منتدى نشر الفـــــــوائد
7.6K subscribers
4.29K photos
256 videos
279 files
5.6K links
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya

Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله

Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Download Telegram
::
📬 AMALAN ORANG HIDUP YANG BERMANFAAT BAGI SI MAYIT (ORANG YANG SUDAH MENINGGAL)

Oleh: Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak hafizhahullah


Karena kemurahan dan karunia Allah subhanahu wa ta’ala , seorang yang mati masih bisa menikmati manfaat dari sebagian amalan yang pernah diamalkannya. Dia juga bisa mendapatkan manfaat dari sebagian amalan orang-orang yang masih hidup. Di antara perkara yang terus bermanfaat bagi seorang yang telah mati adalah:



1️⃣. SHADAQAH JARIYAH, SEPERTI WAKAF DAN SEJENISNYA

Seorang masih terus mendapatkan pahala shadaqah jariyah yang ia lakukan, seperti membangun masjid, pesantren, atau wakaf-wakaf lainnya dalam perkara yang baik. Rasulullah ﷺ menyatakan:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seorang meninggal, terputus amalannya kecuali tiga: shadaqah yang terus mengalir pahalanya, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.”
(HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)



2️⃣. ILMU YANG BERMANFAAT

Ilmu yang bermanfaat yang ia ajarkan kepada orang lain akan terus mengalirkan pahala baginya walaupun ia telah meninggal, sebagaimana dalam hadits di atas. Selain hadits di atas, Rasulullah ﷺ juga menjelaskan:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

“Barangsiapa yang berdakwah kepada petunjuk (kebaikan) maka dia mendapatkan pahala seperti pahala yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu )

Beliau ﷺ juga bersabda:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa yang menuntunkan sunnah yang baik maka dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang telah melakukannya.” (HR. Muslim dari Jarir bin Abdillah Radhiyallahu 'anhu )



3️⃣. SHADAQAH YANG DILAKUKAN ANAK ATAS NAMA ORANGTUANYA

Para ulama menjelaskan bahwa semua amalan baik seorang anak itu bermanfaat bagi orangtuanya. Orang akan mendapatkan pahala seperti yang diperoleh anaknya, karena anak adalah hasil usaha orangtua. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (An-Najm: 39)

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ أَطْيَبَ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ، وَوَلَدُهُ مِنْ كَسْبِهِ

“Makanan terbaik bagi seseorang adalah dari hasil usahanya. Dan anaknya adalah juga hasil usahanya.”
(HR. Abu Dawud, An-Nasa’i, dan At-Tirmidzi, dikuatkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah sebagaimana dalam Ahkamul Jana’iz)

Terdapat hadits-hadits lain yang mendukung makna hadits ini, di antaranya:

Dari Aisyah radhiyallahu 'anha :

أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ n: إِنَّ أُمِّي افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ، فَهَلْ لَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ

Ada seorang laki-laki berkata: “Ibuku meninggal tiba-tiba (dan tidak sempat berwasiat). Aku mengira jika sempat bicara dia akan bershadaqah. Apakah dia akan mendapatkan pahala jika aku bershadaqah atas namanya?” Rasulullah berkata: “Ya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma:

أَنَّ سَعْدَ بْنَ عُبَادَةَ تُوُفِّيَتْ أُمُّهُ وَهُوَ غَائِبٌ عَنْهَا فَأَتَى رَسُولَ اللهِ ﷺ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ أُمِّي تُوُفِّيَتْ وَأَنَا غَائِبٌ عَنْهَا فَهَلْ يَنْفَعُهَا إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَإِنِّي أُشْهِدُكَ أَنَّ حَائِطِي الْمَخْرَفَ صَدَقَةٌ عَنْهَا

Ibu dari Sa’d bin ‘Ubadah –saudara Bani Sa’idah– meninggal ketika Sa’d tidak di rumah. Dia lalu mendatangi Rasulullah n berkata: “Wahai Rasulullah, ibuku telah meninggal ketika aku tidak ada. Apakah bermanfaat baginya jika aku bershadaqah atas namanya?” Rasulullah ﷺ berkata: “Ya.” Sa’d berkata: “Persaksikanlah bahwa kebunku yang pepohonannya sedang berbuah adalah shadaqah atas namanya.” (HR. Muslim)
Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata:

“Hadits-hadits dalam bab ini menjelaskan bahwa shadaqah anak itu bermanfaat bagi orangtuanya yang telah meninggal, walaupun tanpa wasiat dari keduanya.”
(Lihat Nailul Authar)



4️⃣. DOA KAUM MUKMININ

Di antara yang menunjukkan hal ini adalah ayat Allah subhanahu wa ta’ala :

وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلْإِيمَٰنِ وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), berdoa: ‘Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang’.” (Al-Hasyr: 10)

● Di antara dalil masalah ini adalah disyariatkannya shalat jenazah dan ziarah kubur. Karena shalat jenazah disyariatkan untuk mendoakan si mayit. Rasulullah ﷺ berkata:

إِذَا صَلَّيْتُمْ عَلَى الْمَيِّتِ فَأَخْلِصُوا لَهُ الدُّعَاءَ

“Jika kalian menshalatkan mayit, maka ikhlaskanlah doa baginya.” (HR. Abu Dawud dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu )

Beliau ﷺ juga bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلًا لَا يُشْرِكُونَ بِاللهِ شَيْئًا إِلَّا شُفِّعُوا فِيهِ

“Tidaklah ada muslim yang meninggal kemudian menshalatkan jenazahnya empat puluh orang yang tidak melakukan syirik, kecuali mereka akan diizinkan memberi syafaat kepadanya.”
(HR. Muslim)

● Demikian juga, ziarah kubur disyariatkan untuk mendoakan si mayit.



5️⃣. PEMBAYARAN HUTANGNYA WALAUPUN BUKAN OLEH AHLI WARIS NYA

Adapun hutang, boleh seorang membayarkan hutang orang lain yang telah meninggal walaupun bukan dari kerabatnya sekalipun, dan si mayit terbebas dari beban utang tersebut. (Lihat Ahkamul Jana’iz hal. 212-226)

✍️ Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata:

“Seseorang yang telah mati bisa mendapatkan manfaat dari amalan orang yang hidup dalam perkara-perkara yang ditunjukkan oleh dalil, seperti :
◽️doa orang hidup untuknya,
◽️memintakan ampun untuknya,
◽️shadaqah atas namanya,
◽️haji dan umrah atas namanya,
◽️membayarkan hutang-hutangnya, dan
◽️menunaikan wasiat-wasiatnya.

Semua perkara tersebut disyariatkan sebagaimana telah ditunjukkan oleh dalil.

Sebagian ulama memasukkan semua bentuk taqarrub (ibadah) yang dilakukan muslim dan diperuntukkan pahalanya bagi muslim lain yang masih hidup atau telah mati, ke dalam perkara ini. Namun pendapat yang shahih (benar) adalah mencukupkan hanya yang ada di dalam dalil.

Perkara yang terdapat dalilnya mengkhususkan keumuman firman Allah subhanahu wa ta’ala :

وَاَنْ لَّيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعٰىۙ

‘Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya’.”
(An-Najm: 39) [Lihat Fatawa ‘Aqidah hal. 48-49]



🔵 KESIMPULAN

Jika telah kita yakini bahwa seorang yang mati hanyalah membawa amalnya, maka hendaknya kita manfaatkan waktu yang tersisa untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan memperbanyak amal shalih.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

“Dan infaqkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: ‘Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, sehingga aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shalih?’.”
(Al-Munafiqun: 10)
Rasulullah ﷺ menyatakan:

اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara yang lain: (Manfaatkan) masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa fakirmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, masa hidupmu sebelum datang masa matimu.” (HR. Al-Hakim dan lainnya, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani sebagaimana dalam tahqiq Iqtidha’ul ‘Ilmi Al-‘Amal)

Kita juga berusaha mengamalkan amalan yang pahalanya terus mengalir kepada kita sampai kita mati: menuntut ilmu agama untuk kita amalkan dan kita ajarkan, shadaqah jariyah, serta mendidik anak-anak kita agar menjadi anak-anak yang shalih.

Mudah-mudahan tulisan ini memberikan dorongan semangat bagi kita semua untuk beramal shalih. Walhamdulillah.

https://asysyariah.com/perkara-yang-bermanfaat-bagi-seorang-yang-telah-mati/

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 KAJIAN KITABUL JAMI’ MIN BULUGHIL MARAM (bag 6)

📗 BAB: ADAB
MENJILATI JARI TANGAN DARI SISA MAKANAN SEBELUM MENGUSAP ATAU MEMBASUH TANGAN


Hadits no 1442


وَعَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - - إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ طَعَامًا, فَلَا يَمْسَحْ يَدَهُ, حَتَّى يَلْعَقَهَا, أَوْ يُلْعِقَهَا - مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Ibnu Abbas –semoga Allah meridhai keduanya- ia berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: Jika salah seorang dari kalian memakan suatu makanan, janganlah ia mengusap tangannya hingga ia (sendiri) menjilatinya atau ada orang yang menjilatinya (muttafaqun alaih)



💡Penjelasan:

Makanan dan minuman adalah salah satu nikmat Allah yang harus disyukuri dan dimuliakan. Tidak boleh disia-siakan atau dihinakan. Apabila menempel sisa makanan di tangan kita, janganlah membersihkan tangan itu dengan air atau hal lainnya sehingga sebagian sisa makanan itu akan terbuang tanpa termanfaatkan, sebelum orang itu menjilati jari atau tangannya sendiri.

Bisa juga orang lain yang memiliki kedekatan dan kasih sayang terhadapnya yang menjilatinya, seperti istri, anak, atau hamba sahaya miliknya. Kalaupun tidak tercapai hal itu, setidaknya ia mengusap sisa makanan di tangannya dengan saputangan/tisu yang nantinya dibuang di tempat yang bersih, kemudian ia mencuci tangannya setelah itu. Namun yang lebih utama adalah mengikuti sunnah sebagaimana disebutkan dalam hadits ini (disarikan dari Taudhihul Ahkam karya Syaikh Abdullah al-Bassam (4/535)).

Di dalam hadits yang lain, Nabi shollallahu alaihi wasallam memerintahkan untuk tidak melewatkan makanan yang tersisa, baik dengan menjilati tangan atau wadah makanan itu, karena seseorang tidak mengetahui di bagian mana pada makanannya terdapat keberkahan. Apabila ada bagian dari makanan itu yang terjatuh, hendaknya ia bersihkan bagian yang kotor kemudian ia makan, jangan membiarkannya untuk setan.

عَنْ جَابِرٍ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- أَمَرَ بِلَعْقِ الأَصَابِعِ وَالصَّحْفَةِ وَقَالَ « إِنَّكُمْ لاَ تَدْرُونَ فِى أَيِّهِ الْبَرَكَةُ »

dari Jabir bahwasanya Nabi shollallahu alaihi wasallam memerintahkan untuk menjilat jari jemari dan piring (setelah makan, pent). Beliau bersabda: Sesungguhnya kalian tidak mengetahui di bagian mana yang ada keberkahannya (H.R Muslim)

عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِذَا وَقَعَتْ لُقْمَةُ أَحَدِكُمْ فَلْيَأْخُذْهَا فَلْيُمِطْ مَا كَانَ بِهَا مِنْ أَذًى وَلْيَأْكُلْهَا وَلاَ يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ وَلاَ يَمْسَحْ يَدَهُ بِالْمِنْدِيلِ حَتَّى يَلْعَقَ أَصَابِعَهُ فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِى فِى أَىِّ طَعَامِهِ الْبَرَكَةُ ».

dari Jabir ia berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: Jika suapan (makanan) kalian jatuh, ambillah dan hilangkan kotoran yang mengenainya. Kemudian makanlah. Janganlah dibiarkan untuk setan. Janganlah ia mengusap tangannya dengan saputangan hingga ia menjilat jari-jarinya. Karena ia tidak mengetahui di bagian mana pada makanannya terdapat keberkahan (H.R Muslim)
anNawawiy rahimahullah menjelaskan:”Dianjuran memakan suapan makanan yang terjatuh setelah membersihkan kotoran yang mengenainya. Hal ini jika makanan itu tidak terjatuh di tempat najis. Jika mengenai tempat najis, perlu dibersihkan jika memungkinkan. Jika tidak mungkin, diberikan makanan itu kepada hewan” (al-Minhaj syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj (13/204)).

Menjilati sisa makanan yang menempel di tangan sebelum mengusap tangan itu adalah bagian dari sikap tawadhu’. Hadits ini juga memberikan pelajaran bahwa seseorang hendaknya bersikap bersih, karena di masa Rasul shollallahu alaihi wasallam tangan (biasanya) diusap setelah makan. Hal ini berbeda dengan yang dilakukan sebagian orang yang tidak peduli apakah masih menempel sisa makanan di tangannya atau tidak. Ini menyelisihi muru-ah.

Anjuran untuk menjilati sisa makanan pada tangan atau dijilati oleh orang lain itu adalah apabila tidak menimbulkan mudharat, seperti misalkan di tangan itu ada luka yang tidak nampak atau di mulutnya ada luka (disarikan dari Fathu Dzil Jalaali wal Ikraam karya Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin (6/255)).

Perbuatan menjilati (sisa makanan) itu bukanlah sesuatu hal yang menjijikkan. Meskipun demikianlah yang disangka oleh orang yang rusak akalnya dan berubah tabiatnya (dari fitrah). Karena Nabi shollallahu alaihi wasallam tidaklah memerintahkan kepada hal yang menjijikkan dan buruk. Semua yang beliau perintahkan adalah al-haq (kebenaran) (Ta’siisul Ahkam syarh Umdatil Ahkam karya Syaikh Ahmad bin Yahya anNajmiy (5/151)).

Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 KHUTBAH JUMAT: TANDA-TANDA KEBAHAGIAAN


KHOTBAH PERTAMA:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي ظَهَرَ لِأَوْلِيَائِهِ بِنُعُوْتِ جَلَالِهِ . وَأَنَارَ قُلُوْبَ أَصْفِيَائِهِ بِمُشَاهَدَةِ صِفَاتِ كَمَالِهِ . وَتَحَبَّبَ إِلَى عِبَادِهِ بِمَا أَسْدَاهُ إِلَيْهِمْ مِنْ إِنْعَامِهِ وَإِفْضَالِهِ . أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ حَمْدَ عَبْدٍ أَخْلَصَ لِلَّهِ فِي أَقْوَالِهِ وَأَفْعَالِهِ . وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَلاَ مُعِيْنَ فِي تَدْبِيْرِهِ وَأَفْعَالِهِ . وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ نَبِيٌّ أَنْعَمَ اللهُ عَلَى جَمِيْعِ أَهْلِ الْأَرْضِ بِبَعْثِهِ وَإِرْسَالِهِ . اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى جَمِيْعِ أَصْحَابِهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كثيراً
قال الله تعالى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

Saudaraku kaum muslimin rahimakumullah…

Sebagian Ulama menjelaskan bahwa tanda kebahagiaan bagi seseorang adalah jika diberi nikmat bersyukur, jika diuji bersabar, dan jika melakukan kesalahan atau dosa memohon ampunan.


1⃣ Tanda kebahagiaan yang pertama adalah jika dia diberi nikmat, ia bersyukur. Allah Ta’ala tidak akan mengadzab orang beriman yang bersyukur.

مَا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآَمَنْتُمْ وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا

Apa perlunya Allah mengadzab kalian jika kalian bersyukur dan beriman? Sesungguhnya Allah adalah Yang Maha Bersyukur (membalas kebaikan yang sedikit dengan pembalasan yang banyak) lagi Maha Mengetahui (Q.S anNisaa’ ayat 147)

Bagian dari perbuatan syukur adalah mengungkapkan kalimat pujian kepada Allah secara lisan, meyakini bahwa nikmat itu adalah berasal dari Allah, kemudian memanfaatkan nikmat itu untuk taat kepada Allah. Bagian dari perbuatan syukur pula adalah meninggalkan perbuatan-perbuatan dosa.

Termasuk bersyukur kepada Allah adalah berterimakasih kepada orang-orang yang berjasa dan berbuat baik kepada kita.

لَا يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ

Tidaklah bersyukur kepada Allah orang yang tidak bersyukur (berterimakasih) kepada manusia (H.R Abu Dawud dari Abu Hurairah)

Alhamdulillah, kita bersyukur pemerintah kita di Indonesia memiliki perhatian dan komitmen yang tinggi untuk kemaslahatan rakyatnya. Termasuk dalam hal pencegahan maupun pengobatan terhadap Covid-19. Seperti penyediaan vaksin yang gratis. Itu bagian yang harus kita syukuri dan kita dukung. Sebagaimana imbauan pemerintah untuk menjalankan protokol kesehatan. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufiq dan pertolongan kepada para pemimpin kita.


2⃣ Tanda kebahagiaan yang kedua adalah jika seseorang diberi ujian, ia bersabar. Ia bersabar untuk tetap taat kepada Allah. Ia bersabar untuk tetap meninggalkan hal-hal yang dilarang. Ia pun bersabar terhadap takdir Allah Azza Wa Jalla.

Bersyukur saat mendapat nikmat dan bersabar ketika mendapatkan musibah adalah karakteristik orang yang beriman. Maka orang beriman yang menerapkan hal itu akan selalu berlimpah pahala. Pahala syukur saat mendapat nikmat, dan pahala sabar saat mendapat musibah.

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:

عَجِبْتُ لِلْمُؤْمِنِ إِذَا أَصَابَهُ خَيْرٌ حَمِدَ اللَّهَ وَشَكَرَ وَإِنْ أَصَابَتْهُ مُصِيبَةٌ حَمِدَ اللَّهَ وَصَبَرَ فَالْمُؤْمِنُ يُؤْجَرُ فِي كُلِّ أَمْرِهِ

Aku takjub dengan keadaan orang yang beriman. Jika ia ditimpa kebaikan, ia memuji Allah dan bersyukur. Jika ia ditimpa musibah, ia memuji Allah dan bersabar. Seorang yang beriman akan mendapatkan pahala dalam seluruh perkaranya (H.R Ahmad, dinyatakan sanadnya shahih oleh Syaikh Ahmad Syakir)

Kondisi kita di masa pandemi ini benar-benar membutuhkan kesabaran. Di antaranya bersabar untuk tetap menerapkan protokol kesehatan sesuai imbauan pemerintah. Serta berbagai bentuk kesabaran yang lain.

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa memberikan taufiq dan pertolongan kepada kita semua.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHOTBAH KEDUA:

الْحَمْدُ للهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا ، فَصَّلَ وَبَيَّنَ وَقَرَّرَ صِرَاطاً مُسْتَقِيْماً وَمَنْهَجاً . وَنَصَبَ وَوَضَّحَ مِنْ بَرَاهِيْنِ مَعْرِفَتِهِ وَتَوْحِيْدِهِ سُلْطَاناً مُبِيناً وَحُجَجاً . أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ حَمْدَ عَبْدٍ جَعَلَ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا ، وَمِنْ كُلِّ ضَيْقٍ مَخْرَجًا . وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، شَهَادَةً تَرْفَعُ الصَّادِقِيْنَ إِلَى مَنَازِلِ الْمُقَرَّبِيْنَ دَرَجًا . وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِي وَضَعَ اللهُ بِرِسَالَتِهِ عَنِ الْمُكَلَّفِيْنَ آصَاراً وَأَغْلَالًا وَحَرَجًا . اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ خَيْرِ الْأَنَامِ طَرِيْقَةً وَأَهْدَاهُمْ مَنْهَجاً . وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كثيراً
قال الله تعالى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Saudaraku kaum muslimin rahimakumullah…


3⃣ Tanda kebahagiaan yang ketiga adalah jika seseorang melakukan perbuatan dosa, ia memohon ampunan kepada Allah. Bertobat dari dosa tersebut dengan sebenar- benarnya.

Allah Azza Wa Jalla berfirman:

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ (135) أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ (136)

Dan orang-orang yang jika melakukan perbuatan keji atau mendzhalimi diri mereka sendiri, mereka mengingat Allah dan memohon ampunan terhadap dosa-dosa mereka. Dan tidak ada yang bisa mengampuni dosa-dosa kecuali Allah. Kemudian mereka tidak terus melakukan perbuatan dosa itu dalam keadaan mengetahuinya. Mereka itu balasannya adalah ampunan dari Rabb mereka dan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Sungguh baik balasan untuk orang-orang yang beramal (sholih)(Q.S Ali Imran ayat 135-136)

Para Ulama menjelaskan syarat tobat yang sebenar-benarnya adalah meninggalkan perbuatan itu, menyesali perbuatannya, dan bertekad kuat untuk tidak mengulangi lagi selama-lamanya. Apabila hak itu terkait hak hamba Allah yang lain, ia berusaha mengembalikan hak itu atau minta dihalalkan (meminta maaf).

Saudaraku kaum muslimin rahimahukumullah…

Banyaklah beristighfar memohon ampunan kepada Allah. Baik untuk diri kita sendiri, orangtua kita, maupun seluruh kaum beriman. Barang siapa yang memohonkan ampunan untuk kaum beriman, maka ia akan mendapat catatan pahala kebaikan sebanyak orang beriman tersebut. Subhanallah, sungguh sangat banyak.

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنِ اسْتَغْفَرَ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ لِلْمُؤْمِنَاتِ كَتَبَ اللهُ لَهُ بِكُلِّ مُؤْمِنٍ وَمُؤْمِنَةٍ حَسَنَةً

Barangsiapa yang beristighfar untuk orang beriman laki-laki dan wanita maka Allah akan catatkan kebaikan untuknya sebanyak jumlah orang-orang beriman laki-laki dan wanita (hadits dalam Shahihul Jami’)
Lafadz istighfar tersebut bisa berupa:

"Allaahummaghfir lii wa lil mukminin wal mukminaat atau Robbighfir lii wa lil mukminiin wal mukminaat", dan semisalnya.

Bisa juga dengan doa dalam bahasa yang kita pahami sendiri:

"Ya Allah, ampunilah aku dan seluruh orang beriman laki-laki dan wanita".

Semoga Allah Ta’ala senantiasa melimpahkan rahmat, taufiq, pertolongan dan ampunan-Nya kepada kita dan segenap kaum beriman.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَات إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَات
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الْأَخْلَاقِ وَالْأَعْمَالِ وَالْأَهْوَاءِ وَالْأَدْوَاءِ
اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَأَجِرْنَا مِنْ مُضِلَّاتِ الْفِتَنِ مَا أَحْيَيْتَنَا
اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْوَبَاءَ وَالْفِتَنَ
اللهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا... اللهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا... اللهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا...
رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ
وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ
عِبَادَ اللهِ ,"إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 ORANG TUA HARUS MENJADI TELADAN BAGI ANAKNYA DAN BERSIKAP ADIL TERHADAP MEREKA

[Kutipan khutbah Asy Syaikh Sholih Al-Fauzan hafizhohullah]


Bertakwalah kalian kepada Allah wahai hamba-hamba Allah...

Hendaknya orangtua menjadi teladan yang baik bagi anaknya sebelum segala sesuatunya. Ia juga harus bisa menjadi teladan bagi dirinya sendiri. Lalu apa yang akan terjadi jika orangtua adalah sosok yang rusak, selalu bergelimang dengan hal-hal buruk, meninggalkan shalat, terlelap dalam tidur hingga tidak melaksanakan shalat.

Ia tidak pernah pulang ke rumah kecuali hanya untuk makan atau minum, karena hidupnya diisi dengan bersenang-senang di tempat-tempat hiburan, bepergian kemana-mana, dan lain-lainnya. Ia tidak pernah menanyakan keadaan anaknya.

Begitulah sosok orangtuanya, orangtua yang layaknya hewan. Bukan sosok orangtua yang mampu mengemban pertanggungjawaban di hadapan Allah subhanahu wata’ala.

Jadilah anda teladan yang baik untuk anak anda sebelum segala sesuatunya. Jangan lupakan pula doa kebaikan untuk mereka.

▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️

Silakan baca artikel lainnya

https://itishom.org/blog/artikel/nasihat/anak-adalah-ujian-bagi-orangtua/

https://itishom.org/blog/artikel/fatwa/bolehkah-seorang-ayah-memaksa-putrinya-untuk-menikah/

https://itishom.org/blog/artikel/nasihat/nasihat-asy-syaikh-abdul-aziz-bin-baaz-rahimahullah-bagi-para-wali-santri/

▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️

Ibrohim alaihissalam berkata mendoakan keturunan beliau:

وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الأَصْنَامَ

Dan jauhkanlah aku dan keturunanku dari peribadahan kepada berhala. (QS. Ibrahim: 35)

Beliau alaihissalam selalu menyertakan anak-anaknya dalam doa yang beliau panjatkan:

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

Wahai Rabbku, jadikan aku dan keturunanku orang-orang yang selalu melaksanakan shalat. Duhai Rabb kami, perkenankanlah doaku. (QS. Ibrahim: 40)

Doakan selalu anak-anak anda dengan tetap menempuh berbagai sebab demi pendidikan mereka! Mintalah kepada Allah agar Dia membantu anda dan memperbaiki keadaan mereka! Bersihkan rumah anda dari segala media perusak, sarana-sarana komunikasi yang merusak, nyanyian, alat-alat musik, dan gambar-gambar tak senonoh! Jika tidak, rumah anda akan menjadi sarang kerusakan.

Jadikan rumah anda sebagai tempat yang suci, digunakan untuk beribadah dan berdzikir kepada Allah, tiada terdengar darinya kecuali bacaan dzikir, bacaan alQuran, kata-kata yang baik dan bersih dari segala kotoran.

Ajari anak anda ilmu dan menghafal alQuran! Pilihkan untuknya sekolah yang baik, yang pimpinan, para pengajar, serta para siswanya adalah orang-orang yang baik pula.

Masukkan ia ke sekolah yang bagus! Teruslah mengontrolnya dalam kegiatan belajar yang ia lalui. Berikan kepadanya bantuan dan motivasi agar terus bersemangat.

Jika anda ingin memberi sesuatu kepada salah satu anak anda berikan pula yang sama kepada yang anak anda yang lain. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

اتَّقُوا اللَّهَ وَاعْدِلُوا بين أَوْلاَدِكُمْ

Bertakwalah kalian kepada Allah dan bersikap adillah terhadap anak-anak kalian. (Muttafaqun alaihi)

Suatu ketika ada seorang sahabat Nabi yang ingin memberikan sesuatu kepada salah seorang anaknya. Lalu istrinya mengatakan, (jangan dulu) sampai engkau meminta persaksian kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Ia pun berangkat menemui beliau shallallahu alaihi wasallam untuk meminta persaksian atas pemberiannya untuk sang anak.

Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertanya, ‘apakah seluruh anakmu engkau berikan yang serupa?’
Ia menjawab, tidak.

Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ‘Mintalah persaksian dari selainku, sungguh aku tidak akan mempersaksikan sebuah ketidakadilan.’

Beliau shallallahu alahi wasallam juga bersabda: ‘Tidakkah membuatmu senang jika mereka itu sama dalam kebaikan?’ Orang itu menjawab, tentu. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melanjutkan: ‘Jika begitu, tidak (akan aku berikan persaksian untuk itu).’


◽️◽️◽️◽️◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Sampaipun dalam masalah berbicara. Saat anak-anak anda hadir semua jangan engkau khususkan salah satu dari mereka untuk mengobrol dan tertawa bersamanya. Anda juga memuji-mujinya.

Namun seharusnya anda perhatikan pula yang lain, bercengkeramalah bersama semuanya, semangati mereka semua, dan doakan kebaikan untuk semuanya.

Walaupun anak-anakmu yang lain memang di bawah anak yang anda cintai tadi, namun sesungguhnya mereka semua adalah anakmu dan semuanya memiliki hak yang harus anda tunaikan.



🇸🇦 Teks Arab:

فاتقوا الله عباد الله، فليكون الوالد قدوة صالحة لولده قبل كل شيء، قدوة هو في نفسه يكون قدوة فكيف إذا كان الوالد فاسدًا يمارس الفساد، يضيع الصلاة، ينام عن الصلاة لا يأتي إلى البيت إلا للأكل والشرب وإلا فإنه في الاستراحات وقصور الأفراح والرحلات وغير ذلك، ولا يسأل عن أولاده، هذا والد، هذا والد بهيمي، ليس والداً يتحمل المسئولية أمام الله سبحانه وتعالى،
كن قدوة صالحة لأولادك قبل كل شيء، أيضا الدعاء للأولاد، إبراهيم عليه السلام قال: (وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الأَصْنَامَ)، أشرك بنيه معه في الدعوة: (رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ)، أدعو لأولادك مع فعل السبب في تربيتهم، أدعو الله أن يعينك وأن يصلحهم، أخلي بيتك من وسائل الفساد، وسائل الاتصالات الفاسدة من الأغاني والمزامير والصور الخليعة وإلا سيكون بيتك وكرًا للفساد،
أجعل بيتك طاهرًا محل عبادة وذكر لله، لا يسمع فيه إلا الذكر، وتلاوة القرآن، والكلام الطيب، الكلام البريء النزيه، علم ولدك أو شيء حفظ ولدك القرآن، واختر له المدرسة الصالحة بمديرها وبمدرسيها، وبطلابها،
اختر له المدرسة الصالحة وتابعه في دراسته وسأل عنه، وساعده على الدراسة وشجعه عليها، إذا أعطيت ولدك بعض أولادك عطية فأعطي الآخرين مثله، قال صلى الله عليه وسلم: اتَّقُوا اللَّهَ وَاعْدِلُوا بين أَوْلاَدِكُمْ ، وهب رجل من الصحابة هبةً لولده فقالت أمه حتى تشهد رسول الله صلى الله عليه وسلم، فذهب ليشهد الرسول على عطية ولده قال صلى الله عليه وسلم: أَكُلَّ وَلَدِكَ أَعْطَيْتَهُم مثل هَذَا ، قال: لا، قال: أشهد على هذا غيري، فَإِنِّي لاَ أَشْهَدُ عَلَى جَوْرٌ ، وقال صلى الله عليه وسلم: أَيَسُرُّكَ أَنْ يَكُونُوا لكَ فِي الْبِرِّ سَوَاءً ، قال: نعم، قال: فَلاَ إِذًا ،
يعني: لا تعطي بعضهم وتترك الآخرين، حتى الكلام إذا كانوا حاضرين لا تخص واحدًا منهم بالكلام والضحك معه، والثناء عليه؛ بل لاحظ الآخرين تكلم مع الجميع، شجع الجميع، أدعو للجميع، ولو كانوا دون مستوى هذا الذي يعجبك، فهم أبناءك كلهم، وكلهم حقهم عليك.

Sumber : https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/14450
Diterjemahkan oleh Abu Dzayyal Muhammad Wafi hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
SABAR DAN MENELITI (TATSABBUT)
::
📬 ISTIQOMAH MENJAGA KEISLAMAN SAMPAI MATI

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

...dan janganlah sekali-kali kalian meninggal, kecuali dalam keadaan sebagai muslim (Q.S Ali Imran ayat 102)

عَنْ أَبِي أَبِي عَمْرَةَ سُفْيَانُ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ قُلْ لِي فِي اْلإِسْلاَمِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَداً غَيْرَكَ. قَالَ: قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ

Dari Abu ‘Amrah Sufyan bin ‘Abdillah radhiyallahu anhu, ia berkata: "Aku telah berkata: ‘Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku tentang Islam, suatu perkataan yang aku tak akan menanyakannya kepada seorang pun kecuali kepadamu’. Bersabdalah Rasululloh ﷺ: ‘Katakanlah: Aku telah beriman kepada Allah, kemudian beristiqamahlah kamu’“.(HR. Muslim)

Istiqomah bukanlah berarti seseorang tidak pernah berbuat dosa sama sekali. Namun seharusnya saat ia tergelincir, ia kembali bangkit memohon ampunan kepada Allah, dan berusaha untuk istiqomah lagi. Karena itu, Allah gandengkan perintah istiqomah dengan perintah beristighfar.

...فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ...

...maka bersikaplah istiqomah kepadaNya, dan memohonlah ampunan (beristighfarlah) kepadaNya…(Q.S Fushshilat:6)

Ibnu Rojab menyatakan: ayat ini merupakan isyarat bahwasanya dalam upaya beristiqomah pasti mengandung kekurangan, sehingga ditutupi dengan istighfar yang mengharuskan adanya taubat dan kembali untuk bersikap istiqomah. Hal ini juga seperti sabda Nabi kepada Muadz (bin Jabal): Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa, dan ikutkanlah perbuatan kebaikan setelah perbuatan keburukan, niscaya (kebaikan) itu akan menghapusnya (keburukan) (Jaami’ul Uluum wal Hikam (1/205))

Nabi juga telah menyatakan bahwa seseorang tidak akan mungkin bisa berbuat istiqomah dengan sebenar-benarnya istiqomah (secara sempurna tanpa cacat sedikitpun):

اسْتَقِيمُوا وَلَنْ تُحْصُوا...

Bersikaplah istiqomah, (namun kalian) tidak akan mampu bersikap demikian (secara sempurna)…(H.R Ahmad, Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh al-Albany)

Rasulullah ﷺ juga menyatakan:

سَدِّدُوا وَقَارِبُوا

Berusahalah untuk mengerjakan kebaikan secara tepat benar (tidak melampaui batas dan tidak pula kurang darinya), (jika tidak bisa) usahakan mendekati (H.R alBukhari dan Muslim, disarikan dari Jaami’ul Ulum wal Hikam karya Ibnu Rojab (1/205)).

Berikut ini beberapa langkah yang bisa ditempuh agar seseorang bisa istiqomah di atas keislaman dan keimanannya.

1⃣ BERDOA KEPADA ALLAH

Seperti doa dalam al-Qur’an:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau menyimpangkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk. Anugerahkan kepada kami rahmat dari sisiMu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi Anugerah (Q.S Aali Imran:8)

Demikian juga doa yang banyak dibaca Nabi ﷺ:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

Wahai (Allah) Pembolak-balik hati, tetapkanlah hatiku di atas agamamu (H.R atTirmidzi, anNasaai, Ahmad, dishahihkan oleh al-Hakim dan al-Albany)


2⃣ MENJAGA HATI DAN LISAN

Hal paling awal yang harus dijaga agar seseorang bisa istiqomah adalah menjaga hati. Jika hati seseorang baik, maka akan baik anggota tubuhnya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits anNu’man bin Basyir riwayat al-Bukhari dan Muslim:

وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

Ingatlah bahwa di dalam jasad terdapat segumpal daging. Jika baik, maka baiklah seluruh jasad. Jika rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, bahwa (segumpal daging) itu adalah hati (H.R alBukhari dan Muslim)

Setelah menjaga hati, selanjutnya adalah menjaga lisan agar tidak mengucapkan ucapan-ucapan yang dilarang Allah.

إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الْأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ فَتَقُولُ اتَّقِ اللَّهَ فِينَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنْ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنْ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا
Pada pagi hari, seluruh anggota tubuh anak Adam semuanya tunduk pada lisan, dan berkata: (wahai lisan), bertakwalah kamu kepada Allah atas (keselamatan) kami.Karena keadaan kami tergantung engkau.Jika engkau istiqomah, kami akan istiqomah. Jika engkau menyimpang, kami (juga) menyimpang (H.R atTirmidzi dari Abu Said al-Khudry, al-Munawy menyatakan bahwa sanadnya shohih dalam Faydhul Qodiir)

Sesuai juga dengan kelanjutan lafadz hadits ini, bahwa setelah Rasul memberikan wasiat untuk beriman dan beristiqomah, Sahabat Nabi Sufyan bin Abdillah bertanya lagi:

مَا أَكْثَرُ مَا تَخَافُ عَلَيَّ

Apakah yang paling banyak engkau takutkan terhadapku?

فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِلِسَانِ نَفْسِهِ ثُمَّ قَالَ هَذَا

Kemudian Rasulullah ﷺ memegang lisan beliau sendiri, kemudian berkata: Ini (riwayat Ibnu Majah, dishahihkan oleh al-Hakim dan disepakati adz-Dzahaby)

Hal itu menunjukkan bahwa untuk bisa istiqomah, seseorang harus menjaga lisannya.


3⃣ SELALU MENGKAJI AQIDAH YANG SHAHIH DAN PRINSIP-PRINSIP UTAMA DALAM ISLAM DAN IMAN

Para Ulama’ telah menulis prinsip-prinsip aqidah yang shahih dalam Islam, seperti Ashlus Sunnah wa I’tiqodud Dien karya Ibnu Abi Hatim, Ushulus Sunnah karya Imam Ahmad, Syarhus Sunnah karya al-Muzany maupun al-Barbahary, dan karya-karya Ulama Ahlussunnah setelahnya. Banyaklah mengikuti kajian-kajian ilmiyyah, membaca buku, mendengarkan rekaman untuk kajian ilmu yang dibimbing oleh orang yang berilmu, beraqidah dan bermanhaj lurus.

Karena sepanjang kehidupan kita akan sering ditemui syubhat-syubhat dan penyimpangan dalam hal aqidah atau dalam hal muamalah. Kuatkan pondasi ilmu kita, agar tidak mudah goyah dan terpengaruh dengan berbagai penyimpangan yang ada.

Sebaliknya, jauhilah bacaan-bacaan atau ceramah-ceramah yang menyimpang dari aqidah yang benar dan ajaran Rasulullah ﷺ.


4⃣ SELALU BERKUMPUL BERSAMA ORANG-ORANG YANG BERAQIDAH DAN BERMANHAJ LURUS, ORANG-ORANG SHALIH DAN BERSABAR DI ATAS MANHAJ YANG LURUS

عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ وَهُوَ مِنْ الِاثْنَيْنِ أَبْعَدُ

Wajib atas kalian untuk bersatu dalam al-Jamaah, hati-hatilah dari perpecahan. Karena syaithan bersama 1 orang (yang menyendiri), dan terhadap 2 orang syaithan lebih jauh (H.R atTirmidzi, anNasaai, dishahihkan oleh al-Hakim dan al-Albany)

Jika seseorang menyendiri, akan mudah dipengaruhi oleh syaithan. Berbeda dengan jika ia sering berkumpul bersama komunitas yang sarat dengan ilmu, iman, amal sholih, dakwah, amar ma’ruf nahi munkar di atas Tauhid dan Sunnah Rasul ﷺ dengan pemahaman para Sahabat Nabi dan Ulama’ Ahlussunnah yang mengikuti mereka dengan baik. Tinggalkanlah komunitas orang-orang yang lalai dari mengingat Allah, atau komunitas yang banyak melakukan kesyirikan, kebid’ahan, atau kemaksiatan.


5⃣ BANYAK BERAMAL SHOLIH DI ATAS SUNNAH NABI

Memperbanyak amal sholih yang ikhlas karena Allah dan sesuai dengan bimbingan Rasulullah ﷺ adalah tameng dari fitnah yang membahayakan agama seseorang.

بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا

Bersegeralah beramal (sebelum datang) fitnah, bagaikan potongan malam yang gelap. Pagi harinya seorang masih mukmin, sorenya menjadi kafir. Atau, sorenya masih mukmin paginya kafir. Ia menjual agamanya (ditukar) dengan kepentingan dunia (H.R Muslim)


6⃣ BERSABAR KARENA ALLAH DALAM MENJALANI KEHIDUPAN DUNIA

Ia hendaknya menjalankan kesabaran dalam semua sisinya, yaitu :

a. Sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah Ta’ala.
b. Sabar dalam menjauhi hal-hal yang dilarang (kesyirikan/ kekafiran, kemaksiatan, dan kebid’ahan).
c. Sabar dalam menerima takdir Allah Azza Wa Jalla.

Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan istiqomah kepada kita di atas Islam dan sunnah hingga kita meninggal dunia.

Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah | WA al I'tishom

💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah

◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Ketika Kalbu/ Hati Sakit