منتدى نشر الفـــــــوائد
7.58K subscribers
4.3K photos
256 videos
279 files
5.61K links
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya

Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله

Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Download Telegram
::
📬 KAJIAN KITABUT TAUHID (BAG KE 1)

BAB PERTAMA
TEMA: TAUHID ADALAH PERINTAH ALLAH YANG PALING AGUNG DAN HAK ALLAH TERHADAP HAMBANYA

Pendahuluan


Kitabut Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab anNajdi rahimahullah adalah salah satu karya tulis di bidang aqidah yang banyak memberikan manfaat bagi kaum muslimin setelahnya.

Pada tiap bab hanya disebutkan dalil dari al-Quran dan hadits Nabi kemudian dijelaskan faidah-faidah yang bisa diambil dari hadits.

Pada tulisan kajian Kitabut Tauhid ini dan serial tulisan berikutnya insyaAllah kami menggunakan metode sebagai berikut:

1. Menyebutkan tema pada setiap bab di bawah penyebutan bab.

2. Menyebutkan dalil ayat atau hadits sesuai urutannya.

3. Jika itu hadits, maka disebutkan sesuai lafadz pada kitab induk Ulama hadits yang meriwayatkan, serta penilaian ulama yang menshahihkan atau menghasankannya. Jika menurut pendapat yang rajih dari Ulama Ahlul Hadits ternyata hadits itu dinilai lemah, maka dijelaskan kelemahannya. Jika ada penguat dari riwayat lain, maka disebutkan dalilnya.

4. Pada setiap dalil ayat dan hadits itu kami sarikan penjelasan-penjelasan para Ulama Ahlussunnah yang menafsirkan ayat atau mensyarah hadits tersebut.

Serial tulisan ini sekedar untuk menyajikan rangkuman penjelasan yang mudah bagi makna ayat dan hadits dalam Kitabut Tauhid.

Penjelasan-penjelasan terbaik tetaplah yang telah dikemukakan para Ulama’ dalam syarah-syarah mereka baik dalam bentuk tulisan ataupun ceramah. Diharapkan pembaca termotivasi untuk mengkaji lebih lanjut kitab-kitab para Ulama’ yang mensyarah Kitabut Tauhid tersebut.


Dalil Pertama:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah (hanya) kepadaKu (Q.S adz-Dzaariyaat:56)


Penjelasan Dalil Pertama:

Diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu anhu berkata: Semua penyebutan ibadah dalam al-Quran maknanya adalah tauhid (Tafsir al-Qurthuby (18/193)).

Artinya, jika dalam al-Quran terdapat perintah untuk beribadah kepada Allah, maksudnya adalah tauhidkan Allah atau sembahlah (beribadahlah) hanya kepada Allah. Karena itu, makna ayat ini adalah: Tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali agar mereka beribadah hanya kepadaKu.

Ibadah adalah penghambaan. Segala macam perbuatan atau ucapan yang dicintai dan diridhai oleh Allah adalah ibadah. Termasuk juga amalan hati seperti cinta kepada Allah, tunduk; menghinakan dan merendahkan diri, takut, berharap, tawakkal, semuanya adalah ibadah.

Jika di dalam al-Quran dan hadits terdapat perintah terhadap sesuatu, maka sesuatu itu adalah ibadah. Jika Allah dan RasulNya melarang sesuatu, maka meninggalkan sesuatu itu adalah ibadah.

Sebagian Ulama menjelaskan bahwa perasaan yang harus dibangun pada saat beribadah harus mengandung 3 hal:

(i) cinta dengan pengagungan,
(ii) takut, dan
(iii) berharap.

◽️Barangsiapa yang dalam seluruh ibadah hanya mendasari pada cinta saja, maka ia adalah zindiq.

◽️Barangsiapa yang dalam seluruh ibadahnya hanya takut saja maka ia adalah Haruri (khowarij).

◽️Barangsiapa yang dalam seluruh ibadahnya hanya berharap saja, maka ia adalah Murji’ah.

◽️Barangsiapa yang menggabungkan perasaan cinta, berharap, dan takut dalam ibadah-ibadahnya, maka ia adalah seorang yang beriman.

Sebagaimana ungkapan ini dijelaskan oleh Ibnul Qoyyim sebagai ucapan sebagian Ulama Salaf.

Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 KAJIAN KITABUT TAUHID (BAG KE-2)

BAB PERTAMA
TEMA: TAUHID ADALAH PERINTAH ALLAH YANG PALING AGUNG DAN HAK ALLAH TERHADAP HAMBANYA


Dalil Kedua:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوت

Dan sungguh Kami utus Rasul pada setiap umat agar mereka menyembah hanya kepada Allah dan menjauhi Taghut (Q.S anNahl:36)


Penjelasan Dalil Kedua:

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah mengutus Rasul (utusanNya) pada setiap umat. Misi dakwah semua Rasul itu sama tidak berbeda, yaitu dua hal:

1. Beribadah hanya kepada Allah (mentauhidkan Allah).

2. Menjauhi Taghut.

Apa makna Thaghut? Ada beberapa definisi Taghut dari para Sahabat maupun Ulama Salaf.

Umar bin al-Khottob dan Ibnu Abbas radhiyallahu anhu menyatakan: Thaghut adalah Syaithan (riwayat atThobary, dinyatakan sanadnya kuat oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari). Imam Malik menjelaskan makna Thaghut adalah segala sesuatu yang disembah selain Allah (riwayat Ibnu Abi Hatim).

Secara bahasa, kata Thaghut berasal dari kata thaghaa yang maknanya adalah ‘melampaui batas’.

Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah merangkum penjelasan-penjelasan para Ulama sebagai definisi Thaghut secara istilah syar’i adalah : segala sesuatu yang diperlakukan melampaui batas dalam hal disembah, diikuti, atau ditaati (I’laamul Muwaqqi’iin (1/50)).

Ayat ini juga menjelaskan kepada kita bahwa tauhid tidak akan sempurna tanpa meninggalkan seluruh sesembahan selain Allah. Tidak bisa sempurna ibadah seseorang kepada Allah tanpa menjauhi Thaghut.

Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 KAJIAN KITABUT TAUHID (BAG KE-3)

BAB PERTAMA
TEMA: TAUHID ADALAH PERINTAH ALLAH YANG PALING AGUNG DAN HAK ALLAH TERHADAP HAMBANYA


Dalil Ketiga:


وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Dan Tuhanmu telah menetapkan agar kalian tidaklah beribadah kecuali hanya kepadaNya dan hendaknya berbuat baik kepada kedua orangtua (Q.S al-Israa’:23)


Penjelasan Dalil Ketiga:

Di dalam potongan ayat ini, Allah memerintahkan kepada kita pada 2 hal, yaitu:

1. Tidak beribadah kecuali hanya kepada Allah (tauhid).

2. Berbuat baik kepada kedua orangtua.

Banyak sekali ayat-ayat al-Quran yang menggandengkan penyebutan perintah mentauhidkan Allah dan tidak berbuat kesyirikan, kemudian menunaikan hak orangtua. Di antaranya adalah ayat-ayat berikut ini:

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Dan ketika Kami mengambil perjanjian kepada Bani Israil agar janganlah kalian beribadah kecuali hanya kepada Allah dan berbuat baik kepada kedua orangtua (Q.S al-Baqoroh: 83).

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Dan sembahlah Allah dan jangan berbuat kesyirikan kepadaNya dengan suatu apapun dan berbuat baiklah kepada kedua orangtua (Q.S anNisaa’:36)

Hal itu menunjukkan bahwa hak orangtua bagi anak adalah sangat besar. Maka janganlah seorang anak yang berusaha mentauhidkan Allah mendurhakai orangtuanya.

Namun, seorang anak jika diperintah untuk bermaksiat kepada Allah, tidak boleh ia mengikuti perintah itu. Ia tinggalkan perintah itu, namun dalam hal lain ia tetap berbuat baik dan tidak durhaka kepadanya.

لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ

Tidak ada ketaatan (kepada siapapun) dalam hal bermaksiat kepada Allah (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Ali, dengan lafadz riwayat Muslim)

Apalagi jika ia diperintah oleh orangtuanya untuk berbuat kesyirikan, maka jelaslah ia harus mendahulukan ketaatan kepada Allah, tidak boleh ia taati perintah orangtuanya dalam hal kesyirikan, namun tetap menjalin hubungan baik dengan orangtua dan mentaatinya dalam urusan duniawi yang lain yang tidak mengandung dosa.

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

Dan jika mereka berdua (orangtua) memaksamu untuk mensekutukan Aku dalam hal yang engkau tidak memiliki ilmu padanya, janganlah mentaati keduanya. Dan tetaplah menjalin hubungan baik kepada keduanya dalam urusan duniawi (Q.S Luqman: 15)

Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Birrul Walidain (Berbakti Kepada Kedua Orangtua)
::
📬 MENINGGAL DI ATAS KEBID’AHAN NAMUN BELUM SAMPAI TARAF KAFIR

Syaikh Ahmad bin Yahya anNajmiy rahimahullah menyatakan:

أصحاب البدع دائمًا هم يقصدون التقرب إلى الله، ولكنَّهم لم يعرفوا الطريق التي يتقربون بها إلى الله، وليس عندهم من العلم ما يمنعهم من الدخول في البدع؛ فإن كان هذا الذي يريد الخير يسَّر الله له من يدعوه ويبيِّن له، وصرف عنه شر أصحاب البدع الذين يحذِّرونه من طاعة الناصحين، فإنَّه إن تاب تاب الله عليه، وإن بقي على بدعته حتى يلقى الله بها كان ذلك نقصًا في إسلامه، وأمره إلى الله إن شاء عفا عنه، وإن شاء عذَّبه

Para pelaku kebid’ahan selalu bermaksud untuk mendekatkan diri kepada Allah. Namun mereka tidak mengetahui jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Mereka tidak memiliki ilmu yang menghalangi mereka untuk tidak masuk ke dalam kebid’ahan. Jika orang yang menginginkan kebaikan ini dimudahkan oleh Allah untuk bertemu dengan orang yang mengajak (kepada sunnah, pent) dan menjelaskan kepadanya, memalingkannya dari keburukan Ahlul Bid’ah yang memperingatkan dia agar jangan taat kepada orang yang memberi nasihat, kalau ia bertobat, Allah akan menerima tobatnya. Jika ia tetap di atas kebid’ahannya hingga bertemu dengan Allah, itu adalah kekurangan pada keislamannya. Urusannya (dikembalikan) kepada Allah. Jika (Allah) menghendaki, Allah memaafkannya. Jika (Allah) menghendaki (hal lain) Allah mengadzabnya (Irsyaadusy Syaariy bi Syarhi Syarhis Sunnah lil Barbahaariy halaman 63)



📝Catatan:

Ini adalah salah satu bentuk keadilan Ahlus Sunnah dalam menilai. Ahlus Sunnah (Salafy) tidak serta merta langsung memvonis seseorang yang secara dzhahir berada dalam kebid’ahan sudah pasti masuk neraka. Apalagi divonis kafir. Tidak demikian.

Hal ini berbeda dengan anggapan miring terhadap Ahlus Sunnah (Salafy) yang banyak digembar-gemborkan oleh para pembenci dakwah sunnah.

Kebid’ahan adalah kemunkaran yang harus dijauhi dan diingkari. Namun pengingkaran terhadap kemunkaran tersebut bukanlah berarti vonis dan penghakiman bahwa individu yang terjatuh padanya pasti masuk neraka.

Ahlus Sunnah memperingatkan umat akan bahaya kebid’ahan karena kasih sayang kepada kaum muslimin dan meneladani Nabi dan para Sahabat.

Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 KAJIAN KITABUT TAUHID (BAG KE-4)

BAB PERTAMA
TEMA: TAUHID ADALAH PERINTAH ALLAH YANG PALING AGUNG DAN HAK ALLAH TERHADAP HAMBANYA

Dalil Keempat:


وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

Dan sembahlah Allah, janganlah mensekutukanNya dengan suatu apapun (Q.S anNisaa’:36)


Penjelasan Dalil Keempat:

Ayat ini memerintahkan kepada kita agar menyembah hanya kepada Allah dan tidak menyembah selain Allah. Hal ini menunjukkan bahwa tidak cukup seseorang menyembah Allah kemudian di waktu lain ia menyembah selain Allah.

Jika seorang beribadah kepada Allah dalam sejumlah waktu, kemudian pada sedikit waktu yang lain ia berdoa kepada selain Allah, maka batallah tauhidnya. Terhapuslah amal kebaikan dia sebelumnya.

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Jika engkau berbuat kesyirikan, sungguh niscaya akan terhapuslah amalanmu dan sungguh engkau akan termasuk orang-orang yang merugi (Q.S az-Zumar:65).

Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 KAJIAN KITABUT TAUHID (BAG KE-5)

BAB PERTAMA
TEMA: TAUHID ADALAH PERINTAH ALLAH YANG PALING AGUNG DAN HAK ALLAH TERHADAP HAMBANYA

Dalil Kelima:

قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ (151) وَلَا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى وَبِعَهْدِ اللَّهِ أَوْفُوا ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ (152) وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (153)

Katakanlah : Marilah aku bacakan apa yang diharamkan Tuhan kepada kalian, yaitu janganlah kalian mensekutukanNya dengan suatu apapun dan hendaknya berbuat baik kepada kedua orangtua. Dan janganlah membunuh anak kalian karena khawatir miskin. Kamilah yang memberikan rezeki kepada kalian dan kepada mereka. Dan janganlah kalian mendekati perbuatan keji yang nampak maupun yang tersembunyi. Dan janganlah kalian membunuh jiwa yang Allah haramkan kecuali dengan haq. Demikianlah Dia mewasiatkan kepada kalian agar kalian berpikir (151) dan janganlah mendekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang terbaik hingga ia berusia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan secara adil. Kami tidak membebani jiwa kecuali sesuai dengan kemampuannya. Jika kalian berbicara maka bersikap adillah meskipun terhadap karib kerabat. Dan tunaikanlah perjanjian Allah. Demikianlah Dia mewasiatkan kepada kalian agar kalian mengingat (152) Dan sesungguhnya ini adalah jalanku yang lurus, maka ikutilah (jalan itu) dan jangan ikuti jalan-jalan (yang lain) hingga kalian akan tercerai berai dari jalanNya. Demikianlah Dia mewasiatkan kepada kalian agar kalian bertaqwa (153) (Q.S al-An’aam:151-153).


Penjelasan Dalil Kelima:

Surat al-An’aam ayat 151-153 ini terdapat 10 wasiat penting dari Allah Subhaanahu Wa Ta’ala. Dalam 10 wasiat itu Allah mulai dengan wasiat yang paling penting, yaitu agar manusia mentauhidkan Allah dan tidak berbuat kesyirikan kepadaNya. Hal itu menunjukkan bahwa Tauhid adalah kewajiban paling awal sebelum yang lain, dan kesyirikan adalah perbuatan dosa paling besar yang pertama kali harus dijauhi.

Berikut ini adalah penyebutan dan sedikit penjelasan 10 wasiat yang ada di 3 ayat tersebut:

1. Tauhidkan Allah, beribadahlah hanya kepada Allah dan jangan berbuat kesyirikan sedikitpun

2. Berbaktilah kepada kedua orangtua.

3. Jangan membunuh anak karena khawatir miskin. Karena rezeki kalian bukan di tangan kalian sebagai penentunya. Allahlah yang memberi rezeki kepada kalian dan kepada anak-anak itu. Kalian hanya berusaha menjalankan sebab.

4. Jangan mendekati perbuatan keji baik yang nampak maupun tersembunyi. Contoh perbuatan keji adalah perbuatan zina. Jangan dekati zina, seperti: janganlah berduaan dengan wanita yang bukan mahram, janganlah berjabat tangan antara laki dan wanita yang bukan mahram, janganlah wanita sendirian melakukan safar tanpa mahram, dan semisalnya yang merupakan larangan-larangan Nabi dalam hadits-haditsnya.
5. Jangan membunuh jiwa yang Allah haramkan, kecuali sesuai dengan haq. Jiwa yang Allah haramkan adalah:

a) Kaum muslimin. Selama ia masih muslim, secara asal darah, harta dan kehormatannya harus dijaga.

b) Orang kafir yang bukan kafir harbi. Bukan kafir yang memerangi kaum muslimin. Seperti kafir Muahid dan Dzimmi.

Adakalanya jiwa yang Allah haramkan itu melakukan hal-hal yang menyebabkan ia berhak dibunuh sesuai aturan syariat Islam, seperti: orang yang berzina dalam keadaan pernah menikah, maka ia berhak mendapatkan hukum rajam: dilempari batu (yang tidak terlalu besar atau terlalu kecil) hingga meninggal dunia.

Demikian juga muslim yang membunuh muslim lainnya, maka ia berhak mendapatkan hukuman qishash (dibalas dibunuh juga), kecuali ahli waris terbunuh memaafkan. Demikian juga orang yang melakukan perbuatan kaum Luth (homoseksual) bukan karena dipaksa tapi sukarela maka ia berhak dijatuhi hukuman bunuh sebagaimana perintah Nabi. Namun tentunya yang berhak menetapkan putusan hukuman-hukuman tersebut adalah Waliyyul amr (pemerintah muslim) bukan tindakan perorangan/ pribadi.

6. Bagi seseorang yang dititipi amanah menjaga harta anak yatim, janganlah mengambil harta itu untuk tujuan pribadi. Kalaupun ingin memberi manfaat tambahan yang jelas bagi anak yatim, kelolalah harta itu dengan cara yang tidak bertentangan dengan syar’i seperti perdagangan atau investasi yang dengan dugaan kuat akan memberikan hasil, kemudian nanti saat anak yatim itu telah hilang predikat yatimnya (sudah dewasa/ baligh), ia berikan seluruh harta plus keuntungannya kepada anak itu, maka ini adalah cara yang lebih baik.

7. Jika menakar atau menimbang sesuatu, maka takarlah dan timbanglah secara adil, jangan mendzhalimi orang lain. Mengurangi timbangan secara sengaja adalah dosa besar. Namun jika ia telah berusaha keras untuk adil, namun tanpa sengaja timbangannya tidak tepat dan tidak bisa lagi menghubungi orang yang beli darinya, ini tidak mengapa. Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan batas usaha (kemampuannya).

8. Adillah dalam berbicara. Sampaikan kebenaran yang diketahui tanpa ditambah atau dikurangi jika engkau diminta bersaksi. Jangan sampai engkau berbuat tidak adil karena engkau harus bersaksi untuk kerabat atau orang yang engkau cintai, menyebabkan engkau sungkan atau kasihan sehingga tidak berbuat adil.

9. Tunaikanlah janji kalian kepada Allah, untuk menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya.

10. Ikutilah jalan Allah melalui petunjuk dan bimbingan Rasul-Nya, jangan ikut jalan-jalan lain yang menyimpang. Hanya satu jalan yang bisa mengantarkan seseorang pada Surga Allah, yaitu jalan yang ditunjukkan oleh Rasul. Selain itu, semuanya adalah jalan kesesatan. Tidak bisa seseorang mendapatkan keridhaan Allah tanpa melalui petunjuk Rasulullah shollallahu alaihi wasallam. Tidak bisa seseorang beribadah kepada Allah tanpa mencontoh teladan yang ditunjukkan Rasulullah shollallahu alaihi wasallam dan para Sahabatnya.

Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 FATWA AL-LAJNAH AD-DAAIMAH TENTANG MACAM-MACAM KEMURTADAN


Pertanyaan ke-2 dan ke-3 nomor 7150:

Ada yang menyatakan bahwasanya kemurtadan itu adakalanya berupa ucapan atau perbuatan. Saya berharap anda sekalian menjelaskan kepada saya secara ringkas dan jelas macam-macam kemurtadan secara perbuatan, ucapan, maupun keyakinan?



Jawaban al-Lajnah ad-Daaimah :

Kemurtadan adalah kekafiran setelah sebelumnya (berada dalam) Islam. Bisa dengan ucapan, perbuatan, keyakinan, dan keraguan.

◽️Barang siapa yang menyekutukan Allah, atau
◽️menentang Rububiyyah-Nya, keesaan-Nya, salah satu Sifat-Nya, atau
◽️sebagian kitab maupun para Rasul-Nya,
◽️mencela Allah atau Rasul-Nya,
◽️menentang keharaman sesuatu yang telah disepakati akan keharamannya, atau menganggapnya halal, atau
◽️menentang kewajiban dari salah satu rukun Islam yang lima, atau ragu akan wajibnya hal itu, atau
◽️ragu terhadap kebenaran (Nabi) Muhammad shollallahu alaihi wasallam maupun para Nabi yang lain, atau
◽️ragu akan kebangkitan (setelah kematian,pent), atau
◽️sujud kepada berhala ataupun bintang, dan semisalnya,

maka ia telah kafir dan murtad dari agama Islam.

Hendaknya anda membaca bab-bab tentang hukum murtad dalam kitab-kitab Fiqh Islam. Para Ulama (yang menyusunnya) telah memiliki perhatian khusus (dalam membahasnya). Semoga Allah merahmati mereka.

Dengan ini anda mengetahui contoh-contoh terdahulu akan kemurtadan secara ucapan, perbuatan, atau keyakinan, termasuk bentuk kemurtadan karena keraguan.

Al-Lajnah ad-Daaimah lil Buhuts al-Ilmiyyah wal Iftaa’ (Komite Tetap Pembahasan Ilmiyah dan Fatwa):

Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz
Wakil : Abdurrazzaq Afifi
Anggota: Abdullah bin Ghudayyan
Anggota: Abdullah bin Qu’ud

🇸🇦Naskah Asli dalam Bahasa Arab:

أنوع الردة
السؤال الثاني والثالث من الفتوى رقم ( 7150 ) :
س2: يقال: إن الردة قد تكون فعلية أو قولية، فالرجاء أن تبينوا لي باختصار واضح أنواع الردة الفعلية والقولية والاعتقادية؟
ج2: الردة هي الكفر بعد الإسلام، وتكون بالقول، والفعل، والاعتقاد، والشك، فمن أشرك بالله، أو جحد ربوبيته أو وحدانيته أو صفة من صفاته أو بعض كتبه أو رسله، أو سب الله أو رسوله، أو جحد شيئا من المحرمات المجمع على تحريمها أو استحله، أو جحد وجوب ركن من أركان الإسلام الخمسة، أو شك في وجوب ذلك أو في صدق محمد صلى الله عليه وسلم أو غيره من الأنبياء، أو شك في البعث، أو سجد لصنم أو كوكب ونحوه – فقد كفر وارتد عن دين الإسلام. وعليك بقراءة أبواب حكم الردة من كتب الفقه الإسلامي فقد اعتنوا به رحمهم الله. وبهذا تعلم من الأمثلة السابقة الردة القولية والعملية والاعتقادية وصورة الردة في الشك.

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
عضو ... عضو ... نائب رئيس اللجنة ... الرئيس
عبد الله بن قعود ... عبد الله بن غديان ... عبد الرزاق عفيفي ... عبد العزيز بن عبد الله بن باز

Penerjemah: Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Forwarded from Salafy Indonesia
💐🌻🌷🌹 MENJELASKAN KESALAHAN SESEORANG SEBELUM PARA ULAMA BERBICARA APAKAH TERANGGAP MENDAHULUI PARA ULAMA??

✍🏻 Asy-Syaikh Abdullah Al-Bukhary hafizhahullah

📪 Pertanyaan:

هل من بَيَّن حال شخص قبل أن يتكلم فيه العلماء مع العلم أنَّ هذه الأخطاء ثابتة عليه بالأدلة؛ فهل يعتبر هذا من التقدم بين يدي العلماء أم أنه من النصح للمسلمين؟

Apakah seseorang yang menjelaskan kesalahan orang lain sebelum para ulama berbicara teranggap mendahului para ulama, dalam keadaan kesalahan-kesalahan tersebut dipastikan berasal darinya berdasarkan bukti-bukti? Apakah ini teranggap sebagai sikap lancang mendahului para ulama ataukah hal itu termasuk bentuk nasehat bagi kaum Muslimin?

🔐 Jawaban:

رجلٌ أنتَ تعرفه ولا يعرفه غيرك –كما قلت– من أهل العلم
وثبتت الأخطاء كما تقول، وهي بالأدلة؛ فهنا الواجب
–بارك الله فيك– أن تنقل هذه العبارات وهذه الأدلة 
إلى أحدٍ من أهل العلم ليَقِفَ عليها فينظر فيها.

Seseorang yang engkau benar-benar mengetahui keadaannya sementara selain dirimu dari para ulama tidak ada yang mengetahuinya –sebagaimana yang engkau katakan– dan kesalahan-kesalahan tersebut dipastikan dengan bukti-bukti –sebagaimana yang engkau katakan– maka di sini yang wajib –baarakallahu fiik– engkau sampaikan ungkapan-ungkapan dan bukti-bukti tersebut kepada salah seorang ulama agar ulama tersebut mengetahuinya dan menelitinya.

قد تظن أنتَ أنها أدلة مخالفة وأقوال مخالفة وليست كذلك
أو بعضها مخالف وبعضها غير مخالف وهكذا، 

Bisa jadi terkadang engkau menyangka bahwa yang engkau ketahui itu merupakan bukti-bukti atau ucapan-ucapan yang menyelisihi kebenaran, padahal kenyataannya tidak demikian. Atau sebagiannya menyelisihi dan sebagiannya tidak menyelisihi, dan seterusnya.

فالاستبصار بآراء أهل العلم مطلوبٌ وواجب، إذا قالوا لكَ أن هذه أخطاء، نعم وكذا وكذا وما تَكَلَّم أحد، فأنتَ إذا احتجت إلى الكلام أو احتيج –اجعل فوقها وتحتها خط– احتيج إلى كلامك لسبب، كَلِّم بحَذَرٍ وقَدَر، والحمد لله.

Jadi meminta bimbingan kepada para ulama merupakan perkara yang dituntut dan wajib. Jika mereka mengatakan kepadamu: “Ini semua memang merupakan kesalahan dan demikian-demikian.” Dan tidak ada seorang pun yang berbicara, maka jika engkau butuh untuk bicara, jika engkau memang butuh untuk bicara atau dibutuhkan –tolong diberi garis di atas dan di bawahnya– atau dibutuhkan untuk engkau berbicara karena sebuah sebab, maka bicaralah dengan penuh kehati-hatian dan dan seperlunya. Walhamdulillah. (seperti dalam pepatah Arab –pent):

وَلِّ حَارَّها مَنْ تولَّى قَارَّها.

“Serahkan bagian yang panas kepada yang bisa mendinginkannya.”

📚 Sumber artikel || http://bit.ly/2yw7znv

🌐 Kunjungi || http://bit.ly/2yvLoxH

WhatsApp Salafy Indonesia
Channel Telegram
|| http://telegram.me/forumsalafy

💎💎💎💎💎💎💎💎💎