منتدى نشر الفـــــــوائد
7.6K subscribers
4.29K photos
256 videos
279 files
5.6K links
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya

Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله

Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Download Telegram
Pada pagi hari, seluruh anggota tubuh anak Adam semuanya tunduk pada lisan, dan berkata: (wahai lisan), bertakwalah kamu kepada Allah atas (keselamatan) kami.Karena keadaan kami tergantung engkau.Jika engkau istiqomah, kami akan istiqomah. Jika engkau menyimpang, kami (juga) menyimpang (H.R atTirmidzi dari Abu Said al-Khudry, al-Munawy menyatakan bahwa sanadnya shohih dalam Faydhul Qodiir)

Sesuai juga dengan kelanjutan lafadz hadits ini, bahwa setelah Rasul memberikan wasiat untuk beriman dan beristiqomah, Sahabat Nabi Sufyan bin Abdillah bertanya lagi:

مَا أَكْثَرُ مَا تَخَافُ عَلَيَّ

Apakah yang paling banyak engkau takutkan terhadapku?

فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِلِسَانِ نَفْسِهِ ثُمَّ قَالَ هَذَا

Kemudian Rasulullah ﷺ memegang lisan beliau sendiri, kemudian berkata: Ini (riwayat Ibnu Majah, dishahihkan oleh al-Hakim dan disepakati adz-Dzahaby)

Hal itu menunjukkan bahwa untuk bisa istiqomah, seseorang harus menjaga lisannya.


3⃣ SELALU MENGKAJI AQIDAH YANG SHAHIH DAN PRINSIP-PRINSIP UTAMA DALAM ISLAM DAN IMAN

Para Ulama’ telah menulis prinsip-prinsip aqidah yang shahih dalam Islam, seperti Ashlus Sunnah wa I’tiqodud Dien karya Ibnu Abi Hatim, Ushulus Sunnah karya Imam Ahmad, Syarhus Sunnah karya al-Muzany maupun al-Barbahary, dan karya-karya Ulama Ahlussunnah setelahnya. Banyaklah mengikuti kajian-kajian ilmiyyah, membaca buku, mendengarkan rekaman untuk kajian ilmu yang dibimbing oleh orang yang berilmu, beraqidah dan bermanhaj lurus.

Karena sepanjang kehidupan kita akan sering ditemui syubhat-syubhat dan penyimpangan dalam hal aqidah atau dalam hal muamalah. Kuatkan pondasi ilmu kita, agar tidak mudah goyah dan terpengaruh dengan berbagai penyimpangan yang ada.

Sebaliknya, jauhilah bacaan-bacaan atau ceramah-ceramah yang menyimpang dari aqidah yang benar dan ajaran Rasulullah ﷺ.


4⃣ SELALU BERKUMPUL BERSAMA ORANG-ORANG YANG BERAQIDAH DAN BERMANHAJ LURUS, ORANG-ORANG SHALIH DAN BERSABAR DI ATAS MANHAJ YANG LURUS

عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ وَهُوَ مِنْ الِاثْنَيْنِ أَبْعَدُ

Wajib atas kalian untuk bersatu dalam al-Jamaah, hati-hatilah dari perpecahan. Karena syaithan bersama 1 orang (yang menyendiri), dan terhadap 2 orang syaithan lebih jauh (H.R atTirmidzi, anNasaai, dishahihkan oleh al-Hakim dan al-Albany)

Jika seseorang menyendiri, akan mudah dipengaruhi oleh syaithan. Berbeda dengan jika ia sering berkumpul bersama komunitas yang sarat dengan ilmu, iman, amal sholih, dakwah, amar ma’ruf nahi munkar di atas Tauhid dan Sunnah Rasul ﷺ dengan pemahaman para Sahabat Nabi dan Ulama’ Ahlussunnah yang mengikuti mereka dengan baik. Tinggalkanlah komunitas orang-orang yang lalai dari mengingat Allah, atau komunitas yang banyak melakukan kesyirikan, kebid’ahan, atau kemaksiatan.


5⃣ BANYAK BERAMAL SHOLIH DI ATAS SUNNAH NABI

Memperbanyak amal sholih yang ikhlas karena Allah dan sesuai dengan bimbingan Rasulullah ﷺ adalah tameng dari fitnah yang membahayakan agama seseorang.

بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا

Bersegeralah beramal (sebelum datang) fitnah, bagaikan potongan malam yang gelap. Pagi harinya seorang masih mukmin, sorenya menjadi kafir. Atau, sorenya masih mukmin paginya kafir. Ia menjual agamanya (ditukar) dengan kepentingan dunia (H.R Muslim)


6⃣ BERSABAR KARENA ALLAH DALAM MENJALANI KEHIDUPAN DUNIA

Ia hendaknya menjalankan kesabaran dalam semua sisinya, yaitu :

a. Sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah Ta’ala.
b. Sabar dalam menjauhi hal-hal yang dilarang (kesyirikan/ kekafiran, kemaksiatan, dan kebid’ahan).
c. Sabar dalam menerima takdir Allah Azza Wa Jalla.

Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan istiqomah kepada kita di atas Islam dan sunnah hingga kita meninggal dunia.

Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah | WA al I'tishom

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Ketika Kalbu/ Hati Sakit
::
📬 DOA MEMINTA TAMBAHAN KEIMANAN, KEYAKINAN, DAN PEMAHAMAN

Di antara doa yang diucapkan Sahabat Nabi Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu adalah:

اللَّهُمَّ زِدْنَا إِيمَانًا وَيَقِينًا وَفِقْهًا

Ya Allah, berikanlah kami tambahan keimanan, keyakinan, dan pemahaman (riwayat Ibnu Baththoh dalam al-Ibanah al-Kubro dan Ahmad dalam al-Iman, dinyatakan sanadnya shahih oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari (1/48))

Hadits ini adalah salah satu dalil pemahaman Sahabat Nabi bahwasanya iman itu bisa bertambah (sebagaimana juga bisa berkurang). Dalam doa tersebut salah satu yang diminta kepada Allah adalah pertambahan iman.

Kita juga meminta tambahan keyakinan. Keyakinan pada seseorang itu bertingkat-tingkat:

⬜️ Tingkatan pertama adalah Ilmul Yaqin. Misalkan, ketika anda diberitahu oleh orang yang terpercaya bahwa di lembah itu ada mata air.

⬜️ Tingkatan kedua adalah ‘Ainul Yaqin, keyakinan karena melihat langsung. Setelah anda melihat langsung mata air di lembah yang dimaksud, anda bertambah yakin dibandingkan keyakinan sebelumnya.

⬜️ Tingkatan ketiga, yang tertinggi, adalah Haqqul Yaqin, keyakinan karena merasakan sendiri. Misalkan, anda langsung mendatangi mata air di lembah itu, kemudian meminumnya langsung.

Contoh yang lain:

Keimanan kita akan adanya surga dan neraka saat di dunia adalah Ilmul Yaqin.

Nanti, saat pada hari kiamat surga didekatkan kepada orang-orang bertakwa dan bisa disaksikan para makhluk, neraka juga dinampakkan kepada orang-orang yang menyimpang, bisa disaksikan makhluk, itu adalah ‘Ainul Yaqin.

Saat kemudian penghuni surga masuk ke dalam surga dan penghuni neraka masuk ke dalam neraka, itu adalah Haqqul Yaqin.

Penjelasan tentang tingkatan keyakinan dan contohnya ini dikemukakan oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitab Miftah Daaris Sa’aadah (1/149)) dan Madaarijus Saalikin (1/472)).

Dalam doa Ibnu Mas’ud itu juga terdapat permintaan agar Allah menambahkan pemahaman agama kepada kita. Semakin seorang paham agama, semakin banyak kebaikan akan menghampirinya.

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

Barang siapa yang Allah menghendaki kebaikan kepadanya, Dia jadikan orang itu paham (ajaran) agama (H.R al-Bukhari dan Muslim)

Semoga Allah Azza Wa Jalla senantiasa menambahkan keimanan, keyakinan, dan pemahaman yang benar kepada kita.

Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Penghalang Shalat Malam dan Puasa
::
📬 BALASAN RUMAH DI SURGA BAGI YANG MEMBANGUN MASJID

Barang siapa yang membangun masjid dengan ikhlas karena Allah Ta’ala, Allah akan membangunkan rumah untuknya di surga.

مَنْ بَنَى لِلَّهِ مَسْجِدًا بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ أَوْسَعَ مِنْهُ

Barang siapa yang membangun masjid karena Allah, Allah akan membangunkan rumah di surga yang lebih luas dari itu (H.R atThobaroniy dari Abu Umamah, dishahihkan Syaikh al-Albaniy dalam Silsilah as-Shahihah)

Dalam hadits yang lain, terdapat penekanan harusnya ikhlas dalam membangun masjid tersebut:

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا، لَا يُرِيدُ بِهِ رِيَاءً، وَلَا سُمْعَةً، بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

Barang siapa yang membangun masjid, tidak menginginkan riya’ (pamer), sum’ah (ingin didengar), Allah akan membangunkan rumah untuknya di surga (H.R at-Thobaroniy dari Aisyah, dinyatakan hasan li ghoirihi oleh Syaikh al-Albaniy)

Kadangkala seseorang yang kaya karena usaha tertentu, ingin berbagi dengan sekitarnya. Salah satunya dengan membangun masjid atau musholla. Namun, ia harus ikhlas. Luruskan niat kembali pada tujuannya membangun masjid adalah untuk menggapai keridhaan dan pahala dari Allah Ta’ala.

Hal-hal yang Harus Diperhatikan oleh Orang yang akan Membangun Masjid:


1⃣ JANGAN MEMBANGUN MASJID DI ATAS KUBURAN, ATAU MEMBANGUN MASJID DI AREAL KUBURAN

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:

لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

Laknat Allah terhadap orang Yahudi dan Nashara, mereka menjadikan kuburan para Nabi-Nabi mereka sebagai masjid (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah dan Ibnu Abbas)

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أَنَّ أُمَّ حَبِيبَةَ وَأُمَّ سَلَمَةَ ذَكَرَتَا كَنِيسَةً رَأَيْنَهَا بِالْحَبَشَةِ فِيهَا تَصَاوِيرُ فَذَكَرَتَا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّ أُولَئِكَ إِذَا كَانَ فِيهِمْ الرَّجُلُ الصَّالِحُ فَمَاتَ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّوَرَ فَأُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Dari Aisyah –radhiyallahu anha- Ummul Mukminin bahwa Ummu Habibah dan Ummu Salamah keduanya menceritakan kepada Nabi shollallahu alaihi wasallam apa yang mereka lihat berupa gereja di Habasyah yang di dalamnya terdapat gambar-gambar. Maka Nabi shollallahu alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya mereka itu jika ada seorang shalih yang meninggal mereka membangunkan masjid pada kuburnya dan mereka menggambar dengan gambar-gambar itu. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah pada hari kiamat (H.R al-Bukhari dan Muslim)


2⃣ MENCEGAH AGAR MASJID YANG DIBANGUN TIDAK DIGUNAKAN SEBAGAI KESYIRIKAN DAN KEMAKSIATAN

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

Dan sesungguhnya masjid-masjid adalah hanya milik Allah, maka janganlah berdoa (beribadah) bersamaan dengan kepada Allah juga kepada yang lainnya (Q.S al-Jin:18)


3⃣ MENCEGAH AGAR MASJID YANG DIBANGUN TIDAK DIGUNAKAN UNTUK ACARA-ACARA KEBID’AHAN

Abu Idris al-Khoulaaniy - murid Sahabat Nabi Abu Dzar radhiyallahu anhu – berkata:

لَأَنْ أَرَى فِي الْمَسْجِدِ نَارًا لَا أَسْتَطِيْعُ إِطْفَاءَهَا أَحَبُّ إِليَّ مِنْ أَرَى فِيْهِ بِدْعَةً لَا أَسْتَطِيْعُ تَغْيِيْرَهَا

Seandainya aku melihat di masjid ada api yang tidak bisa aku padamkan, itu masih lebih aku sukai dibandingkan aku melihat di dalamnya kebid’ahan yang tidak mampu aku ubah (hilangkan)(riwayat al-Marwaziy dalam as-Sunnah, al-Harowiy dalam Dzammul Kalaam, Ibnu Wadhdhoh dalam al-Bida’, Abu Nuaim dalam Hilyatul Awliyaa’, al-Firyaabiy dalam al-Qodar, Ibnu Baththoh dalam al-Ibaanah)

Sahabat Nabi Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu pernah mengingkari dengan keras perbuatan sekelompok orang yang mengadakan dzikir berjamaah di masjid. Dzikir yang dikomando oleh satu orang dengan jumlah bilangan tertentu.

Dalam sebuat hadits dinyatakan:
عَمْرُو بْنُ يَحْيَى قَالَ سَمِعْتُ أَبِي يُحَدِّثُ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كُنَّا نَجْلِسُ عَلَى بَابِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَبْلَ صَلَاةِ الْغَدَاةِ فَإِذَا خَرَجَ مَشَيْنَا مَعَهُ إِلَى الْمَسْجِدِ فَجَاءَنَا أَبُو مُوسَى الْأَشْعَرِيُّ فَقَالَ أَخَرَجَ إِلَيْكُمْ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ بَعْدُ قُلْنَا لَا فَجَلَسَ مَعَنَا حَتَّى خَرَجَ فَلَمَّا خَرَجَ قُمْنَا إِلَيْهِ جَمِيعًا فَقَالَ لَهُ أَبُو مُوسَى يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ إِنِّي رَأَيْتُ فِي الْمَسْجِدِ آنِفًا أَمْرًا أَنْكَرْتُهُ وَلَمْ أَرَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ إِلَّا خَيْرًا قَالَ فَمَا هُوَ فَقَالَ إِنْ عِشْتَ فَسَتَرَاهُ قَالَ رَأَيْتُ فِي الْمَسْجِدِ قَوْمًا حِلَقًا جُلُوسًا يَنْتَظِرُونَ الصَّلَاةَ فِي كُلِّ حَلْقَةٍ رَجُلٌ وَفِي أَيْدِيهِمْ حَصًى فَيَقُولُ كَبِّرُوا مِائَةً فَيُكَبِّرُونَ مِائَةً فَيَقُولُ هَلِّلُوا مِائَةً فَيُهَلِّلُونَ مِائَةً وَيَقُولُ سَبِّحُوا مِائَةً فَيُسَبِّحُونَ مِائَةً قَالَ فَمَاذَا قُلْتَ لَهُمْ قَالَ مَا قُلْتُ لَهُمْ شَيْئًا انْتِظَارَ رَأْيِكَ وَانْتِظَارَ أَمْرِكَ قَالَ أَفَلَا أَمَرْتَهُمْ أَنْ يَعُدُّوا سَيِّئَاتِهِمْ وَضَمِنْتَ لَهُمْ أَنْ لَا يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِهِمْ ثُمَّ مَضَى وَمَضَيْنَا مَعَهُ حَتَّى أَتَى حَلْقَةً مِنْ تِلْكَ الْحِلَقِ فَوَقَفَ عَلَيْهِمْ فَقَالَ مَا هَذَا الَّذِي أَرَاكُمْ تَصْنَعُونَ قَالُوا يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَصًى نَعُدُّ بِهِ التَّكْبِيرَ وَالتَّهْلِيلَ وَالتَّسْبِيحَ قَالَ فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لَا يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَيْءٌ وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ هَؤُلَاءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِوَسَلَّمَ مُتَوَافِرُونَ وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ أَوْ مُفْتَتِحُو بَابِ ضَلَالَةٍ قَالُوا وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلَّا الْخَيْرَ قَالَ وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حدثنا أَنَّ قَوْمًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ وَايْمُ اللَّهِ مَا أَدْرِي لَعَلَّ أَكْثَرَهُمْ مِنْكُمْ ثُمَّ تَوَلَّى عَنْهُمْ فَقَالَ عَمْرُو بْنُ سَلَمَةَ رَأَيْنَا عَامَّةَ أُولَئِكَ الْحِلَقِ يُطَاعِنُونَا يَوْمَ النَّهْرَوَانِ مَعَ الْخَوَارِجِ

‘Amr bin Yahya berkata: saya mendengar ayahku menyampaikan hadits dari ayahnya:

Kami duduk di depan pintu rumah Abdullah bin Mas’ud (Ibnu Mas’ud) sebelum shalat Subuh. Kalau nanti beliau keluar, kami akan berjalan bersama beliau ke masjid. Kemudian datang kepada kami Abu Musa al-Asy’ariy dan berkata: Apakah Abu Abdirrohman (Ibnu Mas’ud) telah keluar menuju kalian? Kami katakan: Tidak. Maka beliau (Abu Musa al-‘Asy’ari pun duduk bersama kami) hingga keluarnya Ibnu Mas’ud.

Ketika Ibnu Mas’ud telah keluar, kami semua bangkit kemudian Abu Musa berkata: Wahai Abu Abdirrohman, aku baru saja melihat di masjid suatu perkara yang aku ingkari. Dan aku tidak melihat, Alhamdulillah kecuali kebaikan. Ibnu Mas’ud bertanya: Apa itu? Abu Musa mengatakan: Kalau nanti engkau masih hidup, engkau akan melihatnya.

Aku melihat di masjid ada lingkaran-lingkaran (majelis) mereka duduk menunggu shalat. Pada setiap lingkaran itu ada seorang yang di tangannya memegang kerikil kemudian berkata: Bertakbirlah 100 kali. Maka jamaah di lingkaran itupun bertakbir 100 kali. Dia berkata: ucapkan tahlil 100 kali, merekapun bertahlil 100 kali. Dia berkata: ucapkan tasbih 100 kali, merekapun bertasbih 100 kali.

Ibnu Mas’ud bertanya: Apa yang kau katakan kepada mereka? (abu Musa) berkata: Aku tidak berkata apa-apa karena menunggu pendapat dan perintahmu.

Ibnu Mas’ud berkata: Mengapa engkau tidak memerintahkan mereka untuk menghitung saja kesalahan-kesalahan mereka, dan engkau jamin bahwasanya kebaikan-kebaikan mereka tidak akan sia-sia.

Kemudian berlanjutlah perjalanan itu hingga ketika Ibnu Mas’ud telah mendatangi salah satu lingkaran (majelis) itu beliau berdiri di dekat mereka kemudian berkata: Apa ini yang kalian perbuat? Mereka berkata: Wahai Abu Abdirrohman, kerikil-kerikil ini kami gunakan untuk menghitung takbir, tahlil, dan tasbih.
Ibnu Mas’ud berkata: Hitunglah keburukan-keburukan kalian. Aku menjamin bahwa kebaikan-kebaikan kalian tidak akan sia-sia. Celaka kalian wahai umat Muhammad, sungguh cepat kebinasaan kalian.

Para Sahabat Nabi kalian shollallahu alaihi wasallam masih banyak. Pakaian-pakaian beliau masih belum basah, bejana-bejana beliau belum rusak.

Demi (Allah) Yang jiwaku di TanganNya, apakah kalian (merasa) berada di atas agama yang lebih mendapat petunjuk dibandingkan agama Muhammad, ataukah kalian membuka pintu kesesatan?!

Mereka berkata: Demi Allah, wahai Abu Abdirrohman, kami tidaklah menginginkan kecuali kebaikan. Ibnu Mas’ud berkata: Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tidak bisa mendapatkannya.

Sesungguhnya Rasulullah shollallahu alaihi wasallam telah menceritakan kepada kami bahwa suatu kaum membaca al-Quran tapi (bacaannya) tidak sampai melewati kerongkongannya. Demi Allah, aku tidak tahu apakah kebanyak mereka adalah termasuk di antara kalian. Kemudian Ibnu Mas’ud berpaling dari mereka.

‘Amr bin Salamah berkata: Kami melihat kebanyakan mereka yang ikut majelis itu berperang melawan kami pada hari Nahrowan bersama para Khowarij (H.R ad-Daarimi)

Segala macam bentuk pelanggaran syar’i (kesyirikan, kebid’ahan, dan kemaksiatan) tidak boleh dilakukan di mana saja, apalagi di masjid yang suci yang merupakan rumah Allah.


4⃣ MEMAKMURKAN MASJID DENGAN SHALAT BERJAMAAH 5 WAKTU DAN MAJELIS ILMU SYAR’I

Di antara isi surat Umar bin Abdil Aziz rahimahullah adalah:

فَأْمُرْ أَهْلَ الْعِلْمِ أَنْ يَنْشُرُوْا الْعِلْمَ فِي مَسَاجِدِهِمْ فَإِنَّ السُّنَّةَ كَانَتْ قَدْ أُمِيْتَتْ

Perintahkan kepada orang-orang yang berilmu untuk menyebarkan ilmu di masjid-masjid mereka, karena sunnah telah dimatikan (riwayat arRoomarurmuuziy dalam al-Muhadditsul Faashil dari Ikrimah bin ‘Ammaar, dikuatkan juga dengan riwayat Ibnu Abdil Bar dalam Jami’ Bayaanil Ilmi wa Fadhlih dari Ja’far bin Burqaan)


5⃣ TIDAK MENGHIAS MASJID

مَا أُمِرْتُ بِتَشْيِيدِ الْمَسَاجِدِ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ لَتُزَخْرِفُنَّهَا كَمَا زَخْرَفَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى

Aku tidak diperintah untuk meninggikan (bangunan) masjid (untuk kemegahan, pent). Ibnu Abbas berkata: Sungguh-sungguh kalian akan menghiasnya (masjid) sebagaimana Yahudi dan Nashrani menghias (tempat peribadatan mereka)(H.R Abu Dawud dari Ibnu Abbas, dishahihkan Ibnu Hibban dan al-Albany)

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَبَاهَى النَّاسُ فِي الْمَسَاجِدِ

Tidak datang hari kiamat hingga manusia berbangga-bangga (bermegah-megahan) dengan masjid-masjid (H.R Abu Dawud, anNasaai, Ibnu Majah, dishahihkan Ibnu Khuzaimah dan al-Albany)

(dikutip dari naskah buku “Membangun Rumah di Surga”, Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah)
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 KAJIAN KITABUT TAUHID (BAG KE 1)

BAB PERTAMA
TEMA: TAUHID ADALAH PERINTAH ALLAH YANG PALING AGUNG DAN HAK ALLAH TERHADAP HAMBANYA

Pendahuluan


Kitabut Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab anNajdi rahimahullah adalah salah satu karya tulis di bidang aqidah yang banyak memberikan manfaat bagi kaum muslimin setelahnya.

Pada tiap bab hanya disebutkan dalil dari al-Quran dan hadits Nabi kemudian dijelaskan faidah-faidah yang bisa diambil dari hadits.

Pada tulisan kajian Kitabut Tauhid ini dan serial tulisan berikutnya insyaAllah kami menggunakan metode sebagai berikut:

1. Menyebutkan tema pada setiap bab di bawah penyebutan bab.

2. Menyebutkan dalil ayat atau hadits sesuai urutannya.

3. Jika itu hadits, maka disebutkan sesuai lafadz pada kitab induk Ulama hadits yang meriwayatkan, serta penilaian ulama yang menshahihkan atau menghasankannya. Jika menurut pendapat yang rajih dari Ulama Ahlul Hadits ternyata hadits itu dinilai lemah, maka dijelaskan kelemahannya. Jika ada penguat dari riwayat lain, maka disebutkan dalilnya.

4. Pada setiap dalil ayat dan hadits itu kami sarikan penjelasan-penjelasan para Ulama Ahlussunnah yang menafsirkan ayat atau mensyarah hadits tersebut.

Serial tulisan ini sekedar untuk menyajikan rangkuman penjelasan yang mudah bagi makna ayat dan hadits dalam Kitabut Tauhid.

Penjelasan-penjelasan terbaik tetaplah yang telah dikemukakan para Ulama’ dalam syarah-syarah mereka baik dalam bentuk tulisan ataupun ceramah. Diharapkan pembaca termotivasi untuk mengkaji lebih lanjut kitab-kitab para Ulama’ yang mensyarah Kitabut Tauhid tersebut.


Dalil Pertama:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah (hanya) kepadaKu (Q.S adz-Dzaariyaat:56)


Penjelasan Dalil Pertama:

Diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu anhu berkata: Semua penyebutan ibadah dalam al-Quran maknanya adalah tauhid (Tafsir al-Qurthuby (18/193)).

Artinya, jika dalam al-Quran terdapat perintah untuk beribadah kepada Allah, maksudnya adalah tauhidkan Allah atau sembahlah (beribadahlah) hanya kepada Allah. Karena itu, makna ayat ini adalah: Tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali agar mereka beribadah hanya kepadaKu.

Ibadah adalah penghambaan. Segala macam perbuatan atau ucapan yang dicintai dan diridhai oleh Allah adalah ibadah. Termasuk juga amalan hati seperti cinta kepada Allah, tunduk; menghinakan dan merendahkan diri, takut, berharap, tawakkal, semuanya adalah ibadah.

Jika di dalam al-Quran dan hadits terdapat perintah terhadap sesuatu, maka sesuatu itu adalah ibadah. Jika Allah dan RasulNya melarang sesuatu, maka meninggalkan sesuatu itu adalah ibadah.

Sebagian Ulama menjelaskan bahwa perasaan yang harus dibangun pada saat beribadah harus mengandung 3 hal:

(i) cinta dengan pengagungan,
(ii) takut, dan
(iii) berharap.

◽️Barangsiapa yang dalam seluruh ibadah hanya mendasari pada cinta saja, maka ia adalah zindiq.

◽️Barangsiapa yang dalam seluruh ibadahnya hanya takut saja maka ia adalah Haruri (khowarij).

◽️Barangsiapa yang dalam seluruh ibadahnya hanya berharap saja, maka ia adalah Murji’ah.

◽️Barangsiapa yang menggabungkan perasaan cinta, berharap, dan takut dalam ibadah-ibadahnya, maka ia adalah seorang yang beriman.

Sebagaimana ungkapan ini dijelaskan oleh Ibnul Qoyyim sebagai ucapan sebagian Ulama Salaf.

Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 KAJIAN KITABUT TAUHID (BAG KE-2)

BAB PERTAMA
TEMA: TAUHID ADALAH PERINTAH ALLAH YANG PALING AGUNG DAN HAK ALLAH TERHADAP HAMBANYA


Dalil Kedua:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوت

Dan sungguh Kami utus Rasul pada setiap umat agar mereka menyembah hanya kepada Allah dan menjauhi Taghut (Q.S anNahl:36)


Penjelasan Dalil Kedua:

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah mengutus Rasul (utusanNya) pada setiap umat. Misi dakwah semua Rasul itu sama tidak berbeda, yaitu dua hal:

1. Beribadah hanya kepada Allah (mentauhidkan Allah).

2. Menjauhi Taghut.

Apa makna Thaghut? Ada beberapa definisi Taghut dari para Sahabat maupun Ulama Salaf.

Umar bin al-Khottob dan Ibnu Abbas radhiyallahu anhu menyatakan: Thaghut adalah Syaithan (riwayat atThobary, dinyatakan sanadnya kuat oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari). Imam Malik menjelaskan makna Thaghut adalah segala sesuatu yang disembah selain Allah (riwayat Ibnu Abi Hatim).

Secara bahasa, kata Thaghut berasal dari kata thaghaa yang maknanya adalah ‘melampaui batas’.

Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah merangkum penjelasan-penjelasan para Ulama sebagai definisi Thaghut secara istilah syar’i adalah : segala sesuatu yang diperlakukan melampaui batas dalam hal disembah, diikuti, atau ditaati (I’laamul Muwaqqi’iin (1/50)).

Ayat ini juga menjelaskan kepada kita bahwa tauhid tidak akan sempurna tanpa meninggalkan seluruh sesembahan selain Allah. Tidak bisa sempurna ibadah seseorang kepada Allah tanpa menjauhi Thaghut.

Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 KAJIAN KITABUT TAUHID (BAG KE-3)

BAB PERTAMA
TEMA: TAUHID ADALAH PERINTAH ALLAH YANG PALING AGUNG DAN HAK ALLAH TERHADAP HAMBANYA


Dalil Ketiga:


وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Dan Tuhanmu telah menetapkan agar kalian tidaklah beribadah kecuali hanya kepadaNya dan hendaknya berbuat baik kepada kedua orangtua (Q.S al-Israa’:23)


Penjelasan Dalil Ketiga:

Di dalam potongan ayat ini, Allah memerintahkan kepada kita pada 2 hal, yaitu:

1. Tidak beribadah kecuali hanya kepada Allah (tauhid).

2. Berbuat baik kepada kedua orangtua.

Banyak sekali ayat-ayat al-Quran yang menggandengkan penyebutan perintah mentauhidkan Allah dan tidak berbuat kesyirikan, kemudian menunaikan hak orangtua. Di antaranya adalah ayat-ayat berikut ini:

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Dan ketika Kami mengambil perjanjian kepada Bani Israil agar janganlah kalian beribadah kecuali hanya kepada Allah dan berbuat baik kepada kedua orangtua (Q.S al-Baqoroh: 83).

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Dan sembahlah Allah dan jangan berbuat kesyirikan kepadaNya dengan suatu apapun dan berbuat baiklah kepada kedua orangtua (Q.S anNisaa’:36)

Hal itu menunjukkan bahwa hak orangtua bagi anak adalah sangat besar. Maka janganlah seorang anak yang berusaha mentauhidkan Allah mendurhakai orangtuanya.

Namun, seorang anak jika diperintah untuk bermaksiat kepada Allah, tidak boleh ia mengikuti perintah itu. Ia tinggalkan perintah itu, namun dalam hal lain ia tetap berbuat baik dan tidak durhaka kepadanya.

لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ

Tidak ada ketaatan (kepada siapapun) dalam hal bermaksiat kepada Allah (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Ali, dengan lafadz riwayat Muslim)

Apalagi jika ia diperintah oleh orangtuanya untuk berbuat kesyirikan, maka jelaslah ia harus mendahulukan ketaatan kepada Allah, tidak boleh ia taati perintah orangtuanya dalam hal kesyirikan, namun tetap menjalin hubungan baik dengan orangtua dan mentaatinya dalam urusan duniawi yang lain yang tidak mengandung dosa.

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

Dan jika mereka berdua (orangtua) memaksamu untuk mensekutukan Aku dalam hal yang engkau tidak memiliki ilmu padanya, janganlah mentaati keduanya. Dan tetaplah menjalin hubungan baik kepada keduanya dalam urusan duniawi (Q.S Luqman: 15)

Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Birrul Walidain (Berbakti Kepada Kedua Orangtua)
::
📬 MENINGGAL DI ATAS KEBID’AHAN NAMUN BELUM SAMPAI TARAF KAFIR

Syaikh Ahmad bin Yahya anNajmiy rahimahullah menyatakan:

أصحاب البدع دائمًا هم يقصدون التقرب إلى الله، ولكنَّهم لم يعرفوا الطريق التي يتقربون بها إلى الله، وليس عندهم من العلم ما يمنعهم من الدخول في البدع؛ فإن كان هذا الذي يريد الخير يسَّر الله له من يدعوه ويبيِّن له، وصرف عنه شر أصحاب البدع الذين يحذِّرونه من طاعة الناصحين، فإنَّه إن تاب تاب الله عليه، وإن بقي على بدعته حتى يلقى الله بها كان ذلك نقصًا في إسلامه، وأمره إلى الله إن شاء عفا عنه، وإن شاء عذَّبه

Para pelaku kebid’ahan selalu bermaksud untuk mendekatkan diri kepada Allah. Namun mereka tidak mengetahui jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Mereka tidak memiliki ilmu yang menghalangi mereka untuk tidak masuk ke dalam kebid’ahan. Jika orang yang menginginkan kebaikan ini dimudahkan oleh Allah untuk bertemu dengan orang yang mengajak (kepada sunnah, pent) dan menjelaskan kepadanya, memalingkannya dari keburukan Ahlul Bid’ah yang memperingatkan dia agar jangan taat kepada orang yang memberi nasihat, kalau ia bertobat, Allah akan menerima tobatnya. Jika ia tetap di atas kebid’ahannya hingga bertemu dengan Allah, itu adalah kekurangan pada keislamannya. Urusannya (dikembalikan) kepada Allah. Jika (Allah) menghendaki, Allah memaafkannya. Jika (Allah) menghendaki (hal lain) Allah mengadzabnya (Irsyaadusy Syaariy bi Syarhi Syarhis Sunnah lil Barbahaariy halaman 63)



📝Catatan:

Ini adalah salah satu bentuk keadilan Ahlus Sunnah dalam menilai. Ahlus Sunnah (Salafy) tidak serta merta langsung memvonis seseorang yang secara dzhahir berada dalam kebid’ahan sudah pasti masuk neraka. Apalagi divonis kafir. Tidak demikian.

Hal ini berbeda dengan anggapan miring terhadap Ahlus Sunnah (Salafy) yang banyak digembar-gemborkan oleh para pembenci dakwah sunnah.

Kebid’ahan adalah kemunkaran yang harus dijauhi dan diingkari. Namun pengingkaran terhadap kemunkaran tersebut bukanlah berarti vonis dan penghakiman bahwa individu yang terjatuh padanya pasti masuk neraka.

Ahlus Sunnah memperingatkan umat akan bahaya kebid’ahan karena kasih sayang kepada kaum muslimin dan meneladani Nabi dan para Sahabat.

Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 KAJIAN KITABUT TAUHID (BAG KE-4)

BAB PERTAMA
TEMA: TAUHID ADALAH PERINTAH ALLAH YANG PALING AGUNG DAN HAK ALLAH TERHADAP HAMBANYA

Dalil Keempat:


وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

Dan sembahlah Allah, janganlah mensekutukanNya dengan suatu apapun (Q.S anNisaa’:36)


Penjelasan Dalil Keempat:

Ayat ini memerintahkan kepada kita agar menyembah hanya kepada Allah dan tidak menyembah selain Allah. Hal ini menunjukkan bahwa tidak cukup seseorang menyembah Allah kemudian di waktu lain ia menyembah selain Allah.

Jika seorang beribadah kepada Allah dalam sejumlah waktu, kemudian pada sedikit waktu yang lain ia berdoa kepada selain Allah, maka batallah tauhidnya. Terhapuslah amal kebaikan dia sebelumnya.

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Jika engkau berbuat kesyirikan, sungguh niscaya akan terhapuslah amalanmu dan sungguh engkau akan termasuk orang-orang yang merugi (Q.S az-Zumar:65).

Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️