منتدى نشر الفـــــــوائد
7.54K subscribers
4.31K photos
259 videos
279 files
5.62K links
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya

Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله

Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Download Telegram
::
📨 PENTING: BAGI ORANGTUA YANG MENGAJARKAN ANAK BERUSIA TUJUH TAHUN UNTUK SHALAT

#Tarbiyah Nabawiyah

Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albaniy –rahimahullah- berkata:

“..Demikian juga makna:

”Perintahkan anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berumur tujuh tahun.”

Yaitu: bukan mereka diperintah untuk  shalat dan bajunya bernajis, badannya bernajis, dengan tanpa thaharah. Tanpa berwudhu. Tidak, tidak seperti ini.

Dari mana kita ambil rincian-rincian ini –dan tidak ada hajat untuk aku memperluas pembahasan lebih dari contoh-contoh ini- menutup aurat, menyucikan badan, menyucikan tempat(shalat).

Bukanlah makna perintah Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wasallam- kepada wali anak untuk memerintah anaknya untuk shalat yaitu: ia shalat sebagaimana sesukanya sementara dia tidak mengetahui setelahnya apa shalat itu!

Namun wali  dan orangtua dialah yang mengetahui. Sehingga ketika beliau bersabda:

”Perintahkan anak-anak kalian untuk shalat...”

Maka wajib untuk kita mengingatkannya yaitu syarat-syarat dan rukun-rukunnya. Jika tidak demikian maka tidak ada shalat KECUALI dengan ditegakkan syarat-syarat dan rukun-rukunnya.

☝🏻Dan di atas hal tersebut maka WAJIB untuk kita mentarbiyah anak-anak kecil kita ketika masuk usia tujuh tahun untuk melaksanakan perkara-perkara yang wajib atas mereka ketika mencapai usia _taklif_(baligh).

Dan tidak diragukan bahwa perintah nabawi yang mulia ini berada di puncak hikmah.

Sebab anak di usia ini menerima arahan dan pengajaran....”


📊 Sumber: Jami’ut Turatsil ‘Allamah al-Albaniy fil Manhaj, 1/ 447 – 448

📑 Alih Bahasa: Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafidzahullah

••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net
Doa Tatkala Fitnah Melanda
📝 10 TANDA AKHLAK MULIA
..
🚇HUKUM MENYESAL DARI BERTAUBAT

Dalam fitnah-fitnah terakhir ini muncul suatu fenomena aneh dan berbahaya. Yaitu menyesal dari bertaubat. Seseorang di awal mengakui pelanggaran syariat dan bertaubat darinya. Di kemudian hari ia menyesal dari bertaubat terhadap kesalahan yang telah ia akui.

Saudaraku fillah –nas’alullah ats-tsabaat-,

Sebagaimana hal yang maklum bahwa “menyesal” salah satu syarat dari taubat. Namun apa jadinya jika “menyesal” itu dijadikan pembatal dari taubat? Sementara taubat dari kesalahan adalah satu jenis amalan shalih?

Renungi penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah- berikut ini:

“Adapun bertaubat dari amalan-amalan _hasanah_(kebaikan) maka TIDAK BOLEH di sisi setiap muslim.

BAHKAN seseorang yang bertaubat dari amalan-amalan _hasanah_ -bersamaan ia mengetahui bahwa ia bertaubat dari amalan kebaikan- maka orang ini menjadi kafir atau fasik.

Dan jika ia tidak memahami bahwa ia bertaubat dari kebaikan maka ini adalah orang JAHIL dan SESAT. Hal itu dikarenakan _hasanah_ adalah IMAN dan AMAL SHALIH.

🔻SEHINGGA bertaubat dari iman adalah _ruju’_ (berbalik arah) darinya. Sementara berbalik dari iman adalah _riddah_(murtad). Dan itulah kekufuran.

🔻 Sedangkan bertaubat dari amal shalih adalah _ruju”_ dari apa yang Allah perintah, hal itu adalah kefasikan atau kemaksiatan.

===========================

Perhatikan dan renungi penjelasan Syaikhul Islam di atas –wahai saudaraku fillah-. Betapa dahsyat akibat bagi seorang yang menyesal dari taubat. Hukum yang berlaku atasnya tidaklah ringan. Mari kita cermati –wahai saudaraku fillah- apa yang beliau sampai paparkan selanjutnya:
“Sementara Allah Yang Maha Tinggi menganugerahkan rasa cinta kepada iman bagi orang-orang mukmin. Dan Dia memberi kepada mereka rasa benci kepada kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan.”

Berikutnya, setiap hasanah yang dilaksanakan seorang hamba adalah berhukum wajib atau mustahab. Dan taubat mengandung unsur penyesalan atas apa yang telah lalu dan _‘azam_ (bertekad) tidak mengulangi yang semisalnya di masa yang akan datang. Dan penyesalan itu meliputi tiga hal:
◾️ meyakini jeleknya sesuatu yang ia telah menyesalinya,
◾️ marah dan membencinya,
◾️ dan rasa perih yang mengiringinya akibat apa yang ia sesali tersebut.

SEHINGGA seseorang yang :

meyakini jeleknya apa yang Allah perintahkan baik perintah yang wajib ataupun mustahab,
atau ia marah terhadap perintah itu dan membenci dengan merasa kepedihan ketika melakukannya (amalan shalih),
dan ia merasa terganggu dengan adanya amal shalih itu..

👉🏻 Maka dalam diri orang ini terdapat _nifaq_/ kemunafikan sesuai kadarnya (dari keyakinan jeleknya amalan shalih, kemarahan, kebencian, dan merasa terganggu atasnya, pent.).

Baik itu _nifaq akbar_ yang mengeluarkannya dari akar iman ataupun _nifaq asghar_ yang mengeluarkannya dari kesempurnaan iman yang wajib untuknya.

Allah Ta’ala berfirman:

ذَلِكَ بِأَنَّهُمُ اتَّبَعُوا مَا أَسْخَطَ اللَّهَ وَكَرِهُوا رِضْوَانَهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ ﴿٢٨﴾

"Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan (karena) mereka membenci (apa yang menimbulkan) keridhaan-Nya; sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka." [Q.S. Muhammad: 028]

Dan Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذَا مَا أُنزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُم مَّن يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَـذِهِ إِيمَاناً فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُواْ فَزَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ ﴿١٢٤﴾ وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْساً إِلَى رِجْسِهِمْ وَمَاتُواْ وَهُمْ كَافِرُونَ ﴿١٢٥﴾

"124. Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: "Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?" Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira."

"125. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir."  [Q.S. At-Taubah: 124 – 125]
Dan Allah Ta’ala berfiman:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاء وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ وَلاَ يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إَلاَّ خَسَاراً ﴿٨٢﴾

"Dan Kami turunkan dari Al Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur'an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian." [Q.S. Al-Israa’: 82].

 
📖 Kitab At-Taubah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 42 – 43.


======###======

Takutlah kepada Allah wahai saudaraku...

Tidak ada gelar yang baik untuk orang yang menyesal dari melakukan taubat atas kesalahannya. Kafir. Fasik. Jahil. Sesat. Munafik. Baik hukum itu dalam jenis _akbar_ ataupun _ashghar_ keduanya adalah kejelekan.

Maka bersegeralah bertaubat dari "rujuk dari taubat". Sebelum datang hari perhitungan yang akan ditegakkan keadilan di dalamnya. Masing-masing akan dinilai sesuai dengan apa yang ia lakukan.

# _muhibbukum fillah_

📑 Alih Bahasa: Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafidzahullah

••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net
..
🗂🔉 Arsip Audio Klip FBF 21 s/30 :

Murottal sebagai Pengantar Tidur?
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4415

Belum Berdakwah karena Belum Mengamalkan?
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4417

Kaidah Mengambil Ilmu
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4419

Tenggelam dalam Dunia
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4421

Dimana Dia Singgah
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4423

Tidak Bekerja karena Sudah Tercukupi
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4426

Lisan Pun Membutuhkan Hidayah
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4429

Rajin Ta'lim Tak Menghalangi Rezeki
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4441

Menyimpang Tanpa Sadar
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4443

Sebagian dari Kesalahan Istri
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4445


••••
↩️🔉Arsip Audio Klip FBF sebelumya :

💽 01 s/d 10 :
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4382

💽 11 s/d 20 :
https://t.me/ForumBerbagiFaidah/4411
::
🚇 PENTINGNYA MUSYAWARAH
[Tidak terkagum dengan kemampuan yang dimiliki]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah- berkata:

Kadangkala ada seseorang yang ia termasuk orang yang paling cerdas dan paling tajam pandangannya. Namun Allah membutakannya dari sesuatu yang sangat benderang.

Dan ada kalanya seseorang itu termasuk orang yang sangat pandir dan paling lemah pandangannya NAMUN Allah memberi hidayah kepadanya -dalam hal yang diperselisihkan- menuju al-haq dengan izin-Nya.

Sehingga :
لا حول ولا قوة إلا به

_Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah._

MAKA siapa yang bersandar kepada pandangan, istidlal, akal, dan pengetahuannya semata, pasti ia akan direndahkan.

‏قال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله:

قد يكون الرجل من أذكياء الناس وأحدِّهم نظرا ويعميه عن أظهر الأشياء

💡وقد يكون من أبلد الناس وأضعفهم نظرا ويهديه الله لما اختُلِف فيه من الحق بإذنه،

☝🏻فلا حول ولا قوة إلا به.

فمن اتكل على نظره واستدلاله،أو عقله ومعرفته،خُذِل.

[درء التعارض, ٩\ ٣٤]

📑 Alih Bahasa: Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafidzahullah

••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net