7). Undangan disampaikan secara khusus
Jika diundang secara khusus (orang per orang) maka wajib datang.
Contoh: diberi undangan tertulis dan tertera namanya dalam undangan tersebut. Atau, undangan secara khusus dengan ucapan: Anda harus datang, ya... Maka yang demikian wajib didatangi. Tapi kalau undangannya secara umum, tidak wajib. Contoh: Seluruh muslim yang ada di kampung ini, silakan datang semua. (disarikan dari penjelasan Syaikh al-Utsaimin dalam alQoulul Mufiid dan Syarh Riyadis Sholihin)
3. JIKA IA MEMINTA NASIHAT, BERIKANLAH NASIHAT
Apabila saudara kita meminta nasihat, arahkanlah pada sesuatu yang memberikan maslahat pada dia sesuai dengan yang kita ketahui. Jangan mengarahkan pada hal yang buruk pada dia.
4. JIKA IA BERSIN DAN MEMUJI ALLAH, DOAKANLAH RAHMAT UNTUKNYA
Apabila saudara kita bersin, namun tidak mengucap alhamdulillah, ia tidak perlu didoakan dengan yarhamukallah. Jika bersinnya lebih dari 3 kali, hal itu adalah karena penyakit, didoakan kesembuhan.
5. JIKA IA SAKIT, JENGUKLAH
Sakit yang perlu dijenguk adalah jika dengan sebabnya itu ia tidak bisa keluar rumah atau keluar dari tempat perawatannya (disarikan dari Fathu Dzil Jalaali wal Ikram karya Syaikh Ibn Utsaimin).
Tujuan menjenguk adalah memberikan kegembiraan dan mendoakan kesembuhannya (disarikan dari Tashilul Ilmaam karya Syaikh Sholih al-Fauzan).
Seorang yang menjeguk saudaranya di pagi hari, 70 ribu Malaikat akan mendoakan dia sampai sore. Apabila ia menjenguk saudaranya di sore hari, 70 ribu Malaikat akan mendoakan hingga pagi. Sebagaimana hadits Ali riwayat Abu Dawud, atTirmidzi, dan lainnya.
6. JIKA IA MENINGGAL DUNIA, IRINGILAH IA (UNTUK DISHALATKAN ATAU DIMAKAMKAN)
Barangsiapa yang sholat jenazah dan tidak ikut mengantarkannya maka ia mendapatkan 1 qirath. Jika ia mengantarkannya (juga ke kubur) maka ia mendapatkan 2 qirath (H.R Muslim)
Mengiringi jenazah seharusnya dalam suasana yang khidmat, hening dan tidak mengangkat suara. Termasuk juga tidak mengeraskan suara dengan dzikir Laa Ilaaha Illallaah atau dzikir lainnya.
عَنْ قَيْسِ بْنِ عَبَّادٍ قَالَ : كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَكْرَهُونَ رَفْعَ الصَوْتِ عِنْدَ الْجَنَائِزِ وَعِنْدَ الْقِتَالِ وَعِنْدَ الذِّكْرِ
Dari Qois bin Abbad beliau berkata: Para Sahabat Rasulullah shollallahu alaihi wasallam membenci mengangkat suara pada saat (mengiringi) jenazah, ketika berperang, dan ketika berdzikir (riwayat al-Baihaqy dalam as-Sunanul Kubro, Syaikh al-Albaniy menyatakan bahwa para perawinya terpercaya dalam Ahkaamul Janaaiz)
anNawawy rahimahullah –seorang Ulama’ Syafiiyyah- menyatakan:
“Ketahuilah bahwasanya yang benar dan pendapat terpilih dari perbuatan para Ulama’ Salaf radhiyallahu anhum adalah diam ketika berjalan mengiringi jenazah. Tidak mengangkat suara dengan bacaan atau dzikir, atau ucapan lain. Hikmahnya jelas. Yang demikian lebih menenangkan hati, mengumpulkan pikiran terkait jenazah (mengingat kematian, pent). Itulah yang diharapkan dalam kondisi semacam itu. Inilah yang benar. Janganlah terperdaya dengan banyaknya orang yang menyelisihinya (al-Adzkaar karya anNawawy (1/160))
Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Jika diundang secara khusus (orang per orang) maka wajib datang.
Contoh: diberi undangan tertulis dan tertera namanya dalam undangan tersebut. Atau, undangan secara khusus dengan ucapan: Anda harus datang, ya... Maka yang demikian wajib didatangi. Tapi kalau undangannya secara umum, tidak wajib. Contoh: Seluruh muslim yang ada di kampung ini, silakan datang semua. (disarikan dari penjelasan Syaikh al-Utsaimin dalam alQoulul Mufiid dan Syarh Riyadis Sholihin)
3. JIKA IA MEMINTA NASIHAT, BERIKANLAH NASIHAT
Apabila saudara kita meminta nasihat, arahkanlah pada sesuatu yang memberikan maslahat pada dia sesuai dengan yang kita ketahui. Jangan mengarahkan pada hal yang buruk pada dia.
4. JIKA IA BERSIN DAN MEMUJI ALLAH, DOAKANLAH RAHMAT UNTUKNYA
Apabila saudara kita bersin, namun tidak mengucap alhamdulillah, ia tidak perlu didoakan dengan yarhamukallah. Jika bersinnya lebih dari 3 kali, hal itu adalah karena penyakit, didoakan kesembuhan.
5. JIKA IA SAKIT, JENGUKLAH
Sakit yang perlu dijenguk adalah jika dengan sebabnya itu ia tidak bisa keluar rumah atau keluar dari tempat perawatannya (disarikan dari Fathu Dzil Jalaali wal Ikram karya Syaikh Ibn Utsaimin).
Tujuan menjenguk adalah memberikan kegembiraan dan mendoakan kesembuhannya (disarikan dari Tashilul Ilmaam karya Syaikh Sholih al-Fauzan).
Seorang yang menjeguk saudaranya di pagi hari, 70 ribu Malaikat akan mendoakan dia sampai sore. Apabila ia menjenguk saudaranya di sore hari, 70 ribu Malaikat akan mendoakan hingga pagi. Sebagaimana hadits Ali riwayat Abu Dawud, atTirmidzi, dan lainnya.
6. JIKA IA MENINGGAL DUNIA, IRINGILAH IA (UNTUK DISHALATKAN ATAU DIMAKAMKAN)
Barangsiapa yang sholat jenazah dan tidak ikut mengantarkannya maka ia mendapatkan 1 qirath. Jika ia mengantarkannya (juga ke kubur) maka ia mendapatkan 2 qirath (H.R Muslim)
Mengiringi jenazah seharusnya dalam suasana yang khidmat, hening dan tidak mengangkat suara. Termasuk juga tidak mengeraskan suara dengan dzikir Laa Ilaaha Illallaah atau dzikir lainnya.
عَنْ قَيْسِ بْنِ عَبَّادٍ قَالَ : كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَكْرَهُونَ رَفْعَ الصَوْتِ عِنْدَ الْجَنَائِزِ وَعِنْدَ الْقِتَالِ وَعِنْدَ الذِّكْرِ
Dari Qois bin Abbad beliau berkata: Para Sahabat Rasulullah shollallahu alaihi wasallam membenci mengangkat suara pada saat (mengiringi) jenazah, ketika berperang, dan ketika berdzikir (riwayat al-Baihaqy dalam as-Sunanul Kubro, Syaikh al-Albaniy menyatakan bahwa para perawinya terpercaya dalam Ahkaamul Janaaiz)
anNawawy rahimahullah –seorang Ulama’ Syafiiyyah- menyatakan:
“Ketahuilah bahwasanya yang benar dan pendapat terpilih dari perbuatan para Ulama’ Salaf radhiyallahu anhum adalah diam ketika berjalan mengiringi jenazah. Tidak mengangkat suara dengan bacaan atau dzikir, atau ucapan lain. Hikmahnya jelas. Yang demikian lebih menenangkan hati, mengumpulkan pikiran terkait jenazah (mengingat kematian, pent). Itulah yang diharapkan dalam kondisi semacam itu. Inilah yang benar. Janganlah terperdaya dengan banyaknya orang yang menyelisihinya (al-Adzkaar karya anNawawy (1/160))
Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 DUKUNGAN KITA TERHADAP MUSLIM PALESTINA
Penderitaan seorang muslim di mana pun selayaknya juga dirasakan oleh muslim lainnya.
الْمُسْلِمُونَ كَرَجُلٍ وَاحِدٍ إِنِ اشْتَكَى عَيْنُهُ اشْتَكَى كُلُّهُ وَإِنِ اشْتَكَى رَأْسُهُ اشْتَكَى كُلُّهُ
Kaum muslimin bagaikan seorang laki-laki yang satu. Jika matanya sakit, seluruh anggota tubuh lain juga merasa sakit. Jika kepalanya merasakan sakit, seluruh anggota tubuh lain juga merasa sakit (H.R Muslim dari anNu’maan bin Basyiir)
Namun keresahan dan keprihatinan kita jangan sampai membuat kita berbuat keluar dari koridor syariat sesuai arahan para Ulama Ahlussunnah.
Contohnya, berinisiatif untuk berangkat sendirian atau berombongan dalam rangka berjihad melakukan pertempuran fisik ke Palestina. Padahal pemerintah Indonesia tidak memfasilitasi dan mengizinkan. Itu adalah tindakan yang tidak dibenarkan. Karena salah satu ketentuan jihad yang syar’i adalah di bawah komando pemimpin muslim (waliyyul amr).
Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:
إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
Sesungguhnya pemimpin adalah tameng yang (kaum muslimin) berperang di depannya (berdasarkan komando dan arahannya) dan mereka pun berlindung di baliknya (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)
Al-Qurthubiy rahimahullah menyatakan: Seakan-akan beliau bersabda: yang wajib atau harus dilakukan adalah berperang di depan (sesuai arahan) pemimpin. Jangan sampai seorang berperang sendirian sehingga mengarahkan dirinya pada kebinasaan. Sehingga ia bersama orang yang berperang (tanpa arahan pemimpin) juga binasa (al-Mufhim (12/81)).
Ibnu Hubairah rahimahullah menyatakan: yang demikian itu karena jika seorang mujahid berperang di bawah bendera (komando) pemimpin, bergabungnya ia dalam pasukan itu adalah tameng baginya dari neraka, dan ia terlindung dari kemurkaan Allah Azza Wa Jalla (al-Ifshah ‘an Ma’aaniy as-Shihaah (6/176)).
Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad rahimahullah menyatakan: Pemimpin adalah tameng yang dengannya (kaum muslimin) berperang. Orang-orang berperang mengikuti arahan pemimpin itu, bermakmum di belakangnya. Pemimpinlah yang menjadi rujukan dalam berperang atau mengadakan perjanjian (dengan musuh). Rakyat mengikuti dan tidak berbuat mendahului pemimpin. Mereka (harusnya) berjalan sesuai perintah dan arahan pemimpin. Pemimpinlah yang mengatur pasukan, mengirim pasukan, mengatur siapa yang di depan dan siapa yang di belakang. Pemimpin (harus) diikuti dalam hal itu. Pemimpin pula yang menentukan apakah perlu mengadakan perjanjian damai (dengan musuh). Tidak boleh masing-masing individu berbuat tanpa arahannya (syarh Sunan Abi Dawud (15/73)).
Contoh lain yang tidak sesuai dengan bimbingan syariat adalah imam shalat Ied berinisiatif untuk qunut nazilah dalam shalat Ied, tanpa imbauan dan perintah dari Waliyyul Amr. Selain memang posisi qunut hanyalah pada shalat wajib berupa qunut nazilah atau qunut dalam shalat witir. Sebagaimana difatwakan al-Lajnah ad-Daaimah dalam pertanyaan ke-8 pada fatwa nomor 17332. Artinya, tidak disyariatkan qunut dalam shalat Ied. Qunut nazilah dalam shalat wajib pun semestinya hanya dilakukan jika ada imbauan atau perintah dari waliyyul amr.
Hampir selalu berulang peristiwa penindasan saudara muslim kita di Palestina. Namun, sekali lagi, jangan sampai perasaan dan emosi kita mengalahkan ketundukan pada syariat. Nabi dan para Sahabat adalah orang-orang yang paling bertakwa. Mereka pun sosok-sosok pemberani yang siap berjuang membela agama Allah.
Namun, ada kepingan sejarah dalam kehidupan Nabi dan para Sahabat saat mereka dalam posisi lemah. Di saat itu Allah tidak memerintahkan kepada mereka berperang. Justru diperintah untuk sabar, memperbaiki diri dan kaum muslimin, hingga berhijrah menyusun kekuatan besar. Saat tidak diperintah untuk berperang atau belum disyariatkan berperang, Nabi dan para Sahabatnya hanya bisa bersabar dan saling menguatkan untuk bersabar.
📬 DUKUNGAN KITA TERHADAP MUSLIM PALESTINA
Penderitaan seorang muslim di mana pun selayaknya juga dirasakan oleh muslim lainnya.
الْمُسْلِمُونَ كَرَجُلٍ وَاحِدٍ إِنِ اشْتَكَى عَيْنُهُ اشْتَكَى كُلُّهُ وَإِنِ اشْتَكَى رَأْسُهُ اشْتَكَى كُلُّهُ
Kaum muslimin bagaikan seorang laki-laki yang satu. Jika matanya sakit, seluruh anggota tubuh lain juga merasa sakit. Jika kepalanya merasakan sakit, seluruh anggota tubuh lain juga merasa sakit (H.R Muslim dari anNu’maan bin Basyiir)
Namun keresahan dan keprihatinan kita jangan sampai membuat kita berbuat keluar dari koridor syariat sesuai arahan para Ulama Ahlussunnah.
Contohnya, berinisiatif untuk berangkat sendirian atau berombongan dalam rangka berjihad melakukan pertempuran fisik ke Palestina. Padahal pemerintah Indonesia tidak memfasilitasi dan mengizinkan. Itu adalah tindakan yang tidak dibenarkan. Karena salah satu ketentuan jihad yang syar’i adalah di bawah komando pemimpin muslim (waliyyul amr).
Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:
إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
Sesungguhnya pemimpin adalah tameng yang (kaum muslimin) berperang di depannya (berdasarkan komando dan arahannya) dan mereka pun berlindung di baliknya (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)
Al-Qurthubiy rahimahullah menyatakan: Seakan-akan beliau bersabda: yang wajib atau harus dilakukan adalah berperang di depan (sesuai arahan) pemimpin. Jangan sampai seorang berperang sendirian sehingga mengarahkan dirinya pada kebinasaan. Sehingga ia bersama orang yang berperang (tanpa arahan pemimpin) juga binasa (al-Mufhim (12/81)).
Ibnu Hubairah rahimahullah menyatakan: yang demikian itu karena jika seorang mujahid berperang di bawah bendera (komando) pemimpin, bergabungnya ia dalam pasukan itu adalah tameng baginya dari neraka, dan ia terlindung dari kemurkaan Allah Azza Wa Jalla (al-Ifshah ‘an Ma’aaniy as-Shihaah (6/176)).
Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad rahimahullah menyatakan: Pemimpin adalah tameng yang dengannya (kaum muslimin) berperang. Orang-orang berperang mengikuti arahan pemimpin itu, bermakmum di belakangnya. Pemimpinlah yang menjadi rujukan dalam berperang atau mengadakan perjanjian (dengan musuh). Rakyat mengikuti dan tidak berbuat mendahului pemimpin. Mereka (harusnya) berjalan sesuai perintah dan arahan pemimpin. Pemimpinlah yang mengatur pasukan, mengirim pasukan, mengatur siapa yang di depan dan siapa yang di belakang. Pemimpin (harus) diikuti dalam hal itu. Pemimpin pula yang menentukan apakah perlu mengadakan perjanjian damai (dengan musuh). Tidak boleh masing-masing individu berbuat tanpa arahannya (syarh Sunan Abi Dawud (15/73)).
Contoh lain yang tidak sesuai dengan bimbingan syariat adalah imam shalat Ied berinisiatif untuk qunut nazilah dalam shalat Ied, tanpa imbauan dan perintah dari Waliyyul Amr. Selain memang posisi qunut hanyalah pada shalat wajib berupa qunut nazilah atau qunut dalam shalat witir. Sebagaimana difatwakan al-Lajnah ad-Daaimah dalam pertanyaan ke-8 pada fatwa nomor 17332. Artinya, tidak disyariatkan qunut dalam shalat Ied. Qunut nazilah dalam shalat wajib pun semestinya hanya dilakukan jika ada imbauan atau perintah dari waliyyul amr.
Hampir selalu berulang peristiwa penindasan saudara muslim kita di Palestina. Namun, sekali lagi, jangan sampai perasaan dan emosi kita mengalahkan ketundukan pada syariat. Nabi dan para Sahabat adalah orang-orang yang paling bertakwa. Mereka pun sosok-sosok pemberani yang siap berjuang membela agama Allah.
Namun, ada kepingan sejarah dalam kehidupan Nabi dan para Sahabat saat mereka dalam posisi lemah. Di saat itu Allah tidak memerintahkan kepada mereka berperang. Justru diperintah untuk sabar, memperbaiki diri dan kaum muslimin, hingga berhijrah menyusun kekuatan besar. Saat tidak diperintah untuk berperang atau belum disyariatkan berperang, Nabi dan para Sahabatnya hanya bisa bersabar dan saling menguatkan untuk bersabar.
Saat ayah, ibu, dan Ammar bin Yasir (satu keluarga) disiksa di hadapan Nabi shollallahu alaihi wasallam hingga sebagiannya meninggal dunia. Nabi shollallahu alaihi wasallam dan Sahabat Utsman bin Affan yang melihat kejadian menyedihkan itu dengan mata kepala beliau sendiri tidak bisa berbuat banyak. Nabi shollallahu alaihi wasallam hanya bisa menganjurkan keluarga Yasir yang sedang disiksa dan ditindas waktu itu untuk bersabar. Beliau bersabda:
صَبْرًا آلَ يَاسِرٍ فَإِنَّ مَصِيرَكُمْ إِلَى الْجَنَّةِ
Bersabarlah wahai keluarga Yasir, karena sesungguhnya akhir perjalanan kalian adalah menuju surga (H.R Abu Nuaim, al-Hakim, al-Baihaqiy, dan lainnya, dinyatakan hasan shahih oleh Syaikh al-Albaniy dalam catatan hadits terhadap Fiqh Siroh)
Kondisi kaum muslimin pun saat tulisan ini dibuat dalam posisi sangat lemah. Terutama dalam hal akidah, iman, dan ketakwaan mereka kepada Allah Azza Wa Jalla. Itulah yang harus terus diperjuangkan untuk dibenahi pada diri kita dan kaum muslimin secara umum.
Yahudi memang kelompok yang dikenal culas, licik, dan suka melanggar perjanjian. Jangankan kepada kaum muslimin di masa kita, terhadap Nabi shollallahu alaihi wasallam saja mereka suka melanggar perjanjian.
Di antara perbuatan yang dilarang oleh para Ulama Ahlussunnah adalah perbuatan bom bunuh diri. Demikian yang dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rahimahullah.
Doakanlah saudara kita muslimin Palestina. Selipkan dalam untaian doa-doa kita permohonan pertolongan Allah Azza Wa Jalla untuk mereka. Bisa dengan bahasa yang kita pahami, atau bisa dengan lafadz bahasa Arab, misalkan dengan kalimat:
اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ فِي فَلَسْطِيْن
Ya Allah, tolonglah saudara kami kaum muslimin di Palestina
اللَّهُمَّ دَمِّرْ أَعْدَاءَهُمْ الْيَهُوْدَ أَعْدَاءَ الدِّيْن
Ya Allah hancurkanlah musuh mereka Yahudi, musuh agama
Manfaatkan waktu-waktu mustajab di sepertiga malam terakhir, atau di saat antara adzan dan iqomat, saat safar, ataupun dalam shalat ketika sujud maupun doa tasyahhud akhir sebelum salam.
Dukung kebijakan-kebijakan pemerintah Indonesia yang mengarah pada bantuan ke Palestina. Apabila ingin menyalurkan bantuan dana, salurkanlah melalui lembaga-lembaga resmi yang ditunjuk atau direkomendasikan pemerintah Indonesia.
Semoga Allah Azza Wa Jalla senantiasa melindungi dan melimpahkan taufiq, pertolongan, dan ampunan-Nya kepada segenap kaum muslimin.
Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
صَبْرًا آلَ يَاسِرٍ فَإِنَّ مَصِيرَكُمْ إِلَى الْجَنَّةِ
Bersabarlah wahai keluarga Yasir, karena sesungguhnya akhir perjalanan kalian adalah menuju surga (H.R Abu Nuaim, al-Hakim, al-Baihaqiy, dan lainnya, dinyatakan hasan shahih oleh Syaikh al-Albaniy dalam catatan hadits terhadap Fiqh Siroh)
Kondisi kaum muslimin pun saat tulisan ini dibuat dalam posisi sangat lemah. Terutama dalam hal akidah, iman, dan ketakwaan mereka kepada Allah Azza Wa Jalla. Itulah yang harus terus diperjuangkan untuk dibenahi pada diri kita dan kaum muslimin secara umum.
Yahudi memang kelompok yang dikenal culas, licik, dan suka melanggar perjanjian. Jangankan kepada kaum muslimin di masa kita, terhadap Nabi shollallahu alaihi wasallam saja mereka suka melanggar perjanjian.
Di antara perbuatan yang dilarang oleh para Ulama Ahlussunnah adalah perbuatan bom bunuh diri. Demikian yang dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rahimahullah.
Doakanlah saudara kita muslimin Palestina. Selipkan dalam untaian doa-doa kita permohonan pertolongan Allah Azza Wa Jalla untuk mereka. Bisa dengan bahasa yang kita pahami, atau bisa dengan lafadz bahasa Arab, misalkan dengan kalimat:
اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ فِي فَلَسْطِيْن
Ya Allah, tolonglah saudara kami kaum muslimin di Palestina
اللَّهُمَّ دَمِّرْ أَعْدَاءَهُمْ الْيَهُوْدَ أَعْدَاءَ الدِّيْن
Ya Allah hancurkanlah musuh mereka Yahudi, musuh agama
Manfaatkan waktu-waktu mustajab di sepertiga malam terakhir, atau di saat antara adzan dan iqomat, saat safar, ataupun dalam shalat ketika sujud maupun doa tasyahhud akhir sebelum salam.
Dukung kebijakan-kebijakan pemerintah Indonesia yang mengarah pada bantuan ke Palestina. Apabila ingin menyalurkan bantuan dana, salurkanlah melalui lembaga-lembaga resmi yang ditunjuk atau direkomendasikan pemerintah Indonesia.
Semoga Allah Azza Wa Jalla senantiasa melindungi dan melimpahkan taufiq, pertolongan, dan ampunan-Nya kepada segenap kaum muslimin.
Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 JIHAD DI PALESTINA
Kutipan Fatwa Syaikh Robi' bin Hadi Al Madkholi hafizhohullah:
"Dan bukan hanya sekali saya menyatakan, bahwa Romawi menguasai wilayah Palestina di zaman Bani Israil. Ketika itu mereka hidup pada periode sejarah kehidupan Bani Israil dimana tiga nabi diutus dalam satu generasi yang nyaris belum bisa diserukan jihad. Ketiga nabi itu adalah Nabi Zakariyya, Isa dan Yahya 'alaihimushsholatu wassalam.
Jika Rabb anda Menghendaki, niscaya Dia akan memerintahkan salah seorang nabi itu agar mendoakan kebinasaan bagi musuh-musuhnya, sehingga Allah menenggelamkan mereka sebagaimana tenggelamnya kaum Nabi Nuh, atau binasanya kaum 'Ad dan Tsamud. Hanya saja memang Allah menguji manusia satu sama lainnya.
ذَٰلِكَ وَلَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لَانْتَصَرَ مِنْهُمْ وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَ بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍ ۗ
“Demikianlah apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka, tetapi Allah hendak menguji sebagian kalian dengan sebagian yang lain.” (QS. Muhammad : 4)"
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Silakan baca pula:
https://itishom.org/blog/artikel/nasihat/dukungan-kita-terhadap-muslim-palestina/
https://itishom.org/blog/artikel/nasihat/kewajiban-menuntut-ilmu-agama/
https://itishom.org/blog/artikel/nasihat/kecaman-aksi-bom-bunuh-diri/
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Syaikh Rabi' Al Madkholi hafizhohullah melanjutkan:
"Lalu sejak kapankah Allah bebankan tanggung jawab kepada ummat ini untuk berjihad dan mengemban amanah tersebut?
Yaitu ketika Allah telah mengaruniakan:
⬜️ kekuatan yang mencukupi dan kemampuan bagi mereka
⬜️ serta saat mereka telah memenuhi syarat-syarat diberikannya pertolongan dan kejayaan.
Adapun di kala masih lemah, Allah tidak membebani para Nabi, padahal mereka adalah makhluq yang paling dekat kepada Allah tabaroka wata’ala, sekaligus yang paling utama di sisi-Nya.
Dan beliau-beliaulah yang paling berhak cepat memperoleh pengkabulan doa, dimana terbukti telah Allah binasakan beberapa umat karena doa sebagian nabi. Begitu pula telah Allah binasakan Fir’aun beserta pengikutnya, sebagai bentuk pertolongan terhadap Nabi Musa ‘alaihi ashsholatu wassalam.
Hanya saja memang Allah memberikan ujian kepada hamba yang dikehendaki-Nya. Sehingga apabila Dia memberikan ujian – sedangkan Dia Maha Pengasih sekaligus Maha Adil Hukum-Nya – tidaklah membebani hamba-Nya termasuk para Nabi, dengan tugas di luar batas kemampuan mereka.
Jadi, apabila para Nabi saja pada masa telah disyariatkannya jihad, Allah tidak membebani mereka, yaitu dengan jihad, padahal jihad telah disyariatkan dalam agama mereka.¹)
Lalu mengapa Allah tidak mensyariatkan jihad kepada mereka dan belum membebani mereka dengan tugas berjihad kepada para Nabi tersebut, bahkan terhadap tiga nabi pada generasi yang sama, dalam satu wilayah negeri yang sama pula, yaitu Al Quds (Palestina sekarang -pent.), juga tidak Allah bebani dengan tanggungjawab mengusir bangsa Romawi dari wilayah Al Quds, apa sebabnya?
Karena di antara ketentuan kauniyyah dan syar'iyyah bahwa Allah tidak akan membebani manusia kecuali dengan perkara yang mampu mereka kerjakan.
Apakah sekarang mereka orang-orang yang telah menghancurkan bangunan-bangunan itu²) memiliki kemampuan yang mencukupi untuk menghadapi Amerika dan Eropa serta sekian banyak negara Timur maupun Barat? Apakah mereka memiliki kemampuan ini?" ³)
.....
📬 JIHAD DI PALESTINA
Kutipan Fatwa Syaikh Robi' bin Hadi Al Madkholi hafizhohullah:
"Dan bukan hanya sekali saya menyatakan, bahwa Romawi menguasai wilayah Palestina di zaman Bani Israil. Ketika itu mereka hidup pada periode sejarah kehidupan Bani Israil dimana tiga nabi diutus dalam satu generasi yang nyaris belum bisa diserukan jihad. Ketiga nabi itu adalah Nabi Zakariyya, Isa dan Yahya 'alaihimushsholatu wassalam.
Jika Rabb anda Menghendaki, niscaya Dia akan memerintahkan salah seorang nabi itu agar mendoakan kebinasaan bagi musuh-musuhnya, sehingga Allah menenggelamkan mereka sebagaimana tenggelamnya kaum Nabi Nuh, atau binasanya kaum 'Ad dan Tsamud. Hanya saja memang Allah menguji manusia satu sama lainnya.
ذَٰلِكَ وَلَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لَانْتَصَرَ مِنْهُمْ وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَ بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍ ۗ
“Demikianlah apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka, tetapi Allah hendak menguji sebagian kalian dengan sebagian yang lain.” (QS. Muhammad : 4)"
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Silakan baca pula:
https://itishom.org/blog/artikel/nasihat/dukungan-kita-terhadap-muslim-palestina/
https://itishom.org/blog/artikel/nasihat/kewajiban-menuntut-ilmu-agama/
https://itishom.org/blog/artikel/nasihat/kecaman-aksi-bom-bunuh-diri/
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Syaikh Rabi' Al Madkholi hafizhohullah melanjutkan:
"Lalu sejak kapankah Allah bebankan tanggung jawab kepada ummat ini untuk berjihad dan mengemban amanah tersebut?
Yaitu ketika Allah telah mengaruniakan:
⬜️ kekuatan yang mencukupi dan kemampuan bagi mereka
⬜️ serta saat mereka telah memenuhi syarat-syarat diberikannya pertolongan dan kejayaan.
Adapun di kala masih lemah, Allah tidak membebani para Nabi, padahal mereka adalah makhluq yang paling dekat kepada Allah tabaroka wata’ala, sekaligus yang paling utama di sisi-Nya.
Dan beliau-beliaulah yang paling berhak cepat memperoleh pengkabulan doa, dimana terbukti telah Allah binasakan beberapa umat karena doa sebagian nabi. Begitu pula telah Allah binasakan Fir’aun beserta pengikutnya, sebagai bentuk pertolongan terhadap Nabi Musa ‘alaihi ashsholatu wassalam.
Hanya saja memang Allah memberikan ujian kepada hamba yang dikehendaki-Nya. Sehingga apabila Dia memberikan ujian – sedangkan Dia Maha Pengasih sekaligus Maha Adil Hukum-Nya – tidaklah membebani hamba-Nya termasuk para Nabi, dengan tugas di luar batas kemampuan mereka.
Jadi, apabila para Nabi saja pada masa telah disyariatkannya jihad, Allah tidak membebani mereka, yaitu dengan jihad, padahal jihad telah disyariatkan dalam agama mereka.¹)
Lalu mengapa Allah tidak mensyariatkan jihad kepada mereka dan belum membebani mereka dengan tugas berjihad kepada para Nabi tersebut, bahkan terhadap tiga nabi pada generasi yang sama, dalam satu wilayah negeri yang sama pula, yaitu Al Quds (Palestina sekarang -pent.), juga tidak Allah bebani dengan tanggungjawab mengusir bangsa Romawi dari wilayah Al Quds, apa sebabnya?
Karena di antara ketentuan kauniyyah dan syar'iyyah bahwa Allah tidak akan membebani manusia kecuali dengan perkara yang mampu mereka kerjakan.
Apakah sekarang mereka orang-orang yang telah menghancurkan bangunan-bangunan itu²) memiliki kemampuan yang mencukupi untuk menghadapi Amerika dan Eropa serta sekian banyak negara Timur maupun Barat? Apakah mereka memiliki kemampuan ini?" ³)
.....
____________
Catatan penerjemah:
¹) Perhatikan ketidakmampuan dan ketakutan Bani Israil jelas terpaparkan di saat Nabi Musa mengajak mereka berjihad, ketika mereka menjawab dengan ucapan yang diabadikan dalam Firman Allah:
{قَالُوا يَا مُوسَىٰ إِنَّا لَن نَّدْخُلَهَا أَبَدًا مَّا دَامُوا فِيهَا ۖ فَاذْهَبْ أَنتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَا إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ (24) قَالَ رَبِّ إِنِّي لَا أَمْلِكُ إِلَّا نَفْسِي وَأَخِي ۖ فَافْرُقْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ (25)} [المائدة : 24-25]
Mereka (Bani Israil) berkata: "Hai Musa, kami sekali sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada didalamnya, karena itu pergilah engkau bersama Tuhanmu, dan berperanglah kalian berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja". Berkata Musa: "Ya Tuhanku, aku tidak dapat berkuasa kecuali terhadap diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu". [Surah Al Maidah : 24-25]
²) Akibat tidak bersabar dalam ujian dan bertindak gegabah di luar kewenangan pemimpin bangsa ataupun bimbingan ulama, terulang sekian tindakan ceroboh. Termasuk kejadian terakhir, bombardir dan agresi Yahudi ke wilayah pendudukan Palestina sebagaimana diakui sendiri oleh salah satu media milisi perlawanan bersenjata Hamas adalah dipicu aksi ceroboh. Perhatikan kutipan berikut dari berita versi milisi bersenjata dilansir 2 Mei 2021:
"Tiga pemukim Yahudi terluka dalam aksi berani mati yang dilakukan oleh oleh orang-orang bersenjata di dekat pos pemeriksaan militer Israel Za'tara, selatan Nablus, wilayah utara di Tepi Barat yang diduduki penjajah Israel.
Media Israel melaporkan bahwa penembakan dilakukan dari kendaraan yang sedang melaju. Dua orang yang terluka dalam kondisi kritis. Media Israel mengatakan, para pelaku serangan itu meninggalkan lokasi kejadian, sementara tentara pendudukan Israel melakukan pencarian.
Pasukan pendudukan Israel dikerahkan secara besar-besaran di Jalan Hawara al-Ra'is, selatan Nablus, setelah operasi aksi penembakan tersebut, juga di sejumlah pos pemeriksaan militer lain di utara Ramallah, yaitu (Atara, Ain Yabrud, dan Ain Sinaia)."
<akhir kutipan dari
https://melayu. palinfo.com/17904 >
Terbukti, tindakan serampangan yang hanya melukai segelintir warga Yahudi pendudukan tersebut, dibalas berkali lipat tanpa mampu seorang muslimpun mencegahnya - والله المستعان.
Hingga saat ini hampir lebih dari 180 jiwa warga Palestina menjadi korban pembalasan tentara pendudukan (semoga para Ahli Tauhid di kalangan saudara kita seiman tersebut diwafatkan sebagai syuhada). Belumkah tiba waktu untuk menghentikan arogansi kecerobohan?
Semoga Allah memberi hidayah dan taufiq kepada semua muslim untuk terbimbing bersabar dan bersikap secara hikmah dalam situasi apapun.
³) Tentu jawabannya tidak. Kita dan saudara-saudara kita terbukti belum mampu. Selain karena terikat perjanjian Internasional para pendahulu yang tidak mungkin kita khianati, dan juga fakta keterbatasan kemampuan iman, ilmu, persatuan, kekuatan fisik dan lain sebagainya.
Semoga kaum muslimin diberikan kekuatan dan kemampuan yang memenuhi syarat tercapainya pertolongan dan kejayaan dari Allah ta'ala.
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
✒ Dialihbahasakan oleh Abu Abdirrohman Sofian dari Kitab Fatawa Fadhilatisy Syaikh Robi' bin Hadi Al Madkhali yang diarsipkan di shorturl.at/bqOPR
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Catatan penerjemah:
¹) Perhatikan ketidakmampuan dan ketakutan Bani Israil jelas terpaparkan di saat Nabi Musa mengajak mereka berjihad, ketika mereka menjawab dengan ucapan yang diabadikan dalam Firman Allah:
{قَالُوا يَا مُوسَىٰ إِنَّا لَن نَّدْخُلَهَا أَبَدًا مَّا دَامُوا فِيهَا ۖ فَاذْهَبْ أَنتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَا إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ (24) قَالَ رَبِّ إِنِّي لَا أَمْلِكُ إِلَّا نَفْسِي وَأَخِي ۖ فَافْرُقْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ (25)} [المائدة : 24-25]
Mereka (Bani Israil) berkata: "Hai Musa, kami sekali sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada didalamnya, karena itu pergilah engkau bersama Tuhanmu, dan berperanglah kalian berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja". Berkata Musa: "Ya Tuhanku, aku tidak dapat berkuasa kecuali terhadap diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu". [Surah Al Maidah : 24-25]
²) Akibat tidak bersabar dalam ujian dan bertindak gegabah di luar kewenangan pemimpin bangsa ataupun bimbingan ulama, terulang sekian tindakan ceroboh. Termasuk kejadian terakhir, bombardir dan agresi Yahudi ke wilayah pendudukan Palestina sebagaimana diakui sendiri oleh salah satu media milisi perlawanan bersenjata Hamas adalah dipicu aksi ceroboh. Perhatikan kutipan berikut dari berita versi milisi bersenjata dilansir 2 Mei 2021:
"Tiga pemukim Yahudi terluka dalam aksi berani mati yang dilakukan oleh oleh orang-orang bersenjata di dekat pos pemeriksaan militer Israel Za'tara, selatan Nablus, wilayah utara di Tepi Barat yang diduduki penjajah Israel.
Media Israel melaporkan bahwa penembakan dilakukan dari kendaraan yang sedang melaju. Dua orang yang terluka dalam kondisi kritis. Media Israel mengatakan, para pelaku serangan itu meninggalkan lokasi kejadian, sementara tentara pendudukan Israel melakukan pencarian.
Pasukan pendudukan Israel dikerahkan secara besar-besaran di Jalan Hawara al-Ra'is, selatan Nablus, setelah operasi aksi penembakan tersebut, juga di sejumlah pos pemeriksaan militer lain di utara Ramallah, yaitu (Atara, Ain Yabrud, dan Ain Sinaia)."
<akhir kutipan dari
https://melayu. palinfo.com/17904 >
Terbukti, tindakan serampangan yang hanya melukai segelintir warga Yahudi pendudukan tersebut, dibalas berkali lipat tanpa mampu seorang muslimpun mencegahnya - والله المستعان.
Hingga saat ini hampir lebih dari 180 jiwa warga Palestina menjadi korban pembalasan tentara pendudukan (semoga para Ahli Tauhid di kalangan saudara kita seiman tersebut diwafatkan sebagai syuhada). Belumkah tiba waktu untuk menghentikan arogansi kecerobohan?
Semoga Allah memberi hidayah dan taufiq kepada semua muslim untuk terbimbing bersabar dan bersikap secara hikmah dalam situasi apapun.
³) Tentu jawabannya tidak. Kita dan saudara-saudara kita terbukti belum mampu. Selain karena terikat perjanjian Internasional para pendahulu yang tidak mungkin kita khianati, dan juga fakta keterbatasan kemampuan iman, ilmu, persatuan, kekuatan fisik dan lain sebagainya.
Semoga kaum muslimin diberikan kekuatan dan kemampuan yang memenuhi syarat tercapainya pertolongan dan kejayaan dari Allah ta'ala.
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
✒ Dialihbahasakan oleh Abu Abdirrohman Sofian dari Kitab Fatawa Fadhilatisy Syaikh Robi' bin Hadi Al Madkhali yang diarsipkan di shorturl.at/bqOPR
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
..
▶️ Edisi: 20 || Tahun 1439 H
Tema: KHUSUS
Judul: "MENGEMBALIKAN PALESTINA DARI CENGKERAMAN YAHUDI"
⏩ Join Telegram http://telegram.me/buletinalilmu
▶️ Edisi: 20 || Tahun 1439 H
Tema: KHUSUS
Judul: "MENGEMBALIKAN PALESTINA DARI CENGKERAMAN YAHUDI"
⏩ Join Telegram http://telegram.me/buletinalilmu
::
📬 MENGEMBALIKAN PALESTINA DARI CENGKRAMAN YAHUDI
Namun itu semua seakan tak memberikan arti. Israel (baca: Negara Yahudi) hingga hari ini terus bercokol dan menjajah bumi Palestina. Kabar tentang insiden bentrokan hingga serangan jet tempur Yahudi terhadap kaum muslimin Palestina masih terus menghiasi berita-berita Timur Tengah.
Kenapa perjuangan umat Islam tak membuahkan hasil? Padahal, satu peristiwa terjadi di Palestina maka seluruh dunia Islam pasti angkat bicara.
Termasuk peristiwa yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Tatkala dengan pongah Amerika menyatakan bahwa al-Quds adalah ibukota Israel (baca : Negara Yahudi). Sontak dunia Islam pun bereaksi keras. Demikianlah solidaritas dan ukhuwwah Islamiyyah memanggil kaum muslimin membela saudara-saudaranya di negeri Palestina. Apalagi di sana terdapat salah satu masjid teramat mulia milik umat Islam, yaitu Masjid al-Aqsha.
UMAT YAHUDI TAK AKAN MENANG TERHADAP TENTARA TAUHID
Umat Yahudi adalah umat yang hina, umat yang dimurkai oleh Allah Ta'ala. Allah Ta'ala berfirman tentang Yahudi,
فَبَاءُوا بِغَضَبٍ عَلَىٰ غَضَبٍ ۚ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ مُهِينٌ
“Karena itu mereka (Yahudi) mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan, dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan.” .(al-Baqarah : 90)
Maksudnya: Yahudi mendapat kemurkaan yang berlipat-ganda, yaitu kemurkaan karena tidak beriman kepada nabi Muhammad dan kemurkaan yang disebabkan perbuatan mereka dahulu, yaitu membunuh para nabi, mendustakannya, mengubah-ubah isi kitab Taurat dan masih sangat banyak lagi. Allah Ta'ala juga berfirman,
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ اَيْنَ مَا ثُقِفُوْٓا اِلَّا بِحَبْلٍ مِّنَ اللّٰهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ وَبَاۤءُوْ بِغَضَبٍ مِّنَ اللّٰهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ كَانُوْا يَكْفُرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ وَيَقْتُلُوْنَ الْاَنْبِۢيَاۤءَ بِغَيْرِ حَقٍّۗ ذٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَّكَانُوْا يَعْتَدُوْنَ
“Mereka (Yahudi) diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia. Mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.” (Ali ‘Imran: 112)
Inilah sebagian sifat-sifat Yahudi yang mengharuskan mereka senantiasa berada dalam kehinaan, kerendahan dan selalu mendapat kemurkaan dari Allah Ta'ala.
Yahudi tidak akan pernah bisa tegak dalam kebaikan kecuali apabila mereka mau berpegang pada tali (agama) Allah Ta'ala dan tali (perjanjian) dengan manusia, yaitu perlindungan yang diberikan oleh pemerintah Islam atas mereka.
Yahudi tidak memiliki sandaran sejarah keimanan dan akidah, tidak memiliki sandaran sejarah sifat kejantanan dan keberanian. Yahudi hanya berani berperang dari balik tembok, sementara permusuhan (perselisihan) di antara mereka sendiri sangat sengit.
Sungguh sifat-sifat keji Yahudi sangat banyak, di antaranya: khianat, melanggar perjanjian, menebar fitnah, menyalakan api peperangan, berbuat kerusakan di muka bumi, bahkan mencela dan menghina Allah Ta'ala dan agama-Nya serta rasul-Nya.
Setiap kali Yahudi menyalakan api peperangan niscaya Allah Ta'ala memadamkannya.
Maka wahai Yahudi, janganlah kalian terburu sombong dan berbangga dengan keberhasilan kalian. Sungguh kalian tidak akan menang melawan tentara nabi Muhammad ﷺ . Yaitu para tentara yang berakidah tauhid “Laailaaha illallah, Muhammad rasulullah”. Kalian tidak akan menang terhadap tentara yang dipimpin oleh para panglima semisal Umar bin al-Khathab al-Faruq, Khalid bin al-Walid, Abu Ubaidah ibnul Jarrah, Sa’d bin Abi Waqqash, atau Amr bin al-Ash.
Mereka adalah para panglima yang terdidik di atas akidah tauhid yang murni, di atas akidah nabi Muhammad ﷺ. Mereka mendidik tentaranya dengan akidah tersebut dan memimpin pasukannya di atas misi meninggikan kalimatullah di muka bumi.
📬 MENGEMBALIKAN PALESTINA DARI CENGKRAMAN YAHUDI
Namun itu semua seakan tak memberikan arti. Israel (baca: Negara Yahudi) hingga hari ini terus bercokol dan menjajah bumi Palestina. Kabar tentang insiden bentrokan hingga serangan jet tempur Yahudi terhadap kaum muslimin Palestina masih terus menghiasi berita-berita Timur Tengah.
Kenapa perjuangan umat Islam tak membuahkan hasil? Padahal, satu peristiwa terjadi di Palestina maka seluruh dunia Islam pasti angkat bicara.
Termasuk peristiwa yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Tatkala dengan pongah Amerika menyatakan bahwa al-Quds adalah ibukota Israel (baca : Negara Yahudi). Sontak dunia Islam pun bereaksi keras. Demikianlah solidaritas dan ukhuwwah Islamiyyah memanggil kaum muslimin membela saudara-saudaranya di negeri Palestina. Apalagi di sana terdapat salah satu masjid teramat mulia milik umat Islam, yaitu Masjid al-Aqsha.
UMAT YAHUDI TAK AKAN MENANG TERHADAP TENTARA TAUHID
Umat Yahudi adalah umat yang hina, umat yang dimurkai oleh Allah Ta'ala. Allah Ta'ala berfirman tentang Yahudi,
فَبَاءُوا بِغَضَبٍ عَلَىٰ غَضَبٍ ۚ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ مُهِينٌ
“Karena itu mereka (Yahudi) mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan, dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan.” .(al-Baqarah : 90)
Maksudnya: Yahudi mendapat kemurkaan yang berlipat-ganda, yaitu kemurkaan karena tidak beriman kepada nabi Muhammad dan kemurkaan yang disebabkan perbuatan mereka dahulu, yaitu membunuh para nabi, mendustakannya, mengubah-ubah isi kitab Taurat dan masih sangat banyak lagi. Allah Ta'ala juga berfirman,
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ اَيْنَ مَا ثُقِفُوْٓا اِلَّا بِحَبْلٍ مِّنَ اللّٰهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ وَبَاۤءُوْ بِغَضَبٍ مِّنَ اللّٰهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ كَانُوْا يَكْفُرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ وَيَقْتُلُوْنَ الْاَنْبِۢيَاۤءَ بِغَيْرِ حَقٍّۗ ذٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَّكَانُوْا يَعْتَدُوْنَ
“Mereka (Yahudi) diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia. Mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.” (Ali ‘Imran: 112)
Inilah sebagian sifat-sifat Yahudi yang mengharuskan mereka senantiasa berada dalam kehinaan, kerendahan dan selalu mendapat kemurkaan dari Allah Ta'ala.
Yahudi tidak akan pernah bisa tegak dalam kebaikan kecuali apabila mereka mau berpegang pada tali (agama) Allah Ta'ala dan tali (perjanjian) dengan manusia, yaitu perlindungan yang diberikan oleh pemerintah Islam atas mereka.
Yahudi tidak memiliki sandaran sejarah keimanan dan akidah, tidak memiliki sandaran sejarah sifat kejantanan dan keberanian. Yahudi hanya berani berperang dari balik tembok, sementara permusuhan (perselisihan) di antara mereka sendiri sangat sengit.
Sungguh sifat-sifat keji Yahudi sangat banyak, di antaranya: khianat, melanggar perjanjian, menebar fitnah, menyalakan api peperangan, berbuat kerusakan di muka bumi, bahkan mencela dan menghina Allah Ta'ala dan agama-Nya serta rasul-Nya.
Setiap kali Yahudi menyalakan api peperangan niscaya Allah Ta'ala memadamkannya.
Maka wahai Yahudi, janganlah kalian terburu sombong dan berbangga dengan keberhasilan kalian. Sungguh kalian tidak akan menang melawan tentara nabi Muhammad ﷺ . Yaitu para tentara yang berakidah tauhid “Laailaaha illallah, Muhammad rasulullah”. Kalian tidak akan menang terhadap tentara yang dipimpin oleh para panglima semisal Umar bin al-Khathab al-Faruq, Khalid bin al-Walid, Abu Ubaidah ibnul Jarrah, Sa’d bin Abi Waqqash, atau Amr bin al-Ash.
Mereka adalah para panglima yang terdidik di atas akidah tauhid yang murni, di atas akidah nabi Muhammad ﷺ. Mereka mendidik tentaranya dengan akidah tersebut dan memimpin pasukannya di atas misi meninggikan kalimatullah di muka bumi.
Wahai Yahudi, sungguh kalian tidak akan menang terhadap bala tentara yang seperti ini akidah dan keimanannya. Kalian hanya akan bisa menang bila melawan tentara yang kondisinya seperti dalam firman Allah,
فَخَلَفَ مِنْۢ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ اَضَاعُوا الصَّلٰوةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوٰتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا ۙ
“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (Maryam: 59)
Yaitu kaum yang melanggar syari’at agama dan menyimpang keimanannya.
BAGAIMANA UMAT ISLAM BISA MEREBUT AL-QUDS DAN MASJIDIL AQSHA?
Sungguh kaum muslimin tidak akan bisa membebaskan Palestina, al-Quds dan Masjidil Aqsha dari cengkraman tangan jahat Yahudi kecuali dengan nama Islam, di atas akidah yang bersih dan murni. Sebagaimana dulu Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab berhasil merebut Palestina dari cengkraman Nashara, maka dengan cara itu pulalah kaum muslimin pada masa ini bisa membebaskan Palestina.
Renungkanlah sejarah gemilang dan kejayaan generasi awal umat ini.
Bagaimana mereka bisa menang dan jaya? Maka dengan cara itu pulalah kaum muslimin saat ini akan bisa meraih kemenangan dan kejayaan. Yaitu dengan kekuatan iman, kemurnian akidah, ketaatan beragama, serta keluhuran akhlak. Allah berfirman,
وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ
“Sungguh telah Kami tulis di dalam kitab-kitab terdahulu sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shalih.”
(al-Anbiya: 105)
Sudahkah kita termasuk hamba-hamba Allah yang shalih?
Yakni yang benar-benar menegakkan ubudiyyah (peribadatan) kepada-Nya dengan murni, taat terhadap segala perintah dan larangan-Nya, serta berakhlak mulia dan berprilaku santun?
HIMBAUAN KEPADA KAUM MUSLIMIN
Marilah kita kembali kepada kemurnian akidah dan tauhid. Jangan ada di tengah umat ini yang berdo’a dan bertawakkal kepada selain Allah. Jauhilah perdukunan dan jimat-jimat.
Marilah menjadi umat yang bertauladan penuh kepada baginda nabi Muhammad. Pegang teguh dan junjung tinggi-lah ajaran dan bimbingan (sunnah-sunnah) Nabi dan para Khulafaur Rasyidin dalam segala aspek. Baik dalam hal keyakinan, tata cara beribadah, cara bermuamalah, demikian juga dalam hal tata krama dan sopan santun.
Marilah kita memuliakan al-Qur’an dan al-Hadits, serta mengamalkannya. Jangan ada yang melecehkan atau menghina al-Qur’an dan al-Hadits.
Jangan menjadi umat yang radikal, fanatik buta, menebar anarkhis dan kekerasan, serta jangan pula menjadi umat yang liberal. Karena itu semua hanya akan mencoreng nama Islam dan membuat Yahudi tertawa melecehkan kaum muslimin. Umat Islam tidak akan menang dengan cara “jihad”nya kaum radikalis-teroris dan akan hancur pula bila kaum liberalis terus menebar kerancuan dalam beragama.
Jika kaum muslimin berpegang teguh kepada agamanya dengan sebenar-benarnya, maka mereka akan menjadi umat yang disegani oleh lawan-lawannya dan akan menjadi bala tentara yang menang dan jaya.
فَخَلَفَ مِنْۢ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ اَضَاعُوا الصَّلٰوةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوٰتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا ۙ
“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (Maryam: 59)
Yaitu kaum yang melanggar syari’at agama dan menyimpang keimanannya.
BAGAIMANA UMAT ISLAM BISA MEREBUT AL-QUDS DAN MASJIDIL AQSHA?
Sungguh kaum muslimin tidak akan bisa membebaskan Palestina, al-Quds dan Masjidil Aqsha dari cengkraman tangan jahat Yahudi kecuali dengan nama Islam, di atas akidah yang bersih dan murni. Sebagaimana dulu Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab berhasil merebut Palestina dari cengkraman Nashara, maka dengan cara itu pulalah kaum muslimin pada masa ini bisa membebaskan Palestina.
Renungkanlah sejarah gemilang dan kejayaan generasi awal umat ini.
Bagaimana mereka bisa menang dan jaya? Maka dengan cara itu pulalah kaum muslimin saat ini akan bisa meraih kemenangan dan kejayaan. Yaitu dengan kekuatan iman, kemurnian akidah, ketaatan beragama, serta keluhuran akhlak. Allah berfirman,
وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ
“Sungguh telah Kami tulis di dalam kitab-kitab terdahulu sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shalih.”
(al-Anbiya: 105)
Sudahkah kita termasuk hamba-hamba Allah yang shalih?
Yakni yang benar-benar menegakkan ubudiyyah (peribadatan) kepada-Nya dengan murni, taat terhadap segala perintah dan larangan-Nya, serta berakhlak mulia dan berprilaku santun?
HIMBAUAN KEPADA KAUM MUSLIMIN
Marilah kita kembali kepada kemurnian akidah dan tauhid. Jangan ada di tengah umat ini yang berdo’a dan bertawakkal kepada selain Allah. Jauhilah perdukunan dan jimat-jimat.
Marilah menjadi umat yang bertauladan penuh kepada baginda nabi Muhammad. Pegang teguh dan junjung tinggi-lah ajaran dan bimbingan (sunnah-sunnah) Nabi dan para Khulafaur Rasyidin dalam segala aspek. Baik dalam hal keyakinan, tata cara beribadah, cara bermuamalah, demikian juga dalam hal tata krama dan sopan santun.
Marilah kita memuliakan al-Qur’an dan al-Hadits, serta mengamalkannya. Jangan ada yang melecehkan atau menghina al-Qur’an dan al-Hadits.
Jangan menjadi umat yang radikal, fanatik buta, menebar anarkhis dan kekerasan, serta jangan pula menjadi umat yang liberal. Karena itu semua hanya akan mencoreng nama Islam dan membuat Yahudi tertawa melecehkan kaum muslimin. Umat Islam tidak akan menang dengan cara “jihad”nya kaum radikalis-teroris dan akan hancur pula bila kaum liberalis terus menebar kerancuan dalam beragama.
Jika kaum muslimin berpegang teguh kepada agamanya dengan sebenar-benarnya, maka mereka akan menjadi umat yang disegani oleh lawan-lawannya dan akan menjadi bala tentara yang menang dan jaya.
HIMBAUAN KEPADA PEMERINTAH- PEMERINTAH ISLAM DI SELURUH DUNIA
Melalui tulisan ini pula, kami mengajak pemerintah-pemerintah Islam:
⬜️ Pertama: Mari berpegang teguh dengan al-Qur’an al-Karim, Sunnah Rasulullah ﷺ dan bimbingan para Khulafaur Rasyidin dalam akidah, ibadah, akhlak dan politik, serta dalam berbagai aspek lainnya.
Tanamkanlah kepada rakyat prinsip- prinsip yang mulia tersebut. Sungguh kita semua adalah para hamba Allah, hidup di bumi Allah Ta'ala, makan dan minum dari rizki yang diberikan oleh-Nya. Maka sudah sepantasnya dan seharusnya kita semua bersyukur kepada-Nya. Allah Ta'ala berfirman,
فَكُلُوا۟ مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُ حَلَٰلًا طَيِّبًا وَٱشْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
“Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepada kalian dan syukurilah nikmat Allah, jika memang kalian beribadah hanya kepada-Nya saja.” (an-Nahl : 114)
Maka murnikan ibadah hanya kepada-Nya, syukurilah nikmat-nikmat-Nya. Jadilah kita bangga dan mulia dengan syari’at Islam.
⬜️ Kedua: Hendaknya pemerintah- pemerintah Islam membentuk tentara Islam yang terdidik di atas pendidikan Islam. Terdidik di atas akidah nabi Muhammad ﷺ dan terdidik di atas akhlak yang terpuji. Terdidik di atas misi besar; menegakkan kalimat tauhid di muka bumi, dalam rangka mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil ‘Alamin. Bukan di atas misi-misi politik keduniaan, atau di atas slogan-slogan jahiliyyah, fanatik kelompok dan golongan. Bukan di atas radikalisme dan terorisme. Bukan pula di atas liberalisme, yang sering menghina agama.
Sehingga jadilah mereka tentara-tentara Allah Ta'ala yang hakiki, yang tak kan terkalahkan. Allah Ta'ala berfirman,
وَإِنَّ جُنْدَنَا لَهُمُ الْغَالِبُونَ
“Sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang.” (ash-Shaaffaat : 173)
Sungguh ucapan yang sangat bersejarah, patut ditulis dengan tinta emas, ucapan raja Faishal bin Abdul Aziz rahimahullah,
“Kami akan melakukan segala yang kami mampu demi menyelamatkan Palestina dan membebaskan tempat-tempat suci umat Islam. Kami akan melawan segala misi yang bertujuan meyahudikan al-Quds atau menginternasionalisasi al-Quds. Dengan penuh kekuatan dan keteguhan, kami akan berdiri menghadang segala konspirasi yang akan mengeruhkan permasalahan Palestina.”
Penulis: Ustadz Abu Amr Alfian hafizhahullah| Buletin al-Ilmu Edisi: 20 || Tahun 1439 H
Referensi: Shaihatun Nadzir ila Ummatil Ghadab Prof. DR. Rabi’ al-Madkhali hafizhahullah
https://buletin-alilmu.net/2018/05/12/mengembalikan-palestina-dari-cengkraman-yahudi/
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Melalui tulisan ini pula, kami mengajak pemerintah-pemerintah Islam:
⬜️ Pertama: Mari berpegang teguh dengan al-Qur’an al-Karim, Sunnah Rasulullah ﷺ dan bimbingan para Khulafaur Rasyidin dalam akidah, ibadah, akhlak dan politik, serta dalam berbagai aspek lainnya.
Tanamkanlah kepada rakyat prinsip- prinsip yang mulia tersebut. Sungguh kita semua adalah para hamba Allah, hidup di bumi Allah Ta'ala, makan dan minum dari rizki yang diberikan oleh-Nya. Maka sudah sepantasnya dan seharusnya kita semua bersyukur kepada-Nya. Allah Ta'ala berfirman,
فَكُلُوا۟ مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُ حَلَٰلًا طَيِّبًا وَٱشْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
“Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepada kalian dan syukurilah nikmat Allah, jika memang kalian beribadah hanya kepada-Nya saja.” (an-Nahl : 114)
Maka murnikan ibadah hanya kepada-Nya, syukurilah nikmat-nikmat-Nya. Jadilah kita bangga dan mulia dengan syari’at Islam.
⬜️ Kedua: Hendaknya pemerintah- pemerintah Islam membentuk tentara Islam yang terdidik di atas pendidikan Islam. Terdidik di atas akidah nabi Muhammad ﷺ dan terdidik di atas akhlak yang terpuji. Terdidik di atas misi besar; menegakkan kalimat tauhid di muka bumi, dalam rangka mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil ‘Alamin. Bukan di atas misi-misi politik keduniaan, atau di atas slogan-slogan jahiliyyah, fanatik kelompok dan golongan. Bukan di atas radikalisme dan terorisme. Bukan pula di atas liberalisme, yang sering menghina agama.
Sehingga jadilah mereka tentara-tentara Allah Ta'ala yang hakiki, yang tak kan terkalahkan. Allah Ta'ala berfirman,
وَإِنَّ جُنْدَنَا لَهُمُ الْغَالِبُونَ
“Sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang.” (ash-Shaaffaat : 173)
Sungguh ucapan yang sangat bersejarah, patut ditulis dengan tinta emas, ucapan raja Faishal bin Abdul Aziz rahimahullah,
“Kami akan melakukan segala yang kami mampu demi menyelamatkan Palestina dan membebaskan tempat-tempat suci umat Islam. Kami akan melawan segala misi yang bertujuan meyahudikan al-Quds atau menginternasionalisasi al-Quds. Dengan penuh kekuatan dan keteguhan, kami akan berdiri menghadang segala konspirasi yang akan mengeruhkan permasalahan Palestina.”
Penulis: Ustadz Abu Amr Alfian hafizhahullah| Buletin al-Ilmu Edisi: 20 || Tahun 1439 H
Referensi: Shaihatun Nadzir ila Ummatil Ghadab Prof. DR. Rabi’ al-Madkhali hafizhahullah
https://buletin-alilmu.net/2018/05/12/mengembalikan-palestina-dari-cengkraman-yahudi/
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 TIGA ETIKA DASAR PERGAULAN
(Petikan Khutbah Iedul Fithri 1442 H)
Saudaraku semoga kita dirahmati Allah, telah dimaklumi bahwa beda dada, beda isi pemikiran. Dan silang pandang adalah kelumrahan interaksi sosial.
Semakin sering kita bergaul, makin besar potensi perbedaan berpikir kita dengan ikhwan kita, pun bertambah bilangan dan kualitasnya.
Namun apakah itu melazimkan perpecahan?
Jangan! karena jelas terlarang apabila perbedaan pandangan menjadi sebab perpecahan selama bukan dalam bagian prinsip agama.
Bagaimana jika terlanjur terjebak dalam perselisihan dan sengketa antar saudara?
Alhamdulillah, telah ada bimbingan ilahi yang merupakan cakupan ringkas 3 perangai mulia; dalam surah Al A'raf, pada ayat ke-199 Allah berfirman:
{خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ}
"Jadilah engkau pemaaf dan ajaklah orang lain mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang tidak paham."
Mari kita pelajari maknanya, merujuk penjelasan Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa'diy rahimahullah dalam tafsir beliau:
⬜️ (PERTAMA) خُذِ الْعَفْوَ JADILAH ENGKAU PEMAAF
Beliau rahimahullah menjelaskan:
"Ayat ini cakupan ringkas tentang akhlaq yang baik, beretika terhadap orang lain, dan kepatutan dalam pergaulan bersama mereka. Sehingga semestinya masyarakat dipergauli dengan kemurahan hati, suka memaafkan.
Yaitu keluhuran sikap anda terhadap mereka, yang bisa memudahkan mereka menerima tindakan dan perangai kita. Jadi jangan sampai membebani mereka dengan perilaku yang tabiat masyarakat sulit menerimanya.
Justru hendaknya setiap orang saling berterimakasih terhadap penerimaan yang dirasakan, baik berupa ucapan, sikap terpuji, ataupun yang kurang dari itu. Hendaknya pula anda mentolerir kekurangan mereka, mengabaikan keterbatasan mereka. Janganlah angkuh di hadapan rakyat kecil hanya karena kecilnya dia.
Jangan pula sombong kepada pihak yang kurang cara pandangnya hanya karena kekurangan itu. Begitu pun jangan arogan terhadap orang miskin semata disebabkan kemiskinannya.
Tapi hendaknya, pergaulilah mereka semuanya dengan penuh kelembutan dan sambutan hangat yang sesuai dengan situasi dan kondisi serta yang dapat melapangkan dada mereka."
⬜️ (KEDUA) وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ AJAKLAH ORANG LAIN MENGERJAKAN YANG MA'RUF
Syaikh As Sa'di rahimahullah menerangkan:
“Yaitu melalui semua bentuk ucapan dan perbuatan yang baik, perangai terpuji terhadap kerabat dekat ataupun orang lain. Jadikanlah yang diterima masyarakat dari diri anda berupa pengajaran ilmu, atau anjuran kebaikan, berupa hubungan silaturrahim, bakti kepada kedua orang tua, mendamaikan pertikaian antar sesama, nasihat yang bermanfaat, saran yang benar, bantuan terhadap kebajikan dan taqwa, pencegahan dari keburukan, ataupun bimbingan dalam meraih kebaikan agama."
⬜️ (KETIGA) وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ BERPALINGLAH DENGAN TIDAK PERLU MENGGUBRIS ORANG-ORANG YANG BELUM PAHAM
Syaikh As Sa'di rahimahullah menyatakan:
“Allah ta'ala memerintahkan kita ketika menghadapi orang jahil (yang tidak paham agama) dengan menghindar dari mereka, dan tidak menanggapi kebodohan mereka.
Sehingga jika ada orang yang mengganggu anda dengan ucapan atau perbuatannya, jangan balas menyakitinya.
Begitu pula terhadap orang yang tidak lagi berbagi dengan anda, tetap berikan kebaikan anda kepadanya. Kepada yang telah memutus hubungan, hendaklah anda menyambungnya. Pun terhadap yang mendzalimi anda, tetaplah bersikap adil kepadanya.”
(Sampai disini kutipan makna dari Taisirul KarimirRahman).
Sehingga baik untuk kita nyatakan, saatnyalah momentum tepat kita menerapkannya. Senyampang (selagi_ed) tempaan dari Allah di bulan Ramadhan yang mengajarkan kesabaran masih lekat. Mumpung target ketakwaan masih dimuliakan.
Sambunglah silaturrahim yang mungkin terputus. Bersikaplah mulia dengan mengajukan permohonan maaf untuk menyulam kembali tali persaudaraan yang terkoyak. Jika tidak memungkinkan dengan bertemu langsung, semoga tercukupi dengan sarana komunikasi lain yang tersedia luas.
📬 TIGA ETIKA DASAR PERGAULAN
(Petikan Khutbah Iedul Fithri 1442 H)
Saudaraku semoga kita dirahmati Allah, telah dimaklumi bahwa beda dada, beda isi pemikiran. Dan silang pandang adalah kelumrahan interaksi sosial.
Semakin sering kita bergaul, makin besar potensi perbedaan berpikir kita dengan ikhwan kita, pun bertambah bilangan dan kualitasnya.
Namun apakah itu melazimkan perpecahan?
Jangan! karena jelas terlarang apabila perbedaan pandangan menjadi sebab perpecahan selama bukan dalam bagian prinsip agama.
Bagaimana jika terlanjur terjebak dalam perselisihan dan sengketa antar saudara?
Alhamdulillah, telah ada bimbingan ilahi yang merupakan cakupan ringkas 3 perangai mulia; dalam surah Al A'raf, pada ayat ke-199 Allah berfirman:
{خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ}
"Jadilah engkau pemaaf dan ajaklah orang lain mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang tidak paham."
Mari kita pelajari maknanya, merujuk penjelasan Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa'diy rahimahullah dalam tafsir beliau:
⬜️ (PERTAMA) خُذِ الْعَفْوَ JADILAH ENGKAU PEMAAF
Beliau rahimahullah menjelaskan:
"Ayat ini cakupan ringkas tentang akhlaq yang baik, beretika terhadap orang lain, dan kepatutan dalam pergaulan bersama mereka. Sehingga semestinya masyarakat dipergauli dengan kemurahan hati, suka memaafkan.
Yaitu keluhuran sikap anda terhadap mereka, yang bisa memudahkan mereka menerima tindakan dan perangai kita. Jadi jangan sampai membebani mereka dengan perilaku yang tabiat masyarakat sulit menerimanya.
Justru hendaknya setiap orang saling berterimakasih terhadap penerimaan yang dirasakan, baik berupa ucapan, sikap terpuji, ataupun yang kurang dari itu. Hendaknya pula anda mentolerir kekurangan mereka, mengabaikan keterbatasan mereka. Janganlah angkuh di hadapan rakyat kecil hanya karena kecilnya dia.
Jangan pula sombong kepada pihak yang kurang cara pandangnya hanya karena kekurangan itu. Begitu pun jangan arogan terhadap orang miskin semata disebabkan kemiskinannya.
Tapi hendaknya, pergaulilah mereka semuanya dengan penuh kelembutan dan sambutan hangat yang sesuai dengan situasi dan kondisi serta yang dapat melapangkan dada mereka."
⬜️ (KEDUA) وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ AJAKLAH ORANG LAIN MENGERJAKAN YANG MA'RUF
Syaikh As Sa'di rahimahullah menerangkan:
“Yaitu melalui semua bentuk ucapan dan perbuatan yang baik, perangai terpuji terhadap kerabat dekat ataupun orang lain. Jadikanlah yang diterima masyarakat dari diri anda berupa pengajaran ilmu, atau anjuran kebaikan, berupa hubungan silaturrahim, bakti kepada kedua orang tua, mendamaikan pertikaian antar sesama, nasihat yang bermanfaat, saran yang benar, bantuan terhadap kebajikan dan taqwa, pencegahan dari keburukan, ataupun bimbingan dalam meraih kebaikan agama."
⬜️ (KETIGA) وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ BERPALINGLAH DENGAN TIDAK PERLU MENGGUBRIS ORANG-ORANG YANG BELUM PAHAM
Syaikh As Sa'di rahimahullah menyatakan:
“Allah ta'ala memerintahkan kita ketika menghadapi orang jahil (yang tidak paham agama) dengan menghindar dari mereka, dan tidak menanggapi kebodohan mereka.
Sehingga jika ada orang yang mengganggu anda dengan ucapan atau perbuatannya, jangan balas menyakitinya.
Begitu pula terhadap orang yang tidak lagi berbagi dengan anda, tetap berikan kebaikan anda kepadanya. Kepada yang telah memutus hubungan, hendaklah anda menyambungnya. Pun terhadap yang mendzalimi anda, tetaplah bersikap adil kepadanya.”
(Sampai disini kutipan makna dari Taisirul KarimirRahman).
Sehingga baik untuk kita nyatakan, saatnyalah momentum tepat kita menerapkannya. Senyampang (selagi_ed) tempaan dari Allah di bulan Ramadhan yang mengajarkan kesabaran masih lekat. Mumpung target ketakwaan masih dimuliakan.
Sambunglah silaturrahim yang mungkin terputus. Bersikaplah mulia dengan mengajukan permohonan maaf untuk menyulam kembali tali persaudaraan yang terkoyak. Jika tidak memungkinkan dengan bertemu langsung, semoga tercukupi dengan sarana komunikasi lain yang tersedia luas.
Segeralah memulai bertegur sapa, padamkan kemarahan dan permusuhan. Jangan biarkan dendam berkepanjangan apalagi menahun.
عَنْ أَبِي خِرَاشٍ السُّلَمِيِّ ، أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : مَنْ هَجَرَ أَخَاهُ سَنَةً فَهُوَ كَسَفْكِ دَمِهِ
“Orang yang memboikot tidak menyapa saudaranya selama periode setahun, keadaannya seperti menumpahkan darahnya.” (HR. Abu Dawud, dishahihkan Syakh Al Albani rahimahumullah).
Apabila kita diadu oleh pihak yang tidak senang kita bersatu, hendaknya kita mudah dipersatukan.
Dalam Musnad Imam Ahmad diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dari Nabi shollallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:
الْمُؤْمِنُ مَأْلَفٌ، وَلَا خَيْرَ فِيمَنْ لَا يَأْلَفُ وَلَا يُؤْلَفُ
"Orang beriman itu bersifat lembut mudah berdamai, tidak sempurna kebaikan bagi orang yang tidak mudah bersatu dan tidak bisa dipersatukan" (Dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Ash Shohihah no. 425)
Mari turut berbuat kebaikan dan terus mengajak saudara-saudara kita lainnya untuk andil dan turut melakukannya.
Jangan terhambat berbuat baik hanya karena celaan pihak-pihak yang belum memahami indahnya kebaikan ini.
Berpalinglah dari mereka orang-orang jahil, pihak-pihak yang berusaha merusak persatuan kita. Sambut dan ikutilah bimbingan dan nasihat para ulama, terkhusus para ulama senior terkemuka di masa kita.
Yakinlah dengan janji Allah والعاقبة للمتقين “Akhir yang baik hanya bagi pihak yang bertaqwa.”
Contoh gamblang bisa diperoleh dari kisah sarat hikmah perjalan hidup Nabi Yusuf ‘alaihissalam. Betapa beliau telah diberi taufiq Allah:
⚫️ Untuk bersabar dan berhati murah lagi mudah memaafkan kekejaman saudar-saudaranya di masa lalu
⚫️ Untuk konsisten berdakwah mengajarkan tauhid dan mengajak berbuat kebaikan walaupun dalam kesendirian dan kesulitan.
⚫️ Dan untuk tidak menggubris seruan kebodohan untuk bermaksiat kepada Allah, meskipun begitu dahsyat rayuan dan terbuka kesempatan.
Bukti hasil akhirnya Allah abadikan dalam firman-Nya, kala beliau menaikkan kedua ayah-bundanya ke atas singgasana. Dan semua saudaranya yang dulu mendzalimi beliau bersujud di hadapan Nabi Yusuf alaihissalam;
وَقَالَ يَا أَبَتِ هَٰذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِن قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا ۖ
"Dan Yusuf berkata: "Wahai ayahandaku inilah penjelasan ta'bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Robku telah menjadikannya sebagai kenyataan."
وَقَدْ أَحْسَنَ بِي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ السِّجْنِ وَجَاءَ بِكُم مِّنَ الْبَدْوِ مِن بَعْدِ أَن نَّزَغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي ۚ
"Dan sesungguhnya Robku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari penjara dan ketika membawa engkau dari dusun padang pasir, setelah setan merusakkan (hubungan) antara diriku dan saudara-saudaraku."
إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِّمَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
"Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." [QS Yusuf : 100]
Kebaikan dan kebahagian masih mungkin di raih di dunia. Adapun di akhirat, lebih jelas tanpa keraguan!
تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
"Negeri akhirat itu, hanya Kami peruntukkan bagi orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri maupun berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa."
Mari bersama mewujudkan kasih sayang ikhwan, dari sebuah kerinduan menjadi kenyataan!
Semoga Allah menyatukan hati-hati kita dalam ketaqwaan dan mengumpulkan kita semua di jannah-Nya sebagai saudara yang saling mencinta, kekal abadi dalam naungan rahmat-Nya.
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
✒ Al-Ustadz Abu Abdirrohman Sofian hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
عَنْ أَبِي خِرَاشٍ السُّلَمِيِّ ، أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : مَنْ هَجَرَ أَخَاهُ سَنَةً فَهُوَ كَسَفْكِ دَمِهِ
“Orang yang memboikot tidak menyapa saudaranya selama periode setahun, keadaannya seperti menumpahkan darahnya.” (HR. Abu Dawud, dishahihkan Syakh Al Albani rahimahumullah).
Apabila kita diadu oleh pihak yang tidak senang kita bersatu, hendaknya kita mudah dipersatukan.
Dalam Musnad Imam Ahmad diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dari Nabi shollallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:
الْمُؤْمِنُ مَأْلَفٌ، وَلَا خَيْرَ فِيمَنْ لَا يَأْلَفُ وَلَا يُؤْلَفُ
"Orang beriman itu bersifat lembut mudah berdamai, tidak sempurna kebaikan bagi orang yang tidak mudah bersatu dan tidak bisa dipersatukan" (Dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Ash Shohihah no. 425)
Mari turut berbuat kebaikan dan terus mengajak saudara-saudara kita lainnya untuk andil dan turut melakukannya.
Jangan terhambat berbuat baik hanya karena celaan pihak-pihak yang belum memahami indahnya kebaikan ini.
Berpalinglah dari mereka orang-orang jahil, pihak-pihak yang berusaha merusak persatuan kita. Sambut dan ikutilah bimbingan dan nasihat para ulama, terkhusus para ulama senior terkemuka di masa kita.
Yakinlah dengan janji Allah والعاقبة للمتقين “Akhir yang baik hanya bagi pihak yang bertaqwa.”
Contoh gamblang bisa diperoleh dari kisah sarat hikmah perjalan hidup Nabi Yusuf ‘alaihissalam. Betapa beliau telah diberi taufiq Allah:
⚫️ Untuk bersabar dan berhati murah lagi mudah memaafkan kekejaman saudar-saudaranya di masa lalu
⚫️ Untuk konsisten berdakwah mengajarkan tauhid dan mengajak berbuat kebaikan walaupun dalam kesendirian dan kesulitan.
⚫️ Dan untuk tidak menggubris seruan kebodohan untuk bermaksiat kepada Allah, meskipun begitu dahsyat rayuan dan terbuka kesempatan.
Bukti hasil akhirnya Allah abadikan dalam firman-Nya, kala beliau menaikkan kedua ayah-bundanya ke atas singgasana. Dan semua saudaranya yang dulu mendzalimi beliau bersujud di hadapan Nabi Yusuf alaihissalam;
وَقَالَ يَا أَبَتِ هَٰذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِن قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا ۖ
"Dan Yusuf berkata: "Wahai ayahandaku inilah penjelasan ta'bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Robku telah menjadikannya sebagai kenyataan."
وَقَدْ أَحْسَنَ بِي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ السِّجْنِ وَجَاءَ بِكُم مِّنَ الْبَدْوِ مِن بَعْدِ أَن نَّزَغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي ۚ
"Dan sesungguhnya Robku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari penjara dan ketika membawa engkau dari dusun padang pasir, setelah setan merusakkan (hubungan) antara diriku dan saudara-saudaraku."
إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِّمَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
"Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." [QS Yusuf : 100]
Kebaikan dan kebahagian masih mungkin di raih di dunia. Adapun di akhirat, lebih jelas tanpa keraguan!
تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
"Negeri akhirat itu, hanya Kami peruntukkan bagi orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri maupun berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa."
Mari bersama mewujudkan kasih sayang ikhwan, dari sebuah kerinduan menjadi kenyataan!
Semoga Allah menyatukan hati-hati kita dalam ketaqwaan dan mengumpulkan kita semua di jannah-Nya sebagai saudara yang saling mencinta, kekal abadi dalam naungan rahmat-Nya.
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
✒ Al-Ustadz Abu Abdirrohman Sofian hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله رب العالمين وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أما بعد :
Alhamdulillah, telah sampai kepada kami bimbingan (yang bersifat terbatas) dari Syaikh kita, Syaikh Abdullah bin Abdurrahim al-Bukhari —semoga Allah menjaga beliau—pada Senin, 5 Syawal 1442 H.
Atas dasar itu, kami nasihatkan untuk diri kami dan untuk segenap ikhwah salafiyyin:
1. Hendaknya kita semua bertakwa kepada Allah, terkhusus dalam dakwah ini dan menjaga nama baiknya.
2. Hendaknya kita semua menjaga ukhuwah di atas al-haq dan menjauhi perpecahan.
3. Kepada seluruh media secara umum, baik akun pribadi maupun grup/channel, seperti: WhatsApp, Telegram, dan medsos serta media lainnya; untuk tidak membicarakan perselisihan yang terjadi ini dan tidak saling memberi dan berbalas komentar terkait hal tersebut.
4. Hendaknya kita menyerahkan permasalahan yang diperselisihkan ini kepada masyayikh.
5. Hendaknya kita tetap fokus dalam dakwah dan tarbiah.
Semoga Allah membalas kebaikan kepada Syaikh Abdullah bin Abdurrahim al-Bukhari dan menjaga beliau dari segala kejelekan.
Semoga Allah memberikan taufik kepada kita semua.
ّ
وصلى الله على نبينا محمد و آله وصحبه وسلم
Rabu, 7 Syawal 1442 H/19 Mei 2021 M
Ustadz Muhammad as-Sewed
Ustadz Abdushshamad Bawazier
Ustadz Usamah Faishal Mahri
Ustadz Syafrudin
Ustadz Abdul Jabbar
Ustadz Afifudin
Ustadz Qomar Zainudin Abdullah
Link PDF:
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/9291
◽️◽️◽️◽️◽️◽️◽️◽️◽️
الحمدلله رب العالمين وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أما بعد :
Alhamdulillah, telah sampai kepada kami bimbingan (yang bersifat terbatas) dari Syaikh kita, Syaikh Abdullah bin Abdurrahim al-Bukhari —semoga Allah menjaga beliau—pada Senin, 5 Syawal 1442 H.
Atas dasar itu, kami nasihatkan untuk diri kami dan untuk segenap ikhwah salafiyyin:
1. Hendaknya kita semua bertakwa kepada Allah, terkhusus dalam dakwah ini dan menjaga nama baiknya.
2. Hendaknya kita semua menjaga ukhuwah di atas al-haq dan menjauhi perpecahan.
3. Kepada seluruh media secara umum, baik akun pribadi maupun grup/channel, seperti: WhatsApp, Telegram, dan medsos serta media lainnya; untuk tidak membicarakan perselisihan yang terjadi ini dan tidak saling memberi dan berbalas komentar terkait hal tersebut.
4. Hendaknya kita menyerahkan permasalahan yang diperselisihkan ini kepada masyayikh.
5. Hendaknya kita tetap fokus dalam dakwah dan tarbiah.
Semoga Allah membalas kebaikan kepada Syaikh Abdullah bin Abdurrahim al-Bukhari dan menjaga beliau dari segala kejelekan.
Semoga Allah memberikan taufik kepada kita semua.
ّ
وصلى الله على نبينا محمد و آله وصحبه وسلم
Rabu, 7 Syawal 1442 H/19 Mei 2021 M
Ustadz Muhammad as-Sewed
Ustadz Abdushshamad Bawazier
Ustadz Usamah Faishal Mahri
Ustadz Syafrudin
Ustadz Abdul Jabbar
Ustadz Afifudin
Ustadz Qomar Zainudin Abdullah
Link PDF:
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/9291
◽️◽️◽️◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
Nasihat Kepada Salafiyyin.pdf
::
📬 WAKTU PELAKSANAAN PUASA SYAWWAL, ANTARA YANG DIBOLEHKAN DAN YANG LEBIH UTAMA
Pertanyaan:
Sebagian orang, wahai Syaikh yang kami hormati, memilih untuk mengakhirkan pelaksanaan puasa 6 hari di bulan Syawwal, hingga bisa bertepatan dengan "hari-hari putih" ( أيام البيض tanggal 13, 14 & 15 qomariyyah -pent.), atau (bertepatan dengan) hari Senin dan Kamis.
Manakah yang lebih utama:
- Bersambung secara berurutan? ataukah
- Menundanya (sehingga bertepatan dengan waktu-waktu tersebut) ?
Jawaban Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah:
Penunaian bersambung secara urut tentu lebih utama. Karena cara ini menyambungkan dengan Ramadhan seperti (sholat) rowatib secara sempurna.
Sehingga keadaan seseorang menunaikannya langsung dimulai setelah Iedul Fithri sejak hari kedua bulan Syawwal dan menyambungnya, cara ini lebih utama, tanpa keraguan pada hal ini.
Namun jika dia meniatkan bersamaan dengan melakukan puasa 6 hari tersebut bertepatan dengan "hari-hari putih" telah tercukupi juga. Karena dia telah benar-benar menerapkan puasa (setidaknya) tiga hari dalam sebulan.
Kemudian (jika ternyata) pada hari-hari pelaksanaanya itu juga bertepatan dengan hari Senin dan Kamis (keduanya), atau (salah satu dari) hari Kamis atau Senin, tentu saja bisa terjadi. Yang demikian (diharapkan) dapat diraih tergabungkannya 2 pahala sekaligus.
=====================
السؤال:
بعض الناس يا فضيلة الشيخ يؤخرون صيام ست أيام من شوال إلى أيام البيض أو الإثنين والخميس فأيهما أفضل: التتابع أم تأخيرها؟
الجواب:
التتابع أفضل؛ لأن هذه تابعة لرمضان كالراتبة تماماً، فكونه يبدأ بها من حين أن يفطر في اليوم الثاني من شوال ويتابع أفضل؛ لا شك في هذا، ثم إنه إذا نوى بهذه الأيام الستة أنها عن أيام البيض كفاه؛ لأنه يصدق عليه أنه صام ثلاثة أيام من كل شهر، ثم إن هذه الأيام سوف يمر عليه فيها يوم الإثنين ويوم الخميس، أو يوم الخميس أو يوم الإثنين لا بد من هذا فيحصل له الأجران جميعاً.
Sumber:
https://binothaimeen.net/content/946
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Artikel terkait:
https://itishom.org/blog/artikel/ibadah-artikel/seputar-puasa-6-hari-di-bulan-syawwal/
https://itishom.org/blog/artikel/ibadah-artikel/keutamaan-puasa/
https://itishom.org/blog/artikel/fatwa/apakah-vaksin-membatalkan-puasa/
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
✒ Dialihbahasakan oleh Al-Ustadz Abu Abdirrohman Sofian hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 WAKTU PELAKSANAAN PUASA SYAWWAL, ANTARA YANG DIBOLEHKAN DAN YANG LEBIH UTAMA
Pertanyaan:
Sebagian orang, wahai Syaikh yang kami hormati, memilih untuk mengakhirkan pelaksanaan puasa 6 hari di bulan Syawwal, hingga bisa bertepatan dengan "hari-hari putih" ( أيام البيض tanggal 13, 14 & 15 qomariyyah -pent.), atau (bertepatan dengan) hari Senin dan Kamis.
Manakah yang lebih utama:
- Bersambung secara berurutan? ataukah
- Menundanya (sehingga bertepatan dengan waktu-waktu tersebut) ?
Jawaban Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah:
Penunaian bersambung secara urut tentu lebih utama. Karena cara ini menyambungkan dengan Ramadhan seperti (sholat) rowatib secara sempurna.
Sehingga keadaan seseorang menunaikannya langsung dimulai setelah Iedul Fithri sejak hari kedua bulan Syawwal dan menyambungnya, cara ini lebih utama, tanpa keraguan pada hal ini.
Namun jika dia meniatkan bersamaan dengan melakukan puasa 6 hari tersebut bertepatan dengan "hari-hari putih" telah tercukupi juga. Karena dia telah benar-benar menerapkan puasa (setidaknya) tiga hari dalam sebulan.
Kemudian (jika ternyata) pada hari-hari pelaksanaanya itu juga bertepatan dengan hari Senin dan Kamis (keduanya), atau (salah satu dari) hari Kamis atau Senin, tentu saja bisa terjadi. Yang demikian (diharapkan) dapat diraih tergabungkannya 2 pahala sekaligus.
=====================
السؤال:
بعض الناس يا فضيلة الشيخ يؤخرون صيام ست أيام من شوال إلى أيام البيض أو الإثنين والخميس فأيهما أفضل: التتابع أم تأخيرها؟
الجواب:
التتابع أفضل؛ لأن هذه تابعة لرمضان كالراتبة تماماً، فكونه يبدأ بها من حين أن يفطر في اليوم الثاني من شوال ويتابع أفضل؛ لا شك في هذا، ثم إنه إذا نوى بهذه الأيام الستة أنها عن أيام البيض كفاه؛ لأنه يصدق عليه أنه صام ثلاثة أيام من كل شهر، ثم إن هذه الأيام سوف يمر عليه فيها يوم الإثنين ويوم الخميس، أو يوم الخميس أو يوم الإثنين لا بد من هذا فيحصل له الأجران جميعاً.
Sumber:
https://binothaimeen.net/content/946
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Artikel terkait:
https://itishom.org/blog/artikel/ibadah-artikel/seputar-puasa-6-hari-di-bulan-syawwal/
https://itishom.org/blog/artikel/ibadah-artikel/keutamaan-puasa/
https://itishom.org/blog/artikel/fatwa/apakah-vaksin-membatalkan-puasa/
▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️
✒ Dialihbahasakan oleh Al-Ustadz Abu Abdirrohman Sofian hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 HUKUM MENGGUNAKAN AIR HANGAT UNTUK BERWUDHU ATAU MANDI
Berikut ini akan disebutkan sebagian perbuatan Sahabat Nabi ﷺ yang menggunakan air hangat untuk berwudhu atau mandi, menunjukkan bolehnya perbuatan tersebut. Apalagi dalam kondisi seseorang kedinginan ketika berada pada cuaca tertentu atau kondisi badannya menyulitkan dia untuk memakai air dingin.
عَنْ سَلَمَةَ: «أَنَّهُ كَانَ يُسَخَّنُ لَهُ الْمَاءُ فَيَتَوَضَّأُ»
Dari Salamah (bin al-Akwaa’) bahwasanya air dihangatkan untuk beliau kemudian beliau berwudhu (dengan air itu) (H.R atThobaroniy dan Ibnu Abi Syaibah)
Rosyid bin Ma’bad al-Waashity berkata:
رَأَيْتُ الْمَاءَ يُسَخَّنُ لِأَنَسِ بْنِ مَالِكٍ فِي الشِّتَاءِ ، ثُمَّ يَغْتَسِلُ بِهِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ
Aku melihat air dihangatkan untuk Anas bin Malik di musim dingin, kemudian beliau mandi menggunakan air itu pada hari Jumat (H.R Ibnul Mundzir dalam al-Awsath riwayat no 166)
عَنْ أَيُّوبَ ، قَالَ : سَأَلْتُ نَافِعًا عَنِ الْمَاءِ السُّخْنِ ؟ فَقَالَ : كَانَ ابْنُ عُمَرَ يَتَوَضَّأُ بِالْحَمِيم
Dari Ayyub ia berkata: Aku bertanya kepada Nafi’ tentang air hangat. Nafi’ berkata: Ibnu Umar biasa berwudhu dengan air hangat (H.R Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnafnya)
Jika cuaca sangat dingin dan seseorang masih memungkinkan untuk menghangatkan air yang ia pakai untuk berwudhu atau mandi, ia tidak boleh bertayammum.
Bertayammum hanya boleh dilakukan jika seseorang yang sangat kedinginan tidak bisa menghangatkan air.
Syaikh Bin Baz rahimahullah menyatakan:
ليس لك التيمم وأنت تقدر على الماء الساخن، التيمم لمن عجز عن الماء الساخن في وقت البرد كما فعل عمرو بن العاص في بعض الغزوات لما اشتد البرد وخاف على نفسه تيمم، أما الذي يستطيع الماء الساخن فليس له التيمم، يسخن الماء ويتوضأ
Anda tidak boleh tayammum jika anda mampu (menggunakan) air hangat. Tayammum adalah untuk yang tidak mampu (mengadakan) air hangat di waktu dingin. Sebagaimana perbuatan Amr bin al-‘Ash dalam sebagian pertempuran (yang diikuti) ketika (cuaca) sangat dingin dan beliau mengkhawatirkan kondisi dirinya sehingga beliau bertayammum. Adapun orang yang mampu untuk membuat air hangat, dia tidak boleh bertayammum. Dia hangatkan air kemudian berwudhu.
(https://binbaz.org.sa/fatwas/16893/حكم-التيمم-خوفا-من-الماء-البارد)
Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 HUKUM MENGGUNAKAN AIR HANGAT UNTUK BERWUDHU ATAU MANDI
Berikut ini akan disebutkan sebagian perbuatan Sahabat Nabi ﷺ yang menggunakan air hangat untuk berwudhu atau mandi, menunjukkan bolehnya perbuatan tersebut. Apalagi dalam kondisi seseorang kedinginan ketika berada pada cuaca tertentu atau kondisi badannya menyulitkan dia untuk memakai air dingin.
عَنْ سَلَمَةَ: «أَنَّهُ كَانَ يُسَخَّنُ لَهُ الْمَاءُ فَيَتَوَضَّأُ»
Dari Salamah (bin al-Akwaa’) bahwasanya air dihangatkan untuk beliau kemudian beliau berwudhu (dengan air itu) (H.R atThobaroniy dan Ibnu Abi Syaibah)
Rosyid bin Ma’bad al-Waashity berkata:
رَأَيْتُ الْمَاءَ يُسَخَّنُ لِأَنَسِ بْنِ مَالِكٍ فِي الشِّتَاءِ ، ثُمَّ يَغْتَسِلُ بِهِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ
Aku melihat air dihangatkan untuk Anas bin Malik di musim dingin, kemudian beliau mandi menggunakan air itu pada hari Jumat (H.R Ibnul Mundzir dalam al-Awsath riwayat no 166)
عَنْ أَيُّوبَ ، قَالَ : سَأَلْتُ نَافِعًا عَنِ الْمَاءِ السُّخْنِ ؟ فَقَالَ : كَانَ ابْنُ عُمَرَ يَتَوَضَّأُ بِالْحَمِيم
Dari Ayyub ia berkata: Aku bertanya kepada Nafi’ tentang air hangat. Nafi’ berkata: Ibnu Umar biasa berwudhu dengan air hangat (H.R Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnafnya)
Jika cuaca sangat dingin dan seseorang masih memungkinkan untuk menghangatkan air yang ia pakai untuk berwudhu atau mandi, ia tidak boleh bertayammum.
Bertayammum hanya boleh dilakukan jika seseorang yang sangat kedinginan tidak bisa menghangatkan air.
Syaikh Bin Baz rahimahullah menyatakan:
ليس لك التيمم وأنت تقدر على الماء الساخن، التيمم لمن عجز عن الماء الساخن في وقت البرد كما فعل عمرو بن العاص في بعض الغزوات لما اشتد البرد وخاف على نفسه تيمم، أما الذي يستطيع الماء الساخن فليس له التيمم، يسخن الماء ويتوضأ
Anda tidak boleh tayammum jika anda mampu (menggunakan) air hangat. Tayammum adalah untuk yang tidak mampu (mengadakan) air hangat di waktu dingin. Sebagaimana perbuatan Amr bin al-‘Ash dalam sebagian pertempuran (yang diikuti) ketika (cuaca) sangat dingin dan beliau mengkhawatirkan kondisi dirinya sehingga beliau bertayammum. Adapun orang yang mampu untuk membuat air hangat, dia tidak boleh bertayammum. Dia hangatkan air kemudian berwudhu.
(https://binbaz.org.sa/fatwas/16893/حكم-التيمم-خوفا-من-الماء-البارد)
Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah
WA al I'tishom | situs web: itishom.org | telegram : @alitishombissunnah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة نشر الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للاشتراك : افتح الرابط واضغط على اشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
binbaz.org.sa
حكم التيمم خوفًا من الماء البارد
الجواب:
ليس لك التيمم وأنت تقدر على الماء الساخن، التيمم لمن عجز عن الماء الساخن في وقت
ليس لك التيمم وأنت تقدر على الماء الساخن، التيمم لمن عجز عن الماء الساخن في وقت
::
📬 KHUTBAH JUMAT MAKNA DUA KALIMAT SYAHADAT (TEMA: TAUHID)
✅ Khotbah Pertama:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
Saudaraku kaum muslimin, rahimakumullah...
Untuk menjadi seorang muslim, dua kalimat syahadat haruslah diucapkan dan dijalankan konsekuensinya. Dua kalimat syahadat adalah persaksian yang kuat yang akan dimintakan pertanggungjawaban di akhirat.
Dua kalimat syahadat itu, jika diucapkan dengan sesungguhnya dan dijalankan kandungannya sebenar-benarnya, akan menyelamatkan seseorang dari api Neraka. Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:
مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ النَّارَ
Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, Allah akan mengharamkan Neraka untuknya (H.R Muslim dari Ubadah bin as-Shomit)
Pada khotbah Jumat kali ini, insyaallah kita akan mengkaji makna dua kalimat syahadat. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan taufiq dan pertolonganNya kepada kita semua.
Persaksian yang pertama adalah ungkapan kita:
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah
Dalam persaksian ini kita meyakini bahwa seluruh peribadatan kepada selain Allah adalah batil. Peribadatan yang benar hanyalah yang dipersembahkan untuk Allah semata.
ذلِكَ بِأَنَّ اللهَ هُوَ اْلحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِهِ هُوَ اْلبَاطِلُ
“ Yang demikian itu adalah karena hanya Allahlah satu-satunya (sesembahan) yang haq, adapun yang mereka sembah selainNya adalah batil “(Q.S AlHajj:62)
Segala macam bentuk ibadah tidak boleh dipersembahkan untuk selain Allah. Jangan berdoa kepada selain Allah karena doa adalah ibadah, hanya hak Allah semata.
عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْر قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ الدَّعَاءُ هُوَ اْلعِبَادَةُ ثُمَّ قَرَأَ وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْ أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ
"Dari Sahabat an-Nu'maan bin Basyiir –semoga Allah meridhainya- beliau berkata : ' Saya mendengar Nabi Shollallaahu 'alaihi wasallam bersabda : " Doa adalah ibadah ". Kemudian beliau membaca ayat (Q.S Ghaafir /al -Mu 'min : 60) (yang artinya) : " Dan Tuhan kalian telah berkata : Berdoalah kepadaKu niscaya akan Aku kabulkan. Sesungguhnya orang- orang yang sombong (tidak mau) beribadah kepadaKu, akan Aku masukkan ke dalam Jahannam dalam keadaan hina "(H.R Ahmad, Ibnu Majah, Abu Dawud, AtTirmidzi,dan beliau menyatakan bahwa hadits ini hasan shohih, dishohihkan oleh Syaikh Al-Albaany)
Jangan pula berdoa menjadikan selain Allah sebagai perantara dalam permintaan doa kita. Kaum musyrikin yang didakwahi oleh Rasulullah shollallahu alaihi wasallam itu menjadikan berhala-berhala yang mereka sembah sebagai perantara agar semakin mendekatkan mereka kepada Allah. Demikian Allah abadikan pengakuan mereka dalam alQuran:
وَالَّذِيْنَ اتَّخَذُوا مِنْ دُوْنِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلاَّ لِيُقَرِّبُوْنَا إِلَى اللهِ زُلْفَى
“Dan orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai wali-wali (penolong), (mereka mengatakan) : ‘kami tidaklah menyembah mereka kecuali supaya mendekatkan diri kami kepada Allah’ (Q.S AzZumar : 3)
Konsekuensi dari syahadat yang pertama ini adalah jangan beribadah kecuali hanya kepada Allah. Segala macam ibadah baik lahir maupun batin tidak boleh dipersembahkan kecuali hanya untuk Allah. Apapun ibadah itu baik ucapan, perbuatan, ataupun yang ada dalam hati.
📬 KHUTBAH JUMAT MAKNA DUA KALIMAT SYAHADAT (TEMA: TAUHID)
✅ Khotbah Pertama:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
Saudaraku kaum muslimin, rahimakumullah...
Untuk menjadi seorang muslim, dua kalimat syahadat haruslah diucapkan dan dijalankan konsekuensinya. Dua kalimat syahadat adalah persaksian yang kuat yang akan dimintakan pertanggungjawaban di akhirat.
Dua kalimat syahadat itu, jika diucapkan dengan sesungguhnya dan dijalankan kandungannya sebenar-benarnya, akan menyelamatkan seseorang dari api Neraka. Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:
مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ النَّارَ
Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, Allah akan mengharamkan Neraka untuknya (H.R Muslim dari Ubadah bin as-Shomit)
Pada khotbah Jumat kali ini, insyaallah kita akan mengkaji makna dua kalimat syahadat. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan taufiq dan pertolonganNya kepada kita semua.
Persaksian yang pertama adalah ungkapan kita:
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah
Dalam persaksian ini kita meyakini bahwa seluruh peribadatan kepada selain Allah adalah batil. Peribadatan yang benar hanyalah yang dipersembahkan untuk Allah semata.
ذلِكَ بِأَنَّ اللهَ هُوَ اْلحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِهِ هُوَ اْلبَاطِلُ
“ Yang demikian itu adalah karena hanya Allahlah satu-satunya (sesembahan) yang haq, adapun yang mereka sembah selainNya adalah batil “(Q.S AlHajj:62)
Segala macam bentuk ibadah tidak boleh dipersembahkan untuk selain Allah. Jangan berdoa kepada selain Allah karena doa adalah ibadah, hanya hak Allah semata.
عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْر قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ الدَّعَاءُ هُوَ اْلعِبَادَةُ ثُمَّ قَرَأَ وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْ أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ
"Dari Sahabat an-Nu'maan bin Basyiir –semoga Allah meridhainya- beliau berkata : ' Saya mendengar Nabi Shollallaahu 'alaihi wasallam bersabda : " Doa adalah ibadah ". Kemudian beliau membaca ayat (Q.S Ghaafir /al -Mu 'min : 60) (yang artinya) : " Dan Tuhan kalian telah berkata : Berdoalah kepadaKu niscaya akan Aku kabulkan. Sesungguhnya orang- orang yang sombong (tidak mau) beribadah kepadaKu, akan Aku masukkan ke dalam Jahannam dalam keadaan hina "(H.R Ahmad, Ibnu Majah, Abu Dawud, AtTirmidzi,dan beliau menyatakan bahwa hadits ini hasan shohih, dishohihkan oleh Syaikh Al-Albaany)
Jangan pula berdoa menjadikan selain Allah sebagai perantara dalam permintaan doa kita. Kaum musyrikin yang didakwahi oleh Rasulullah shollallahu alaihi wasallam itu menjadikan berhala-berhala yang mereka sembah sebagai perantara agar semakin mendekatkan mereka kepada Allah. Demikian Allah abadikan pengakuan mereka dalam alQuran:
وَالَّذِيْنَ اتَّخَذُوا مِنْ دُوْنِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلاَّ لِيُقَرِّبُوْنَا إِلَى اللهِ زُلْفَى
“Dan orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai wali-wali (penolong), (mereka mengatakan) : ‘kami tidaklah menyembah mereka kecuali supaya mendekatkan diri kami kepada Allah’ (Q.S AzZumar : 3)
Konsekuensi dari syahadat yang pertama ini adalah jangan beribadah kecuali hanya kepada Allah. Segala macam ibadah baik lahir maupun batin tidak boleh dipersembahkan kecuali hanya untuk Allah. Apapun ibadah itu baik ucapan, perbuatan, ataupun yang ada dalam hati.