منتدى نشر الفـــــــوائد
7.54K subscribers
4.31K photos
259 videos
279 files
5.62K links
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya

Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله

Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Download Telegram
📝 10 TANDA AKHLAK MULIA
..
🚇HUKUM MENYESAL DARI BERTAUBAT

Dalam fitnah-fitnah terakhir ini muncul suatu fenomena aneh dan berbahaya. Yaitu menyesal dari bertaubat. Seseorang di awal mengakui pelanggaran syariat dan bertaubat darinya. Di kemudian hari ia menyesal dari bertaubat terhadap kesalahan yang telah ia akui.

Saudaraku fillah –nas’alullah ats-tsabaat-,

Sebagaimana hal yang maklum bahwa “menyesal” salah satu syarat dari taubat. Namun apa jadinya jika “menyesal” itu dijadikan pembatal dari taubat? Sementara taubat dari kesalahan adalah satu jenis amalan shalih?

Renungi penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah- berikut ini:

“Adapun bertaubat dari amalan-amalan _hasanah_(kebaikan) maka TIDAK BOLEH di sisi setiap muslim.

BAHKAN seseorang yang bertaubat dari amalan-amalan _hasanah_ -bersamaan ia mengetahui bahwa ia bertaubat dari amalan kebaikan- maka orang ini menjadi kafir atau fasik.

Dan jika ia tidak memahami bahwa ia bertaubat dari kebaikan maka ini adalah orang JAHIL dan SESAT. Hal itu dikarenakan _hasanah_ adalah IMAN dan AMAL SHALIH.

🔻SEHINGGA bertaubat dari iman adalah _ruju’_ (berbalik arah) darinya. Sementara berbalik dari iman adalah _riddah_(murtad). Dan itulah kekufuran.

🔻 Sedangkan bertaubat dari amal shalih adalah _ruju”_ dari apa yang Allah perintah, hal itu adalah kefasikan atau kemaksiatan.

===========================

Perhatikan dan renungi penjelasan Syaikhul Islam di atas –wahai saudaraku fillah-. Betapa dahsyat akibat bagi seorang yang menyesal dari taubat. Hukum yang berlaku atasnya tidaklah ringan. Mari kita cermati –wahai saudaraku fillah- apa yang beliau sampai paparkan selanjutnya:
“Sementara Allah Yang Maha Tinggi menganugerahkan rasa cinta kepada iman bagi orang-orang mukmin. Dan Dia memberi kepada mereka rasa benci kepada kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan.”

Berikutnya, setiap hasanah yang dilaksanakan seorang hamba adalah berhukum wajib atau mustahab. Dan taubat mengandung unsur penyesalan atas apa yang telah lalu dan _‘azam_ (bertekad) tidak mengulangi yang semisalnya di masa yang akan datang. Dan penyesalan itu meliputi tiga hal:
◾️ meyakini jeleknya sesuatu yang ia telah menyesalinya,
◾️ marah dan membencinya,
◾️ dan rasa perih yang mengiringinya akibat apa yang ia sesali tersebut.

SEHINGGA seseorang yang :

meyakini jeleknya apa yang Allah perintahkan baik perintah yang wajib ataupun mustahab,
atau ia marah terhadap perintah itu dan membenci dengan merasa kepedihan ketika melakukannya (amalan shalih),
dan ia merasa terganggu dengan adanya amal shalih itu..

👉🏻 Maka dalam diri orang ini terdapat _nifaq_/ kemunafikan sesuai kadarnya (dari keyakinan jeleknya amalan shalih, kemarahan, kebencian, dan merasa terganggu atasnya, pent.).

Baik itu _nifaq akbar_ yang mengeluarkannya dari akar iman ataupun _nifaq asghar_ yang mengeluarkannya dari kesempurnaan iman yang wajib untuknya.

Allah Ta’ala berfirman:

ذَلِكَ بِأَنَّهُمُ اتَّبَعُوا مَا أَسْخَطَ اللَّهَ وَكَرِهُوا رِضْوَانَهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ ﴿٢٨﴾

"Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan (karena) mereka membenci (apa yang menimbulkan) keridhaan-Nya; sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka." [Q.S. Muhammad: 028]

Dan Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذَا مَا أُنزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُم مَّن يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَـذِهِ إِيمَاناً فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُواْ فَزَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ ﴿١٢٤﴾ وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْساً إِلَى رِجْسِهِمْ وَمَاتُواْ وَهُمْ كَافِرُونَ ﴿١٢٥﴾

"124. Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: "Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?" Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira."

"125. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir."  [Q.S. At-Taubah: 124 – 125]
Dan Allah Ta’ala berfiman:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاء وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ وَلاَ يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إَلاَّ خَسَاراً ﴿٨٢﴾

"Dan Kami turunkan dari Al Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur'an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian." [Q.S. Al-Israa’: 82].

 
📖 Kitab At-Taubah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 42 – 43.


======###======

Takutlah kepada Allah wahai saudaraku...

Tidak ada gelar yang baik untuk orang yang menyesal dari melakukan taubat atas kesalahannya. Kafir. Fasik. Jahil. Sesat. Munafik. Baik hukum itu dalam jenis _akbar_ ataupun _ashghar_ keduanya adalah kejelekan.

Maka bersegeralah bertaubat dari "rujuk dari taubat". Sebelum datang hari perhitungan yang akan ditegakkan keadilan di dalamnya. Masing-masing akan dinilai sesuai dengan apa yang ia lakukan.

# _muhibbukum fillah_

📑 Alih Bahasa: Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafidzahullah

••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net
..
🗂🔉 Arsip Audio Klip FBF 21 s/30 :

Murottal sebagai Pengantar Tidur?
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4415

Belum Berdakwah karena Belum Mengamalkan?
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4417

Kaidah Mengambil Ilmu
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4419

Tenggelam dalam Dunia
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4421

Dimana Dia Singgah
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4423

Tidak Bekerja karena Sudah Tercukupi
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4426

Lisan Pun Membutuhkan Hidayah
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4429

Rajin Ta'lim Tak Menghalangi Rezeki
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4441

Menyimpang Tanpa Sadar
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4443

Sebagian dari Kesalahan Istri
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4445


••••
↩️🔉Arsip Audio Klip FBF sebelumya :

💽 01 s/d 10 :
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4382

💽 11 s/d 20 :
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4411
::
🚇 PENTINGNYA MUSYAWARAH
[Tidak terkagum dengan kemampuan yang dimiliki]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah- berkata:

Kadangkala ada seseorang yang ia termasuk orang yang paling cerdas dan paling tajam pandangannya. Namun Allah membutakannya dari sesuatu yang sangat benderang.

Dan ada kalanya seseorang itu termasuk orang yang sangat pandir dan paling lemah pandangannya NAMUN Allah memberi hidayah kepadanya -dalam hal yang diperselisihkan- menuju al-haq dengan izin-Nya.

Sehingga :
لا حول ولا قوة إلا به

_Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah._

MAKA siapa yang bersandar kepada pandangan, istidlal, akal, dan pengetahuannya semata, pasti ia akan direndahkan.

‏قال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله:

قد يكون الرجل من أذكياء الناس وأحدِّهم نظرا ويعميه عن أظهر الأشياء

💡وقد يكون من أبلد الناس وأضعفهم نظرا ويهديه الله لما اختُلِف فيه من الحق بإذنه،

☝🏻فلا حول ولا قوة إلا به.

فمن اتكل على نظره واستدلاله،أو عقله ومعرفته،خُذِل.

[درء التعارض, ٩\ ٣٤]

📑 Alih Bahasa: Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafidzahullah

••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net
::
🚇 Apakah Seseorang Harus Bertaubat dari Kesalahan yang Dilakukan di atas Kejahilan?


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah- berkata:

“Dan apabila seseorang diperintah untuk menuntut ilmu yang ia butuhkan sebisa mungkin –dan ia jika tidak mendapati ilmu yang yakin ia mengetahui bahwa ia belum mendapatkan ilmu- maka ia diperintah pula untuk mencari dan bersungguh-sungguh(mempelajari ilmu yang ia butuh untuk diamalkan). Sehingga jika ia meninggalkan apa yang diperintah kepadanya ini maka ia berhak untuk dicela dan dihukum atasnya.

Lalu, apabila telah jelas baginya al-haq dan ia mengamalkannya –dan ia juga mengetahui bahwa ia dahulu jahil terhadap kebenaran dan meyakini yang sebaliknya- maka ia pun bertaubat. Dalam makna ia rujuk dari kebatilan menuju al-haq. Dan walaupun Allah telah memaafkannya dari sesuatu yang ia tidak mampu di saat itu (yaitu beramal di atas kejahilan) maka ia juga bertaubat dari apa yang terjadi ketika melakukannya:

Yang Pertama: dalam hal bermudah-mudahan dari  mencari al-haq.

Karena mayoritas kesalahan Bani Adam bermula dari meremehkan mempelajari al-haq, bukan karena tidak mampu sama sekali.

(Yang Kedua:) Dia juga bertaubat –pertama sekali -dari mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah.

Sebab kebanyakan yang menyeret seseorang untuk mengikuti persangkaan yang keliru(ilmu yang tidak yakin) adalah hawa nafsunya, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنفُسُ ﴿٢٣﴾

"Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka." [Q.S. An-Najm: 023].

📖 Kitab At-Taubah, Ibnu Taimiyah, hal 36.
📑 Alih Bahasa: Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafidzahullah

••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net
::
🚇 SEDEKAHLAH WALAU SEDIKIT!

Pertanyaan:
Sebagian orang apabila diminta untuk menolong orang lain ia pun berujar “Apakah aku wakil bagi Adam (‘alaihissalam) untuk mengurusi anak keturunannya?” Apakah semisal ucapan ini ada dosa di sisi syariat? Kami mohon penjelasan dan semoga Allah membalas kebaikan kepada Anda.


📡 Asy-Syaikh Ibnu Baz – rahimahullah – menjawab:
 
“Ungkapan seperti ini tidak ada sisi baiknya dan tidak layak untuk seseorang berkata demikian. Bahkan yang disyariatkan bagi seorang muslim untuk berinfak dari apa yang Allah beri kepadanya walaupun sedikit, sebab Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung berfirman:
 
آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَأَنفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُم مُّسْتَخْلَفِينَ فِيهِ فَالَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَأَنفَقُوا لَهُمْ أَجْرٌ كَبِيرٌ ﴿٧﴾

Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar. Q.S. Al-Hadiid: 7.
 
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنفِقُوا خَيْراً لِّأَنفُسِكُمْ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ﴿١٦﴾

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dirinya dari kekikiran maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Q.S. At-Taghaabun: 16.

Dan ayat yang semakna ini adalah banyak.
 
Rasulullah – shalallahu ‘alaihi wasallam – bersabda:

(( اِتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ ، فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ ))

Berlindunglah dari neraka walau dengan setengah kurma. Siapa yang tidak memiliki maka dengan perkataan yang baik. (Hadits Abu Hurairah, riwayat Al-Bukhari dan Muslim)
 
(( مَنْ تَصَدَّقَ بعَدلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ ، وَلاَ يَقْبَلُ اللهُ إِلاَّ الطَّيبَ ، فَإنَّ اللهَ يَقْبَلُهَا بِيَمِينِهِ ، ثُمَّ يُرَبِّيهَا لِصَاحِبِهَا كَمَا يُرَبِّي أحَدُكُمْ فَلُوَّهُ حَتَّى تَكُونَ مِثْلَ الجَبَلِ ))

Siapa yang bersedekah senilai satu buah kurma dari penghasilan yang halal – dan Allah tidak akan menerima (sedekah) kecuali dari yang baik – tidak lain Allah akan menerima dengan tangan kanannya kemudian memeliharanya untuk pemiliknya, sebagaimana salah seorang kalian memelihara anak kudanya, sampai sedekah itu menjadi sebesar gunung. (Hadits Abu Hurairah, Muttafaqun ‘alaih)

Hadits-hadits dalam permasalahan ini banyak.

☝🏻Maka disyariatkan bagi setiap mukmin untuk memperbanyak sedekah walau nilainya kecil sehingga ia mendapati pahala di sisi Rabbnya yang (pahala)itu lebih ia butuhkan(daripada harta yang banyak).

Allah-lah semata penolong untuk meraih taufik(dalam beramal shalih).


🏞 Sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/1565
📑 Alih Bahasa: Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafidzahullah

••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net