::
🚇 KEUTAMAAN AGAR MEMPERBANYAK BERPUASA SUNNAH DI BULAN AL-MUHARRAM
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
"Puasa yang paling afdhal setelah Ramdhan adalah Puasa bulan Allah Al-Muharram." (HR. Muslin 1982)
Imam Nawawi berkata : "Sabda beliau "Bulan Allah" disandarkan kata bulan kepada lafazh Allah adalah penyandaran pengagungan.
Al-Qaari berkata: "Yang nampak adalah (Puasa) seluruh bulan Muharram."
Akan tetapi telah tetap kalau Nabi ﷺ tidaklah berpuasa satu bulan penuh selain Ramadhan. Maka hadits ini dibawa pada makna anjuran memperbanyak puasa di bulan Muharram, bukan berpuasa seluruhnya.
Dan telah tetap Nabi ﷺ memperbanyak puasa di bulan Sya'ban, dan sepertinya belum diwahyukan kepada beliau keutamaan bulan Muharram kecuali di akhir hayat beliau, sehingga belum memungkinkan bagi beliau untuk berpuasa padanya. (Syarh shahih Muslim karya An-Nawawi.)
Allah itu memilih apa saja yang Dia kehendaki dari waktu dan tempat. Izz bin Abdissalam rahimahullah berkata: Dan diutamakannya tempat dan waktu itu ada dua permisalan :
◾️Yang pertama: Secara duniawi
◾️ Yang kedua: Diutamakan secara agama, kembalinya kepada Kalau Allah akan mengaruniai hamba-Nya di waktu tersebut pahala bagi orang yang beramal. Seperti diutamakannya puasa bulan Ramadhan di atas seluruh bulan.
Demikian juga hari 'Asyuura, maka keutamaannya kembali kepada kemurahan Allah dan KebaikanNya kepada hamba-hambaNya di waktu itu.
Qawaaid Al-Ahkam 1/38.
••••
📚 Sumber : Channel Durus Salafiyyah
http://forumsalafy.net/keutamaan-banyak-berpuasa-sunnah-di-bulan-muharam/
🚇 KEUTAMAAN AGAR MEMPERBANYAK BERPUASA SUNNAH DI BULAN AL-MUHARRAM
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
"Puasa yang paling afdhal setelah Ramdhan adalah Puasa bulan Allah Al-Muharram." (HR. Muslin 1982)
Imam Nawawi berkata : "Sabda beliau "Bulan Allah" disandarkan kata bulan kepada lafazh Allah adalah penyandaran pengagungan.
Al-Qaari berkata: "Yang nampak adalah (Puasa) seluruh bulan Muharram."
Akan tetapi telah tetap kalau Nabi ﷺ tidaklah berpuasa satu bulan penuh selain Ramadhan. Maka hadits ini dibawa pada makna anjuran memperbanyak puasa di bulan Muharram, bukan berpuasa seluruhnya.
Dan telah tetap Nabi ﷺ memperbanyak puasa di bulan Sya'ban, dan sepertinya belum diwahyukan kepada beliau keutamaan bulan Muharram kecuali di akhir hayat beliau, sehingga belum memungkinkan bagi beliau untuk berpuasa padanya. (Syarh shahih Muslim karya An-Nawawi.)
Allah itu memilih apa saja yang Dia kehendaki dari waktu dan tempat. Izz bin Abdissalam rahimahullah berkata: Dan diutamakannya tempat dan waktu itu ada dua permisalan :
◾️Yang pertama: Secara duniawi
◾️ Yang kedua: Diutamakan secara agama, kembalinya kepada Kalau Allah akan mengaruniai hamba-Nya di waktu tersebut pahala bagi orang yang beramal. Seperti diutamakannya puasa bulan Ramadhan di atas seluruh bulan.
Demikian juga hari 'Asyuura, maka keutamaannya kembali kepada kemurahan Allah dan KebaikanNya kepada hamba-hambaNya di waktu itu.
Qawaaid Al-Ahkam 1/38.
••••
📚 Sumber : Channel Durus Salafiyyah
http://forumsalafy.net/keutamaan-banyak-berpuasa-sunnah-di-bulan-muharam/
Forum Salafy
KEUTAMAAN BANYAK BERPUASA SUNNAH DI BULAN MUHARAM | Forum Salafy
KEUTAMAAN BANYAK BERPUASA SUNNAH DI BULAN MUHARRAM Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Puasa ya
::
🚇TEMPAT SUJUD SAHWI
Asy-Syaikh Shalih bin Fawzan al Fawzan hafizhahullah
PERTANYAAN:
Saya imam di salahsatu Masjid dan jika terjadi lupa dalam shalat, saya selalu melakukan sujud sahwi sebelum salam kecuali pada sebagian waktu. Apa nasehat Anda kepada saya. Semoga Allah تعالى memberkahi Anda?
JAWABAN:
Sujud sahwi boleh sebelum salam dan sesudah salam, akan tetapi :
◾️yang utama jika sujud itu karena adanya kekurangan dalam shalat, maka sujud sahwi dilakukan sebelum salam karena sujud itu sebagai penambal shalat.
◾️jika sujud itu dikarenakan tambahan dalam shalat karena lupa, maka yang utama sujud dilakukan setelah salam. Karena sujud itu untuk merendahkan setan sebagaimana sabda Nabi صلى الله عليه وسلم
ــــــــــــــــــــــــ
السؤال:
يقول أنا إمام أحد المساجد وإذا حصل في الصلاة سهوٌ فإنني أجعل السجود قبل السلام دائمًا إلا في بعض الأحيان فما توجيهكم لي بارك الله فيكم ؟
الجواب:
سجود السهو يجوز قبل السلام وبعد السلام ولكن الأفضل إن كان السجود عن نقص فإنه يكون قبل السلام لأنه جبران للصلاة وإن كان عن زيادة في الصلاة سهوًا فالأفضل أن يكون بعد السلام لأنه ترغيم للشيطان كما قال النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -
••••
🌏 Sumber: http://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/15707
@ukhwh
🚇TEMPAT SUJUD SAHWI
Asy-Syaikh Shalih bin Fawzan al Fawzan hafizhahullah
PERTANYAAN:
Saya imam di salahsatu Masjid dan jika terjadi lupa dalam shalat, saya selalu melakukan sujud sahwi sebelum salam kecuali pada sebagian waktu. Apa nasehat Anda kepada saya. Semoga Allah تعالى memberkahi Anda?
JAWABAN:
Sujud sahwi boleh sebelum salam dan sesudah salam, akan tetapi :
◾️yang utama jika sujud itu karena adanya kekurangan dalam shalat, maka sujud sahwi dilakukan sebelum salam karena sujud itu sebagai penambal shalat.
◾️jika sujud itu dikarenakan tambahan dalam shalat karena lupa, maka yang utama sujud dilakukan setelah salam. Karena sujud itu untuk merendahkan setan sebagaimana sabda Nabi صلى الله عليه وسلم
ــــــــــــــــــــــــ
السؤال:
يقول أنا إمام أحد المساجد وإذا حصل في الصلاة سهوٌ فإنني أجعل السجود قبل السلام دائمًا إلا في بعض الأحيان فما توجيهكم لي بارك الله فيكم ؟
الجواب:
سجود السهو يجوز قبل السلام وبعد السلام ولكن الأفضل إن كان السجود عن نقص فإنه يكون قبل السلام لأنه جبران للصلاة وإن كان عن زيادة في الصلاة سهوًا فالأفضل أن يكون بعد السلام لأنه ترغيم للشيطان كما قال النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -
••••
🌏 Sumber: http://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/15707
@ukhwh
.:
🚇 SUJUD SAHWI : SEBAB, TATACARA & TANYA JAWAB SEPUTAR SUJUD SAHWI
🔬 Disampaikan Oleh:
Al-Ustadz Abu Yahya Mu'adz hafidzahullah
📆 Kajian Kitab Fiqih Muyassar | Kamis Tanggal 16,23,30 Rajab 1438 H / 13,20,27 April 2017 M di Masjid Ma'had Dzunnurain, Limo-Depok
📶 Bagian 1 Durasi 41:18 (7,1 MB)
📶 Bagian 2 Durasi 39:51 (6,9 MB)
📶 Bagian 3 Durasi 34:53 (6,0 MB)
📶 Bagian 4 Durasi 27:43 (4,8 MB)
ـــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 Channel: t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🏀 www.alfawaaid.net
🚇 SUJUD SAHWI : SEBAB, TATACARA & TANYA JAWAB SEPUTAR SUJUD SAHWI
🔬 Disampaikan Oleh:
Al-Ustadz Abu Yahya Mu'adz hafidzahullah
📆 Kajian Kitab Fiqih Muyassar | Kamis Tanggal 16,23,30 Rajab 1438 H / 13,20,27 April 2017 M di Masjid Ma'had Dzunnurain, Limo-Depok
📶 Bagian 1 Durasi 41:18 (7,1 MB)
📶 Bagian 2 Durasi 39:51 (6,9 MB)
📶 Bagian 3 Durasi 34:53 (6,0 MB)
📶 Bagian 4 Durasi 27:43 (4,8 MB)
ـــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
🔍 مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
قناتنا في برنامـــج [تيليجــــــرام]
للإشتراك : افتح الرابط واضغط على إشتراك👇
💾 Channel: t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🏀 www.alfawaaid.net
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
🚇PENGINGAT SHAUM SUNNAH
Pekan spesial untuk berpuasa sunnah di bulan AlMuharram:
1⃣ Kamis, 8 AlMuharram/28 September (Puasa sunnah Kamis) hari diangkatnya amalan
2⃣ Jum'at, 9 AlMuharram/29 September (hari Tasu'a)
3⃣ Sabtu, 10 AlMuharram/ 30 September (hari 'Asyuro) Pahala puasanya menghapus dosa setahun
4⃣ Ahad, 11 AlMuharram/1 Oktober (puasa sehari setelah 'Asyuro)
5⃣ Senin, 12 AlMuharram/ 2 Oktober (Puasa sunnah Senin)
6⃣ Selasa, 13 AlMuharram/3 Oktober (Puasa sunnah hari pertama Ayyaamul bidh)
7⃣ Rabu, 14 AlMuharram/4 Oktober (Puasa sunnah hari kedua Ayyaamul bidh)
8⃣ Kamis, 15 AlMuharram/5 Oktober (Puasa sunnah hari ketiga Ayyaamul bidh)
____________
◾️تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِى وَأَنَا صَائِمٌ
“Dihadapkan amalan-amalan (kepada Allah) pada hari Senin dan Kamis, maka aku senang jika amalanku dihadapkan sedangkan aku sedang shaum” (HR. Tirmidzi no. 747)
◾️أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ
“Puasa yang paling afdhal setelah Ramadhan adalah bulan Allah yakni AlMuharram, dan shalat yang paling afdhal setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR.Muslim No.1163)
◾️ كَانَ رَسُولُ اللَّهﷺ يَأْمُرُنَا أَنْ نَصُومَ الْبِيضَ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ . وَقَالَ هُنَّ كَهَيْئَةِ الدَّهْرِ
“Rasulullah ﷺ biasa memerintahkan kami agar berpuasa pada ayyamul bidh yaitu 13, 14 dan 15 (dari bulan Hijriyah).” Dan beliau bersabda, “Puasa ayyamul bidh itu seperti puasa setahun.” (HR. Abu Dawud no. 2449, An-Nasai no. 2434).
..
🚇PENGINGAT SHAUM SUNNAH
Pekan spesial untuk berpuasa sunnah di bulan AlMuharram:
1⃣ Kamis, 8 AlMuharram/28 September (Puasa sunnah Kamis) hari diangkatnya amalan
2⃣ Jum'at, 9 AlMuharram/29 September (hari Tasu'a)
3⃣ Sabtu, 10 AlMuharram/ 30 September (hari 'Asyuro) Pahala puasanya menghapus dosa setahun
4⃣ Ahad, 11 AlMuharram/1 Oktober (puasa sehari setelah 'Asyuro)
5⃣ Senin, 12 AlMuharram/ 2 Oktober (Puasa sunnah Senin)
6⃣ Selasa, 13 AlMuharram/3 Oktober (Puasa sunnah hari pertama Ayyaamul bidh)
7⃣ Rabu, 14 AlMuharram/4 Oktober (Puasa sunnah hari kedua Ayyaamul bidh)
8⃣ Kamis, 15 AlMuharram/5 Oktober (Puasa sunnah hari ketiga Ayyaamul bidh)
____________
◾️تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِى وَأَنَا صَائِمٌ
“Dihadapkan amalan-amalan (kepada Allah) pada hari Senin dan Kamis, maka aku senang jika amalanku dihadapkan sedangkan aku sedang shaum” (HR. Tirmidzi no. 747)
◾️أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ
“Puasa yang paling afdhal setelah Ramadhan adalah bulan Allah yakni AlMuharram, dan shalat yang paling afdhal setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR.Muslim No.1163)
◾️ كَانَ رَسُولُ اللَّهﷺ يَأْمُرُنَا أَنْ نَصُومَ الْبِيضَ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ . وَقَالَ هُنَّ كَهَيْئَةِ الدَّهْرِ
“Rasulullah ﷺ biasa memerintahkan kami agar berpuasa pada ayyamul bidh yaitu 13, 14 dan 15 (dari bulan Hijriyah).” Dan beliau bersabda, “Puasa ayyamul bidh itu seperti puasa setahun.” (HR. Abu Dawud no. 2449, An-Nasai no. 2434).
..
Forwarded from منتدى نشر الفـــــــوائد
.:
🚇 BAGAIMANA SIKAP ISTERI MENGHADAPI SUAMI YANG SIBUK BEKERJA MENCARI NAFKAH-MA'ISYAH NAMUN MALAS MENCARI ILMU AGAMA?
🎙 Al-Ustadz Abdurrahman Lombok -hafidzahullah-
(1,5 MB) - Durasi [05:38]
| Dauroh Jum'at - Ahad , 2-4 Rajab 1438 H / 31 Maret - 2 April 2017 di Masjid Abu Bakr Ash-Shiddiq (Kompleks Muhajirin Samping Perum DPRD Kebun Cengkeh Ambon)
•••
📶 t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net
🚇 BAGAIMANA SIKAP ISTERI MENGHADAPI SUAMI YANG SIBUK BEKERJA MENCARI NAFKAH-MA'ISYAH NAMUN MALAS MENCARI ILMU AGAMA?
🎙 Al-Ustadz Abdurrahman Lombok -hafidzahullah-
(1,5 MB) - Durasi [05:38]
| Dauroh Jum'at - Ahad , 2-4 Rajab 1438 H / 31 Maret - 2 April 2017 di Masjid Abu Bakr Ash-Shiddiq (Kompleks Muhajirin Samping Perum DPRD Kebun Cengkeh Ambon)
•••
📶 t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net
Telegram
منتدى نشر الفـــــــوائد
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
::
🚇 SYI'AH DAN BULAN AL-MUHARRAM
Bulan Muharram adalah salah satu dari asyhurul hurum (bulan haram). Allah subhanahu wa ta’ala memuliakannya dengan tidak bolehnya melakukan pertumpahan darah pada bulan tersebut. Bahkan, pada 10 Muharram, hari Asyura’, Allah subhanahu wa ta’ala menganjurkan berpuasa dengan pahala yang sangat besar.
Bagi kaum Syiah, hari Asyura’ dinilai bersejarah karena bertepatan dengan terbunuhnya al-Husain bin Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhuma dengan penuh kezaliman pada 61 H.
Menurut umat Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah, beliau meninggal sebagai syahid. Oleh sebab itu, beliau dimuliakan. Beliau dan saudaranya, al-Hasan, adalah dua pemuda surga. Ternyata kedudukan yang tinggi harus diperoleh dengan pengorbanan yang besar pula.
Rasulullah ﷺ pernah ditanya,
أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟ فَقَالَ: الْأَنِبْيَاءُ ثُمَّالصَّالِحُونَ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الرَّجُلُعَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ صَلَابَةٌزِيدَ فِي بَلَائِهِ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ خُفِّفَعَنْهُ، وَ يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ حَتَّى يَمْشِيَ عَلَىالْأَرْضِ وَلَيْسَ عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ
“Siapakah yang paling berat cobaannya?”
Beliau menjawab, “Para nabi, kemudian orang-orang shaleh, kemudian setelah mereka, dan setelah mereka. Seseorang diuji sesuai dengan kadar agamanya. Jika agamanya kokoh, ditambah ujiannya. Jika agamanya lembek, diringankan ujiannya. Terus-menerus bala menimpa seorang yang beriman hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak berdosa.” (HR. Ahmad 1/172 dan ini lafadz beliau; at-Tirmidzi dalam Sunan-nya 4/28, “Abwabuz Zuhud” no. 2509 dan beliau mengatakan hadits hasan sahih; ad-Darimi dalam Sunan-nya, “Kitab ar-Raqaiq” 2/320; Ibnu Majah dalam Sunan-nya, “Kitab al-Fitan” 2/1334 no. 4023)
Sungguh, al-Hasan dan al-Husain radhiallahu ‘anhuma menyandang predikat yang mulia dan tinggi. Sebuah kenikmatan bagi keduanya tatkala mendapat ujian serupa dengan yang menimpa Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, yang dibunuh sebagai syahid dengan penuh kezaliman.
Setelah Abdurrahman bin Muljam al-Khariji membunuh Amirul Mukminin Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu, para sahabat Nabi membaiat al-Hasan, putra beliau. Namun, beliau rela melepaskan kepemimpinan itu demi menjaga darah kaum muslimin agar tidak tidak tertumpah dalam perang saudara. Inilah sikap seorang pahlawan agama yang harus kita teladani.
Sikap ini adalah realisasi dari sabda Rasulullah ﷺ tentang beliau,
إِنَّ ابْنِي هَذَا سَيِدٌ وَسَيُصْلِحُ اللهُ بِهِ بَيْنَفِئَتَيْنِ عَظِيمَتَيْنِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Sungguh, putraku ini (cucu beliau, al-Hasan) adalah seorang pemimpin, dan dengan perantaraan dirinya Allah subhanahu wa ta’ala akan mendamaikan dua kelompok besar dari kalangan kaum muslimin.” (HR. al-Bukhari no. 2704, Ahmad 5/49, Abu Dawud, dan an-Nasai 3/107)
Allah subhanahu wa ta’ala telah mengatur perjalanan hidup setiap hamba. Apabila Allah subhanahu wa ta’ala telah memutuskan, pasti akan terjadi. Allah subhanahu wa ta’ala berbuat sekehendak-Nya, tidak terkait dengan kehendak makhluk-Nya sedikit pun. Allah subhanahu wa ta’ala telah memutuskan bahwa akhir kehidupan al-Husain menyedihkan dan memilukan.
Sebuah peristiwa yang tidak kita inginkan terjadi. Akan tetapi, Allah Maha Bijaksana. Semua keputusan-Nya mengandung banyak hikmah. Dia subhanahu wa ta’ala telah menentukan bahwa al-Husain terbunuh dalam sebuah makar.
Terbunuhnya beliau juga menjadi ujian bagi dua kelompok manusia, yaitu yang benar-benar meniti jejak kebenaran dan kelompok yang mengikuti penyimpangan dan penyelewengan.
Setelah al-Hasan meninggal, sebagian penduduk Kufah menulis surat kepada al-Husain. Mereka berjanji memberi pertolongan dan pembelaan apabila al-Husain mau menjadi pemimpin mereka. Al-Husain mengutus putra paman beliau, Muslim bin Aqil bin Abu Thalib, kepada mereka. Ternyata mereka menyelisihi janji-janjinya. Mereka justru membantu dan bergabung dengan orang yang akan membunuh beliau.
Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma, Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma, dan selain keduanya telah menasihatin
🚇 SYI'AH DAN BULAN AL-MUHARRAM
Bulan Muharram adalah salah satu dari asyhurul hurum (bulan haram). Allah subhanahu wa ta’ala memuliakannya dengan tidak bolehnya melakukan pertumpahan darah pada bulan tersebut. Bahkan, pada 10 Muharram, hari Asyura’, Allah subhanahu wa ta’ala menganjurkan berpuasa dengan pahala yang sangat besar.
Bagi kaum Syiah, hari Asyura’ dinilai bersejarah karena bertepatan dengan terbunuhnya al-Husain bin Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhuma dengan penuh kezaliman pada 61 H.
Menurut umat Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah, beliau meninggal sebagai syahid. Oleh sebab itu, beliau dimuliakan. Beliau dan saudaranya, al-Hasan, adalah dua pemuda surga. Ternyata kedudukan yang tinggi harus diperoleh dengan pengorbanan yang besar pula.
Rasulullah ﷺ pernah ditanya,
أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟ فَقَالَ: الْأَنِبْيَاءُ ثُمَّالصَّالِحُونَ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الرَّجُلُعَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ صَلَابَةٌزِيدَ فِي بَلَائِهِ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ خُفِّفَعَنْهُ، وَ يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ حَتَّى يَمْشِيَ عَلَىالْأَرْضِ وَلَيْسَ عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ
“Siapakah yang paling berat cobaannya?”
Beliau menjawab, “Para nabi, kemudian orang-orang shaleh, kemudian setelah mereka, dan setelah mereka. Seseorang diuji sesuai dengan kadar agamanya. Jika agamanya kokoh, ditambah ujiannya. Jika agamanya lembek, diringankan ujiannya. Terus-menerus bala menimpa seorang yang beriman hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak berdosa.” (HR. Ahmad 1/172 dan ini lafadz beliau; at-Tirmidzi dalam Sunan-nya 4/28, “Abwabuz Zuhud” no. 2509 dan beliau mengatakan hadits hasan sahih; ad-Darimi dalam Sunan-nya, “Kitab ar-Raqaiq” 2/320; Ibnu Majah dalam Sunan-nya, “Kitab al-Fitan” 2/1334 no. 4023)
Sungguh, al-Hasan dan al-Husain radhiallahu ‘anhuma menyandang predikat yang mulia dan tinggi. Sebuah kenikmatan bagi keduanya tatkala mendapat ujian serupa dengan yang menimpa Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, yang dibunuh sebagai syahid dengan penuh kezaliman.
Setelah Abdurrahman bin Muljam al-Khariji membunuh Amirul Mukminin Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu, para sahabat Nabi membaiat al-Hasan, putra beliau. Namun, beliau rela melepaskan kepemimpinan itu demi menjaga darah kaum muslimin agar tidak tidak tertumpah dalam perang saudara. Inilah sikap seorang pahlawan agama yang harus kita teladani.
Sikap ini adalah realisasi dari sabda Rasulullah ﷺ tentang beliau,
إِنَّ ابْنِي هَذَا سَيِدٌ وَسَيُصْلِحُ اللهُ بِهِ بَيْنَفِئَتَيْنِ عَظِيمَتَيْنِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Sungguh, putraku ini (cucu beliau, al-Hasan) adalah seorang pemimpin, dan dengan perantaraan dirinya Allah subhanahu wa ta’ala akan mendamaikan dua kelompok besar dari kalangan kaum muslimin.” (HR. al-Bukhari no. 2704, Ahmad 5/49, Abu Dawud, dan an-Nasai 3/107)
Allah subhanahu wa ta’ala telah mengatur perjalanan hidup setiap hamba. Apabila Allah subhanahu wa ta’ala telah memutuskan, pasti akan terjadi. Allah subhanahu wa ta’ala berbuat sekehendak-Nya, tidak terkait dengan kehendak makhluk-Nya sedikit pun. Allah subhanahu wa ta’ala telah memutuskan bahwa akhir kehidupan al-Husain menyedihkan dan memilukan.
Sebuah peristiwa yang tidak kita inginkan terjadi. Akan tetapi, Allah Maha Bijaksana. Semua keputusan-Nya mengandung banyak hikmah. Dia subhanahu wa ta’ala telah menentukan bahwa al-Husain terbunuh dalam sebuah makar.
Terbunuhnya beliau juga menjadi ujian bagi dua kelompok manusia, yaitu yang benar-benar meniti jejak kebenaran dan kelompok yang mengikuti penyimpangan dan penyelewengan.
Setelah al-Hasan meninggal, sebagian penduduk Kufah menulis surat kepada al-Husain. Mereka berjanji memberi pertolongan dan pembelaan apabila al-Husain mau menjadi pemimpin mereka. Al-Husain mengutus putra paman beliau, Muslim bin Aqil bin Abu Thalib, kepada mereka. Ternyata mereka menyelisihi janji-janjinya. Mereka justru membantu dan bergabung dengan orang yang akan membunuh beliau.
Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma, Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma, dan selain keduanya telah menasihatin
ya agar tidak berangkat menuju mereka dan agar tidak menerima apa pun. Akan tetapi, terjadilah apa yang terjadi. Semuanya telah ada dalam ketentuan dan keputusan Ilahi yang tidak mungkin berubah.
Beliau sendiri menyaksikan makar di balik itu semua. Beliau meminta di hadapan mereka yang sudah bersiap membunuhnya agar membiarkan beliau kembali, bergabung dengan bala tentara yang berjaga di perbatasan atau bergabung dengan putra pamannya, Yazid.
Mereka menolak permintaan beliau dan tetap memeranginya. Beliau memberikan perlawanan bersama orang yang menyertainya sampai akhirnya terbunuh dalam keadaan terzalimi dan syahid.
Kematian beliau memunculkan berbagai bentuk kejelekan yang terjadi di tengah-tengah manusia. Muncul orang-orang bodoh, sesat, dan menyimpang. Mereka menampakkan diri sebagai orang yang cinta kepada keluarga beliau. Mereka menjadikan hari kematian beliau sebagai hari berkabung, bersedih, dan berduka. Pada hari itu, mereka menampakkan syiar-syiar jahiliah: memukul-mukul pipi, menyobek-nyobek kerah baju, dan meratap dengan ratapan kaum jahiliah. (Lihat Majmu’ Fatawa 25/302—307)
📑 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Dengan terbunuhnya al-Husain radhiallahu ‘anhu, setan mengambil kesempatan dengan memunculkan dua jenis kebid’ahan di tengah-tengah manusia, yaitu:
(1) Bid’ah berduka dan meratap pada 10 Muharram dalam bentuk memukul pipi, berteriak histeris, menangis, menjadikan diri kehausan, mengucapkan kalimat-kalimat belasungkawa.
Buntutnya ialah mencela pendahulu yang saleh dan melaknat mereka, menggabungkan orang yang tidak berdosa ke dalam barisan para pendosa. Mereka mencela para pendahulu. Dibacakan pula syair-syair perjalanan hidup al-Husain yang kebanyakannya dusta. Tujuan orang yang menghidupkan bid’ah ini adalah membuka pintu fitnah dan memecah belah umat.
Semua ini tidak dianjurkan, apalagi diwajibkan, menurut kesepakatan kaum muslimin. Mengadakan acara hari berduka dan meratapi musibah yang telah lampau termasuk keharaman yang paling besar.
(2) (Jenis bid’ah yang dimunculkan oleh setan adalah) bid’ah bersenang-senang dan bergembira.”
(Lihat Minhajus Sunnah 2/322—323)
••••
Selengkapnya baca di : www.asysyariah.com/syiah-dan-tanah-karbala/
Beliau sendiri menyaksikan makar di balik itu semua. Beliau meminta di hadapan mereka yang sudah bersiap membunuhnya agar membiarkan beliau kembali, bergabung dengan bala tentara yang berjaga di perbatasan atau bergabung dengan putra pamannya, Yazid.
Mereka menolak permintaan beliau dan tetap memeranginya. Beliau memberikan perlawanan bersama orang yang menyertainya sampai akhirnya terbunuh dalam keadaan terzalimi dan syahid.
Kematian beliau memunculkan berbagai bentuk kejelekan yang terjadi di tengah-tengah manusia. Muncul orang-orang bodoh, sesat, dan menyimpang. Mereka menampakkan diri sebagai orang yang cinta kepada keluarga beliau. Mereka menjadikan hari kematian beliau sebagai hari berkabung, bersedih, dan berduka. Pada hari itu, mereka menampakkan syiar-syiar jahiliah: memukul-mukul pipi, menyobek-nyobek kerah baju, dan meratap dengan ratapan kaum jahiliah. (Lihat Majmu’ Fatawa 25/302—307)
📑 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Dengan terbunuhnya al-Husain radhiallahu ‘anhu, setan mengambil kesempatan dengan memunculkan dua jenis kebid’ahan di tengah-tengah manusia, yaitu:
(1) Bid’ah berduka dan meratap pada 10 Muharram dalam bentuk memukul pipi, berteriak histeris, menangis, menjadikan diri kehausan, mengucapkan kalimat-kalimat belasungkawa.
Buntutnya ialah mencela pendahulu yang saleh dan melaknat mereka, menggabungkan orang yang tidak berdosa ke dalam barisan para pendosa. Mereka mencela para pendahulu. Dibacakan pula syair-syair perjalanan hidup al-Husain yang kebanyakannya dusta. Tujuan orang yang menghidupkan bid’ah ini adalah membuka pintu fitnah dan memecah belah umat.
Semua ini tidak dianjurkan, apalagi diwajibkan, menurut kesepakatan kaum muslimin. Mengadakan acara hari berduka dan meratapi musibah yang telah lampau termasuk keharaman yang paling besar.
(2) (Jenis bid’ah yang dimunculkan oleh setan adalah) bid’ah bersenang-senang dan bergembira.”
(Lihat Minhajus Sunnah 2/322—323)
••••
Selengkapnya baca di : www.asysyariah.com/syiah-dan-tanah-karbala/
::
🚇 BANTAHAN ATAS KEMUNGKARAN SYI'AH DI HARI ASYURA’ (10 ALMUHARRAM)
Para pembaca rahimakumullah, sebagai seorang muslim tentu kita juga sangat bersedih dengan peristiwa tragis nan menyayat hati yang menimpa cucu Rasulullah ﷺ itu.
Namun, Islam melarang pemeluknya yang tertimpa musibah untuk berucap atau berbuat sesuatu yang menunjukkan ketidak-ridhaan kepada keputusan Allah subhanahu wa ta’ala, seperti merobek baju, menampar pipi, menjambak rambut, menangis histeris, apalagi menyayat kepala dan dahi seperti yang dilakukan sebagian orang-orang syi’ah.
As Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menyebutkan bahwa apa yang dilakukan syi’ah adalah “bid’ah menjijikkan”, sebagiannya terkandung padanya kesyirikan yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat Rasulullah ﷺ.
Bahkan anggapan mereka bahwa bayi yang lahir pada bulan Muharram akan memiliki perangai yang buruk itu adalah thiyarah yang termasuk bentuk kesyirikan seperti hadits Nabi ﷺ: “Thiyarah adalah kesyirikan” (HR. Abu Dawud dan An Nasa’i).
Ibnu Taimiyah menyebutkan hal yang senada dalam Majmu’ Fatawa Li Ibni Taymiyah (25/307) dan al Fatawa al Kubra (2/299) : bahwa hal tersebut adalah syiar (ciri/simbol) kaum jahiliyah.
Rasulullah ﷺ bersabda: ”Bukan dari golongan kami barang siapa yang menampar pipi, merobek baju, atau meratap dengan ratapan jahiliyah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari shahabat Abdullah bin Mas’ud )
Lebih dari itu, bagi wanita yang meratapi mayit dan meninggal dalam keadaan belum bertaubat, maka ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dengan pakaian dari tembaga yang meleleh, sebagaimana dijelaskan Rasulullah ﷺ dalam haditsnya yang diriwayatkan Al-Imam Muslim dari Abu Malik Al-Asy’ari.
Terlebih, dalam hal ini mereka menghidupkan kembali kedukaan yang telah lama berlalu. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan dalam Minhajus Sunnah:
“Menghidupkan kembali kedukaan dan ratapan tangis untuk musibah yang telah lama berlalu termasuk hal yang besar keharamannya di sisi Allah subhanahu wa ta’aladan Rasul-Nya”.
Drama berkabung mereka dengan menampilkan kaum laki-laki yang menyerupai wanita itu adalah suatu yang diharamkan sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu, “Rasulullah ﷺ melaknat lelaki yang berpakaian seperti model pakaian wanita dan (melaknat) wanita yang berpakaian seperti lelaki.” (HR. Abu Dawud no. 4098, Ahmad 2/325)
Begitu juga terkait dengan makanan-makanan yang disuguhkan pada acara tersebut yang sengaja dibuat tidak enak, ini merupakan tindakan yang sia-sia belaka dan tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ ketika meninggal orang-orang besar di sisi beliau seperti Hamzah bin Abdil Muthalib radhiyallahu anhu atau yang lainnya.
Adapun istigasah yang mereka lakukaan hari itu, dengan berdo’a kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala, menganggap imam-imam mereka mengetahui perkara gaib, tanpa diragukan lagi bahwasanya hal itu adalah syirik besar berdasarkan kesepakatan ulama’ yang dinukilkan oleh syaikh Bin Baz rahimahullah.
Sungguh aneh apa yang mereka lakukan itu, begitu berkabungnya mereka atas terbunuhnya Husain bin Ali radhiyallahu anhu sehingga melakukan hal-hal yang sangat berlebihan itu bahkan beberapanya sampai pada kesyirikan.
Padahal kita tahu telah terbunuh juga seseorang yang lebih utama dari Husain, yaitu ayahnya Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu dan sebelumnya juga telah terbunuh Umar bin al Khattab dan Utsman bin Affan radhiyallahu anhuma, akan tetapi syi’ah tidak menjadikan waktu terbunuhnya Ali, Utsman dan Umar radhiyallahu anhum sebagai hari berkabung. Tidaklah ini menunjukkan bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah hiasan tipu daya setan kepada mereka untuk menampakkan permusuhan dan kebencian terhadap kaum muslimin.
Maka sekarang kita telah mengetahui bahwa apa yang dilakukan orang-orang syi’ah tersebut bukan hanya tidak ada dasarnya dalam Islam, bahkan ia bertolak belakang dengan ajaran Islam.
🚇 BANTAHAN ATAS KEMUNGKARAN SYI'AH DI HARI ASYURA’ (10 ALMUHARRAM)
Para pembaca rahimakumullah, sebagai seorang muslim tentu kita juga sangat bersedih dengan peristiwa tragis nan menyayat hati yang menimpa cucu Rasulullah ﷺ itu.
Namun, Islam melarang pemeluknya yang tertimpa musibah untuk berucap atau berbuat sesuatu yang menunjukkan ketidak-ridhaan kepada keputusan Allah subhanahu wa ta’ala, seperti merobek baju, menampar pipi, menjambak rambut, menangis histeris, apalagi menyayat kepala dan dahi seperti yang dilakukan sebagian orang-orang syi’ah.
As Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menyebutkan bahwa apa yang dilakukan syi’ah adalah “bid’ah menjijikkan”, sebagiannya terkandung padanya kesyirikan yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat Rasulullah ﷺ.
Bahkan anggapan mereka bahwa bayi yang lahir pada bulan Muharram akan memiliki perangai yang buruk itu adalah thiyarah yang termasuk bentuk kesyirikan seperti hadits Nabi ﷺ: “Thiyarah adalah kesyirikan” (HR. Abu Dawud dan An Nasa’i).
Ibnu Taimiyah menyebutkan hal yang senada dalam Majmu’ Fatawa Li Ibni Taymiyah (25/307) dan al Fatawa al Kubra (2/299) : bahwa hal tersebut adalah syiar (ciri/simbol) kaum jahiliyah.
Rasulullah ﷺ bersabda: ”Bukan dari golongan kami barang siapa yang menampar pipi, merobek baju, atau meratap dengan ratapan jahiliyah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari shahabat Abdullah bin Mas’ud )
Lebih dari itu, bagi wanita yang meratapi mayit dan meninggal dalam keadaan belum bertaubat, maka ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dengan pakaian dari tembaga yang meleleh, sebagaimana dijelaskan Rasulullah ﷺ dalam haditsnya yang diriwayatkan Al-Imam Muslim dari Abu Malik Al-Asy’ari.
Terlebih, dalam hal ini mereka menghidupkan kembali kedukaan yang telah lama berlalu. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan dalam Minhajus Sunnah:
“Menghidupkan kembali kedukaan dan ratapan tangis untuk musibah yang telah lama berlalu termasuk hal yang besar keharamannya di sisi Allah subhanahu wa ta’aladan Rasul-Nya”.
Drama berkabung mereka dengan menampilkan kaum laki-laki yang menyerupai wanita itu adalah suatu yang diharamkan sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu, “Rasulullah ﷺ melaknat lelaki yang berpakaian seperti model pakaian wanita dan (melaknat) wanita yang berpakaian seperti lelaki.” (HR. Abu Dawud no. 4098, Ahmad 2/325)
Begitu juga terkait dengan makanan-makanan yang disuguhkan pada acara tersebut yang sengaja dibuat tidak enak, ini merupakan tindakan yang sia-sia belaka dan tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ ketika meninggal orang-orang besar di sisi beliau seperti Hamzah bin Abdil Muthalib radhiyallahu anhu atau yang lainnya.
Adapun istigasah yang mereka lakukaan hari itu, dengan berdo’a kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala, menganggap imam-imam mereka mengetahui perkara gaib, tanpa diragukan lagi bahwasanya hal itu adalah syirik besar berdasarkan kesepakatan ulama’ yang dinukilkan oleh syaikh Bin Baz rahimahullah.
Sungguh aneh apa yang mereka lakukan itu, begitu berkabungnya mereka atas terbunuhnya Husain bin Ali radhiyallahu anhu sehingga melakukan hal-hal yang sangat berlebihan itu bahkan beberapanya sampai pada kesyirikan.
Padahal kita tahu telah terbunuh juga seseorang yang lebih utama dari Husain, yaitu ayahnya Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu dan sebelumnya juga telah terbunuh Umar bin al Khattab dan Utsman bin Affan radhiyallahu anhuma, akan tetapi syi’ah tidak menjadikan waktu terbunuhnya Ali, Utsman dan Umar radhiyallahu anhum sebagai hari berkabung. Tidaklah ini menunjukkan bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah hiasan tipu daya setan kepada mereka untuk menampakkan permusuhan dan kebencian terhadap kaum muslimin.
Maka sekarang kita telah mengetahui bahwa apa yang dilakukan orang-orang syi’ah tersebut bukan hanya tidak ada dasarnya dalam Islam, bahkan ia bertolak belakang dengan ajaran Islam.