منتدى نشر الفـــــــوائد
7.61K subscribers
4.29K photos
256 videos
279 files
5.6K links
📝 Menggali Faidah Ilmu dan Menyebarkannya

Pembimbing :
- Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc حفظه الله
- Al Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله

Kritik dan Saran:
📧 ForumBerbagiFaidah@gmail.com
Download Telegram
Live stream finished (2 hours)
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Audio
بســــــــــــــــــــــم الله الر حمن الر حيم

📲 Audio Kajian 🔊🔊

-----------------------------------------------------------
📆 Selasa Malam Rabu 05 Dzulhijjah 1443 H/05Juli 2022

Bertempat di :
🏡 Dirumah Belajar Minhajul Atsar Bondowoso
------------------------------------------------------------
💺 Bersama :
🎙 Al-Ustadz Luqman Bin Muhammad Ba'abduh حفظه اللــــــــه

TEMA
📕 "Ta'awun Syar'i Hakekat Dan Tuntutannya"

Durasi : 01:34:32

💪Tetap Semangat Belajar Agama

📱☑️🔘 Ayo Ikuti dan Sebarkan 📡
https://t.me/KajianIslamBondowoso

بارك الله فيكم

▫️▫️▫️▫️▫️
📡 Simak sekarang

SIARAN ULANG
Muhadharah bertema:

TA'AWUN SYAR'I, HAKIKAT & TUNTUTANNYA

💺Bersama Al-Ustadz Luqman bin Muhammad Ba'abduh hafizhahullah

👂🏻 Simak di:

📲 Channel Radio Minhajul Atsar:
https://t.me/radiominhajulatsar?livestream=50d2b012e8d93faa27

📲 Channel Radio Islam Timika:
https://t.me/radio_islam_timika?livestream
Ta'awun Syar'i Hakekat Dan Tuntutannya
Al-Ustadz Luqman bin Muhammad Ba'abduh
بســــــــــــــــــــــم الله الر حمن الر حيم

📲 Audio Kajian 🔊🔊
📆 Selasa Malam Rabu 05 Dzulhijjah 1443 H/05Juli 2022
Bertempat di :
🏡 Dirumah Belajar Minhajul Atsar Bondowoso
💺 Bersama :
🎙 Al-Ustadz Luqman Bin Muhammad Ba'abduh حفظه اللــــــــه
TEMA
📕 "Ta'awun Syar'i Hakekat Dan Tuntutannya"
Durasi : 01:34:32 - 11 MB - 20 kbps
https://t.me/radiominhajulatsar/4351
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Live stream finished (3 hours)
📢 Audio Muhadharah Ilmiah 💽

PENDIDIKAN ANAK-ANAK, TANGGUNG JAWAB SIAPA?

🎙 Al-Ustadz Luqman Ba'abduh حفظه الله

🕌 Masjid Al-Hikmah Kotakan, Situbondo

🗓 Rabu malam Kamis ,
7 Dzulhijjah 1443H /
6 Juli 2022


📥 Unduh audionya di sini:
https://t.me/taklimalhikmah/393


Rekaman Kajian Masjid Al-Hikmah
🔗 https://t.me/taklimalhikmah
Live stream finished (31 minutes)
Radio Manhajul Anbiya 2

Simak Sekarang!!

LIVE AL WALA WAL BARA Bersama Al Ustadz Abu Said Hamzah Hafizhahulloh Di Rumah Belajar Minhajul Atsar Bondowoso

Versi Web di
http://radiosalafy.com/atsar
atau
Download Aplikasi di
https://minhajulatsar.com/radio
📬 KALA HILAL AROFAH TAK TAMPAK DI NUSANTARA
[ Tanggapan terhadap Artikel:
Haji di Arofah, Bukan di Nusantara" oleh Nasrudin Joha ]

(Bagian 1)

Dzulhijjah telah kita masuki, rangkaian ibadah penuh keutamaan menanti. Diperlukan kebersihan hati dan solidaritas tinggi untuk meraih ridho Ilahi, terkhusus di hari-hari ini.

Saat ummat Islam bangsa ini, di Nusantara begitulah sebutannya tengah mempersiapkan diri, muncul beberapa polemik terkait perbedaan penetapan hari Arofah dan idul Adha di beberapa negara muslim.

Salah satunya ditulis oleh sosok yang menyebut diri sebagai Nasrudin Joha.
Lontaran kritikan yang disampaikan si penulis walaupun tanpa disertai dalil, ternyata menimbulkan kebingungan di sebagian masyarakat.

Untuk itu diperlukan tanggapan adil yang diharapkan dapat membentuk permakluman bahwa perbedaan fiqih tidak patut berujung celaan terlebih perpecahan. Begitu pula semoga muslimin semakin memahami bahwa keputusan pemerintah memiliki kedudukan yang mulia dan dasar terpercaya.

Sebelum kita memulai tanggapan, ada baiknya sekilas dipaparkan kutipan penetapan awal bulan Dzulhijjah (yang menjadi acuan hari Arofah dan Idul Adha) tahun 1443 H di dua negara. Arab Saudi sebagai negara lokasi padang Arofah, dibandingkan Indonesia dengan Nusantaranya.

Kutipan berita resmi Kementerian Agama RI:

"Dengan demikian Hari Raya Idul Adha 1443 H jatuh pada 10 Juli 2022," imbuh Wamenag. 

Ia menjelaskan, keputusan itu didasarkan dari pantau hilal di 86 titik seluruh wilayah Indonesia, kemudian dilanjutkan dengan rapat sidang isbat. Menurutnya, proses pengamatan hilal ini menjadi pertimbangan penting dalam sidang isbat.

"Dari 34 provinsi yang telah kita tempatkan pemantau hilal, tidak ada satu pun dari mereka yang menyaksikan hilal", jelasnya.

Sumber: https://www.kemenag.go.id/read/pemerintah-tetapkan-iduladha-1443-h-jatuh-pada-10-juli-2022

Sementara kutipan kabar resmi dari akun pemerintah Saudi Arabia:

المحكمة العليا: غداً الخميس 30 / 6 / 2022م هو غرة شهر ذي الحجة، والوقوف بعرفة يوم الجمعة الموافق 8 / 7 / 2022م. #واس_عام
١١:٣٨ م · ٢٩ يونيو ٢٠٢٢

"Mahkamah Tinggi: Besok hari Kamis 30/6/2022 M merupakan awal bulan Dzulhijjah, sedangkan Wuquf di Arofah pada hari Jumat bertepatan dengan 8/7/2022 M."

Salah satu yang menjadi rujukan adalah keberhasilan pengamatan hilal di Observatorium Tumair - Saudi Arabia, sebagaimana ramai diberitakan di media antara lain oleh media Al Arabiya.

Sumber: https://www.alarabiya.net/saudi-today/2022/06/29/ثبوت-رؤية-ذي-الحجة-وعيد-الأضحى-السبت-9-يوليو

Artinya, menurut tinjauan syariat, kedua negara baik Saudi Arabia maupun Indonesia berarti telah sama-sama menjalankan metode penetapan awal bulan yang diajarkan Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam, yaitu rukyat dan istikmal bagi yang tidak berhasil mengamatinya, Walhamdulillah, tersisa sikap saling menghargai dan menghormati yang perlu dipertahankan.

▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️

Artikel terkait yang semoga bermanfaat:

https://itishom.org/blog/artikel/hadits/ucapan-yang-paling-utama-untuk-diucapkan-pada-hari-arafah/

https://itishom.org/blog/artikel/ibadah-artikel/puasa-di-hari-sabtu/

https://itishom.org/blog/artikel/nasihat/hari-hari-terbaik-beramal-shalih-10-hari-pertama-dzulhijjah/

▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️

Kita mulai, wabillahittaufiq walminnah...

Sosok yang menyebut dirinya Nasrudin Joha menuliskan:


🟧 HAJI ITU DI AROFAH, BUKAN DI NUSANTARA


Tanggapan:

Alhamdulillah tampaknya tidak ada muslim adil yang memiliki keyakinan ibadah haji bisa dilakukan di Nusantara. Kemungkinan besar si-penulis memakluminya, lalu ke mana arah judul hendak membelokkan perasaan pembacanya?

Adapun terkait perbedaan pendapat tentang apakah pelaksanaan wuquf di Arofah menjadi acuan puasa Arofah di luar tanah haram, memang itu sangat erat kaitannya dengan perbedaan pendapat yang diakui (mu'tabar) di kalangan ulama. Muaranya adalah silang pandang dalam hukum berlakunya rukyat hilal (menyaksikan bulan sabit awal bulan).
Apabila di suatu tempat telah terlihat hilal, apakah wajib bagi muslimin di seluruh dunia merujuk hasil pengelihatan ini? Ataukah justru setiap wilayah mengacu pada hasil rukyat hilal sendiri. Karena memang acuan menentukan awal bulan qomariyah adalah hanya dengan rukyat atau istikmal (penggenapan jumlah bilangan bulan menjadi 30 saat tidak terlihat hilal karena berbagai sebab).

Karena perbedaan pendapat tentang hal itu sudah terjadi sejak dulu, demikian juga varian dalam suatu pendapat cukup beragam. Contohnya seperti diungkapkan Al Hafidz An Nawawi rahimahullah dalam pengantar penjelasan beliau sebelum hadits ke- 1087 dari Shahih Muslim. Silakan disimak pada bagian tanggapan kami selanjutnya.



🟧 Aneh, sudah ada hadits haji itu di Arafah,


Tanggapan:

Mungkin yang dimaksudkan adalah hadits sahabat Abdurrahman bin Ya'mar radhiyallahu anhu berikut:

الْحَجُّ عَرَفَةُ، مَنْ جَاءَ لَيْلَةَ جَمْعٍ قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ فَقَدْ أَدْرَكَ الْحَجَّ

"(Keabsahan) Haji itu (bagi yang sempat wuquf) di Arofah. Barang siapa yang mendatangi (Muzdalifah pada) malam berkumpul (Idul Adha), sebelum terbitnya fajar, dia telah memperoleh (keabsahan) hajinya." (HR. At Tirmidzi dan dishahihkan Syaikh Al Albani).

Jika memang hadits tersebut atau yang redaksinya semakna dengan itu yang penulis maksudkan, pembaca bisa memahami bahwa cakupan makna hadits membahas tentang wuquf di Arofah sebagai rujun haji. Tidak ada kaitan dengan puasa sunnah di bulan Dzulhijjah.



🟧 rukyat yang dipake rukyat Amir Mekkah, eh ini maksain rukyat sendiri.


Tanggapan:

Maaf, sejak kapan rukyat yang dipake rukyat Amir Mekkah?
Bukankah kewajiban berpuasa yang memerlukan kepastian hasil rukyat di mulai sejak tahun ke-2 hijriyah. Begitu pula ibadah haji yang direncanakan sejak tahun ke-9 Qodarullah baru dapat dijalani pada tahun ke-10 hijriyah?

Artinya semua peristiwa tersebut terjadi setelah hijrahnya Nabi dari Mekkah ke Madinah. Berarti Nabi tidak memakai rukyat Amir Mekkah untuk menjalaninya. Beliau bersama para sahabat yang kala itu beribukota di Madinah tentunya menjadikan rukyat muslimin Madinah dalam menentukan kapan awal suatu bulan diketahui. Begitu seterusnya, amir tiap negara menentukan berdasar rukyat di negerinya, sampai masa kita sekarang.



🟧 Akhirnya harinya beda. Saat jamaah haji Wukuf, belum puasa Arafah. Saat jamaah haji berkorban (Idul Adha) malah puasa Arafah. Ini puasa Arafah atau puasa nusantara ?
Kalau mau merujuk dalil ya ambil dalil yang kuat, jangan pake ego akhirnya beribadah menyelisihi Sunnah.



Tanggapan:

Saudaraku, bukankah Allah telah berfirman:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ ۖ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ ۗ

"Mereka bertanya kepadamu (wahai Muhammad shalallahu alaihi wasallam) tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji." (QS. Al Baqoroh: 189)

Mari bertafakkur, bukankah bulan menjadi tanda-tanda waktu, termasuk ibadah haji? Bukankah artinya kapan waktu pelaksanaan momen ibadah sangat tergantung dari teramatinya hilal?

Subhanallah, merupakan sunnatullah yang menjadi fakta di belahan bumi manapun, bahwa seluruh dunia ini tidak mungkin semua bagiannya dapat mengamati hilal secara bersamaan pada hari yang sama.

Maka semoga kita mulai dapat memahami (atau setidaknya memberi ruang permakluman) terhadap saudara kita sesama muslim yang mengalami perbedaan penetapan karena perbedaan yang telah Allah Ta'ala taqdirkan bagi mereka masing-masing.

Silakan dimaklumi barangkali saja sebagian saudara kita menjadikan dalil ayat di atas sebagai salah satu dalil kuat di sisi mereka. Hilal di Arofah mungkin saja telah teramati (walaupun harus menggunakan teropong), namun sayangnya di Nusantara tidak ada laporan masuk yang menyatakan berhasil mengamati hilal Dzulhijjah, baik dengan mata telanjang ataupun alat bantu.