::
📬 DEMONSTRASI HANYA MENAMBAH PETAKA
Siapa pun dengan pasti akan memprediksi,
”Pasti akan berakhir rusuh!”.
Hati semakin bersedih dan jiwa bertambah sesak melihat kenyataan pada beberapa tempat di negeri ini. Korban luka berjatuhan bahkan ada yang berakhir dengan meregang nyawa.
Batu-batu beterbangan diselingi dengan asap dan api bom molotov. Benda-benda tumpul entah kayu, besi atau lainnya. Terlihat jelas berada di tangan-tangan sekelompok anak muda yang menamakan diri mereka sebagai Barisan Mahasiswa.
Pihak aparat keamanan yang berusaha mengikuti prosedur dan protap pengamanan, sesungguhnya telah cukup bersabar. Cacian dan celaan ditujukan kepada mereka. Aparat dilempari dan diludahi bahkan dipukuli, dan mereka pun manusia biasa. Sehingga terjadilah aksi baku balas antara demonstran dan aparat keamanan. Laa haula wa laa quwwata illa billah, Apa hasilnya?
Kerugian dan kerugian lalu kerugian. Harta, nyawa, waktu, tenaga dan segala-segalanya. Tidak ada lagi rasa nyaman karena berganti ketakutan. Ketentraman masyarakat pun berangsur hilang setelah sebelumnya berkurang. Yang lebih menyedihkan lagi, pelaku-pelakunya justru berasal dari lapisan masyarakat yang disebut “kaum terpelajar”.
Ilustrasi di atas hanyalah sepenggal kisah dari catatan hitam dari aksi-aksi yang bernama demosntrasi, unjuk rasa, atau apapun nama lainnya. Dengan berbagai alasan yang dibumbui kata-kata menyentuh hati atau demi membela keadilan, aksi-aksi itupun dijalankan.
”Melawan Tirani Lalim”,
”Membela Hak-Hak Rakyat”,
”Jihad Melawan Penguasa”,
”Kami Menuntut Keadilan”,
”Pemerintah Selalu Menyengsarakan Rakyat”
dan masih seabreg slogan dan yel-yel lain kaum demonstran.
Sebenarnya bagaimanakah pandangan islam tentang hal ini? Berikut ini kami akan menukilkan fatwa dari beberapa ulama’ besar masa kini tentang hukum aksi demonstrasi atau unjuk rasa.
FATWA SYAIKH ABDUL AZIZ BIN ABDULLAH BIN BAZ RAHIMAHULLAH
Beliau pernah ditanya,
Apakah demonstrasi yang terdiri dari kaum laki-laki dan wanita dalam rangka menentang penguasa dan pemerintah termasuk salah satu sarana dakwah?
Apakah orang yang meninggal dunia saat aksi demonstrasi dapat disebut sebagai mati syahid di jalan Allah?
Beliau menjawab :
“Saya berpendapat ; Demontrasi yang terdiri dari kaum laki-laki dan wanita bukanlah sebuah solusi. Akan tetapi, demonstrasi hanya akan menjadi sebab munculnya fitnah, keburukan, kedzoliman dan pelanggaran bagi sebagian orang tanpa hak.
Namun, ada cara-cara yang sesuai syari’at Islam yaitu dengan mengirim surat, menasehati dan ajakan kepada kebaikan dengan menempuh langkah-langkah yang baik.
Demikianlah yang ditempuh oleh para ulama’ dan juga yang dilakukan para sahabat Nabi dan para pengikut mereka dengan baik. Dengan cara mengirimkan surat atau berdialog secara langsung berhadapan dengan pihak pemimpin atau penguasa, tanpa menyebarluaskan di atas mimbar-mimbar atau tempat lain bahwa, ”Pemerintah telah berbuat ini! Sehingga menjadi seperti itu!”. Wallahul musta’aan” selesai
FATWA SYAIKH MUHAMMAD NASHIRUDIN AL ALBANI RAHIMAHULLAH
Di dalam Silsilah Hadits Dhaifah pada hadits tentang kisah masuk Islamnya Umar bin Khattab dan keluarnya mereka bersama Nabi dalam dua barisan untuk melawan kaum musyrikin,
Syaikh Al Albani menjelaskan, “Hadits di atas munkar”.
Kemudian beliau menjelaskan ; ”Barangkali itu adalah sebabnya atau menjadi sebab sebagian saudara-saudara kita, para dai, berdalil tentang disyari’atkannya demonstrasi yang dikenal pada masa ini bahwa: “demonstrasi termasuk cara berdakwah Nabi”. Dan beberapa kelompok Islam masih berdalih dengannya. Mereka lupa bahwa demonstrasi termasuk kebiasaan dan metode orang-orang kafir". selesai
📬 DEMONSTRASI HANYA MENAMBAH PETAKA
Siapa pun dengan pasti akan memprediksi,
”Pasti akan berakhir rusuh!”.
Hati semakin bersedih dan jiwa bertambah sesak melihat kenyataan pada beberapa tempat di negeri ini. Korban luka berjatuhan bahkan ada yang berakhir dengan meregang nyawa.
Batu-batu beterbangan diselingi dengan asap dan api bom molotov. Benda-benda tumpul entah kayu, besi atau lainnya. Terlihat jelas berada di tangan-tangan sekelompok anak muda yang menamakan diri mereka sebagai Barisan Mahasiswa.
Pihak aparat keamanan yang berusaha mengikuti prosedur dan protap pengamanan, sesungguhnya telah cukup bersabar. Cacian dan celaan ditujukan kepada mereka. Aparat dilempari dan diludahi bahkan dipukuli, dan mereka pun manusia biasa. Sehingga terjadilah aksi baku balas antara demonstran dan aparat keamanan. Laa haula wa laa quwwata illa billah, Apa hasilnya?
Kerugian dan kerugian lalu kerugian. Harta, nyawa, waktu, tenaga dan segala-segalanya. Tidak ada lagi rasa nyaman karena berganti ketakutan. Ketentraman masyarakat pun berangsur hilang setelah sebelumnya berkurang. Yang lebih menyedihkan lagi, pelaku-pelakunya justru berasal dari lapisan masyarakat yang disebut “kaum terpelajar”.
Ilustrasi di atas hanyalah sepenggal kisah dari catatan hitam dari aksi-aksi yang bernama demosntrasi, unjuk rasa, atau apapun nama lainnya. Dengan berbagai alasan yang dibumbui kata-kata menyentuh hati atau demi membela keadilan, aksi-aksi itupun dijalankan.
”Melawan Tirani Lalim”,
”Membela Hak-Hak Rakyat”,
”Jihad Melawan Penguasa”,
”Kami Menuntut Keadilan”,
”Pemerintah Selalu Menyengsarakan Rakyat”
dan masih seabreg slogan dan yel-yel lain kaum demonstran.
Sebenarnya bagaimanakah pandangan islam tentang hal ini? Berikut ini kami akan menukilkan fatwa dari beberapa ulama’ besar masa kini tentang hukum aksi demonstrasi atau unjuk rasa.
FATWA SYAIKH ABDUL AZIZ BIN ABDULLAH BIN BAZ RAHIMAHULLAH
Beliau pernah ditanya,
Apakah demonstrasi yang terdiri dari kaum laki-laki dan wanita dalam rangka menentang penguasa dan pemerintah termasuk salah satu sarana dakwah?
Apakah orang yang meninggal dunia saat aksi demonstrasi dapat disebut sebagai mati syahid di jalan Allah?
Beliau menjawab :
“Saya berpendapat ; Demontrasi yang terdiri dari kaum laki-laki dan wanita bukanlah sebuah solusi. Akan tetapi, demonstrasi hanya akan menjadi sebab munculnya fitnah, keburukan, kedzoliman dan pelanggaran bagi sebagian orang tanpa hak.
Namun, ada cara-cara yang sesuai syari’at Islam yaitu dengan mengirim surat, menasehati dan ajakan kepada kebaikan dengan menempuh langkah-langkah yang baik.
Demikianlah yang ditempuh oleh para ulama’ dan juga yang dilakukan para sahabat Nabi dan para pengikut mereka dengan baik. Dengan cara mengirimkan surat atau berdialog secara langsung berhadapan dengan pihak pemimpin atau penguasa, tanpa menyebarluaskan di atas mimbar-mimbar atau tempat lain bahwa, ”Pemerintah telah berbuat ini! Sehingga menjadi seperti itu!”. Wallahul musta’aan” selesai
FATWA SYAIKH MUHAMMAD NASHIRUDIN AL ALBANI RAHIMAHULLAH
Di dalam Silsilah Hadits Dhaifah pada hadits tentang kisah masuk Islamnya Umar bin Khattab dan keluarnya mereka bersama Nabi dalam dua barisan untuk melawan kaum musyrikin,
Syaikh Al Albani menjelaskan, “Hadits di atas munkar”.
Kemudian beliau menjelaskan ; ”Barangkali itu adalah sebabnya atau menjadi sebab sebagian saudara-saudara kita, para dai, berdalil tentang disyari’atkannya demonstrasi yang dikenal pada masa ini bahwa: “demonstrasi termasuk cara berdakwah Nabi”. Dan beberapa kelompok Islam masih berdalih dengannya. Mereka lupa bahwa demonstrasi termasuk kebiasaan dan metode orang-orang kafir". selesai
FATWA SYAIKH MUHAMMAD BIN SHALIH AL UTSAIMIN RAHIMAHULLAH
Beliau pernah ditanya,
“Mengenai pemerintah yang berhukum dengan hukum yang tidak diturunkan Allah. Kemudian pemerintah mengizinkan sebagian masyarakat untuk melakukan aksi demonstrasi, yang dinamakan ‘ishoomiyyah (memperoleh kedudukan dengan hasil usaha sendiri)! Disertai undang-undang yang ditetapkan oleh pemerintah itu sendiri. Lalu,orang-orang tersebut melakukannya. Apabila aksi mereka diingkari,mereka menjawab,” Kami tidak menentang pemerintah dan kami melakukannya dengan ketetapan pemerintah”. Apakah hal ini diperbolehkan secara syari’at? Padahal ada pertentangan dengan dalil?
Beliau menjawab,
“Wajib bagimu untuk mengikuti Salaf! Apabila hal ini dilakukan oleh Salaf, maka pasti baik. Apabila tidak,pasti jelek. Tidak ada keraguan lagi jika demsontrasi itu jelek. Sebab, demonstrasi akan menghantarkan kepada kekacauan. Yang dilakukan oleh para demonstran maupun pihak lain. Bahkan sering terjadi pelanggaran. Bisa saja pelanggaran terhadap kehormatan, harta maupun fisik orang. Karena dalam keadaan kacau/rusuh, orang seperti mabuk yang tidak mengetahui apa yang dia ucapkan dan apa yang dia lakukan!” selesai
Pembaca yang terhormat,
Demonstrasi seluruhnya buruk, Apakah diizinkan oleh pihak pemerintah maupun tidak? Jika ada sebagian pemerintah mengizinkan terselenggaranya aksi demosntrasi, maka hal itu hanyalah propaganda. Misalnya dipulangkan ke hati, sungguh pemerintah manapun tidak akan menyukai bahkan sangat membenci. Namun, ia hanya berpura-pura saja.
Sebagaimana dia mengatakan,”Ini kan demokrasi!” Padahal demokrasi hanya akan membuka pintu kebebasan (tanpa aturan agama) bagi umat manusia. Hal ini bukanlah jalan Salaf!
FATWA SYAIKH MUQBIL BIN HADI RAHIMAHULLAH
Beliau mengatakan,
“Segala puji bagi Allah. Sungguh saya sering mengingatkan tentang (dampak negatif) demonstrasi di dalam khutbah hari raya maupun khutbah-khutbah jum’at” selesai
FATWA SYAIKH SHALIH BIN FAUZAN AL FAUZAN HAFIZHAHULLAH
Beliau menjelaskan,
“Agama kita bukan agama yang kacau tanpa aturan, akan tetapi agama kita adalah agama yang mapan, teratur rap, dan mengajarkan ketenangan.
Demonstrasi bukan termasuk amalan umat Islam. Kaum muslimin tidak mengenal demonstrasi! Islam adalah agama yang mengajarkan ketenangan, kasih saying, dan kestabilan.
Di dalam Islam tidak ada ajaran kekacauan, kerusuhan maupun menimbulkan fitnah. Inilah agama Islam. Hak-hak masyarakat dapat diperoleh dengan permohonan dan cara-cara syar’i. Adapun demonstrasi hanya akan menyebabkan kerusakan harta. Maka, perkara yang demikian tidak boleh” _selesai
FATWA SYAIKH ABDUL MUHSIN AL ABBAD HAFIZHAHULLAH
Beliau pernah ditanya,
”Apakah juga termasuk dalam pengertian hadits tersebut ; seseorang yang melakukan demosntrasi untuk menentang kenaikan harga dan urusan dunia semisalnya? Apabila terjadi kedzoliman di sana?”
Beliau menjawab,
“Demonstrasi termasuk tindakan bodoh! Hal ini tidak dikenal (pada masa lalu oleh umat Islam). Demonstrasi adalah perkara yang baru saja muncul yang diadopsi kaum muslimin dari orang-orang kafir”__selesai
✍ Disusun oleh Abu Nasim Mukhtar bin Rifa’i hafizhahullah | Referensi : Fatawa Al Ulama’ Fii Tahriimi Al Mudhoharaat (sebuah lembaran buletin) Diterbitkan oleh Kementrian Urusan Islam, Wakaf, Dakwah dan Irsyad Kerajaan Arab Saudi
Sumber: Salafy.or.id
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Beliau pernah ditanya,
“Mengenai pemerintah yang berhukum dengan hukum yang tidak diturunkan Allah. Kemudian pemerintah mengizinkan sebagian masyarakat untuk melakukan aksi demonstrasi, yang dinamakan ‘ishoomiyyah (memperoleh kedudukan dengan hasil usaha sendiri)! Disertai undang-undang yang ditetapkan oleh pemerintah itu sendiri. Lalu,orang-orang tersebut melakukannya. Apabila aksi mereka diingkari,mereka menjawab,” Kami tidak menentang pemerintah dan kami melakukannya dengan ketetapan pemerintah”. Apakah hal ini diperbolehkan secara syari’at? Padahal ada pertentangan dengan dalil?
Beliau menjawab,
“Wajib bagimu untuk mengikuti Salaf! Apabila hal ini dilakukan oleh Salaf, maka pasti baik. Apabila tidak,pasti jelek. Tidak ada keraguan lagi jika demsontrasi itu jelek. Sebab, demonstrasi akan menghantarkan kepada kekacauan. Yang dilakukan oleh para demonstran maupun pihak lain. Bahkan sering terjadi pelanggaran. Bisa saja pelanggaran terhadap kehormatan, harta maupun fisik orang. Karena dalam keadaan kacau/rusuh, orang seperti mabuk yang tidak mengetahui apa yang dia ucapkan dan apa yang dia lakukan!” selesai
Pembaca yang terhormat,
Demonstrasi seluruhnya buruk, Apakah diizinkan oleh pihak pemerintah maupun tidak? Jika ada sebagian pemerintah mengizinkan terselenggaranya aksi demosntrasi, maka hal itu hanyalah propaganda. Misalnya dipulangkan ke hati, sungguh pemerintah manapun tidak akan menyukai bahkan sangat membenci. Namun, ia hanya berpura-pura saja.
Sebagaimana dia mengatakan,”Ini kan demokrasi!” Padahal demokrasi hanya akan membuka pintu kebebasan (tanpa aturan agama) bagi umat manusia. Hal ini bukanlah jalan Salaf!
FATWA SYAIKH MUQBIL BIN HADI RAHIMAHULLAH
Beliau mengatakan,
“Segala puji bagi Allah. Sungguh saya sering mengingatkan tentang (dampak negatif) demonstrasi di dalam khutbah hari raya maupun khutbah-khutbah jum’at” selesai
FATWA SYAIKH SHALIH BIN FAUZAN AL FAUZAN HAFIZHAHULLAH
Beliau menjelaskan,
“Agama kita bukan agama yang kacau tanpa aturan, akan tetapi agama kita adalah agama yang mapan, teratur rap, dan mengajarkan ketenangan.
Demonstrasi bukan termasuk amalan umat Islam. Kaum muslimin tidak mengenal demonstrasi! Islam adalah agama yang mengajarkan ketenangan, kasih saying, dan kestabilan.
Di dalam Islam tidak ada ajaran kekacauan, kerusuhan maupun menimbulkan fitnah. Inilah agama Islam. Hak-hak masyarakat dapat diperoleh dengan permohonan dan cara-cara syar’i. Adapun demonstrasi hanya akan menyebabkan kerusakan harta. Maka, perkara yang demikian tidak boleh” _selesai
FATWA SYAIKH ABDUL MUHSIN AL ABBAD HAFIZHAHULLAH
Beliau pernah ditanya,
”Apakah juga termasuk dalam pengertian hadits tersebut ; seseorang yang melakukan demosntrasi untuk menentang kenaikan harga dan urusan dunia semisalnya? Apabila terjadi kedzoliman di sana?”
Beliau menjawab,
“Demonstrasi termasuk tindakan bodoh! Hal ini tidak dikenal (pada masa lalu oleh umat Islam). Demonstrasi adalah perkara yang baru saja muncul yang diadopsi kaum muslimin dari orang-orang kafir”__selesai
✍ Disusun oleh Abu Nasim Mukhtar bin Rifa’i hafizhahullah | Referensi : Fatawa Al Ulama’ Fii Tahriimi Al Mudhoharaat (sebuah lembaran buletin) Diterbitkan oleh Kementrian Urusan Islam, Wakaf, Dakwah dan Irsyad Kerajaan Arab Saudi
Sumber: Salafy.or.id
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 SOLUSI KETIKA FITNAH MELANDA : KEDEPANKAN SIKAP AT-TA`ANNI DAN TIDAK TERBURU-BURU
Dalam menghadapi fitnah, ujian dan cobaan, baik berupa Syahwat maupun Syubhat adalah dengan bertaqwa kepada Allah, yaitu dengan menjalankan perintah-perintah Nya, dan meninggalkan larangan-laranganNya.
Taqwa (kepada) Allah benar-benar menjadi Wiqayah, benteng, tameng, perisai bagi yang menginginkan keselamatan dunia dan akhirat. Allah Ta'ala berfirman,
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (٢) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ (٣)
”Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (Ath Thalaq : 2, 3)
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا
“Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, Dia akan memberikan kemudahan dalam urusannya.” (Ath-Thalaq : 4)
Berbekal dengan taqwa adalah prinsip utama bagi kita semua. Ini adalah prinsip para Nabi dan para Rasul, dari Rasul pertama sampai dengan Rasul terakhir Muhammad ﷺ.
Diantara bagian dari taqwa di dalam menghadapi berbagai fitnah, adalah berbekal diri dengan:
(التَّأَنِّي)
(1) Sikap At-Ta'ani , tidak gegabah, tidak terburu-buru, tidak tergesa-gesa, di dalam menyikapi segala sesuatu yang terjadi.
(وعدم العجلة)
(2) Tidak terburu-buru dalam menilai dan menghukumi segala sesuatu yang terjadi.
Rasulullah ﷺ bersabda :
التَّأَنِّي مِنَ اللَّهِ ، وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ
At-Ta'ani (التَّأَنِّي) sikap kehati-hatian, sikap tidak gegabah, tidak terburu-buru adalah dari Allah yaitu Allah ridha dengan sikap tersebut dan Allah akan memberi pahala yang besar bagi orang-orang yang mengamalkannya.
وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ
Sedangkan sikap terburu-buru, tergesa-gesa dari syaitan. Yaitu Dia yang menggerakkan seseorang untuk melakukan tindakan dan sikap terburu-buru tersebut dengan bisikan-bisikannya, yang dengan itu seseorang akan sulit untuk bertatsabbut, dan tidak lagi menghitung akibat-akibat kedepan dari apa yang dia lakukan.
•••
Sumber: Khutbah Jum'at 22 Shafar 1442 H | "Solusi dalam menghadapi Fitnah, Cobaan dan Ujian" | disampaikan oleh Al-Ustadz Ruwaifi hafizhahullah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 SOLUSI KETIKA FITNAH MELANDA : KEDEPANKAN SIKAP AT-TA`ANNI DAN TIDAK TERBURU-BURU
Dalam menghadapi fitnah, ujian dan cobaan, baik berupa Syahwat maupun Syubhat adalah dengan bertaqwa kepada Allah, yaitu dengan menjalankan perintah-perintah Nya, dan meninggalkan larangan-laranganNya.
Taqwa (kepada) Allah benar-benar menjadi Wiqayah, benteng, tameng, perisai bagi yang menginginkan keselamatan dunia dan akhirat. Allah Ta'ala berfirman,
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (٢) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ (٣)
”Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (Ath Thalaq : 2, 3)
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا
“Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, Dia akan memberikan kemudahan dalam urusannya.” (Ath-Thalaq : 4)
Berbekal dengan taqwa adalah prinsip utama bagi kita semua. Ini adalah prinsip para Nabi dan para Rasul, dari Rasul pertama sampai dengan Rasul terakhir Muhammad ﷺ.
Diantara bagian dari taqwa di dalam menghadapi berbagai fitnah, adalah berbekal diri dengan:
(التَّأَنِّي)
(1) Sikap At-Ta'ani , tidak gegabah, tidak terburu-buru, tidak tergesa-gesa, di dalam menyikapi segala sesuatu yang terjadi.
(وعدم العجلة)
(2) Tidak terburu-buru dalam menilai dan menghukumi segala sesuatu yang terjadi.
Rasulullah ﷺ bersabda :
التَّأَنِّي مِنَ اللَّهِ ، وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ
At-Ta'ani (التَّأَنِّي) sikap kehati-hatian, sikap tidak gegabah, tidak terburu-buru adalah dari Allah yaitu Allah ridha dengan sikap tersebut dan Allah akan memberi pahala yang besar bagi orang-orang yang mengamalkannya.
وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ
Sedangkan sikap terburu-buru, tergesa-gesa dari syaitan. Yaitu Dia yang menggerakkan seseorang untuk melakukan tindakan dan sikap terburu-buru tersebut dengan bisikan-bisikannya, yang dengan itu seseorang akan sulit untuk bertatsabbut, dan tidak lagi menghitung akibat-akibat kedepan dari apa yang dia lakukan.
•••
Sumber: Khutbah Jum'at 22 Shafar 1442 H | "Solusi dalam menghadapi Fitnah, Cobaan dan Ujian" | disampaikan oleh Al-Ustadz Ruwaifi hafizhahullah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 SIKAP AT-TA`ANNI (TENANG) AKAN MENGANTARKAN PADA PERBUATAN YANG TERBIMBING ADAPUN SIKAP AL-'AJALAH (TERBURU-BURU) AKAN BERUJUNG PADA PENYESALAN
Keberadaan dua sikap, yang satu terpuji, yaitu at-Ta'ani (التَّأَنِّي) dan yang lainnya tercela yaitu al-'Ajalah (العجلة), harus senantiasa menjadi bahan pemikiran kita khususnya di masa-masa fitnah.
Sikap at-Ta'ani, haruslah senantiasa harus kita miliki, sikap sabar untuk memahami sebuah permasalahan dan untuk memahami sebuah fitnah. Apa sesungguhnya yang terjadi..?, (Wajib untuk) memahami dalil-dalilnya, hujjah-hujjahnya, landasan-landasannya, dan dasar-dasarnya.
Memahami masalah satu demi satu dengan penuh cermat dan berhati-hati pula dalam memberikan vonis ataupun hukum baik membenarkan ataupun menyalahkan.
Sikap at-Ta'ani apabila dimiliki seseorang maka akan mengantarkannya kepada perbuatan yang terbimbing dan diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah akan menyelamatkannya dalam setiap fitnah yang sedang menerpanya. Karena dia benar-benar telah menempuh sebuah jalan yang dicintai dan diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Namun sebaliknya, sikap al-'Ajalah, terburu-buru, gegabah, tidak mau memahami permasalahan secara utuh, mudah mengambil sebuah kesimpulan, tidak mau mempelajari dasar-dasarnya, dalil-dalilnya, dan hujjah-hujjahnya..
Terburu-buru di dalam memberikan vonis; salah, menyimpang (telah) menyelisihi Al-Qur'an dan As-Sunnah. Semua itu merupakan sikap yang tercela.
Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah, menjelaskan bahwa sikap at-Ta'ani, akan mengantarkan kepada kebaikan yang banyak. Sebaliknya sikap al-'Ajalah (terburu-buru) akan mengakibatkan munculnya kejelekan-kejelekan yang banyak pula. Beliau rahimahullah pun menegaskan bahwa sikap al-'Ajalah qorinun nadamah..
(العجلة قرين الندامة)
Al-'Ajalah akan berujung pada penyesalan. Sebagaimana al-Kasal, sikap malas adalah sikap yang berujung pada kegagalan.
Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah, menegaskan bahwa sikap terburu-buru adalah sikap yang berbahaya, baik terburu-buru dalam berbicara tentang masalah syari'at atau terburu-buru dalam permasalahan memvonis dan memberi hukum pada seseorang.
Berapa banyak seseorang mencela sebuah perkataan, dan menvonisnya: ini adalah salah..!, namun sebabnya adalah pemahaman dia yang salah, yang rusak, yang tidak benar, sehingga menilai permasalahan tanpa didasari dengan ilmu dan berujung memvonis seseorang secara zhalim.
Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa mengaruniakan kepada kita semua sikap at-Ta'ani, dan menjauhkan kita dari sikap al- 'Ajalah, terkhusus di masa-masa fitnah. Amiin Yaa Rabbal Alamiin...
•••
Sumber: Khutbah Jum'at 22 Shafar 1442 H | "Solusi dalam menghadapi Fitnah, Cobaan dan Ujian" | disampaikan oleh Al-Ustadz Ruwaifi hafizhahullah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 SIKAP AT-TA`ANNI (TENANG) AKAN MENGANTARKAN PADA PERBUATAN YANG TERBIMBING ADAPUN SIKAP AL-'AJALAH (TERBURU-BURU) AKAN BERUJUNG PADA PENYESALAN
Keberadaan dua sikap, yang satu terpuji, yaitu at-Ta'ani (التَّأَنِّي) dan yang lainnya tercela yaitu al-'Ajalah (العجلة), harus senantiasa menjadi bahan pemikiran kita khususnya di masa-masa fitnah.
Sikap at-Ta'ani, haruslah senantiasa harus kita miliki, sikap sabar untuk memahami sebuah permasalahan dan untuk memahami sebuah fitnah. Apa sesungguhnya yang terjadi..?, (Wajib untuk) memahami dalil-dalilnya, hujjah-hujjahnya, landasan-landasannya, dan dasar-dasarnya.
Memahami masalah satu demi satu dengan penuh cermat dan berhati-hati pula dalam memberikan vonis ataupun hukum baik membenarkan ataupun menyalahkan.
Sikap at-Ta'ani apabila dimiliki seseorang maka akan mengantarkannya kepada perbuatan yang terbimbing dan diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah akan menyelamatkannya dalam setiap fitnah yang sedang menerpanya. Karena dia benar-benar telah menempuh sebuah jalan yang dicintai dan diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Namun sebaliknya, sikap al-'Ajalah, terburu-buru, gegabah, tidak mau memahami permasalahan secara utuh, mudah mengambil sebuah kesimpulan, tidak mau mempelajari dasar-dasarnya, dalil-dalilnya, dan hujjah-hujjahnya..
Terburu-buru di dalam memberikan vonis; salah, menyimpang (telah) menyelisihi Al-Qur'an dan As-Sunnah. Semua itu merupakan sikap yang tercela.
Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah, menjelaskan bahwa sikap at-Ta'ani, akan mengantarkan kepada kebaikan yang banyak. Sebaliknya sikap al-'Ajalah (terburu-buru) akan mengakibatkan munculnya kejelekan-kejelekan yang banyak pula. Beliau rahimahullah pun menegaskan bahwa sikap al-'Ajalah qorinun nadamah..
(العجلة قرين الندامة)
Al-'Ajalah akan berujung pada penyesalan. Sebagaimana al-Kasal, sikap malas adalah sikap yang berujung pada kegagalan.
Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah, menegaskan bahwa sikap terburu-buru adalah sikap yang berbahaya, baik terburu-buru dalam berbicara tentang masalah syari'at atau terburu-buru dalam permasalahan memvonis dan memberi hukum pada seseorang.
Berapa banyak seseorang mencela sebuah perkataan, dan menvonisnya: ini adalah salah..!, namun sebabnya adalah pemahaman dia yang salah, yang rusak, yang tidak benar, sehingga menilai permasalahan tanpa didasari dengan ilmu dan berujung memvonis seseorang secara zhalim.
Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa mengaruniakan kepada kita semua sikap at-Ta'ani, dan menjauhkan kita dari sikap al- 'Ajalah, terkhusus di masa-masa fitnah. Amiin Yaa Rabbal Alamiin...
•••
Sumber: Khutbah Jum'at 22 Shafar 1442 H | "Solusi dalam menghadapi Fitnah, Cobaan dan Ujian" | disampaikan oleh Al-Ustadz Ruwaifi hafizhahullah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 MENGAMBIL IBROH DARI LEMBARAN SEJARAH KISAH AL-IMAM AL- BUKHARY DENGAN MUHAMMAD BIN YAHYA ADZ-DZUHLY RAHIMAHUMALLAH (BAG.1)
Dalam lembaran sejarah tercatat sekian banyak kasus yang di akibatkan oleh sikap al-'Ajalah yang berujung pada penyesalan. Dan sebaliknya, sikap at-Ta'ani, yang mengantarkan kepada kebahagiaan dan keselamatan.
Al-Imam adz- Dzahaby dalam Kitab Siyar A'lamin Nubala' dan juga al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahumallah dalam Muqaddimah Fathul Bariy serta ulama lainnya mengisahkan tentang sebuah peristiwa besar dalam lembaran sejarah dari perjalanan hidup Al-Imam al-Bukhary rahimahullah.
Al-Imam al-Bukhary adalah seorang Imamul Muhadditsin, Amirul Mukminin fil Hadits, ulama besar, bahkan pakar besar dalam ilmu hadits. Namanya terkenal dan beliau disanjung oleh para ulama terlebih umat manusia di masanya.
Hingga suatu hari beliau rahimahullah berkenan untuk datang ke negeri Naisabur. Mendengar berita kedatangan beliau tersebut, para ulama, para umara' serta para Muhadditsin, bahkan kaum Muslimin masyarakat negeri Naisabur bergembira menyambut kedatangan beliau rahimahullah. Termasuk juga ulama terkenal di Naisabur di masa itu, yaitu Muhammad bin Yahya adz-Dzuhly rahimahullah.
Muhammad bin Yahya adz-Dzuhly rahimahullah, memerintahkan murid-muridnya serta kaum muslimin untuk menyambut kedatangan Al-Imam al-Bukhary rahimahullah. Sehingga kaum muslimin pun bersiap menyambut Al-Imam Al-Bukhary di pintu gerbang Naisabur, dalam kondisi (masih) sekian kilometer sebelum beliau datang memasuki kota Naisabur.
Hingga akhirnya setelah Al-Imam Al-Bukhary berada di kota Naisabur, majlis-majlis beliau dihadiri oleh kaum muslimin dan para Muhadditsin (orang-orang yang menggeluti ilmu hadits). Berlimpah ruah para Muhadditsin yang duduk hadir di majelis beliau.
Sedikit demi sedikit semakin berkurang para thalabah (penuntut ilmu), para Muhadditsin yang duduk di majelis Muhammad bin Yahya adz-Dzuhly. (Sementara) Al-Imam Al-Bukhary semakin terkenal dan tenar namanya.
Dari sinilah syaitan, memberikan wasawis (bisikan-bisikan), walaupun terhadap seorang alim Muhaddits Muhammad bin Yahya adz-Dzuhly rahimahullah. Tersisipkan sifat hasad pada diri Muhammad bin Yahya adz-Dzuhly, sebagaimana penjelasan para ulama dan para Muhadditsin.
Karena sorotan mata para Muhadditsin penuh sanjungan (tertuju) kepada Al-Imam al-Bukhary rahimahullah, maka terjadilah apa yang terjadi.
Tepatnya, ketika Al-Imam al-Bukhary ditanya tentang mauqifnya (sikapnya) tentang Al-Qur’anul Karim. Beliau mengatakan :
القُرْآن كَلاَمُ اللّهِ غيرُ مَخْلُوقٍ وَأَفْعَالُ الْعِبَادِ مَخْلُوقَةٌ.
"Al-Qur’an adalah ucapan Allah, perkataan Allah, bukan makhluk, sedangkan amalan hamba adalah makhluk."
Dari sini kemudian Muhammad bin Yahya adz-Dzuhly rahimahullah, memberikan kesimpulan yang salah dan disalahkan oleh para ulama (setelahnya) terkait (penilaiannya) terhadap Al-Imam al-Bukhary.
Muhammad bin Yahya mengklaim bahwa Al-Imam al-Bukhary, meyakini sebagaimana اللفظية (orang-orang yang meyakini bahwa lafadzku dengan Al-Qur’an adalah makhluk), yakni memaukan bahwa kandungan yang diucapkan yakni Al-Qur’anul Karim adalah makhluk. Sedangkan yang dimaukan oleh Al-Imam al-Bukhari adalah,
التلفظ بالقرآن
"Perbuatan membacanya yang dilakukan oleh seorang hamba adalah makhluk".
Jadi, perkataan Al-Imam al-Bukhary tersebut disimpulkan dengan kesimpulan yang salah. Beliau menghukumi bahwa Al-Imam al-Bukhary adalah seorang jahmy, seorang yang berakidah jahmiyyah akibat kesimpulannya yang salah itu. (Kemudian) kesimpulan salah ini disebarkan kepada para ulama yang ada di kota Naisabur dan sekitarnya. (Bersambung)
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 MENGAMBIL IBROH DARI LEMBARAN SEJARAH KISAH AL-IMAM AL- BUKHARY DENGAN MUHAMMAD BIN YAHYA ADZ-DZUHLY RAHIMAHUMALLAH (BAG.1)
Dalam lembaran sejarah tercatat sekian banyak kasus yang di akibatkan oleh sikap al-'Ajalah yang berujung pada penyesalan. Dan sebaliknya, sikap at-Ta'ani, yang mengantarkan kepada kebahagiaan dan keselamatan.
Al-Imam adz- Dzahaby dalam Kitab Siyar A'lamin Nubala' dan juga al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahumallah dalam Muqaddimah Fathul Bariy serta ulama lainnya mengisahkan tentang sebuah peristiwa besar dalam lembaran sejarah dari perjalanan hidup Al-Imam al-Bukhary rahimahullah.
Al-Imam al-Bukhary adalah seorang Imamul Muhadditsin, Amirul Mukminin fil Hadits, ulama besar, bahkan pakar besar dalam ilmu hadits. Namanya terkenal dan beliau disanjung oleh para ulama terlebih umat manusia di masanya.
Hingga suatu hari beliau rahimahullah berkenan untuk datang ke negeri Naisabur. Mendengar berita kedatangan beliau tersebut, para ulama, para umara' serta para Muhadditsin, bahkan kaum Muslimin masyarakat negeri Naisabur bergembira menyambut kedatangan beliau rahimahullah. Termasuk juga ulama terkenal di Naisabur di masa itu, yaitu Muhammad bin Yahya adz-Dzuhly rahimahullah.
Muhammad bin Yahya adz-Dzuhly rahimahullah, memerintahkan murid-muridnya serta kaum muslimin untuk menyambut kedatangan Al-Imam al-Bukhary rahimahullah. Sehingga kaum muslimin pun bersiap menyambut Al-Imam Al-Bukhary di pintu gerbang Naisabur, dalam kondisi (masih) sekian kilometer sebelum beliau datang memasuki kota Naisabur.
Hingga akhirnya setelah Al-Imam Al-Bukhary berada di kota Naisabur, majlis-majlis beliau dihadiri oleh kaum muslimin dan para Muhadditsin (orang-orang yang menggeluti ilmu hadits). Berlimpah ruah para Muhadditsin yang duduk hadir di majelis beliau.
Sedikit demi sedikit semakin berkurang para thalabah (penuntut ilmu), para Muhadditsin yang duduk di majelis Muhammad bin Yahya adz-Dzuhly. (Sementara) Al-Imam Al-Bukhary semakin terkenal dan tenar namanya.
Dari sinilah syaitan, memberikan wasawis (bisikan-bisikan), walaupun terhadap seorang alim Muhaddits Muhammad bin Yahya adz-Dzuhly rahimahullah. Tersisipkan sifat hasad pada diri Muhammad bin Yahya adz-Dzuhly, sebagaimana penjelasan para ulama dan para Muhadditsin.
Karena sorotan mata para Muhadditsin penuh sanjungan (tertuju) kepada Al-Imam al-Bukhary rahimahullah, maka terjadilah apa yang terjadi.
Tepatnya, ketika Al-Imam al-Bukhary ditanya tentang mauqifnya (sikapnya) tentang Al-Qur’anul Karim. Beliau mengatakan :
القُرْآن كَلاَمُ اللّهِ غيرُ مَخْلُوقٍ وَأَفْعَالُ الْعِبَادِ مَخْلُوقَةٌ.
"Al-Qur’an adalah ucapan Allah, perkataan Allah, bukan makhluk, sedangkan amalan hamba adalah makhluk."
Dari sini kemudian Muhammad bin Yahya adz-Dzuhly rahimahullah, memberikan kesimpulan yang salah dan disalahkan oleh para ulama (setelahnya) terkait (penilaiannya) terhadap Al-Imam al-Bukhary.
Muhammad bin Yahya mengklaim bahwa Al-Imam al-Bukhary, meyakini sebagaimana اللفظية (orang-orang yang meyakini bahwa lafadzku dengan Al-Qur’an adalah makhluk), yakni memaukan bahwa kandungan yang diucapkan yakni Al-Qur’anul Karim adalah makhluk. Sedangkan yang dimaukan oleh Al-Imam al-Bukhari adalah,
التلفظ بالقرآن
"Perbuatan membacanya yang dilakukan oleh seorang hamba adalah makhluk".
Jadi, perkataan Al-Imam al-Bukhary tersebut disimpulkan dengan kesimpulan yang salah. Beliau menghukumi bahwa Al-Imam al-Bukhary adalah seorang jahmy, seorang yang berakidah jahmiyyah akibat kesimpulannya yang salah itu. (Kemudian) kesimpulan salah ini disebarkan kepada para ulama yang ada di kota Naisabur dan sekitarnya. (Bersambung)
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 MENGAMBIL IBROH DARI LEMBARAN SEJARAH KISAH AL-IMAM AL-BUKHARY DENGAN MUHAMMAD BIN YAHYA ADZ-DZUHLY (BAG.2)
Tidak sedikit dari ulama (ketika itu) yang menerima ucapan Muhammad bin Yahya adz-Dzuhly. Karena dalam keyakinan mereka, Muhammad bin Yahya adalah seorang yang tsiqah, seorang Imam dari Aimmah Al-Muhaditsin di Naisabur.
Termasuk Abu Zur'ah Ar-Razy dan Abu Hatim ar-Razy, dua orang ulama besar di negeri Ray, menerima ucapan Muhammad bin Yahya adz-Dzuhly tersebut dan meyakini bahwa Al-Imam al-Bukhary adalah seorang Jahmy (berakidah jahmiyyah) yang di tinggalkan haditsnya.
Kondisi fitnah di kota Naisabur semakin parah ketika itu. Mayoritas orang bahkan ulama yang ada di Naisabur bersama Muhammad bin Yahya adz- Dzuhly.
Al-Imam al-Bukhary, terkucilkan, tinggal dua orang muridnya yang setia membela Al-Imam al-Bukhary. Mereka benar-benar yakin dan sangat mengetahui bahwa Al-Imam al-Bukhary bukanlah seorang Jahmy, (akan tetapi) seorang yang berada di atas As-Sunnah. Mereka adalah Muslim Ibnul Hajjaj, dan Ahmad bin Salamah, keduanya senantiasa membela Al-Imam al-Bukhary rahimahullah. Sampai akhirnya Al-Imam al-Bukhary tidak diterima di kota Naisabur dan terusir darinya.
Tidak ada yang berani mengantarkan Al-Imam al-Bukhary saat keluar dari Naisabur kecuali hanya satu orang murid beliau, yaitu Ahmad bin Salamah.
Terjadilah apa yang terjadi hingga akhirnya Al-Imam al-Bukhary berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas kezhaliman yang terjadi terhadap diri beliau. Mengadukan apa yang terjadi dari sikap-sikap ulama Naisabur, terkhusus Muhammad bin Yahya adz-Dzuhly.
Allah Maha Mendengar jeritan hamba-Nya yang terzhalimi. Allah mengabulkan jeritan Al-Imam al-Bukhary dalam doa-doanya.
Hingga pada akhirnya, kita dapat melihat dalam catatan sejarah bahwa Al-Imam al-Bukhary benar-benar cemerlang namanya.
Kitab Shahih al-Bukhary menjadi kitab yang paling shahih setelah Al-Qur’anul Karim. Berikutnya adalah kitab Shahih Muslim karya Al-Imam Muslim Ibnul Hajjaj yang berada pada peringkat kedua setelah kitab Shahih al-Bukhary.
Di sini terdapat pelajaran berharga bagi kita, bahwa kebenaran itu bukan berada pada mayoritas, walaupun terkadang atau seringkali kebenaran itu berada pada mayoritas.
Namun kondisi-kondisi tertentu, kebenaran akan bersama orang-orang yang sedikit. Yang terpenting sebagai barometernya adalah hujjah dan dalil yang ada padanya.
Dari sini pula kita harus senantiasa membina dan mendidik diri-diri kita, untuk benar-benar memahami permasalahan dengan sebaik-baiknya dan menguasai dasar-dasarnya. Sehingga ketika mengambil sebuah kesimpulan atau keputusan, benar-benar dibangun di atas ilmu dan benar-benar dibangun di atas at-ta'ani (sikap kehati-hatian) yang akan mengantarkan kepada Ridha Allah Jalla wa Ala. (selesai)
•••
Sumber: Khutbah Jum'at 22 Shafar 1442 H | "Solusi dalam menghadapi Fitnah, Cobaan dan Ujian" | disampaikan oleh Al-Ustadz Ruwaifi hafizhahullah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 MENGAMBIL IBROH DARI LEMBARAN SEJARAH KISAH AL-IMAM AL-BUKHARY DENGAN MUHAMMAD BIN YAHYA ADZ-DZUHLY (BAG.2)
Tidak sedikit dari ulama (ketika itu) yang menerima ucapan Muhammad bin Yahya adz-Dzuhly. Karena dalam keyakinan mereka, Muhammad bin Yahya adalah seorang yang tsiqah, seorang Imam dari Aimmah Al-Muhaditsin di Naisabur.
Termasuk Abu Zur'ah Ar-Razy dan Abu Hatim ar-Razy, dua orang ulama besar di negeri Ray, menerima ucapan Muhammad bin Yahya adz-Dzuhly tersebut dan meyakini bahwa Al-Imam al-Bukhary adalah seorang Jahmy (berakidah jahmiyyah) yang di tinggalkan haditsnya.
Kondisi fitnah di kota Naisabur semakin parah ketika itu. Mayoritas orang bahkan ulama yang ada di Naisabur bersama Muhammad bin Yahya adz- Dzuhly.
Al-Imam al-Bukhary, terkucilkan, tinggal dua orang muridnya yang setia membela Al-Imam al-Bukhary. Mereka benar-benar yakin dan sangat mengetahui bahwa Al-Imam al-Bukhary bukanlah seorang Jahmy, (akan tetapi) seorang yang berada di atas As-Sunnah. Mereka adalah Muslim Ibnul Hajjaj, dan Ahmad bin Salamah, keduanya senantiasa membela Al-Imam al-Bukhary rahimahullah. Sampai akhirnya Al-Imam al-Bukhary tidak diterima di kota Naisabur dan terusir darinya.
Tidak ada yang berani mengantarkan Al-Imam al-Bukhary saat keluar dari Naisabur kecuali hanya satu orang murid beliau, yaitu Ahmad bin Salamah.
Terjadilah apa yang terjadi hingga akhirnya Al-Imam al-Bukhary berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas kezhaliman yang terjadi terhadap diri beliau. Mengadukan apa yang terjadi dari sikap-sikap ulama Naisabur, terkhusus Muhammad bin Yahya adz-Dzuhly.
Allah Maha Mendengar jeritan hamba-Nya yang terzhalimi. Allah mengabulkan jeritan Al-Imam al-Bukhary dalam doa-doanya.
Hingga pada akhirnya, kita dapat melihat dalam catatan sejarah bahwa Al-Imam al-Bukhary benar-benar cemerlang namanya.
Kitab Shahih al-Bukhary menjadi kitab yang paling shahih setelah Al-Qur’anul Karim. Berikutnya adalah kitab Shahih Muslim karya Al-Imam Muslim Ibnul Hajjaj yang berada pada peringkat kedua setelah kitab Shahih al-Bukhary.
Di sini terdapat pelajaran berharga bagi kita, bahwa kebenaran itu bukan berada pada mayoritas, walaupun terkadang atau seringkali kebenaran itu berada pada mayoritas.
Namun kondisi-kondisi tertentu, kebenaran akan bersama orang-orang yang sedikit. Yang terpenting sebagai barometernya adalah hujjah dan dalil yang ada padanya.
Dari sini pula kita harus senantiasa membina dan mendidik diri-diri kita, untuk benar-benar memahami permasalahan dengan sebaik-baiknya dan menguasai dasar-dasarnya. Sehingga ketika mengambil sebuah kesimpulan atau keputusan, benar-benar dibangun di atas ilmu dan benar-benar dibangun di atas at-ta'ani (sikap kehati-hatian) yang akan mengantarkan kepada Ridha Allah Jalla wa Ala. (selesai)
•••
Sumber: Khutbah Jum'at 22 Shafar 1442 H | "Solusi dalam menghadapi Fitnah, Cobaan dan Ujian" | disampaikan oleh Al-Ustadz Ruwaifi hafizhahullah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 SOLUSI DALAM MENGHADAPI FITNAH, COBAAN DAN UJIAN : AT-TA'ANNI (TENANG) DAN MENJAUHI SIKAP AL-'AJALAH (TERBURU-BURU)
🔬 Disampaikan Oleh:
Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi -hafizhahullah-
📅 Khutbah Jum'at tanggal 22 Shafar 1442 H ~ 09 Oktober 2020 M
◙ Durasi 0:19:59
◙ Ukuran file 4,6 MB
◙ Link: https://bit.ly/2T2WYwJ
(*) Juga disebutkan kisah Al-Imam Al-Bukhary dengan Muhammad bin Yahya Adz Dzuhly rahimahumallah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 SOLUSI DALAM MENGHADAPI FITNAH, COBAAN DAN UJIAN : AT-TA'ANNI (TENANG) DAN MENJAUHI SIKAP AL-'AJALAH (TERBURU-BURU)
🔬 Disampaikan Oleh:
Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi -hafizhahullah-
📅 Khutbah Jum'at tanggal 22 Shafar 1442 H ~ 09 Oktober 2020 M
◙ Durasi 0:19:59
◙ Ukuran file 4,6 MB
◙ Link: https://bit.ly/2T2WYwJ
(*) Juga disebutkan kisah Al-Imam Al-Bukhary dengan Muhammad bin Yahya Adz Dzuhly rahimahumallah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
::
📬 BALASAN UNTUK PEMBUAT MAKAR
Dalam kitab tafsir al-Bahrul Muhiith karya Abu Hayyaan al-Andalusiy dikutip pernyataan:
وقال كعب لابن عباس في التوراة «من حفر حفرة لأخيه وقع فيها» ، فقال له ابن عباس : إنا وجدنا هذا في كتاب الله ، { ولا يحيق المكر السيء إلا بأهله }
Ka'ab (al-Ahbar) berkata kepada Ibnu Abbas: Di Taurat terdapat pernyataan: "Barang siapa yang menggali galian untuk saudaranya, akan terperosok ke dalamnya".
Ibnu Abbas berkata: Sesungguhnya kami mendapati itu adalah dalam Kitab Allah:
وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِ
"dan tidaklah makar yang buruk akan menimpa kecuali kepada pelakunya" (Q.S Fathir ayat 43)
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 BALASAN UNTUK PEMBUAT MAKAR
Dalam kitab tafsir al-Bahrul Muhiith karya Abu Hayyaan al-Andalusiy dikutip pernyataan:
وقال كعب لابن عباس في التوراة «من حفر حفرة لأخيه وقع فيها» ، فقال له ابن عباس : إنا وجدنا هذا في كتاب الله ، { ولا يحيق المكر السيء إلا بأهله }
Ka'ab (al-Ahbar) berkata kepada Ibnu Abbas: Di Taurat terdapat pernyataan: "Barang siapa yang menggali galian untuk saudaranya, akan terperosok ke dalamnya".
Ibnu Abbas berkata: Sesungguhnya kami mendapati itu adalah dalam Kitab Allah:
وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِ
"dan tidaklah makar yang buruk akan menimpa kecuali kepada pelakunya" (Q.S Fathir ayat 43)
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 DIANTARA CARA MENILAI BAIK TIDAKNYA SESEORANG DALAM BERAGAMA
✍🏼 Syaikh Abdurrahman as-Sa'dy rahimahullah berkata:
وإذا أردت أن تعرف إيمان العبد ودينه، فانظر حاله:
هل يرعى الأمانات كلها، مالية أو قولية؛ أو أمانات الحقوق؟
وهل يرعى الحقوق والعهود والعقود التي بينه وبين الله، والتي بينه وبين العباد؟
فإذا كان كذلك فهو صاحب دين وإيمان.
وإن لم يكن كذلك نقص من دينه وإيمانه بمقدار ما انتقص من ذلك.
"Jika engkau ingin mengetahui keimanan seorang hamba dan agamanya, perhatikanlah:
◻️ Apakah dia menjaga amanah-amanah semuanya; baik dalam hal harta atau ucapan, maupun amanah dalam menunaikan kewajiban-kewajiban?
◻️ Apakah dia menjaga hak-hak, perjanjian-perjanjian, maupun akad-akad; antara dirinya dan Allah, demikian pula antara dirinya dan hamba-hamba Allah yang lain?
Jika dia amanah (dalam menjaga hal-hal di atas), berarti ia seorang yang memiliki agama dan iman yang baik.
Namun, jika dia tidak demikian, agama dan imannya berkurang sesuai dengan kadar apa yang kurang dari itu."
📚 Nafais Min Muallafatil Allamah as-Sa’dy, hlm. 296 @forumsalafy
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 DIANTARA CARA MENILAI BAIK TIDAKNYA SESEORANG DALAM BERAGAMA
✍🏼 Syaikh Abdurrahman as-Sa'dy rahimahullah berkata:
وإذا أردت أن تعرف إيمان العبد ودينه، فانظر حاله:
هل يرعى الأمانات كلها، مالية أو قولية؛ أو أمانات الحقوق؟
وهل يرعى الحقوق والعهود والعقود التي بينه وبين الله، والتي بينه وبين العباد؟
فإذا كان كذلك فهو صاحب دين وإيمان.
وإن لم يكن كذلك نقص من دينه وإيمانه بمقدار ما انتقص من ذلك.
"Jika engkau ingin mengetahui keimanan seorang hamba dan agamanya, perhatikanlah:
◻️ Apakah dia menjaga amanah-amanah semuanya; baik dalam hal harta atau ucapan, maupun amanah dalam menunaikan kewajiban-kewajiban?
◻️ Apakah dia menjaga hak-hak, perjanjian-perjanjian, maupun akad-akad; antara dirinya dan Allah, demikian pula antara dirinya dan hamba-hamba Allah yang lain?
Jika dia amanah (dalam menjaga hal-hal di atas), berarti ia seorang yang memiliki agama dan iman yang baik.
Namun, jika dia tidak demikian, agama dan imannya berkurang sesuai dengan kadar apa yang kurang dari itu."
📚 Nafais Min Muallafatil Allamah as-Sa’dy, hlm. 296 @forumsalafy
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 SHOLAT TAHIYATUL MASJID SAAT KHUTBAH JUM'AT
◽◽◽◽◽️
P e r t a n y a a n :
Saat masuk masjid khutbah jum'at apakah wajib baginya sholat Tahiyatul Masjid?
J a w a b a n :
Disyariatkan bagi orang yang masuk masjid untuk sholat 2 rokaat sebelum duduk termasuk ketika imam sedang khutbah.
Dalam hal ini secara khusus telah datang hadits Jabir رضي الله عنه didalam shohih Bukhori dan Muslim beliau mengatakan "seseorang datang di hari jum'at saat Nabi ﷺ sedang berkhutbah, maka Rasulullohﷺ bersabda, "Apakah engkau sudah sholat?" Diapun menjawab: "Belum". Nabiﷺ bersabda, "Berdirilah, lalu Sholatlah dua rokaat! "
(HR.Bukhori dan Muslim)
Wabillahi taufik wa Sholallohu ala nabiyyina Muhammad wa alaihi washohbihi wa sallam
📚Fatawa Al Lajnah Ad Da'imah
@Forum_ilmiyahKarangAnyar
Asy-Syaikh Al Allamah Shalih Al Fauzan hafizhahullah
P e r t a n y a a n :
Aku datang ke masjid Jami' dan mendapati imam sedang khutbah Jum'at. Bolehkah saya shalat dua rakaat tahiyatul masjid atau langsung duduk mendengarkan khutbah?
J a w a b a n :
Apabila kamu masuk masjid pada hari Jum'at dan imam sedang berkhutbah, maka kamu disunahkan shalat dua rakaat sebelum duduk. Karena Nabi ﷺ telah memerintahkan hal tersebut.
Beliau memerintahkan seseorang yang masuk masjid dan imam sedang berkhutbah supaya shalat dua rakaat dengan meringankan shalatnya lalu duduk untuk mendengarkan khutbah, demikianlah tuntunan sunnah.
Adapun seseorang langsung duduk sebelum shalat dua rakaat maka yang demikian ini menyelisihi sunnah hingga dia shalat dua rakaat lantas duduk untuk mendengarkan khutbah.
Sumber : Al-Muntaqo min Fatawa Al-Fauzan 106.
[المنتقى من فتاوى الشيخ الفوزان]
السؤال
أتيت إلى الجامع لصلاة الجمعة ووجدت الإمام في الخطبة فهل يجوز لي أن أصلي ركعتين تحية المسجد أم أجلس وأستمع إلى الخطبة؟
الجواب
إذا دخلت يوم الجمعة والإمام يخطب فإنه يستحب لك أن تصلي ركعتين قبل أن تجلسن لأن النبي ﷺ أمر بذلك. أمر من دخل والإمام يخطب أن يصلي ركعتين ويتجوز فيهما يعني: يخفف الركعتين ثم يجلس يستمع الخطبة هذا هو السنة أما لو جلس قبل أن يصلي ركعتين فإنه يكون مخالفًا للسنة حتى يصليهما ثم يجلس يستمع للخطبة.
@KajianIslamTemanggung
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 SHOLAT TAHIYATUL MASJID SAAT KHUTBAH JUM'AT
◽◽◽◽◽️
P e r t a n y a a n :
Saat masuk masjid khutbah jum'at apakah wajib baginya sholat Tahiyatul Masjid?
J a w a b a n :
Disyariatkan bagi orang yang masuk masjid untuk sholat 2 rokaat sebelum duduk termasuk ketika imam sedang khutbah.
Dalam hal ini secara khusus telah datang hadits Jabir رضي الله عنه didalam shohih Bukhori dan Muslim beliau mengatakan "seseorang datang di hari jum'at saat Nabi ﷺ sedang berkhutbah, maka Rasulullohﷺ bersabda, "Apakah engkau sudah sholat?" Diapun menjawab: "Belum". Nabiﷺ bersabda, "Berdirilah, lalu Sholatlah dua rokaat! "
(HR.Bukhori dan Muslim)
Wabillahi taufik wa Sholallohu ala nabiyyina Muhammad wa alaihi washohbihi wa sallam
📚Fatawa Al Lajnah Ad Da'imah
@Forum_ilmiyahKarangAnyar
Asy-Syaikh Al Allamah Shalih Al Fauzan hafizhahullah
P e r t a n y a a n :
Aku datang ke masjid Jami' dan mendapati imam sedang khutbah Jum'at. Bolehkah saya shalat dua rakaat tahiyatul masjid atau langsung duduk mendengarkan khutbah?
J a w a b a n :
Apabila kamu masuk masjid pada hari Jum'at dan imam sedang berkhutbah, maka kamu disunahkan shalat dua rakaat sebelum duduk. Karena Nabi ﷺ telah memerintahkan hal tersebut.
Beliau memerintahkan seseorang yang masuk masjid dan imam sedang berkhutbah supaya shalat dua rakaat dengan meringankan shalatnya lalu duduk untuk mendengarkan khutbah, demikianlah tuntunan sunnah.
Adapun seseorang langsung duduk sebelum shalat dua rakaat maka yang demikian ini menyelisihi sunnah hingga dia shalat dua rakaat lantas duduk untuk mendengarkan khutbah.
Sumber : Al-Muntaqo min Fatawa Al-Fauzan 106.
[المنتقى من فتاوى الشيخ الفوزان]
السؤال
أتيت إلى الجامع لصلاة الجمعة ووجدت الإمام في الخطبة فهل يجوز لي أن أصلي ركعتين تحية المسجد أم أجلس وأستمع إلى الخطبة؟
الجواب
إذا دخلت يوم الجمعة والإمام يخطب فإنه يستحب لك أن تصلي ركعتين قبل أن تجلسن لأن النبي ﷺ أمر بذلك. أمر من دخل والإمام يخطب أن يصلي ركعتين ويتجوز فيهما يعني: يخفف الركعتين ثم يجلس يستمع الخطبة هذا هو السنة أما لو جلس قبل أن يصلي ركعتين فإنه يكون مخالفًا للسنة حتى يصليهما ثم يجلس يستمع للخطبة.
@KajianIslamTemanggung
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 JANGAN TERTIPU, BANYAKNYA PENGIKUT BUKAN BAROMETER KEBENARAN!
Rasulullah ﷺ bersabda:
عُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرُّهَيْطُ وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلَانِ وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ
"Ditampakkan kepadaku umat-umat. Saya pun melihat ada nabi yang bersama dengan beberapa orang. Ada pula nabi yang bersama dengan seorang dua orang. Ada pula nabi yang tidak bersama seorang pun."
📚 H.R. Al Bukhari dan Muslim dari shahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma
Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah mengatakan:
و في الحديث دليل واضح على أن كثرة الأتباع و قلتهم، ليست معيارا لمعرفة كون الداعية على حق أو باطل، فهؤلاء الأنبياء عليهم الصلاة والسلام مع كون دعوتهم واحدة، ودينهم واحدا، فقد اختلفوا من حيث عدد أتباعهم قلة وكثرة، حتى كان فيهم من لم يصدقه إلا رجل واحد، بل ومن ليس معه أحد! ففي ذلك عبرة بالغة للداعية و المدعوين في هذا العصر، فالداعية عليه أن يتذكر هذه الحقيقة، و يمضي قدما في سبيل الدعوة إلى الله تعالى، ولا يبالي بقلة المستجيبين له، لأنه ليس عليه إلا البلاغ المبين، وله أسوة حسنة بالأنبياء السابقين الذين لم يكن مع أحدهم إلا الرجل و الرجلان !و المدعو عليه أن لا يستوحش من قلة المستجيبين للداعية، ويتخذ ذلك سببا للشك في الدعوة الحق وترك الإيمان بها، فضلا عن أن يتخذ ذلك دليلا على بطلان دعوته بحجة أنه لم يتبعه أحد، أو إنما اتبعه الأقلون !
"Dalam hadits terkandung dalil yang jelas bahwa banyak atau sedikitnya pengikut bukanlah barometer untuk mengetahui seorang dai di atas kebenaran atau kebatilan.
Mereka, para nabi, semoga tercurah shalawat dan salam kepada mereka, meskipun dakwah mereka satu dan agama mereka satu, berbeda-beda dalam banyak atau sedikitnya pengikut.
Sampai-sampai, ada di antara mereka yang hanya satu orang beriman. Bahkan, ada yang sama sekali tidak memiliki pengikut!
Sehingga, hal ini mengandung pelajaran bagi para dai dan pengikut dakwah di zaman ini. Seorang dai hendaknya ingat dengan hakikat ini.
Dia terus berdakwah kepada Allah, tidak usah peduli dengan sedikitnya orang yang mengikuti. Kewajibannya hanyalah untuk menyampaikan.
Dia pun memiliki teladan baik, para nabi terdahulu yang tidak memiliki pengikut kecuali hanya seorang-dua orang.
Pengikut dakwah juga jangan merasa kecil hati dengan sedikitnya pengikut dai. Jangan hal itu menjadi sebab ragu terhadap dakwah yang benar dan tidak mengimaninya.
Terlebih lagi, jangan sampai menjadikannya dalil tentang batilnya dakwah tersebut karena tidak ada yang mengikutinya. Atau yang mengikutinya cuma sedikit.
📚 Silsilah Ash Shahihah |@majalahtashfiyah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 JANGAN TERTIPU, BANYAKNYA PENGIKUT BUKAN BAROMETER KEBENARAN!
Rasulullah ﷺ bersabda:
عُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرُّهَيْطُ وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلَانِ وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ
"Ditampakkan kepadaku umat-umat. Saya pun melihat ada nabi yang bersama dengan beberapa orang. Ada pula nabi yang bersama dengan seorang dua orang. Ada pula nabi yang tidak bersama seorang pun."
📚 H.R. Al Bukhari dan Muslim dari shahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma
Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah mengatakan:
و في الحديث دليل واضح على أن كثرة الأتباع و قلتهم، ليست معيارا لمعرفة كون الداعية على حق أو باطل، فهؤلاء الأنبياء عليهم الصلاة والسلام مع كون دعوتهم واحدة، ودينهم واحدا، فقد اختلفوا من حيث عدد أتباعهم قلة وكثرة، حتى كان فيهم من لم يصدقه إلا رجل واحد، بل ومن ليس معه أحد! ففي ذلك عبرة بالغة للداعية و المدعوين في هذا العصر، فالداعية عليه أن يتذكر هذه الحقيقة، و يمضي قدما في سبيل الدعوة إلى الله تعالى، ولا يبالي بقلة المستجيبين له، لأنه ليس عليه إلا البلاغ المبين، وله أسوة حسنة بالأنبياء السابقين الذين لم يكن مع أحدهم إلا الرجل و الرجلان !و المدعو عليه أن لا يستوحش من قلة المستجيبين للداعية، ويتخذ ذلك سببا للشك في الدعوة الحق وترك الإيمان بها، فضلا عن أن يتخذ ذلك دليلا على بطلان دعوته بحجة أنه لم يتبعه أحد، أو إنما اتبعه الأقلون !
"Dalam hadits terkandung dalil yang jelas bahwa banyak atau sedikitnya pengikut bukanlah barometer untuk mengetahui seorang dai di atas kebenaran atau kebatilan.
Mereka, para nabi, semoga tercurah shalawat dan salam kepada mereka, meskipun dakwah mereka satu dan agama mereka satu, berbeda-beda dalam banyak atau sedikitnya pengikut.
Sampai-sampai, ada di antara mereka yang hanya satu orang beriman. Bahkan, ada yang sama sekali tidak memiliki pengikut!
Sehingga, hal ini mengandung pelajaran bagi para dai dan pengikut dakwah di zaman ini. Seorang dai hendaknya ingat dengan hakikat ini.
Dia terus berdakwah kepada Allah, tidak usah peduli dengan sedikitnya orang yang mengikuti. Kewajibannya hanyalah untuk menyampaikan.
Dia pun memiliki teladan baik, para nabi terdahulu yang tidak memiliki pengikut kecuali hanya seorang-dua orang.
Pengikut dakwah juga jangan merasa kecil hati dengan sedikitnya pengikut dai. Jangan hal itu menjadi sebab ragu terhadap dakwah yang benar dan tidak mengimaninya.
Terlebih lagi, jangan sampai menjadikannya dalil tentang batilnya dakwah tersebut karena tidak ada yang mengikutinya. Atau yang mengikutinya cuma sedikit.
📚 Silsilah Ash Shahihah |@majalahtashfiyah
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
📬 KEBENARAN TIDAK DILIHAT DARI BANYAKNYA PENGIKUT DAN SUDAH MENJADI SUNNATULLAH SEDIKIT YANG ISTIQOMAH DIATAS JALAN SALAF INI
Berkata Syeikh Al Mujaddid Muhammad At-Tamimi Rahimahullah:
المسألة الخامسة: الاحتجاج بما عليه الأكثرون دون نظر إلى مستنده ...
PERANGAI YANG KELIMA DARI TRADISI JAHILIYYAH YAITU MEREKA BERHUJJAH DENGAN BANYAKNYA PENGIKUT ( MAYORITAS) TANPA MEMPERHATIKAN DASAR KEBENARAN
Sesungguhnya diantara kaidah-kaidah terbesar mereka orang jahiliyah adalah terperdaya dengan banyaknya pengikut serta menjadikan hujjah atas benarnya sesuatu (dengan banyaknya pengikutnya).
Dan demikian sebaliknya mereka berhujjah bahwa bathilnya sesuatu dikarenakan asing atau sedikitnya pengikut.
Akan tetapi Alloh Ta'ala menjelaskan dengan prinsip sebaliknya dari apa yg mereka jadikan hujjah dan Alloh ta'ala menjelaskan tidak hanya dalam satu tempat didalam AlQur'an.
Penjelasan :
Bahwasanya diantara tradisi mereka kaum jahiliyyah adalah berdalil dengan mayoritas untuk menetapkan kebenaran. Dan sebaliknya berdalil dengan minoritas untuk menetapkan kebathilan.
Maka apabila yang ada pada sisi mereka banyak (pengikutnya) maka itulah kebenaran menurut mereka dan apabila yang ada pada sisi mereka sedikit (minoritas pengikutnya) maka itu suatu kebathilan menurut mereka.
Itulah timbangan yg mereka jadikan untuk mengetahui kebenaran dan kebathilan dan cara seperti ini adalah cara yang salah karena Alloh Jalla wa 'ala berfirman:
وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ (116)
"Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). [Q.S. Al-An'am ayat 116]
Kemudian juga firman Alloh Ta'ala :
وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ {187}
"...tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui ". [Q.S. Al-A'raf ayat 187].
Serta firman-Nya :
وَمَا وَجَدْنَا لأَكْثَرِهِم مِّنْ عَهْدٍ وَإِن وَجَدْنَا أَكْثَرَهُمْ لَفَاسِقِينَ {102}
"Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik". [Q.S. Al-A'raf ayat 102].
فالميزان ليس هو الكثرة والقلة؛ بل الميزان هو الحق، فمن كان على الحق –وإن كان واحدا- فإنه هو المصيب، وهو الذي يجب الاقتداء به، وإذا كانت الكثرة على باطل فإنه يجب رفضها وعدم الاغترار بها، فالعبرة بالحق، ولذلك يقول العلماء: الحق لا يعرف بالرجال، وإنما يعرف الرجال بالحق. فمن كان على الحق فهو الذي يجب الاقتداء به.
Maka ukuran kebenaran bukanlah mayoritas atau minoritas akan tetapi ukurannya adalah kebenaran itu sendiri.
Maka barangsiapa diatas kebenaran walaupun sendiri maka dialah orang yang benar dan wajib mencontohnya. Dan jika mayoritas manusia berada dalam kebathilan maka wajib ditinggalkan serta tidak boleh tertipu dengan banyaknya pengikut karena ukurannya adalah dengan kebenaran bukan dengan mayoritas.
Dan untuk itu telah berkata para ulama':
الحق لا يعرف بالرجال، وإنما يعرف الرجال بالحق
"Kebenaran itu tidak diketahui dari orangnya akan tetapi orang itu diketahui dengan kebenaranya".
Maka barangsiapa yang berada diatas kebenaran maka dialah yang wajib diikuti.
Maroji' :
شرخ مسائل الجاهلية
المؤلف: الشيخ صالح بن فوزان بن عبد الله الفوزان حفظه الله
@pesantren_salaf_online
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
📬 KEBENARAN TIDAK DILIHAT DARI BANYAKNYA PENGIKUT DAN SUDAH MENJADI SUNNATULLAH SEDIKIT YANG ISTIQOMAH DIATAS JALAN SALAF INI
Berkata Syeikh Al Mujaddid Muhammad At-Tamimi Rahimahullah:
المسألة الخامسة: الاحتجاج بما عليه الأكثرون دون نظر إلى مستنده ...
PERANGAI YANG KELIMA DARI TRADISI JAHILIYYAH YAITU MEREKA BERHUJJAH DENGAN BANYAKNYA PENGIKUT ( MAYORITAS) TANPA MEMPERHATIKAN DASAR KEBENARAN
Sesungguhnya diantara kaidah-kaidah terbesar mereka orang jahiliyah adalah terperdaya dengan banyaknya pengikut serta menjadikan hujjah atas benarnya sesuatu (dengan banyaknya pengikutnya).
Dan demikian sebaliknya mereka berhujjah bahwa bathilnya sesuatu dikarenakan asing atau sedikitnya pengikut.
Akan tetapi Alloh Ta'ala menjelaskan dengan prinsip sebaliknya dari apa yg mereka jadikan hujjah dan Alloh ta'ala menjelaskan tidak hanya dalam satu tempat didalam AlQur'an.
Penjelasan :
Bahwasanya diantara tradisi mereka kaum jahiliyyah adalah berdalil dengan mayoritas untuk menetapkan kebenaran. Dan sebaliknya berdalil dengan minoritas untuk menetapkan kebathilan.
Maka apabila yang ada pada sisi mereka banyak (pengikutnya) maka itulah kebenaran menurut mereka dan apabila yang ada pada sisi mereka sedikit (minoritas pengikutnya) maka itu suatu kebathilan menurut mereka.
Itulah timbangan yg mereka jadikan untuk mengetahui kebenaran dan kebathilan dan cara seperti ini adalah cara yang salah karena Alloh Jalla wa 'ala berfirman:
وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ (116)
"Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). [Q.S. Al-An'am ayat 116]
Kemudian juga firman Alloh Ta'ala :
وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ {187}
"...tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui ". [Q.S. Al-A'raf ayat 187].
Serta firman-Nya :
وَمَا وَجَدْنَا لأَكْثَرِهِم مِّنْ عَهْدٍ وَإِن وَجَدْنَا أَكْثَرَهُمْ لَفَاسِقِينَ {102}
"Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik". [Q.S. Al-A'raf ayat 102].
فالميزان ليس هو الكثرة والقلة؛ بل الميزان هو الحق، فمن كان على الحق –وإن كان واحدا- فإنه هو المصيب، وهو الذي يجب الاقتداء به، وإذا كانت الكثرة على باطل فإنه يجب رفضها وعدم الاغترار بها، فالعبرة بالحق، ولذلك يقول العلماء: الحق لا يعرف بالرجال، وإنما يعرف الرجال بالحق. فمن كان على الحق فهو الذي يجب الاقتداء به.
Maka ukuran kebenaran bukanlah mayoritas atau minoritas akan tetapi ukurannya adalah kebenaran itu sendiri.
Maka barangsiapa diatas kebenaran walaupun sendiri maka dialah orang yang benar dan wajib mencontohnya. Dan jika mayoritas manusia berada dalam kebathilan maka wajib ditinggalkan serta tidak boleh tertipu dengan banyaknya pengikut karena ukurannya adalah dengan kebenaran bukan dengan mayoritas.
Dan untuk itu telah berkata para ulama':
الحق لا يعرف بالرجال، وإنما يعرف الرجال بالحق
"Kebenaran itu tidak diketahui dari orangnya akan tetapi orang itu diketahui dengan kebenaranya".
Maka barangsiapa yang berada diatas kebenaran maka dialah yang wajib diikuti.
Maroji' :
شرخ مسائل الجاهلية
المؤلف: الشيخ صالح بن فوزان بن عبد الله الفوزان حفظه الله
@pesantren_salaf_online
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 JOIN bit.ly/ForumBerbagiFaidah [FBF]
◽️◽️◽️◽️◽️◽️
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com