih; ad-Darimi dalam Sunan-nya, “Kitab ar-Raqaiq” 2/320; Ibnu Majah dalam Sunan-nya, “Kitab al-Fitan” 2/1334 no. 4023
Sumber: https://islamhariini.com/berhati-hati-dari-perkara-yang-diada-adakan-oleh-syiah-pada-hari-asyura/
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 منتدى نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Website Islam Hari Ini
Berhati-hati dari perkara yang diada-adakan oleh Syiah pada hari Asyura | IHI
Menghidupkan kembali kedukaan dan ratapan tangis untuk musibah yang telah lama berlalu termasuk niyahah yang dilarang di dalam Islam. Adapun bagi kaum
INFO UPDATE DONASI
PEMBANGUNAN MA'HAD QOULAN SADIDA
Bismillaah..
Alhamdulillaah..
Berikut ini kami sampaikan Update Donasi Pembangunan Asrama dan Madrasah Santriwati Ma'had Qoulan Sadida Banjarsari - Ciamis :
Per Hari Kamis,
10 Muharram 1443 H
19 Agustus 2021
Dana yang sudah terkumpul Sebesar :
Rp. 141.751.500,-
Sehingga, Sisa Kekurangan Dana Pembangunan sebesar :
Rp. 158.248.500,-
Adapun Pengeluaran Dana Pembangunan Sampai Saat ini sebesar :
Rp. 136.994.500,-
Bagi muhsinin yang hendak ber-Infaq dapat disalurkan melalui Rekening :
1️⃣
Bank Syariah Indonesia (BSI) atau Bank Syariah Mandiri
An. Elan Sutisna
No. Rek 708 340 3807
Kode Bank (451)
ATAU
2️⃣
Bank Rakyat Indonesia (BRI)
An. Agus Kartiwa
No. Rek 4246 010102 96532
Kode Bank (002)
Mohon Konfirmasi Setelah Transfer kepada :
Abu Ibrohim Elan
✔️ 0852 2335 1020
Abu Nashir
✔️ 0852 1943 1372
Jazaakumullaahu khairan atas apa yang telah diinfaqkan untuk pembangunan ini, semoga terhitung sebagai amal jariyah yang akan bermanfaat kelak di Akhirat.. Amiin..
✒️ Catatan :
❌ Mohon untuk Tidak Diposting di Facebook ataupun Instagram.
جزاكم الله خيرا...و بارك الله في أهليكم و مالكم...🤲🏽
Tertanda,
Panitia Pembangunan
Ma'had Qoulan Sadida
Mengetahui,
Asatidzah Ma'had Qoulan Sadida hafidzahumullah
PEMBANGUNAN MA'HAD QOULAN SADIDA
Bismillaah..
Alhamdulillaah..
Berikut ini kami sampaikan Update Donasi Pembangunan Asrama dan Madrasah Santriwati Ma'had Qoulan Sadida Banjarsari - Ciamis :
Per Hari Kamis,
10 Muharram 1443 H
19 Agustus 2021
Dana yang sudah terkumpul Sebesar :
Rp. 141.751.500,-
Sehingga, Sisa Kekurangan Dana Pembangunan sebesar :
Rp. 158.248.500,-
Adapun Pengeluaran Dana Pembangunan Sampai Saat ini sebesar :
Rp. 136.994.500,-
Bagi muhsinin yang hendak ber-Infaq dapat disalurkan melalui Rekening :
1️⃣
Bank Syariah Indonesia (BSI) atau Bank Syariah Mandiri
An. Elan Sutisna
No. Rek 708 340 3807
Kode Bank (451)
ATAU
2️⃣
Bank Rakyat Indonesia (BRI)
An. Agus Kartiwa
No. Rek 4246 010102 96532
Kode Bank (002)
Mohon Konfirmasi Setelah Transfer kepada :
Abu Ibrohim Elan
✔️ 0852 2335 1020
Abu Nashir
✔️ 0852 1943 1372
Jazaakumullaahu khairan atas apa yang telah diinfaqkan untuk pembangunan ini, semoga terhitung sebagai amal jariyah yang akan bermanfaat kelak di Akhirat.. Amiin..
✒️ Catatan :
❌ Mohon untuk Tidak Diposting di Facebook ataupun Instagram.
جزاكم الله خيرا...و بارك الله في أهليكم و مالكم...🤲🏽
Tertanda,
Panitia Pembangunan
Ma'had Qoulan Sadida
Mengetahui,
Asatidzah Ma'had Qoulan Sadida hafidzahumullah