πΌ Ϋͺ Φͺ Ϋ« ΦΌ Care looks like soft boundaries and sacred pauses π©·
2β4π4π₯2π³2π2π2π2π2β€1π1π1
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Forwarded from The Shadowed BloodMoon: Duisterg Clan.
Sweet weekend crumbs! This plan has actually been around for a while, but since there's a museum here that recently had a work exhibition, we finally went to visit the exhibition. Buying an entrance ticket gives us a lot of benefits. Like making clay works and also being able to immortalize the moment at a set distance. Duisterg's Hikaru, with lots of laughter, captured the sweet moment of Calsearth's Anton making clay works. Several times he raised his phone to take lots of memories, some things can't be repeated. We bought some cute rings with small black and white rabbit ornaments, one for each of us. We also had a photo session together, of course with our shadows to look adorable. There were so many paintings that made both of our eyes sparkle. Today was a very fun day, there were so many things to immortalize. But I filming him so well! β‘
β€7π₯3β€βπ₯2β2π€©2π―2π2π2
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Perjalanan Y/N Bertemu Si Tampan
Hari itu, Y/N hanya ingin pulang dengan langkah biasa. Lorong bangunan terasa sunyi, diterangi lampu penunjuk arah berwarna biru. Suasana dingin merambat pelan, seolah waktu ikut melambat di antara langkah kaki Y/N.
Lalu, di dekat pintu itu, Y/N melihatnya.
Seorang pemuda dengan jaket denim kebesaran dan rambut sedikit berantakan, berdiri santai seperti potongan adegan film yang tertinggal. Wajahnya tenang, tatapannya jauh, seperti menyimpan banyak hal yang tak terucap. Bukan tampan yang mencolokβnamun cukup untuk membuat Y/N berhenti sejenak.
Tak ada sapaan.
Tak ada kata.
Hanya tatapan singkat yang berpapasan, lalu terlepas begitu saja.
Y/N melangkah lagi, meninggalkan lorong itu. Tapi entah kenapa, pertemuan singkat tersebut menetap diam-diam di ingatanβsebagai satu momen kecil yang tak perlu penjelasan panjang.
Hari itu, Y/N hanya ingin pulang dengan langkah biasa. Lorong bangunan terasa sunyi, diterangi lampu penunjuk arah berwarna biru. Suasana dingin merambat pelan, seolah waktu ikut melambat di antara langkah kaki Y/N.
Lalu, di dekat pintu itu, Y/N melihatnya.
Seorang pemuda dengan jaket denim kebesaran dan rambut sedikit berantakan, berdiri santai seperti potongan adegan film yang tertinggal. Wajahnya tenang, tatapannya jauh, seperti menyimpan banyak hal yang tak terucap. Bukan tampan yang mencolokβnamun cukup untuk membuat Y/N berhenti sejenak.
Tak ada sapaan.
Tak ada kata.
Hanya tatapan singkat yang berpapasan, lalu terlepas begitu saja.
Y/N melangkah lagi, meninggalkan lorong itu. Tapi entah kenapa, pertemuan singkat tersebut menetap diam-diam di ingatanβsebagai satu momen kecil yang tak perlu penjelasan panjang.
π₯1π₯°1
Lu aman gua amin, lu kamang skala kasming, alas makas skalas maskis almakaklas dibalakalaskaskoy meklas kasbay kadabatni khapa
π₯3β€2β€βπ₯1π₯°1π1π1π1π1
ada nyang tau kenapa aku bisa secantik ini?
π3β1π₯°1