منتدى نشر الفـــــــوائد
7.55K subscribers
4.31K photos
259 videos
279 files
5.62K links
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya

Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله

Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Download Telegram
.:
🚇 SESUNGGUHNYA DIATAS AL HAQ ADA CAHAYA

✍🏻 Ditulis oleh:
Al-Ustadz Abu 'Abdillah Muhammad Afifuddin As Sidawy حفظه الله


Al hakim dalam Mustadroknya meriwayatkan dr Mu'adz bin Jabal رضي الله عنه beliau berkata:

فَإِنَّ عَلىَ الْحَقِّ نُورًا

“Sesungguhnya di atas al-haq ada cahaya.” (Dihukumi sahih oleh al-Hakim dan disetujui oleh adz-Dzahaby).

Al haq yang dibawa dan di ajarkan Rosulullah ﷺ telah sempurna, menyeluruh dan bercahaya, dapat dilihat dengan jelas dan dikenali dengan baik oleh setiap muslim yang punya iman, ilmu dan fithroh yang masih lurus lagi bersih.

Cahaya al haq terkadang begitu benderang bagi siapa saja namun terkadang tertutup oleh kabut tebal ragam kebathilan, syahwat dan syubhat. Al haq pun menjadi samar atas kebanyakan pihak bahkan sampai pada tingkat al haq di anggap al bathil dan al bathil diyakini sebagai al haq.

Hal tersebut sering kali terjadi manakala muncul fitnah besar lagi dahsyat yang melibatkan pihak-pihak yang selama ini dikenal sebagai pembawa panji-panji sunnah dan pengibar bendera al haq. Jangankan kaum muslimin yang awam, banyak ahlul haq yang mengalami kebingungan dalam menghadapi situasi yang demikian; apalagi ketika suasana diperkeruh dengan adanya fenomena masing-masing pihak mengklaim "KEMBALI KEPADA BIMBINGAN ULAMA".

Apabila kondisinya sudah sampai pada tingkat ini maka sangat penting bagi yang mendambakan keselamatan untuk mengenali cahaya al haq dengan memperhatikan ciri-ciri berikut:

1⃣. BERBUAH KEBAIKAN BUKAN KEJELEKAN

Al haq selalu membuahkan kebaikan, baik pada aqidah, manhaj, ibadah, dakwah, muamalah, akhlaq, adab maupun pada perkara-perkara duniawi. Walaupun pada awalnya membuat "kegaduhan" di tengah-tengah umat dalam bentuk mengidentifikasi setiap orang, dia diatas al haq ataukah diatas al bathil? namun kemaslahatan dan kebaikannya akan dirasakan langsung oleh siapa saja yang berpegang dengannya, imannya semakin bertambah, aqidahnya semakin kokoh, manhajnya semakin jelas, ibadahnya semakin giat, adab dan muamalahnya semakin bagus, jiwanya pun damai dan tentram diatas sunnah. disisi lain dia akan menjauh dan meninggalkan segenap kejelekan dan penyimpangan.

Kaidah besar yang disepakati seluruh ulama dan fuqoha :

الدِّينُ مَبْنِيٌّ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ وَ دَرْءِ الْقَبَائِحِ.

“Agama dibangun di atas prinsip mendatangkan berbagai kemaslahatan dan menolak beragam keburukan.”

Ketika ada sebagian pihak memunculkan "kegaduhan" maka bisa dilihat yang dia bawa adalah al haq ataukah al bathil? dari hasilnya.

Kalau yang berpegang dengannya semakin bertambah iman dan taqwanya, semakin kokoh aqidah dan manhajnya, semakin bagus akhlaq dan adabnya, semakin indah muamalah dan interaksinya dan membuahkan maslahat untuk umat maka Insya Allah itu adalah al haq.

Namun kalau yang terjadi justru sebaliknya, yang berpegang dengannya menjadi orang yang fanatik, malah banyak syubhat, terjatuh dalam sikap ghuluw, kotor ucapannya, keji tingkah lakunya, berani berdusta dll, maka yakinilah bahwa itu adalah al bathil walaupun yang membawanya adalah orang yang selama ini dikenal ilmunya, sunnahnya, dakwahnya dan akhlaqnya sebab dia sekarang telah mengalami pergeseran manhaj. نعوذ بالله من الخذلان.


2⃣. TETAP DIATAS AL HAQ TIDAK BERUBAH WARNA

Ibnu Abi Syaibah dlm "Al Mushonaf" meriwayatkan dari Hudzaifah Ibnul Yaman رضي الله عنه beliau menegaskan:

إِنَّ الضَّلاَلَةَ حَقَّ الضَّلاَلَةِ أَنْ تَعْرِفَ الْيَوْمَ مَا كُنْتَ تُنْكُرُهُ قَبْلَ الْيَوْمِ وَأَنْ تُنْكِرَ الْيَوْمَ مَاكُنْتَ تَعْرِفُهُ قَبْلَ الْيَوْمِ وَ إِيَّاكُمْ وَالتَّلَوُّنَ فَإِنَّ دِينَ اللَّهِ وَاحِدٌ

"Sesungguhnya kesesatan yang sebenarnya adalah engkau menganggap munkar pada hari ini apa yang sebelumnya engkau yakini sebagai ma'ruf dan engkau yakini ma'ruf pada hari ini apa yang sebelumnya engkau anggap munkar. Waspadalah kalian dari sikap talawwun! Sebab agama Allah hanya satu."
Ciri pokok lagi mendasar pada al haq adalah tsabat (kokoh, tegar), tidak berubah dengan berjalannya masa dan berpindahnya tempat. Apa yang dikatakan ma'ruf dalam syari'at maka dia adalah perkara ma'ruf sepanjang masa dan tempat sampai qiamat. Begitu pula yang dikatakan munkar dalam Islam maka dia adalah perkara munkar sampai qiamat.

Ahlul haq dengan sifat-sifatnya selamanya dikatakan sebagai ahlul haq kecuali ketika ada individu yang bergeser dan menyimpang, begitu pula ahlul bathil dengan atribut-atributnya, selamanya diyakini sebagai ahlul bathil kecuali bila ada individu yang bertaubat.

Cara mudah mengenali al bathil adalah dari sikap talawwun (berubah warna) saat fitnah mendera:

a. Orang yang selama ini diyakini sebagai ahlul fitan, ahlul masyakil bahkan ahlul bid'ah dan selama ini dijauhi dan ditahdzir, sekarang diyakini sebagai ahlul khoir was sholah ahlus sunnah, didekati, dijadikan sahabat, dirangkul kembali bahkan dipuji, padahal blm ada taubat yang nasuha pada orang tersebut.

b. Dahulu akhlaqnya baik muamalahnya bagus namun sekarang berani berdusta, arogan dalam muamalah.

Dan yang lainnya dari perubahan warna, dulunya diatas cahaya al haq namun sekarang penuh warna kebathilan.


3⃣. KEMANA ULFAHNYA?

Ulfah adalah kecondongan hati secara alami karena kesamaan aqidah, manhaj, dakwah, profesi dan lainnya yang memunculkan kenyamanan untuk bersahabat, bermajlas, berjalan bersama dan saling membantu.

Dalam Shohih Al Bukhory dan lainnya dari Abu Hurairoh dan Aisyah رضي الله عنهم Rosulullah ﷺ bersabda:

الأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ

"Ruh-ruh bagaikan tentara yang terhimpun. Jika saling mengenal maka akan bersatu, dan jika saling mengingkari maka akan berpisah."

Secara alami seorang mukmin bersama dengan mukminin, seorang kafir bersama kafirin, seorang munafiq bersama munafiqin, seorang sunny salafy bersama salafiyyin dan seorang hizby bersama dengan hizbiyyin yang semisal.

Ketika ada seorang sunny bisa berbasa-basi dengan hizby atau maftun maka itu karena kemunafikan, sebagaimana yang di tegaskan oleh Fudhoil Bin Iyadh.

Ketika terjadi sesuatu atau ada sesuatu yang baru dan membuat kehebohan, fitnah dan kegaduhan lalu banyak pihak yang sulit menilai dan memutuskan maka konsep ulfah dipakai salaf untuk membongkar kedok semua pihak dengan alami tanpa bisa ditutupi dan direkayasa.

Ahlul Haq akan bersama dengan Ahlul Haq dan Ahlul Bathil akan bersama Ahlul Bathil.
Kita bisa melihat secara alami:

🔎 Siapa yang gembira dengan fitnah tersebut?
🔎 Siapa yang bergabung dengan fitnah tersebut?
🔎 Kepada siapa dia bermajlas?
🔎 Siapa yang mendatangi dia?.

Banyak dari ulama yang mengatakan, seperti Imam Ahmad, Al Auza'iy dll:

مَنْ سَتَرَ عَنَّا بِدْعَتَهُ لَمْ تَخْفَ عَلَيْنَا أُلْفَتَهُ

"Siapasaja yang tersamarkan atas kita kebid'ahannya, tidak tersamarkan atas kita ulfah nya."

Jangan bangga dengan banyak pihak yang menyahut dan menyambut kalau ternyata mereka adalah orang-orang yang dikenal sebagai Ashabul Masyakil Wal Fitan.

Seharusnya sadar dan segera taubat manakala Salafiyyin Ahlul Khoir justru sedih dan menjauh darinya sebab itu semua pertanda bahwa apa yang dibawa adalah penyimpangan dan kejelekan.

Jangan merasa dapat angin ketika memperoleh penjelasan sebagian ulama yang sedikit mendukung kalau buah dan hasilnya adalah fitnah, semua itu adalah fatamorgana, apalagi banyak ulama kibar lain tidak menyepakati.


4⃣. ITTIBA' BUKAN TAQLID DAN ASHOBIYYAH

Syiar Ahlus Sunnah Salafiyyun adalah Ittiba' bukan taqlid dan ashobiyyah.

Ittiba' ada 2 macam:
👉a. Ittiba'us sunnah atau ittiba'ur rosul.
👉b. Ittiba' kepada selain rosul baik itu ulama, dai, ustadz dan yang lain nya dengan dalil-dalil dan hujjah-hujjah syar'iyyah.
Dalil tentang masalah ini sangat banyak dan masyhur di kalangan para pencari ilmu. Ketika terjadi sebuah peristiwa dan kejadian yg menimbulkan fitnah dan kehebohan maka syiar ahlus sunnah dalam semua keadaan dan kasus adalah ittiba', selalu berjalan dg dalil, selalu bersama ulama kibar DENGAN HUJJAH-HUJJAHNYA, tidak terjatuh pada taqlid buta atau ashobiyyah pada seseorang baik ustadz, syaikh ataupun yang lain.

Ciri sebuah fitnah dan penyimpangan adalah berjalan dengan apa dan siapa saja yang sesuai dengan hawa nafsunya, melahirkan sikap taqlid dan ashobiyyah yang sebelumnya tidak pernah ada. Jika diberitahu kesalahan-kesalahan orang yang dia bela, dengan penuh ashobiyyah dia akan mencari segudang alasan untuk membelanya, tidak segan untuk berdusta, tidak takut untuk mencaci maki, tidak malu untuk berkata dan berbuat keji.. "pokoknya dia benar tidak salah!!"

Jika mendapat sedikit fatwa yang sedikit mendukungnya maka dengan semangat berapi-api memuji Syaikhnya seolah lupa dengan ulama lainnya, semangat pula menyebarkannya tanpa pertimbangan maslahat dan madhorot, tanpa melihat fatwa tersebut dia dapatkan di majlis khusus ataukah majlis umum, tanpa berfikir fatwa tersebut diizinkan untuk disebar atau tidak...
💥"pokoknya syaikh fulan!!", tidak peduli fatwa tersebut dengan hujjah atau tidak...
💥"pokoknya fulan tamat dengan fatwa ini!!",
💥"pokoknya fulan sang pembela pihak yang selama ini 'tertindas'..!!".


5⃣. WASATHIYYAH TIDAK GHULUW

Syiar Ahlus Sunnah Salafiyyun dalam semua hal baik urusan agama ataupun dunia adalah sikap wasathiyyah, pertengahan diatas alhaq, tidak ghuluw ataupun tafrith, kurang.

Dalinya juga sangat masyhur dikalangan para pencari ilmu. Wasathiyyah dalam menyikapi, wasathiyyah dalam menilai dan menghukumi. Semua dengan dalil dan hujjah, penuh pertimbangan dan ketelitian, jauh dari sikap tergesa- gesa dan ghuluw.

Bukti sebuah kejadian yang menghebohkan adalah fitnah yang menyesatkan apabila orang yang terbawa fitnah tersebut jatuh dalam sikap ghuluw atau tafriith, baik dalam bersikap, menilai maupun menghukumi, sesuatu yang terkadang belum pernah terjadi sebelumnya. Dengan tanpa risih dia menjuluki dainya sebagai:

الْأُسْتَاذُ الشَّيْخُ الْوَالِدُ

Sebuah julukan yang hanya kita dengar untuk alim kabir sekelas Syaikh Robi' dan Syaikh Ubaid. Tanpa hujjah dan malu menjuluki seorang ustadz yang selama ini dia kagumi dan memang masyhur sebagai seorang ustadz salafy, dia juluki dengan :

كَـــذَّابٌ
atau: ustadz latah... dll.

Sebuah tindakan yang tidak pernah ada sebelumnya dan bahkan tidak pernah dilakukan pada dai-dai hizbiyyin. نعوذ بالله من الخذلان.

Al 'Allamah As Syaikh Abdur Rohman As Sa'dy رحمه الله berkata:

فَالدِّيْنُ هُوَ دِيْنُ الْحِكْمَةِ الَّتِيْ هِيَ مَعْرِفَةُ الصَّوَابِ وَالْعَمَلِ بِالصَّوِابِ، وَمَعْرِفَةُ الْحَقِّ وَالْعَمَلُ بِالْحَقِّ فِيْ كُلِّ شَيْءٍ.

"Maka agama ini adalah agama hikmah yaitu mengenali kebenaran dan mengamalkan kebenaran, mengenali al haq dan mengamalkan al haq dalam segala sesuatu". (Taisiirul Lathiif Al Mannaan hal. 50)

Abu Muhammad Ibnu Hazm رحمه الله menegaskan:

أَفْضَلُ نِعَمِ اللهِ تَعَالَى عَلَى الْمَرْءِ أَنْ يَطَبَعَهُ عَلَى الْعَدْلِ وَحُبِّهِ وَعَلَى الْحَقِّ وَإِيْثَارِهِ.

"Seutama utama kenikmatan Allah atas seorang hamba adalah Allah anugrahkan kepadanya tabiat adil dan mencintai keadilan, diatas al haq dan mencintai al haq". (Mudaarootun Nufuus hal. 31)

Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله juga menjelaskan:

فَإِنَّ الْكَمَالَ الْإِنْسَانِيَّ مَدَارُهُ عَلىَ أَصْلَيْنِ :مَعْرِفَةِ الْحَقِّ مِنَ الْبَاطِلِ وَ إِيْثَارِهِ عَلَيْهِ

"Sesungguhnya kesempurnaan seorang insan porosnya diatas 2 prinsip:
👉 Mengetahui yang haq dari yang bathil
👉 Lebih mendahulukan al haq atas al bathil."
(Al Jawwabul Kaafy hal. 139).
Dari penjelasan para ulama diatas dapat diambil kesimpulan ilmiyyah dan faedah besar yang wajib kita ilmui, kita wujudkan dan kita amalkan:

1⃣. Agama Islam adalah agama hikmah, mengajarkan sikap hikmah dalam segala hal.
2⃣. Yang dimaksud hikmah adalah mengenali al haq dan mengamalkannya.
3⃣. Kewajiban mengetahui al haq dalam segala hal untuk diyakini dan diamalkan, dan kewajiban mengenali al bathil untuk di tinggalkan dan di jauhi,
4⃣. Kewajiban mendahulukan al haq dalam segala hal atas al bathil.
5⃣. Prinsip diatas merupakan nikmat dan anugrah Allah yang paling utama atas seorang hamba.
6⃣. Prinsip diatas adalah lambang kesempurnaan seorang insan.
7⃣. Kewajiban bersikap adil dalam semua perkara.
8⃣. Al haq akan membuahkan keadilan dan al bathil akan membuahkan kedzoliman, oleh karena itulah al haq dan al adl di sandingkan.

Setelah uraian panjang diatas, maka ana nasehatkan kepada diri ana pribadi dan kepada segenap tholabah wal ikhwah agar senantiasa mengevaluasi segala ucapan dan tindakan kita agar senantiasa diatas al haq dan jauh dari al bathil. Manakala terjadi fitnah maka perhatikan hal-hal berikut:

👉 Selalu berta'awwudz kepada Allah dari semua fitnah, memohon keteguhan dan istiqomah, jangan sekali-kali bersandar kepada kemampuan pribadi.

👉 Saat hendak bicara, mengeluarkan __statement__, memberi komentar atau sanggahan maka evaluasi terlebih dahulu hal-hal berikut:

1⃣. Apa niatan dan motivasi kita?
Ikhlas karena Allah? dalam rangka membela dakwah salafiyyah? dalam rangka membela ahlul haq?
ataukah karena dendam pribadi? tendensi pribadi dan duniawi? luapan amarah dan emosi?

2⃣. Ilmiyyahkah ucapan kita?
Pastikan ada dasarnya dalam al kitab, as sunnah dengan faham salaf!
Pastikan benar penafsirannya, shohih syarahnya! semua di ambil dari kitab dan uraian ulama sunnah.

3⃣. Sudahkah diatas bimbingan ulama?
Minta bimbingan baru bicara!
Sampaikan dengan jujur, detail, fokus pada inti masalah dan siap menerima arahan, baik itu sesuai atau tidak dengan kita!
Pastikan minta bimbingan ulama untuk dapat faedah bukan untuk mencari pembenaran!

4⃣. Adakah maslahatnya?
Tidak semua yg kita tahu langsung disampaikan! tidak semua yg kita ilmui layak sebar!
yang benar-benar menghormati dakwah salafiyyah ini tidak akan bicara kecuali yang jelas maslahatnya untuk dakwah, jelas maslahatnya untuk ahlus sunnah dan tidak dijadikan senjata oleh ahlul fitan dan ahlul bid'ah untuk menyerang dakwah salafiyyah!

5⃣. Semoga Allah merahmati seseorang yg tahu kadar dirinya.
Bercerminlah! siapa kita sehingga harus berkomentar?! dimana maqom kita sehingga harus berdebat?!

Sungguh memalukan dan memilukan ketika kita mendapati seseorang yang selama ini tidak dikenal kapasitas ilmunya, kredibilitas dakwahnya dan kedalaman pemahamannya tiba-tiba tampil dalam kancah fitnah seolah dia adalah Imam Ahmad atau Syaikh Al Albany atau Syaikh Ibn Baaz atau Syaikh Muqbil atau.. dia berkomentar, menilai, menghukumi, menyanggah, mendebat dll. Sebuah fenomena yg membuat miris hati dampak negatif dari sebuah fitnah!!

Jangan lupa segala sesuatunya akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah!!
Jangan mencari ridho manusia dengan kemurkaan Allah!! namun gapailah ridho Allah semata walau semua manusia memusuhi!

نسأل الله الثبات و الاستقامة على الحق حتى نلقاه.
و صلى الله و سلم على نبينا محمد و على آله و صحبه.

🏕 Sabtu, 6 Robi'ul Awwal 1439H/25 November 2017M

Sumber: 💫WA Thullab Albayyinah💫
.:
BOLEHKAH INVESTASI SISTEM BAGI HASIL (MUDHOROBAH) TAPI PENGELOLA MEMBERIKAN HASIL SETIAP BULAN SEKEHENDAKNYA TANPA ADA PERINCIAN?

🎙Disampaikan Oleh:
Al-Ustadz Muhammad Afifuddin -hafizhahullah-

🗓 Dauroh "Mengambil Pelajaran dari Musibah yang terjadi di Indonesia" | SENIN, 20 Shafar 1440 H / 29 Oktober 2018 di Masjid An Najah (Pojok lapang Merdeka), PANGANDARAN

(869 KB) - Durasi [00:02:51]


•••
📶 t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net | www.ilmusyari.com
::
🚇 JANGAN SALAHKAN PENGUASA, PERIKSA DAHULU AMALANMU!

Ath-Thurthusy –rahimahullah- berkata:

“Senantiasa aku mendengar orang-orang berucap:

أَعْمَالُكُمْ عُمَّالُكُمْ  كَـمَـا تَـكُـونُـوا يُـولَّـى عَـلَـيْـكُـم

Amalan-amalanmu itulah penguasamu. Sebagaimana kondisimu, demikianlah (dijadikan) keadaanku pemegang urusanmu.

Sampai aku kemudian mendapati makna ini di dalam Al-Qur’an pada firman Allah Ta’ala:

َكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضاً بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ ﴿١٢٩﴾

"Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi wali bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka lakukan." Q.S. Al-An’aam: 129.

Siraajul Muluuk, hal. 197

======================

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’diy –rahimahullah- berkata dalam tafsirnya tentang ayat di atas:

“Dan demikian pula termasuk dari sunnah Kami (Allah Ta’ala) untuk memberikan kuasa atas orang yang zhalim dengan orang zhalim semisalnya yang menggerakkan dan mendorongnya kepada kejelekan dan menjauhkannya dan membuatnya lari dari kebaikan.

Hal itu termasuk hukuman Allah yang sangat besar, yang sangat jelek efeknya, dan sangat besar bahayanya. Dan dosanya (yang menjadi sebab datangnya hukuman itu) adalah dosa dari orang yang berbuat zhalim tersebut. Dialah yang memasukkan kejelekan pada dirinya dan atas dirinya ia telah berbuat jinayah. Tidaklah Rabb-mu sekalipun berbuat zhalim kepada hamba-Nya.

Dan termasuk dalam perkara tersebut bahwa para hamba apabila mereka banyak melakukan kelaliman, kerusakan, dan meninggalkan hak-hak yang wajib(atas mereka) niscaya dikuasakan kepada mereka orang-orang yang lalim yang menimpakan kepada mereka siksa yang berat, menghukum mereka dengan sewenang-wenang dan tidak adil dengan lebih berlipat-lipat (akibatnya) dari apa yang mereka tinggalkan dari hak-hak Allah dan hak-hak para hamba-Nya, dalam keadaan mereka tidak diberi ganjaran dan tidak pula mengharapkannya.

Sebagaimana juga, jikalau para hamba mereka berbuat keshalihan dan istiqamah niscaya Allah perbaiki keadaan pemimpin-pemimpin mereka. Dan Dia jadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin yang adil dan lurus. Bukan penguasa yang lalim dan sewenang-wenang.”

Taisirul Karimiir Rahman, As-Sa’diy, hal. 295.


# _muhibbukum fillah_
# perbaiki amalan untuk mendapat pemimpin yang baik.

📑 Alih Bahasa:
Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafizhahullah

••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍 www.alfawaaid.net | www.ilmusyari.com
📁 POSTER GRATIS 📁

Alhamdulillah, telah terbit poster edisi A3 dari Galeri Poster Dakwah bertema "Adab-adab Seputar Masjid", silahkan diunduh, diprint dan dibagikan secara gratis dengan syarat tidak mengurangi ataupun menambah isi desain dari poster tersebut.

جَزَاكم اللهُ خَيْرًا و بارك الله فيكم

📁 Kunjungi link Poster Gratis Adab Seputar Masjid di bawah ini

📥[Unduh] di: http://bit.ly/posteradabmasjid

🔏Tim Galeri Poster Dakwah Ahlusunnah

Tambahan keterangan:

Bleed adalah bagian area desain di luar garis potong yang berfungsi untuk mengantisipasi rendahnya tingkat akurasi pada saat hasil cetak dipotong/disisir. Untuk materi Below the Line (BTL) seperti brosur, poster, buku, flagchain dan sebagainya umumnya menggunakan bleed dengan toleransi minimal 3 – 5 mm.